Westerling dan Inoue : Petualang yang Beraksi di Indonesia

by
Penggledahan yang dilakukan oleh tentara Belanda di zaman perang kemerdekaan. (Dok. KOMPAS).
Penggledahan yang dilakukan oleh tentara Belanda di zaman perang kemerdekaan. (Dok. KOMPAS).

Nama Westerling mungkin sudah tak asing didengar. Berbeda dengan Inoue yang mungkin tak banyak diketahui. Di daerah Sumatera Timur, Inoue Tetsuro adalah pejabat militer Jepang yang sangat berpengaruh.

Inoue lahir di Fukuoka, Kyushu Utara, mungkin sekitar antara tahun 1910-1912. Ia belajar di Fakultas Pertanian Hokkaido Universitas Imperial. Setelah lulus ia pergi ke Brasil, di mana ia mendirikan dan memimpin selama dua tahun sebuah sekolah pelatihan pertanian untuk petani (migran Jepang?) di San Paulo. Ia kembali ke Jepang pada tahun 1934.

Pada tahun 1937 dia diwajibkan masuk tentara dan dikirim ke Tiongkok dengan tugas sebagai intelijen. Dengan pecahnya Perang Pasifik, dia mengajukan diri langsung ke General Yamashita di Singapura untuk diizinkan pergi ke Indonesia untuk mengembangkan lembaga pelatihan bagi petani.

Di Medan, Inoue diberi jabatan sebagai Sekretaris dari Jenderal Nakashima yaitu Chokan (Gubernur) Sumatera Timur. Lalu menjadi Kepala Kepolisian sekaligus merangkap menjadi Administrator dari Kabupaten Deli-Serdang.

Lalu ia menarik diri dari jabatan-jabatan ini pada Mei 1943 untuk berkonsentrasi pada ide awalnya yaitu mengembangkan sekolah pelatihan pertanian (yang akhirnya dinamakan Talapeta). Proyek ini dibuat sebagai garis depan dalam menanamkan cita-cita patriotik Jepang pada kalangan kelompok orang Indonesia seluas mungkin.

Kelak ketika Jepang kalah perang tahun 1945, dan Belanda bersama Sekutu datang, Inoue lebih memilih bergabung dengan anak-anak didiknya yang ada di Barisan Harimau Liar dari pada menyerahkan diri kepada Sekutu.

Majalah Star Weekly pada tanggal 5 Februari 1950 mengangkat tulisan tentang Westerling dan Inoue dalam artikel berjudul : “Dua Avonturiers Beraksi di Indonesia.” Star Weekly menyamakan peran Westerling dan Inoue, padahal sebenarnya sangat berbeda karena Inoue secara tak langsung juga berjasa dalam revolusi mempertahankan kemerdekaan. Inoue membantu memberi senjata dan perlengkapan kepada laskar-lakar rakyat dan ikut bergerilya di hutan-hutan, baik di dataran tinggi Karo maupun di daerah Tapanuli.

(Baca juga : Ingatan Inoue Tetsuro Tentang Gerakan Aron)

Tapi setidaknya, artikel ini sedikit banyak memberi gambaran akan informasi tentang Inoue yang tak banyak diketahui. Lalu gambaran tentang kehidupan Westerling begitu jelas diceritakan, seakan orang yang dimaksud berada tak jauh dari meja sang penulis.

Berikut dapat dibaca artikel tentang dua petualang yang beraksi di Indonesia di masa perang kemerdekaan. Ejaan lama tetap dipertahankan dan disertai catatan kaki akan arti kata-kata asing tertentu. Beberapa penggal tulisan tidak ikut disertakan.

Dua Avonturiers Beraksi di Indonesia.

Ex-Kenpei :  Kapt. Inoue dan Ex-Paratrooper Kapt. Westerling.

Majalah Star Weekly tanggal : 5 February 1950.

Westerling.

Jika inginkan publiciteit, bekas paratrooper Raymond Westerling memang sangat berhasil belakangan ini. Perbuatan-perbuatan dari ex-kapitein dalam tentara Belanda ini serta ”anak-anaknja sekean lama merupakan “front-page news” jang terutama. Namanja, jang berarti “orang Barat” itu, sering “menghiasi” headlines surat-surat kabar di Asia Tenggara. Sampaipun buat Secretary of State Dean Acheson “Turc’’ Westerling itu bukan nama jang asing lagi …..

