Menambang Emas (Bahagian 1)

by -288 views
Gunung Sinabung dilihat dari arah timur, dari jalur antara Kabanjahe dan Berastagi. Tanggal 18 Mei 1898. Fotografer oleh Dr. Liebheim.

Penduduk asli telah menambang emas sejak zaman dahulu, yang mereka gunakan terutama untuk produksi gelang, cincin dan anting-anting mereka.

Tahun 1898, Prof. DR. H. Bucking (dari Strasbourg, Alsace) melakukan perjalanan ke Taneh Karo untuk meneliti kandungan mineral yang terdapat di dalam tanah dan bebatuan. Ia dan teamnya memulai perjalanan dari Langkat hingga ke dataran tinggi Karo. Melewati sungai dan tebing-tebing terjal.

Nantinya ia akan menemukan Kabanjahe yang berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Peperangan telah membuat rumah-rumah berkurang dan tidak seramai sebelumnya.

Berikut ini ringkasan tulisan Prof. Bucking yang berjudul “Zur Geologie Von Nord- Und Ost-Sumatra” yang terdapat dalam Jurnal berjudul: “Samlungen Des Geologischen Reichsmuseums in Leiden. Beitrage zur Geologie Ost-Asiens und Australiens. Mit Unterstützung des Niederlandischen Ministeriums der Colonien. Band VIII.” Diterbitkan oleh Prof. K. Martin (Leiden) tahun 1904.  

Penulisan nama-nama mengikuti tulisan aslinya, dan di bahagian bawah, ada koreksi atas penulisan nama-nama.

Samlungen Des Geologischen Reichsmuseums in Leiden.

Geologi Sumatera Utara dan Timur.

Oleh Prof. DR. H. Bucking.

(Diterjemahkan oleh Edi Santana Sembiring).

(Ringkasan).

Pada bulan April dan Mei 1898, saya mendapat kesempatan untuk melakukan beberapa perjalanan dengan Tuan van Vollenhoven dan Pott dari Deli – Maatschappij di Sumatera Timur, yaitu di Langkat Hulu di lembah sungai Besitan (Besitang). Dan kemudian dalam perjalanan yang berlangsung beberapa minggu, saya didampingi oleh Tuan Stuifsand dan Slotemaker, pejabat dari Deli – Maatschappij, dan Dr. Liebheim (dari Strassburg), berangkat dari Medan di Pesisir Timur Sumatera, berupaya mengenal dataran tinggi Karo di utara Danau Toba. Dan melakukan banyak pengamatan geologis di daerah-daerah yang sebelumnya sangat jarang atau belum pernah dikunjungi oleh orang Eropa.

Saya melakukan perjalanan menuju kawasan dataran tinggi Karo tidak dari arah timur. Tidak melalui jalur yang biasa dilalui para pejalan. Tapi berjalan dari utara. Kami menggunakan kereta api jurusan Bindjei – Selesai – Padang Tjermin. Dan dari Selesai kami mendapatkan pemandangan indah pegunungan yang berbatasan dengan dataran tinggi Karo di utara.

Gunung-gunung di dataran tinggi Karo

Di barisan depan pegunungan, terlihat jelas dari Deleng Baros (1950 mdpl atau meter di atas permukaan laut) berpuncak dua di sebelah timur, lalu di sebelah barat terdapat Deleng Palpalan (1815 mdpl) hingga Deleng Temanggu. Sebelah barat Deleng Baros tampak menjulang puncak piramida Sibajak (2172 mdpl) yang luas, dengan kontur bergerigi tajam di sisi timurnya dan jurang yang terjal di sisi baratnya.

Dan di barisan belakang, tampak pegunungan berpuncak datar di sebelah barat. Tinggi menjulang di atas semua gunung lainnya, terdapat kerucut vulkanik Gunung Sinabun (2417 mdpl) yang curam, dengan kepulan asap tebal di puncaknya.

Dari perhentian Padang Tjermin di jalur Selesai – Lau Buntu, kami berbelok melalui Bekijung dan perkebunan Turangi ke Namu Tungan, menyeberangi aliran pegunungan Kertuken yang deras dan muaranya di Sungai Wampu yang lebar di barat daya. Kami akhirnya meninggalkan perkebunan terakhir, dan sampai di Kupras. Ini adalah perkampungan Karo yang berbatasan dengan wilayah perkebunan Belanda. Berada sekitar 290 meter di atas permukaan laut.

Setelah seharian tinggal di Kupras, saya pergi mengunjungi Deleng Perkuruken dan simpanan emasnya, kami turun ke lembah Sungai Wampu, Lau Bijang (sekitar 160 meter di atas permukaan laut). Dan tiba di sebuah jalur yang jarang digunakan, sebagian jalan yang sangat terjal yang mengarah ke dataran tinggi di sisi kanan (timur) Wampu melalui hutan lebat. Terkadang tidak lagi dapat dikenali bahkan oleh mata para pemimpin Karo yang berpengalaman.

Kami melewati perkampungan-perkampungan Karo yang sebahagian besar terletak di dekat sungai Wampu: Kampung Maritungun (275 mdpl), Belinking (500 mdpl), Amberiti (sekitar 670 mdpl), Kuta boto (630 mdpl) dan Wen Gugun (sekitar 700 mdpl), dan akhirnya mencapai Kutabuluh (900 mdpl), tempat yang lebih besar di dataran tinggi.

