Pa Mbelgah dan Tassilo Adam (Bagian 2)

by -375 views
Sibayak Pa Mbelgah. Fotografer Tassilo Adam. Koleksi Tropenmuseum.

Kehebatan Tassilo Adam adalah mampu mendapatkan kepercayaan. Ini memang bukanlah prasyarat untuk menjadi fotografer yang baik, tetapi itu sangat berguna. Ia mampu mendekati Sibayak Pa Mbelgah yang sangat ditakuti masa itu, hingga Sibayak Pa Mbelgah mau membawa keluar tengkorak-tengkorak leluhurnya dari Geriten (rumah tengkorak) khusus untuk difoto.

Karena persahabatan dan rasa terima kasih, Tassilo Adam membuat foto yang bagus dari wajah Pa Mbelgah dan menawarinya cetakan foto itu. Namun Pa Mbelgah keberatan atas tawaran ini.

Sambungan dari bahagian pertama

Koran De Sumatra Post tanggal 27 Febuari 1918 menuliskan bahwa Pa Mbelgah memiliki keberatan atas perhatian itu. Belakangan diketahui bahwa Tassilo Adam dengan niat baiknya, telah melakukan kecerobohan besar kepada Sibayak Pa Mbelgah ini.

De Sumatra Post, 27-02-1918
De Sumatra Post, 27-02-1918

Di negeri Karo, tengkorak kepala yang ditaruh di Geriten. Sehingga itu juga membuat kepala di sana menjadi simbol kematian. Dan Tassilo Adam memberi Pa Mbelgah foto kepala atau wajahnya sendiri, dengan demikian “mengingatkan” kematian. Dan itu, tentu saja, tidak menyenangkan.

Masalah ini bisa diselesaikan. Tassilo Adam mengambil kembali foto wajah tapi dengan membuat bidikan yang luas dan bagus dari Pa Mbelgah. Dan kembali semuanya baik-baik saja. Pemberian hadiah foto itu diterima dengan penuh terima kasih.

Pa Mbelgah memahami perbedaan sopan santun dan adat istiadat dengan orang Eropa. Dia berpikir bahwa orang Eropa bebas dalam banyak hal, namun tidak menyembunyikan pendapatnya.

Selanjutnya, koran De Sumatra Post tanggal 27 Febuari 1918 ini menuliskan kedatangan Pa Mbelgah ke Luna Park di Esplanade (Lapangan Merdeka di Medan saat ini). Ia datang katanya, untuk melihat apa yang lagi-lagi dia anggap “gila” dari orang Eropa. Pa Mbelgah dengan cepat memahami.

Beberapa tahun yang lalu, Pa Mbelgah kehilangan seorang putra karena kematian. Sejauh yang diketahui koran De Sumatra Post, Pa Mbelgah tidak mempunyai putra lagi.

Pada bahagian penutup, koran De Sumatra Post tanggal 27 Febuari 1918 menuliskan:

“Oleh karena itu, otoritas yang dia jalankan atas rakyatnya mungkin sekarang akan beralih ke Pa Palita, seorang saingan yang telah dia pertengkarkan dan hadapi sepanjang hidupnya, yang mengakibatkan banyak pembunuhan dan intrik yang tak ada habisnya. Kadang-kadang Palita yang memimpin, dan kemudian Mbelgah lagi, tetapi Mbelgah akhirnya. Dan sekarang sampai kematiannya. Seperti yang sudah dikatakan sehari sebelum kemarin, bersama Pa Mbelgah peninggalan zaman Karo yang luar biasa telah hilang”.

Sedikit tentang Tassilo Adam (1878–1955)

Tassilo Adam adalah berkebangsaan Jerman. Ia adalah ahli etnologi, fotografer dan pembuat film di masa Kolonial Hindia Belanda. Tassilo Adam telah mengabadikan istana, penguasa, dan pemandangan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Tassilo Adam juga bekerja di Sumatera. Ia menyumbangkan foto-foto orang Karo, Melayu, Batak dan suku-suku lainnya di Sumatera, serta catatan tentang tari Jawa Tengah pada Royal Tropical Institute di Amsterdam pada bulan Agustus 1944.

Tassilo Adam lahir di Munich pada tahun 1878. Ayahnya adalah pelukis Jerman bernama Emil Adam dan ibuanya berdarah Italia. Usia 16, ia belajar ke Wina. Selanjutnya memutuskan untuk mengunjungi Sumatera. Dia lalu bekerja di perkebunan tembakau Belanda di Deli, pantai timur Sumatera.

Ia terkena malaria. Lalu mengambil cuti sakit dan kembali ke Wina pada tahun 1912. Di sana ia menikahi Johanna. Dua tahun kemudian, Tassilo Adam kembali ke Hindia Belanda.

Pada tahun 1914, ia mendirikan studio foto di Pematangsiantar. Dia memotret orang Karo, Simalungun, Batak, Kubu hingga orang-orang di pulau Nias. Ia juga mengoleksi artefak-artefak dari daerah yang ia kunjungi dan lalu ia bagikan ke museum-museum di Belanda.

Pada tahun 1921, Tassilo Adam dan keluarga pindah ke Yogyakarta. Ia mendirikan studio fotografi lain. Ia telah memiliki tiga anak yang lahir di Sumatera yakni Lilo, Claus dan Inge.

Kehebatan Tassilo Adam adalah mampu mendapatkan kepercayaan. Ini memang bukanlah prasyarat untuk menjadi fotografer yang baik, tetapi itu sangat berguna.

Ia mampu mendekati Sibayak Pa Mbelgah yang sangat ditakuti masa itu, hingga Sibayak Pa Mbelgah mau membawa keluar tengkorak-tengkorak leluhurnya dari Geriten (rumah tengkorak) khusus untuk difoto. Bahkan dilengkapi dengan kain dan perhiasan yang paling berharga. Pa Mbelgah dan keluarganya di Kabanjahe mau turut difoto bersama dengan tengkorak leluhur mereka di depan mereka.

Begitu pula saat di pulau Jawa, Tassilo Adam mampu mendekati dan melakukan pemotretan dan memfilmkan tarian dan ritual kerajaan dengan izin Sultan Hamengku Buwono VIII.

Adam mendokumentasikan Wayang Wong, Wayang Topeng, Kuda Kepang, tari Serimpi, tari Bedoyo dan pertunjukan wayang kulit Jawa. Foto-fotonya juga menangkap kostum batik yang digunakan.

Setelah tertular disentri amuba untuk ketiga kalinya, dia kembali ke Eropa pada tahun 1926. Dia memberi kuliah saat mengunjungi Salzburg, Wina, Belanda dan New York. Tassilo Adam bekerja sebagai kurator asosiasi seni oriental dari tahun 1929 hingga 1933 di Museum Brooklyn.

No More Posts Available.

No more pages to load.