Tetapi sebagai avonturier jang membingungkan pembesar-pembesar pemerintah di Indonesia, Westerling tidak uniek. Sedang bagian-bagian dari tentara RIS di Djawa-Barat sibuk mengambil tindakan-tindakan karena keadaan jang ditimbulkan oleh aksi Westerling, bagian-bagian lain dari tentara itu sekarang lakukan gerakan pembersihan di Tapanuli.

Setjara singkat riwajat Westerling sudah terkenal. Dilahirkan di Istambul, Turki, dalam tahun 1919. Ajahnja seorang Belanda, ibunja wanita Turki. Dari sinilah asalnja nama djulukannja: “Turc” Westerling. Ibunja masih tinggal di Ankara, dan menurut warta AFP sekarang sedang berdoa moga-moga anaknja bisa djadi “ratu dari Indonesia”.

Ketika perang di Eropa, sekean lama Westerling tergolong pada staf persoonlijk dari Prins Bernhard. Belakangan diselundupkan ke negeri Belanda, dan menjusun pasukan-pasukan illegaal di Brabant dan Limburg. Menurut kantor berita Tass, Westerling ada seorang agen dari Intelligence Service Inggeris. Kabarnja malah sebelum Perang Dunia II ia sudah bekerdja sebagai secret agent di Turki.

Setelah Perang di Eropa berachir, Westerling berdjoang di Burma melawan Djepang, tergolong pada bodyguard admiraal Lord Louis Mountbatten, dan belakangan di “dropped” di Sumatera Utara. Sedikit waktu sebelum penjerahan Djepang, sedjumlah pembantu-pembantunja dapat ditangkap oleh Kenpeitai. Tetapi Westerling sendiri berhasil menjelamatkan dirinja.

Spion tentara Serikat ini terlihat di Medan ketika pasukan-pasukan pendudukan Inggeris-India berada di kota tersebut. Setelah tentara Belanda mengoper pekerdjaan Inggeris, Westerling tertampak dengan dua bintang atas pundaknja: Luitenant ke-I. Waktu itulah dia menjusun Korps Speciale Troepen, jang belakangan sering mirip satu pasukan privé dari Westerling. Dari Medan Westerling dipindahkan ke Sulawesi Selatan, naik pangkat mendjadi Kapitein. ”De Turk” dengan tindakan-tindakan jang kedjam berhasil menindas “pemberontakan” disana. Karena banjaknja korban, kabarnja sampai 40.000 orang, gerakan pembersihan ini belakangan sampai menimbulkan ribut dalam Tweede Kamer. Tetapi Westerling sendiri tak pernah ditangkap buat dimadjukan depan pengadilan.

Dalam aksi polisionil tahun 1947 Westerling turut penjerbuan ke Malang. Kemudian bergerak di daerah Bogor. November 1948 ia dipetjat dari komando atas Korps Speciale Troepen-nja, diduga karena keributan dalam Tweede Kamer mengenai tindakan-tindakannja waktu di Sulawesi Selatan. Tanggal 15 Januari 1949 ia didemobiliseer atas permintaannja sendiri. Setelah ini ia sering keliatan di Bandung, kabarnja dengan isteri dan tiga anaknja. Westerling telah membuka hotel, mendjalankan perusahaan transport dan melakukan perdagangan dengan Singapore. Orang tua isterinja pun bekerdja membuka hotel, di Sukabumi. Westerling djuga sering muntjul di Puntjak di Patjet. Menurut keterangannja sendiri, ia telah mulai menjusun Apra-nja begitu dia di-demobiliseer.

Turc Westerling terkenal sebagai seorang jang sangat berani. Ketika di Medan umpamanja, ketika orang-orang Belanda tidak berani menundjukan hidungnja di luar kamp jang terlindung, dia seorang diri berani memasuki Kampung Tjiamplas dekat Pasar Bundar jang berucht itu, dengan sebuah pistol dalam tiap tangannja, dan sebilah pisau antara giginja. Dan di Medan itu seringkali ia memasuki “daerah musuh” sampai djauh sekali di sebrang garis demarkasi. Penghidupannja sebagai paratrooper dan secret agent rupanja telah melenjapkan semua perasaan takut padanja. Perbuatan-perbuatannja belakangan ini membuktikan lagi bagaimana beraninja “de Turk”.

