Herman Rudolf Kousbroek atau dikenal dengan nama Rudy Kousbroek menuliskan kisah perjalanannya kembali ke Berastagi. Rudy Kousbroek lahir di Pematang Siantar pada
Karo Siadi
Pantai Baru di Danau Lau Kawar (1939)
Koran De Sumatra Post pada tanggal 4 April 1939 menuliskan penolakan masyarakat Karo akan kedatangan banyak pelancong Eropah ke sebuah tepi di
Longsor di Lereng Sinabung (1939)
Longsor Besar di Dataran Tinggi Karo. Di lereng Sinaboeng. Tanaman rusak. Banyak yang melarikan diri. Medan, 10 November. Koran “Deli Courant” mengabarkan
Turi-turin Sibayak Kuta Buluh (bagian 2)
Erdalin ibas kendit Kinderan, idah si Adjar Taki idas oeroek-oeroek Goeng Daholi: “Oh si ngoeda-ngoeda djah kal ngë si ‘rdalin doea kalak,
Turi-turin Sibayak Kuta Buluh (bagian 1)
Toeri-toerin Sibajak Koeta Boeloeh. E, idilona anakna koe roemah. “Ena kai sabapna maka enggo koe roemah, bapa,” nina si Adjar Taki. “Enda
Kebun Kopi dan Jeruk Milik Konijn di Lau Kawar (1937)
Karo Siadi pada tanggal 08 September 2017 pernah mengangkat artikel “Leendert Konijn Menanam Jeruk di Kaki Sinabung (1932).” Kali akan kembali diangkat
Berastagi Maju, Kabanjahe Hebat (1918)
“Berastagi Vooruit” atau “Berastagi Maju” itulah nama asosiasi atau kelompok yang hadir untuk membangun dataran tinggi Karo. Dalam buku “Kroniek 1913-1917” yang
Catatan Ponto, 19 Tahun di Buluh Awar (Bagian 2)
Dari buku “Uit den aanvang der Karo zending, aanteekeningen en herinneringen” yang diterbitkan tahun 1909, kita bisa mendapatkan informasi awal perjalanan zending
Catatan Ponto, 19 Tahun di Buluh Awar (Bagian 1)
Dari buku “Uit den aanvang der Karo zending, aanteekeningen en herinneringen” yang diterbitkan tahun 1909, kita bisa mendapatkan informasi awal perjalanan zending
Surat Guru J. Pinontoan dari Buluh Awar (1891)
Pada tanggal 18 April 1890, Pdt. H.C. Kruyt dan Nicolas Pontoh tiba di Belawan. Nederlands Zendelingenootschap (NZG) mengutus Pdt. H.C. Kruyt dari
No More Posts Available.
No more pages to load.















