,

Perjalanan ke Karo, 1890 (bahagian 1)

by -414 views
Para Perempuan Karo. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.
Para Perempuan Karo. Dari buku Un an en Malaisie (1889-1890) oleh Jules Claine.

Koran Deli Courant menuliskan tulisan bersambung tanggal 22 Maret 1890 dan 26 Maret 1890 tentang perjalanan ke Karo oleh N. Brinkman. Jr. selama 7 hari. Saat itu, dataran tinggi Karo belum bisa ditaklukkan oleh Kolonial Belanda.

Perjalanan Tujuh Hari ke Dataran Tinggi Karo (Bagian 1)

Ditulis oleh N. Brinkman. Jr.

(Diterjemahkan oleh Edi Santana Sembiring)

Sumber: koran Deli Courant tanggal 22 Maret 1890.

Pada malam tanggal 8, kami siap untuk memulai perjalanan. Baru pada hari itu rencana ini membuahkan hasil, meskipun banyak halangan yang diterima sesaat sebelum keberangkatan kami. Masih terjadi pergerakan perang di pinggiran daerah tujuan perjalanan kami, membuat kami menimbang-nimbang sejenak.

Namun setelah beristirahat, kami tidak ingin mundur. Jadi sekitar jam 8 pagi, dengan ditemani oleh empat porter (tukang pengangkut), kami berangkat ke titik awal perjalanan kami yakni Perkebunan Deli Toewa. Kami diberi kesempatan, melalui campur tangan dari Administratur (pejabat di perkebunan) yang dapat diandalkan untuk memberikan panduan yang akan menemani kami keesokan paginya.

Malam itu kami tiba di bagian perkebunan tersebut, dan kami diterima dengan sangat ramah. Kami juga diberi perbekalan sebanyak mungkin. Karena kemarin kami tergesa-gesa berangkat dari Medan, membuat, melupakan beberapa hal yang diperlukan.

Meskipun kami bangun pagi-pagi, kami belum siap untuk berbaris sebelum jam 8, karena persiapan yang masih harus dilakukan. Awalnya otot-otot kami belum terbiasa melintasi jalur yang kadang naik dan turun, sehingga setelah berjalan sekitar satu jam kami mulai merasakan perubahan di betis. Namun, ini bersifat sementara.

Bergerak di sepanjang Pertjut, kami melihat Namoesoeroh di seberang sungai. Setelah berjalan selama lebih kurang 1,5 jam ke arah barat daya, kami berhenti pertama kali di kampung Kwala.

Kami melihat rumah-rumah penduduk, potongan-potongan bambu, batok kelapa, kayu nibong, dan lainnya. Hewan-hewan bergerak bebas seperti babi, kambing serta ayam. Semua hewan itu mudah berkembang biak sehingga tidak terlalu diperhatikan.  

Pekerjaan di dalam dan di luar rumah, yang terakhir terutama terbatas pada pekerjaan di sawah, dilakukan secara eksklusif oleh perempuan. Sementara para laki-laki itu umumnya tidak melakukan itu. Para laki-laki membangun rumah, berperang, kadang membajak tanah dan melakukan perdagangan kuda.

Di Kwala, kami memperkuat diri dengan sedikit nasi dan telur. Dan setelah memuaskan dahaga kami dengan air kelapa muda, kami berangkat lagi dikawal beberapa penduduk yang penasaran.

Kesan pertama yang kami ambil di sini tentang wajah laki-laki, bukanlah salah satu yang paling baik. Tetapi para perempuan di sisi lain, memiliki wajah yang lebih manis, dan kecantikan muda itu ditakdirkan untuk berbagi suka dan duka dengan laki-laki berambut panjang itu.

Pakaian laki-laki hanya sebatas kain penutup kepala, sarung di sekitar pinggul hingga kaki, serta sehelai kain yang dililitkan di bahu untuk menutupi tubuh bagian atas. Perempuan, jauh di depan laki-laki dalam hal berpakaian.

Perempuan memakai sarung berwarna biru tua menutupi kaki, kain berwarna sama menutupi kepala, seperti perempuan Italia mengenakan hiasan kepala ini. Sementara selembar kain lain menutup bahu dan punggung namun agak diregangkan di tengah dada, memperlihatkan leher dan bagian atas payudara dan terlihat indah.

Selain itu, para perempuan mengenakan perhiasan perak besar (perhiasan padung maksudnya, red.) di setiap telinga. Sangat sulit untuk dijelaskan, tetapi menurut kami pasti tidak nyaman. Setidaknya tidak dapat dimengerti oleh kita, bagaimana mereka dapat menggerakkan kepala mereka dengan tenang dengan adanya perhiasan ini. Tapi bisa, kalau sudah terbiasa.

