Tanah Karo di Tahun 1938 (Bagian 2)

by -252 views

Tanah Karo atau Daratan Tinggi Karo dalam waktoe belakangan ini mendjadi lebih terkenal dikalangan kaoem pelantjongan dekat dan djaoeh, jang datang bertemasja ke Dataran Tinggi Karo itoe, teroetama sekali ke Kota Brastagi dan sekitarnja, sengadja oentoek mengisap hawa jang sedjoek dan melakoekan sport.

Sambungan dari bahagian 1.

Ketika Kaoem Tani Karo melihat dengan hati jang hantjoer bahasa hasil penanaman dan perdagangan kentangnja bertambah lama bertambah merosot sadja mereka melihat poela datangnja satoe mata pentjaharian jang lain, jaitoe peroesahaan bertanam sajoer, jang sebeloem itoe masih dioesahakan oleh orang2 tani Tionghoa sadja.

Tjonto jang diberikan oleh T.V. D. (waktoe itoe dibawah pimpinan Tuinbouwkundig Ambtenaar Toean Bange) dengan lekas dapat ditoeroet oleh Kaoem Tani Karo. Alhasil pasar2 Brastagi dan Kabandjahe kebandjiran sajoer2an Europah poela (sampai sekarang) teroetama sekali oleh sajoer poetih dan sedikit kool.

Pada moelanja peroesahaan kool hampir seroepa mengoentoengkan dengan penanaman kentang. Sekarang Kool tiada begitoe banjak ditanam orang, sebab koerang baik djoega toemboehnja, pemeliharaannja memakan ongkos besar.

Sebabnja penanaman sajoer poen tiada menghasilkan barangkali terletak dalam hal tanah. Biasanja orang menanam bertoeroet2 diatas sepotong tanah itoe sadja. Demikian djoega tentang pemakaian obat2 dan tanah poepoeknja tiada diperhatikan sangat.

Menoeroet keterangan L.V.D. pemakaian ikan boesoek sebagai obat sajoeran (teroetama kool) bertambah lama semangkin berbahaja bagi kesoeboeran tanah.

Sekarang ini sekerandjang besar sajoer poetih dapat dibeli dengan harga 30 sen atau lebih moerah, soenggoeh poen harga barang2 telah rata2 naik 5-10 pCt.

Oleh karena Pemerintah dan L.V.D. memperhatikan djoega akan perdagangan ra’iat oemoemnja, ada harapan harga2 akan dapat naik sedikit. (Pengoemoeman harga2 pasar di Penang dan Singapoera kepada Kaoem Tani jang berdjoealan ke Pekan2 ada djoega faedahnja oentoek ini).

Deli Gids (1938)

Boenga-boengaan

Perkebonan boenga2an baroe ± 8 tahoen dikenali oleh orang Karo. Jang berichtiar memberikan tjontoh dan memadjoekan peroesahaan bertanam boenga di Tanah Karo ialah Tuinbouwkundig-Ambtenaar Toean Bange djoega semoelanja, sehingga sekarang kota Kabandjahe boleh dibilang ada satoe kota boenga: Brastagi tiada poela maoe ketinggalan.

Pada wjaktoe ini djalan besar antara Kabandjahe-Laoesimomo penoeh dengan kebon2 boenga dan ± 3 Km. dari poesat kota Kabandjahe ke Brastagi djoega kedapatan kebon2 boenga, jang diperoesahakan oleh Kaoem Tani Karo sendiri dan beberapa bangsa Eropah poen djoega.

Tetapi peroesahaan boenga djoega sekarang ini tiada seberapa mengoentoengkan lagi bagi penanam2nja hanja bagi saudagar2nja bangsa Eropab di Medan ini. Kekoerangan ilmoe perniagaan pada bangsa Karo menjebabkan peroesahaannja ini tiada dapat madjoe, tiada dapat memberikan hasil jang sebesar2nja. Saudagar boenga bangsa Barat memperdagangkan hasil kebon mereka sampai2 ke Penang dan Singapore.