Disamping keberaniannja, Westerling tak kalah kedjamnja! Dengan tangan sendiri ia menganiaja tawanan-tawanannja, memukul mareka dengan kursi dan sebagainja. Pembantu-pembantunja sendiri ia hadjar djuga, djika tidak memuaskan hatinja ….

Avonturier ini, jang tingginja kira-kira 1,70 meter, tetapi keliatannja lebih pendek karena badannja jang lebar dan potig itu, pun tidak kurang sifat-sifat cowboy. Ia suka sekali main-main dengan pistol, sebuah dalam tiap tangan, dan menundjukan kepandaiannja menembak djitu. Djika ada orang jang mau mendjadi pembantunja, dan orang itu mengatakan berani mati, maka Westerling ”test” dulu dengan mendadak melepaskan tembakan revolver. Djika orang itu tak berkedip karena peluru jang menjerèmpèt kupingnja itu, maka tahulah Westerling jang ia betul-betul berani. Dan bila “in the mood”, Westerling sering tantang tawanan-tawanannja, buat main boksen dengan dia. Dan mau tak mau dia lantas buka badjunja, dan “ransel” tawanannja itu……

Westerling isap roko, tetapi tak luar biasa banjaknja. Sebaliknja ia suka minum. Ketika sudah didemobiliseer, ia sering tertampak dalam dancings dan bars di Djakarta. Waktu itu dua kali seminggu sedikitnja ia bisa terlihat di Yen Pin, Prinsenpark atau Au Chat Noir. Djuga dalam lobby Hotel des Indes ia sering tertampak, dalam uniform kapiteinnja, jang ia masih terus pakai biarpun sudah didemobiliseer.

Waktu itu dia sudah mengutarakan angan-angannja. “Ik vertrouw de hele republiek voor geen cent” 一 utjapan ini sering terdengar dari mulutnja. Ia pun “gelooft niet in de Nederlandse regering”. Dan waktu itupun ia sudah sesumbar akan beraksi, dengan “20.000 pengikutnja, di Djawa, Sumatera dan Selebes”, jang terdiri dari “landbouwers”..……..

Menurut ibunja, selain bahasa Turki dan bahasa Belanda, Westerling pandai berbitjara dalam bahasa Inggeris, Perantjis, Djerman, sampaipun Junani, Tionghoa, dan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Djika berbahasa Belanda, Westerling banjak menggunakan perkataan-perkataan Inggeris. Ia biasanja omong dengan pelahan, seolah- olah hendak memasukan tiap-tiap perkataannja dalam orang jang berhadapan dengan dia. Terhadap orang baru, ia berusaha berlaku ramah-tamah, vriendelijk. Tetapi tidak urung orang baru begitu lantas dapatkan kesan jang ia sedang berbitjara dengan suatu “speurhond”. Karena matanja Westerling jang letaknja dalam itu terus mengawasi dengan tadjam, seperti ia mau mengetahui segala apa jang kita kandung dalam hati kita. Dan biarpun usahanja buat berlaku ramah-tamah, tak bisa tidak ia toh segera bitjara sebagai seorang lebih atasan, seorang meerdere, dengan terang mau mempengaruhi dan memasukan pendapatan-pendapatan serta pikiran-pikirannja pada kita……

Dan semua ini dengan disertai gerakan-gerakan tangannja jang gespierd itu, dengan menuding-nuding pada kita, atau dikepel-kepel dan didobrakan atas medja. Terhadap orang baru hampir selamanja Westerling segera mentjeritakan riwajatnja selama peperangan ini. Dan selamanja dalam bahasa Inggeris, tak perduli apa kita diperkenalkan padanja dalam bahasa Belanda. “I’ve been dropped …. ” dan seterusnja itu, telah didengar oleh kebanjakan orang jang pernah berkenalan dengan Westerling ….

Inoue.