Dari Kwala perjalanan kami lanjutkan menyusuri kampung Petumbukan (Pertumbuken) dan menuju ke Ladja. Di Ladja kami diterima dengan acuh tak acuh oleh Panghoeloe, yang menyerahkannya kepada kami untuk menemukan tempat di mana kami bisa meletakkan kepala kami di malam hari.

Tingkah laku teman seperjalanan saya yang baik, sedikit membangunkannya dari kantuknya. Sehingga kami segera diberi 2 ekor ayam, beberapa butir telur dan nasi dengan pembayaran. Dan rasa masakannya sangat enak bagi kami dan kuli kami.

Jarak yang kami tempuh pada hari pertama ini tidak terlalu jauh, tetapi, seperti semuanya, sulit untuk “semua permulaan” ini. Area yang kami jalani meskipun berbukit, tidak menghadirkan pemandangan yang mencolok. Terutama karena penanam tembakau yang rajin menancapkan sekopnya ke tanah hingga hutan besar akhirnya menghilang. Jalanan, meski bisa dilewati, tidak bisa dianggap “terawat,” sehingga jalan kaki pun tidak mudah.

Jembatan-jembatan besar, bagaimanapun, masih terlihat bagus, dan semua pujian pada pembuatnya. Sangat diharapkan tangan waktu akan memberikan sedikit rahmat, jika tidak saya percaya ini juga akan segera menjadi masa lalu, dan kemudian jembatan akan terputus.

Kami menghabiskan malam di sebuah tempat tinggal yang lembab, yang suasananya tercemar oleh asap dari pipa opium pemandu kami, yang katanya, mengisap ini adalah penyembuhan untuk menghilangkan hawa dingin. Selebihnya, penduduk yang muncul cukup membantu.

Dan seperti yang terlihat pada kami pada hari sebelumnya, bahwa berat barang bawaan kami melebihi kekuatan 4 pengangkut. Kami mendapatkan di kampung ini dua orang Karo yang akan menemani kami berjalan lebih jauh dengan bayaran $3 per orang.

Esoknya, setelah sarapan dengan tergesa-gesa, kami berangkat tanpa alas kaki. Kami takut harus berjalan dengan sepatu melalui rumput basah, dan terlebih lagi kami kemungkinan besar harus mengarungi sungai berulang kali pagi itu.

Namun, ketika telapak kaki kami berkenalan dengan potongan-potongan kecil kerikil di sepanjang jalan, kami memutuskan untuk merancang alas kaki untuk waktu berikutnya, yang menggabungkan kemudahan untuk cepat dilepas dan tahan terhadap air. Setelah melewati beberapa jurang, mendaki dan menuruni cukup jauh, kami tiba di Kampung Boeloehauer (Buluh Awar).

Dalam perjalanan yang kami lalui, saya mengalami kemalangan saat bertemu dengan tanaman, yang akan selalu saya ingat dan membuat bergidik. Karena saya ceroboh, saya menggenggam “doun Kemadoe” (daun Lateng), yang menyebabkan saya kesakitan hingga ingin berteriak.

Sangat terasa seolah-olah setiap jari pelan-pelan mengalami proses pembakaran. Dan dagingnya sangat sensitif, sehingga setiap perubahan suhu rasa sakit yang paling parah muncul.

Selama tiga hari saya tidak bisa berbuat apa-apa, ini bukti seberapa kuat racun dari tanaman ini. Perban dengan minyak tanah tidak banyak berguna. Dan sekarang, di perjalanan kembali saya masih merasakan sakit terbakar yang sama di beberapa tempat.

Jadi semua orang harus waspada. Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan tanaman ini, perhatikan bahwa ia memiliki batang hijau lembut yang tumbuh setinggi laki-laki, sedangkan daunnya seukuran tangan dan memiliki penampilan berbulu.

Keracunan tidak masuk ke dalam bahagian tangan saya. Sehingga saya berpikir bahwa racun hanya mempengaruhi saraf dan bukan darah.

Di Boeloehauer, pemandangan yang sama kami jumpai, perempuan bekerja dan hewan seperti babi, kambing, ayam, dan lain-lain berkeliaran. Setelah sedikit beristirahat memulihkan kekuatan batin manusia, kami mengambil jalan ke Toenkoean (mungkin maksudnya Ketangkoehan, – red.). Dan kami tiba di sana setelah beberapa jam.

Setelah kami menemukan tempat bermalam di sana, kami menyegarkan diri di mata air yang jaraknya sekitar 50 meter di bawah (?). Kami mencicipi ayam panggang dengan nasi dan sedikit chutney.