Kantoor L.V.D. di Kaban Djahe telah mentjoba djoega mengirim boenga jang dibelinja dari penanam-penanam particulier di kota Brastagi dan Kaban Djahe ke Singapore dengan mendapat hasil jang baik. Harga jang diberikannja pada penanam penanam boenga lebih tinggi dari harga jang mereka peroleh di Medan dan ditempatnja sendiri, tetapi penanam-penanam boenga itoe tiada pernah datang bertanjakan hal pengiriman itoe bagaimana dilakoekan.

Gandoem.

Biarpoen sekarang ini peroesahaan bertanam Gandoem tiada lagi, baik djoega rasanja dibawah ini ditoeliskan sedikit tentang peroesahan itoe. Atas andjoeran T.V.D. kira-kira didalam tahoen 1925 bertanam gandoem sangat dimadjoekan oleh kaoem tani Karo.

T.V.D. membeli hasil gandoem jang diperoleh dari bibit jang diberikannja. Gilingan gandoem diadakan poela, sementara gandoem jang telah digiling itoe dia sendiri poela jang membelinja atau mentjahari pembelinja.

Tidak heran kalau peroesahaan ini ketika itoe mengoentoengkan djoega bagi kaoem tani jang mengoesahakannja. Setelah T.V.D. tiada tjampoer tangan lagi didalam hal ini, peroesahaan itoepoen mati, dan teroes sampai sekarang tiada diperhatikan orang lagi disana.

SEDIKIT TENTANG PENGHIDOEPANNJA.

Setelah kita terangkan diatas penghasilan Tanah Karo, sekarang kita hendak bitjarakan sedikit tentang penghidoepan bangsa itoe. Bangsa ini sangat menghormati saudara iboenja atau mertoeanja (ajah isterinja), jang dinamai mereka Kalimboeboe. Betoel ditempat tempat lain djoega saudara iboe dan mertoea itoe dihormati tetapi tidak sekeras di Karo, dimana Kalimboeboe itoe selain dari disajangi djoega ditakoeti.

Tidak heran kalau Kalimboeboe itoe digelar orang Karo: Debata Idah (Toehan jang kelihatan).

Banjak poela pantang jang mesti diawasi terhadap Kalimboeboe itoe. Salah satoe pantang jang terbesar ialah: (ma’af) melepaskan angin dihadapan. Kalimboeboenja (dengan tidak sengadja). Pernah kedjadian jang demikian, sehingga oleh karena maloenja jang “bersalah” tadi ia meninggalkan kampoengnja bersama-sama anak bininja.

Djoega ada terdengar bahasa jang salah itoe karena tidak tahan maloe lagi, mengambil djalan jang nekat, jaitoe, memboenoeh diri, didalam bahasa karo jang begini dinamai “endelis”. Pendeknja Kalimboeboe itoe mesti dihormati sangat, ditoeroet segala perintahnja, dan disajangi poela.

Djikalau Kalimboeboe itoe mengadakan pesta atau mendirikan roemah baroe, wadjiblah akan anak beroe itoe bekerdja, dan mentjahari perkakas perkakas roemah. Sebagaimana ditempat tempat lain djoega, adat jang keras dari pendoedoek Karo itoe soedah moelai berkoerang, teroetama semendjak agama Kristen dan Agama Islam masoek kesana.

Pendoedoek Karo sekarang soedah banjak jang meniroe adat Melajoe. Dibahagian Langkat, adat Karo itoe boleh dibilang soedah hampir habis oleh karena perhoeboengan jang rapat dengan bangsa Melajoe, dan disebabkan djoega berdirinja sekolah-sekolah.

Soekoe atau Merga.

