Maka lit sekali jadi tua-tua nuan tualah. Tua-tua ’ndai agakna waluh puluh tahun umurna. Maka reh anak perana telu kalak, nina tare
Karo Siadi
Sipatu Kuda
Gawah-gawah me kalak perjuma ras anakna ku kuta Anu. Sidang erdalin ia idahna ibas pasar sipatu kuda. “To tongat, buat sipatu kuda
Tjarda van Starkenborgh, Berastagi Hingga Penjara Manchuria
Koran De Sumatra Post tanggal 26-03-1940 menuliskan perjalanan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda ke Sumatera Timur. Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer bisa
Uliling
Asum si Sapa langa mbelin, la itehna uliling. Ibas sada wari gawah-gawah ia ku kerangen, ersurak – surak : “Aiyo, Aiyo!” Mintes
Menci ras Kucing
Maka ibas sada kuta lit sada kucing si mekelek nggit ngayak-ngayak menci tep-tep wari. Maka sikali djadi sangana kucing ndai lawes ku
Westerling dan Inoue : Petualang yang Beraksi di Indonesia
Nama Westerling mungkin sudah tak asing didengar. Berbeda dengan Inoue yang mungkin tak banyak diketahui. Di daerah Sumatera Timur, Inoue Tetsuro adalah
Brastagi dan Medan di Koran Sin Po (1938)
Koran Sin Po adalah koran Tionghoa-Melayu (peranakan) berbahasa Melayu yang terbit di Hindia Belanda sejak tahun 1 Oktober 1910. Pertama kali diterbitkan
Raja Copet dari Medan
Koran De Sumatra Post menuliskan keberadaan “Raja Copet dari Medan” pada masa Kolonial Belanda berkuasa. Oleh media-media cetak, ia diberi julukan “Radja
Geriten di Depan Istana Sultan Deli (1862)
Harian “Sumatra Courant” pada tanggal 06-08-1864 menuliskan perjalanan Elisa Netscher ke Wilayah Deli. Netscher singgah di Labuhan Deli pada tahun 1862. Netscher
Bayi-bayi Karo (1932)
Pada tahun 1932, Jacob Hijmans De Haas (kelahiran Middelharnis, Belanda) melakukan penelitian ke Karo dibidang kesehatan khususnya mengenai kesehatan bayi dan proses
No More Posts Available.
No more pages to load.