Telah direndam dengan air dan Brendi (Brandy), namun tangan saya masih sakit, dan saya khawatir saya tidak akan bisa mendapatkan tidur pulas yang dibutuhkan. Saya menipu perut saya dengan beberapa tetes Laudanum, yang tidak ketinggalan efeknya.

Pagi-pagi sekali dalam perjalanan ke Tjinkem (Cingkem), sebuah kampung yang terletak di kaki Baros (Deleng Barus) dan nama celah/jalur yang disebut Tjinkem Pass, kami melintasi sawah, melewati sungai dan beberapa kampung yang kurang penting, yang kami tinggalkan. Di sekitar Tjinkem, kami mencicipi kesulitan yang harus kami atasi dengan langkah besar.

Lorong-lorong di antara potongan-potongan batu yang begitu sempit dan curam sehingga tampaknya hampir tidak mungkin bagi Kuda dan Kerbau melewatinya. Namun tidak begitu kenyataannya, karena di tanahnya jelas memiliki tapak-tapak kaki bekasnya, dan terlebih lagi telah kami konfirmasi kepada orang Karo.

Tjinkem sendiri adalah desa kecil dan jika pelancong dapat menghindarinya, disarankan untuk membagi perjalanan sedemikian rupa sehingga tidak perlu bermalam di sana. Di daerah ini di mana-mana, yang satu lebih baik dari yang lain dan yang satu harus memperhatikan itu.

Di jalur celah Tjinkem dimulai kesulitan besar. Seseorang pasti perlu melakukan olahraga jika ia ingin memiliki ketahanan dan kecepatan yang cukup untuk mencapai tujuan tanpa tersandung. Pukul 12 siang, pendakian dimulai dan sekitar pukul 2 siang kami sudah berada di titik tertinggi. Lalu kami mulai turun lagi, tetapi yang terakhir hanya sangat sedikit, karena kami akan segera mencapai dataran tinggi.

Sekitar setengah jalan, kami dikejutkan oleh panorama yang indah. Deli terbentang di hadapan kami dengan segala kehebatannya. Kami menyukai udara yang sedikit berkabut, sehingga kenikmatan pemandangan tidak akan sedikit meningkat.

Laut bergulung tenang dan megah ke pantai, garis Belawan cukup jelas. Kami memperkirakan ketinggian di mana kami sekarang berada di ± 4000 kaki. Selama perjalanan melewati celah Tjinkem (Cingkem Pass), disarankan untuk menyiapkan senjata anda, karena beberapa orang jahat cenderung berjalan-jalan di sini.

Oleh karena itu, kebanyakan orang Karo dipersenjatai dengan senapan atau parang ataupun pisau. Jalan yang melewati celah tersebut sebenarnya tidak pantas disebut demikian, karena menurut saya jalan tersebut tidak lebih dari sebuah drainase alami bagi kumpulan air yang mengalir turun saat hujan.

Bersambung ke bahagian kedua.

Catatan dari Karo Siadi:

Koran Deli Courant menuliskan tulisan bersambung tanggal 22 Maret 1890 dan 26 Maret 1890 tentang perjalanan N. Brinkman. Jr. selama 7 hari ke dataran tinggi Karo. Judul asli adalah “Een zevendaagsche Tocht naar de Battaklanden“.

Judul direvisi menjadi “Perjalanan Tujuh Hari ke Dataran Tinggi Karokarena daerah yang dimaksud adalah dataran tinggi Karo dan bukan Tano Batak (Bataklanden). Saat itu dataran tinggi Karo belum ditaklukkan oleh Kolonial Belanda. Dan penulis-penulis asing saat itu masih menganggap semua orang di pedalaman adalah Batak dan yang berada di pesisir adalah Melayu. Sementara dataran tinggi Karo bukanlah Bataklanden atau Tano Batak. Dan orang Karo bukanlah orang Batak.

Bataklanden adalah nama Afdeling (Kabupaten) di Keresidenan (Provinsi) Tapanuli di masa kolonial Belanda. Setelah berakhirnya Perang yang dipimpin Pa Garamata atau Kiras Bangun (Pahlwan Nasional), Kolonial Belanda menguasai dataran tinggi Karo dan terbentuklah pemerintahan dan dataran tinggi Karo dinamakan Onderafdeling Karolanden atau Taneh Karo. Simalungun dan dataran tinggi Karo digabungkan dalam satu Afdeling yang bernama Afdeling Simalungun en Karolanden dan berada di Keresidenan Pantai Timur Sumatera.

No More Posts Available.

No more pages to load.