Bangsa Karo ada mempoenjai 5 soekoe:

Pertama : Karo karo :

Baroes, Kataren, Goeroe Singa, Poerba, Sinoe Hadji, Karo Karo sekali, Sitepoe dan Boekit.

Kedoea : Ginting :

Soeka, Manik, Seragih, Moente, Baban dan Djawak.

Ketiga : Perangin-angin :

Lembong, Perasai, Batoe Karang, Koeta Boeloeh, Soeka Tendel dan Keliat.

Keempat: Tarigan :

Gerneng, Gersang, Sibero, Tambak Bawang, Toea, Tamboen dan Poerba.

Kelima : Simbiring :

Kembaren. Pandia, Meliala, Pelawi, Goendoer, Tjaulia, Taikang dan Depari.

Lagoe dan Tari.

Lagoe dari bangsa Karo adalah berbagai bagai ragamnja, jang teroetama disoekai mereka adalah lagoe : Siperboenga Saoeh, Si Bolo-Bolo, Si Koeda Gara, Tipang Tipang, Gadoebang Tjit, Pantam-Pantam, dan lain2. Soenggoehpoen berbagai-bagai lagoenja, tetapi hal tarinja atau landeknja boleh dibilang hampir seroepa sadja.

Lagoe dan tari jang selaloe dipertoendjoekkan diantaranja sewaktoe habis memotong padi atau Man-Man Laoe, dan waktoe menempati roemah baroe. Tjara-tjaranja mereka bernjanji tidak banjak bedanja dengan ronggeng Melajoe, berganti-ganti dan berbalas-balasan.

Jang disoekai pemoeda-pemoeda djikalau melandek, ialah bertoetoer atau bertoeri, oentoek mengetahoei soekoe atau beroe sironggeng.

Toetoer dan toerinja itoe kira-kira seperti berikoet:

Gadis:

Djera lenga sitika toeba,

oerat doedoerta kabe koerempeh,

djenda dengangsikita djoempa,

Orat toetoerta la koeeteh.

Pemoeda:

Raga Sabi noelantei djera,

raga sabi raga sibarau,

Merga kami noeate kena,

merga kami merga si Karo-karo.

Gadis:

Enggo diroendikan djera,

Roendikan serei sereina,

Adi enggo itoeriken kena,

toeriken berei-berei na.

Pemoeda:

Serei serei na noelantei djera,

serei sigiring giring,

Adi bere berena noe ate kena,

Berei- bereina Simbiring.

Gadis:

Daboeh toealah pirang,

daboeh hina teger toedoengkoe,

Adi oela sikita sirang,

kena sitambar loengoenkoe.

Pemoeda:

Pakoe enggo koeroendiken,

Roendiken tjengkeroe nibaba kena,

Adi akoe enggo koetoerikan,

toeriken beroe nibaba kena.

Gadis:

Tjengkeroe sabi noelantei djèra,

tjengkeroe sabi si giring giring,

Adi beroe kami noeate kena,

Beroe kami, beroe Ginting.

Bagi bangsa Karo jang tidak sesoekoe dinamai ber-impal. Djikalau mereka jang melandak itoe sesoekoe atau semarga, pantoen itoe tidak sarnpai dipandjangkan mereka, karena kedoeanja adalah dianggap bersaudara atau bertoerang.

Tetapi djikalau mereka jang melandek itoe ber-impal, berbagai-bagailah ragamnja njanjian jang diseboet mereka itoe, oempamanja:

Paoeh goemba djera paoeh goemba sabi,

soekat sibiring biringen,

Daoh koeta kena daoh koeta kami,

soerat sikirim kirimen.

Borilang tjinta goempari,

kereken tjaleh tjalehen,

Adi sirang kita goendari,

koeberekan maneh manehen.

Rirang tjinta goempari,

barat lawas sabi keloemba sabi,

Adi sirang kita goendari,

Melarat kap sibagei kami.

Rendana sigoemba djera,

boeloeng kelawas sipergendangen,

Enggo koedahi koekoeta kena,

oela melewas simantandangen.