Kutabuluh pertama kali dikunjungi oleh orang Eropa pada tahun 1887 oleh J. von Brenner dan H. von Mechel; itu adalah perkampungan Karo paling barat laut yang mereka capai dalam perjalanan mereka. Kami mendapatkan tempat tinggal di sana selama delapan hari.

Selama di sini, saya melakukan beberapa kunjungan, seperti ke Liang Nampiring (1200 mdpl) dan Liang Mergandjang (sekitar 1250 meter). Keduanya di selatan Kutabuluh menuju Deleng Perkuruken dan ke Kupras.

Jurang di Lau Simbelin, di jalur dari Kutabuluh ke Batukarang. (Fotografer oleh H. Bucking. Bulan Mei 1898)

Lalu menyusuri selatan dan timur kaki gunung berapi Sinabun (Sinabung) yang perkasa menuju ke Batukarang dan ke Kutaradja (sekitar 1300 mdpl) dan ke danau Lau Kawar (1500 mdpl), di sisi utara Sinabun di tengah hutan.

Sayangnya kami harus menahan diri untuk tidak melintasi Lau Bijang di Kampong Perbesi atau Wen Gugun dan kunjungan ke Longsuwattan dan daerah perbatasan antara perkampungan orang Karo dan Pakpak, di mana diduga munculnya gerombolan sekitar 50 orang Gajo (Gayo) yang bersenjata lengkap berkeliaran di daerah itu. Dan oleh karena itu tidak mungkin mendapatkan pemandu di sana.

Dari Kutabuluh kami bergerak ke Kabandjahe (1200 mdpl), di sebelah tenggara Sinabun. Beberapa tahun yang lalu, tempat ini memiliki 40 – 50 rumah dengan 1200 – 1500 penduduk. Tetapi kemudian terjadi perang yang berlangsung lama. Perang selama beberapa tahun, terutama dengan tetangganya yakni dengan Kampung Lingga. Lambat laun semakin berkurang. Selama kunjungan kami, saya hanya melihat 7 rumah dengan sekitar 200 – 300 penduduk

Di Kabandjahe kami meninggalkan beberapa barang bawaan kami di bawah penjagaan. Dan memilih sebagian rute yang sama dengan yang diambil W. Yolz, dua bulan sebelumnya sekembalinya ke Medan. Kami berjalan ke pantai utara Danau Toba (Kampung Tongging dan jauh ke selatan memproyeksikan semenanjung Sipalangit).

Kami kemudian kembali ke Kabandjahe dengan rute yang berbeda. Dan dari sana ke Deli melalui Berastagi dan melewati Tjimkem Pass di kaki barat laut Deleng Baros.

Di wilayah Wampu tengah yang belum diketahui secara geologis (dan juga topografi), saya pertama kali menjumpai batuan vulkanik, terutama tufa batu apung, trakit dan andesit; hanya di lembah-lembah yang tererosi dalam dan di gunung-gunung yang terkoyak liar antara Kupras dan Kutabuluh, sedimen yang jauh lebih tua muncul dari antara mereka, yaitu batu tulis lempung, kuarsit, dan batu kapur.

Fennema sudah mengetahui keberadaan mereka di wilayah barat daya Bohorok, tempat yang lebih besar di tikungan tajam Wampu, di sebelah timur Medan. Fennema kadang-kadang menyebutkan dalam diskusi tentang endapan Tersier di Langkat, bahwa napal Miocaene terdapat di daerah lipatan “pegunungan batu tulis tua” di barat daya Bohorok.

Bersambung…

Catatan dari Karo Siadi:

  1. Dalam ejaan nama-nama tempat, Prof. DR. H. Bucking mengikuti ejaan resmi seperti yang diterbitkan oleh Biro Topografi Batavia pada tahun 1898. Ada kesalahan penulisan nama-nama.
  • Deleng Baros = Deleng Barus.
  • Deleng Palpalan mungkin Palpalen.
  • Kampung Kupras mungkin Kaperas.
  • Deleng Perkuruken mungkin Pengkuruken.
  • Kampung Amberiti mungkin Amburidi.
  • Kampung Kutaradja = Kutarayat.
  • Nama peneliti W. Yolz = Volz.
  • Tjimkem Pass = Tjingkam atau Cingkam.

2. Fennema yang dimaksud adalah Reinder Fennema (21 Oktober 1849 – 27 November 1897). Fenema adalah seorang ahli pertambangan dan geologi. Ia lulusan Universitas Teknologi Delft. Pada tahun 1874, ia diangkat oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebagai insinyur kelas III yang ditempatkan di Pesisir Barat Sumatra.

Pada tahun 1877 ia naik pangkat sebagai insinyur kelas II, pada tahun 1885 menjadi insinyur kelas I dan pada tahun 1893 ia menjadi insinyur kepala di pertambangan yang ada di Hindia Belanda. Sebagian besar masa dinasnya dihabiskan dengan membuat peta geologis Sumatra dan Jawa.

Di pantai timur Sumatra, Fennema dipercaya melakukan pengkajian sumur artesis dan minyak. Berkat penelitian yang dilakukannya, dibuka pertambangan minyak bumi di Langkat.

Dalam perjalanan ke Danau Poso, sebagai bagian dari penelitian bumi dan mineral untuk Karesidenan Manado, Fennema tenggelam. Tubuhnya tak pernah ditemukan.

No More Posts Available.

No more pages to load.