Untuk itu Kumpul Sinuhaji yang aktif dalam bidang kebudayaan, berusaha mendirikan sebuah teater bernama “Rakab De Trio.” Tujuannya agar Gerindo mendapat perhatian masyarakat luas dan mengembangkan kebudayaan nasional. Kumpul Sinuhaji mendapat bantuan dari masyarakat, lakon yang dipentaskan selalu mendapat perhatian dari masyarakat ramai.
Lakon yang dipentaskan berjudul : Sipincang, Perantaian 12, Ali Baba, Sipitung dll. Sandiwara “Rakab De Trio” berkeliling baik ke kota-kota hingga perkampungan-perkampungan di wilayah perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur.
Kemana saja pertunjukkan bergeser, polisi rahasia Belanda (PID) selalu mengikuti. Di sebuah malam yang naas, Sandiwara Rakab De Trio bermain di sebuah perkebunan di dekat Rantau Parapat. Lakon yang dimainkan berjudul Perantaian 12. Baru babak pertama selesai, tiba-tiba PID muncul untuk menghentikan. Dilarang untuk dilanjutkan karena berbau politik dan dianggap dapat mengacaukan keamanan.
Kumpul Sinuhaji dan kawan-kawan bersikeras untuk melanjutkan pertunjukkan. Namun PID mengancam akan membubarkan bila pertunjukkan dilanjut. Dan ancaman dengan pistol pun dilakukan oleh PID.
Seorang pembantu Kumpul Sinuhaji panik saat melihat pistol diacungkan. Reflek ia menangkap pistol tersebut dan merangkul cepat sang PID. Kumpul Sinuhaji mencabut pisau Tumbuk Lada dipinggangnya dan menghunus ke perut PID. PID pun tewas seketika.
Keadaan makin kacau, penonton berlarian pulang dengan ketakutan. Dan kemudian selusin polisi datang menangkap Kumpul Sinuhaji, sedang pembantunya telah melarikan diri.
Kumpul Sinuhaji ditahan di Rantau Prapat. Dan pengadilan memutuskan ia dijatuhi hukuman seumur hidup dan dibuang ke Ambon. Akhirnya ia meninggalkan Medan dan dibawa bertolak menuju Ambon.