Kapas kedong belembang boeloeh,

Pieres ires lada djera sitangkei lenga.

Melampas medem melawen toendoeh,

Inget sada, atekoe ngena.

Oerat kenas siranting taganken,

oerat sirendek djaba roendiken,

Moeas melehé bantji tahanken,

atekoe metedeh djapa toeriken.

Sarat sibage djera,

Garat gatap poelau piandang,

Adi melarat sigia kena,

tatap tarei boelan megandjang.

….. dan sebagainja.

Djika bangsa Karo hendak menanjakan soekoe terhadap seorang gadis, tidak ditanjakan merga, mestinja beroe: oemapamanja: “Beroe kai kam ?”, dan terhadap kepada laki-laki, baroe dikatakan: “Kai kin mergandoe ?”.

Tentoe pembatja mengerti bahasa apa jang kita oeraikan diatas ini tidak lengkap sebagai mestinja, karena boekoe ini tidak dispecialkan oentoek mentjeritakan adat Karo itoe.

Selesai.

——–

1938.

Controleur Onderafdeeling de Karolanden: G. E. Bloem.

Inspektoer polis bertempat di Kabandjahei: A. Bremer

Kepala Boemipoetra:

Lingga dan daerahnja: Radja Kalelong.

Baroesdjahé dan daerahnja: Si Garang.

Soeka dan daerahnja: Ninggoeri Ginting Soeka.

Sarinembah dan daerahnja: Elok.

Koetaboeloeh dan daerahnja: Si Litmalem.

Sumber : Deli Gids 1938. Terbit tahun 1938.

———

Catatan dari Admin Karosiadi:

Budidaya Gandum di dataran tinggi Karo mulai berkurang juga disebabkan oleh turunnya harga gandum dan tepung terigu. Ini terjadi akibat “Krisis Malaise” atau great depression di dunia saat itu. Ini adalah sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi secara dramatis di seluruh dunia yang mulai terjadi pada tahun 1929. Dapat dibaca di: Krisis Malaise dan Gandum dari Karo.

Tapanoeli yang dimaksud adalah Keresidenan Tapanuli. Di masa Kolonial Belanda,  Provinsi Sumatera saat ini terbagi atas Keresidenan Sumatera Timur (Pantai Timur Sumatera) dan Keresidenan Tapanuli. Afdeling Simelungen en Karolanden, Deli en Serdang, Medan, Binjai juga Langkat masuk ke Keresidenan Sumatera Timur. Dairi masuk ke Keresidenan Tapanuli.

Dienst Land-en Tuinbouwvoorlichting (Dinas Informasi Pertanian dan Hortikultura) = T.V.D

Peroesahaan = perkebunan.

Hoofdproduct = produk utama.

Landschaps kas = dana/kas pemerintahan lanskap atau daerah.

B.B = Binnenlands Bestuur atau Departemen Pemerintahan Dalam Negeri Hindia Belanda.

Zelfbestuur = pemerintahan sendiri/local.

Landbouwvoorlichtingsdienst (L.V.D) = layanan penyuluhan pertanian.

S.O.K  = Sumatera Oostkust (Pantai Timur Sumatera)

Van-Heutz Gebergte = Pegunungan Van-Heutz. Kemungkinan Pegunungan dari Karo hingga Aceh. Joannes Benedictus van Heutsz (lahir di Coevorden, Belanda, 3 Februari 1851 – meninggal di Montreux, Swiss, 10 Juli 1924 pada umur 73 tahun) adalah Gubernur-Jenderal Hindia Belanda. Ia memerintah dari tanggal 1 Oktober 1904 sampai 18 Desember 1909. Van Heutsz terkenal perannya dalam Perang Aceh.

Tuinbouwkundig Ambtenaar = Pegawai Dinas Hortikultura.

No More Posts Available.

No more pages to load.