Pemogokkan Besar dan Terlama (1950)

by

Dua hari setelah penyerahan kedaulatan, tepatnya tanggal 29 Desember 1949, buruh pelabuhan Belawan melancarkan aksi mogok kerja untuk menuntut perbaikan nasib/upah.

Pemogokan di pelabuhan Belawan mempengaruhi bongkar muat barang. Kapal Anhui yang tiba di pelabuhan Belawan pada tanggal 3 Januari 1950 bertolak kembali ke Singapura tanpa membawa muatan apapun.

Kapal Mentor yang berlabuh,  hingga 5 Januari 1950 tetap tertambat di pelabuhan Belawan karena belum bisa memuat getah sheet produksi perkebunan Sumatera Utara. Dan lebih parah lagi, sebanyak 3.000 ton beras tertahan pembongkarannya, padahal muatan itu merupakan bagian dari jatah beras Sumatera Utara yang waktu itu sekitar 8.000 ton/bulan.

Banyak barang terlantar di gudang-gudang dan pelataran-pelataran sehingga ada perusahaan ekspedisi mendatangkan buruh-buruh dari luar untuk mengatasi stagnasi. Bahkan tentara-tentara Belanda yang ingin pulang ke negeri mereka terpaksa mengangkat sendiri barang-barang mereka ke kapal.

Pemogokkan buruh ini meresahkan pihak perusahaan karena jumlah buruh yang mogok mencapai 1.800 orang. Masing-masing buruh tetap dan harian berasal dari tiga ekspedisi yakni : Harrison & Crossfield, Guntzel Schumacher dan Deli Haven Bedrijf.

Selain itu, keresahan timbul akibat tidak adanya kesesuaian mengenai tarif upah antara pihak perusahaan dengan pihak buruh yang acap kali melangsungkan perundingan-perundingan.

Pada tanggal 2 Januari 1950, pihak perusahaan mengajukan usul perbaikan yang disesuaikan dengan kemampuaan perusahaan. Beberapa usulan perusahaan diterima seperti besaran gaji buruh kapal, mandor dan bayaran premi untuk setiap ton barang.

Soal besaran gaji per hari buruh biasa, besaran uang lembur per jam dan hari libur resmi belum diterima oleh kelompok buruh. Pihak perusahaan menolak tuntutan-tuntutan bayaran yang dianggap di luar kemampuan perusahaan. Sehingga akhirnya pihak buruh tetap melanjutkan pemogokan.

Tanggal 8 Januari, jumlah buruh yang mogok sudah bertambah menjadi 3.000 orang. Buruh Unie Kampong Belawan mengirim surat kepada ketua serikat buruh yang isinya bahwa mereka mogok kerja karena belum ada penyelesaian soal upah.

Selain buruh, petani di Tanah Karo ikut solider dengan pemogokkan itu. Lebih kurang 500 petani mengadakan rapat umum di Kabanjahe pada tanggal 15 Januari 1950. Mereka mengeluarkan resolusi yang mengatakan : “Solider simpati terhadap saudara kita yang mogok di Belawan.”

Para petani di Tanah Karo menuntut agar pemerintah Negara Sumatera Timur (NST) secepatnya mengadakan penyelesaian pemogokkan tersebut berdasarkan tuntutan buruh yang mogok. Menyerukan supaya seluruh penduduk Sumatera Timur dengan tidak membedakan suku bangsa dan agama supaya solider dengan mereka yang mogok. Sikap solider ini supaya ditunjukkan pula dengan memberikan sumbangan moral dan material.

Namun pemerintah NST tetap berpangku tangan dalam masalah ini. Dua puluh hari kemudian, seruan para petani Karo membuahkan hasil. Sumbangan berdatangan dari berbagai pihak dan terkumpul uang Rp.3.600,65. Beras satu ton, ikan asin 60 kg dan ubi kayu 323 kg.

Setelah petani ikut solider, buruh kereta api melakukan aksi mogok pada tanggal 22 Maret 1950. Sekitar 3.000 buruh kereta api di Sumatera Timur yang mogok telah memberi pengaruh besar kepada perkebunan. Sebab, 90% barang produk perkebunan diangkut dengan kereta api ke pelabuhan Belawan dan kota-kota lainnya.

Stasiun Kereta Api Medan (antara 1945-1960)

Bukan hanya di Sumut, Serikat Buruh Kereta Api di Langsa dan Kutaraja (sekarang Banda Aceh) juga ikut mogok. Menyusul kemudian pemogokkan buruh perkebunan tanggal 6 April 1950 yang diperkirakan 1.600 orang dari Medan Estate dan Serdang Weg. Sultan Deli sempat diminta sebagai juru damai dalam menyelesaikan pemogokkan buruh perkebunan ini.

Pemogokkan semakin gawat dan mulai membahayakan produksi dan pemasukkan devisa negara. Akibatnya pemerintah pusat terpaksa turun tangan dengan mengirim Mentri Perburuhan, Mr. Wilopo, untuk datang ke Medan pada tanggal 16 April 1950.

Menyusul kemudian kedatangan Kusumo Utoyo dari Perselisihan Perburuhan dan Djohan Madjid dari Pergerakkan Buruh. Kedatangan mereka tanggal 17 April 1950 berhasil meredakan pemogokkan dengan mengadakan perundingan-perundingan dengan pihak perusahaan guna  memenuhi tuntutan buruh.

Sumber bacaan :

Berita Peristiwa 60 Tahun Harian Waspada

 

Gambar utama : Keberangkatan Kapal Sibayak di Pelabuhan Belawan. Tahun 1928.