Inoue pertama kali muntjul di Indonesia djuga di Sumatera Utara. Sebelum itu, ia sudah mempunjai pengalaman jang masak sebagai secret agent dan anggauta organisasi rahasia “Naga Hitam” jang berucht itu. Ia pernah mendjalankan rol-nja di Panama, dimana ia hampir dapat ditangkap. Sesudah Panama, Manchuria mendjadi ia punja operatieterrein, dimana ia merupakan sala seorang pembantu jang paling tjakap dari almarhum Doihara (ia ini telah didjatuhi hukuman mati sebagai pendjahat perang). Dari Manchuria ia datang di Tiongkok, sekean lama “kerdja sama” dengan Blueshirts Kuomintang. Ketika petjah Perang Pasifik, Inoue terlihat di Singapura, markas besar gerakan “Naga Hitam” untuk Asia Tenggara. Belakangan ia muntjul di Kutaradja, Medan, dan kira-kira 1,5 tahun sebelum Djepang menjerah sering tertampak dalam markas Kenpeitai di Sigli, Atjeh.

Waktu itu pangkat resmi dari Inoue hanja Luitenant ke-I. Tetapi bahwa ia bukannja seorang Luitenant biasa, bisa dibuktikan dari tingkah lakunja djika berhadapan dengan pembesar-pembesar militer Djepang jang tinggi. Pernah disaksikan, bahwa dia masuk begitu sadja dalam kamar bekerdja dari Shuchokan untuk Sumatera Timur, dengan zonder permisi atau lain-lain formaliteit. Dan zonder memberi saluut atau membongkokan badan terhadap pembesar jang lebih tinggi pangkatnja itu, ia terus berkata pada si Shuchokan jang sedang berkonperensi: “Aku mau bitjara dengan kamu”. Shuchokan itu segera berdiri, dan dengan hormat mempersilahkan dia ke ruangan lain, buat sekean lama berbisik bisik dengan Inoue …. Dan semua ini dalam tentara Djepang, jang sangat pegang teguh disiplin dan formaliteit-formaliteit penghormatan! Bahwa Inoue waktu itu merupakan satu “very important person” djuga bisa dibuktikan dari mobilnja jang bagus, dan bernomor “ST 3”. Sedang pembesar-pembesar militer Djepang jang lebih tinggi pangkatnja mempunjai nomor mobil jang lebih besar …….

Inoue, jang waktu itu berusia kira-kira 35 tahun, dan berbadan tinggi untuk seorang Djepang (kira-kira 1.65 meter), bermuka tjakap, tak mirip pada orang-orang Djepang lainnja. Ia sering berpakaian setjara Barat, tidak memakai uniform-nja. Tingka lakunja selamanja halus, sopan santun, hingga orang jang belum mengenalnja, tentu tidak akan menduga bahwa ia itu ada sala seorang agent Djepang jang paling berbahaja …. Sebagai Westerling, Inoue pun sangat populair antara ”meisjes-meisjes”. Sebagai Westerling pun, Inoue pandai beberapa bahasa asing. Ia dapat berbitjara dalam bahasa Inggeris, Djerman dan terutama Perantjis dengan lantjar sekali, pun pandai bahasa-bahasa Tionghoa, dan bahasa-bahasa daerah di Sumatera.

Ketika Djepang menjerah, Inoue tertampak di Medan, dimana ia kerdja sama dengan Jacoeb Siregar, jang belakangan terkenal sebagai tangan kanannja. Jacoeb selama pendudukan bekerdja sebagai ”guru Peta”, memberi peladjaran pada opsir-opsir Peta jang sedang dididik. Djika Inoue seorang “handsome boy”, maka dari Jacoeb ini susah dikatakan …. Menurut berita-berita belakangan ini, Jacoeb telah ditangkap oleh Majoor Bedjo dari tentara RIS. (Bukan buat pertama kalinja, karena Jacoeb sudah pernah beberapa kali masuk tangkapan, hanja saban kali dikeluarkan lagi).

Dengan datangnja tentara pendudukan Inggeris-India di Medan, Inoue angkat kaki ke Kabandjahe, dimana ia hidup sebagai seorang pereman antara orang-orang Karo disana. Waktu itu ia sudah mengumpulkan kira-kira 200 orang Djepang, jang bersendjata lengkap. Inoue sudah mempunjai isteri seorang wanita Djepang, tetapi belakangan ia menikah lagi, dengan seorang wanita Karo.

Ketika aksi polisionil, Inoue mengundurkan diri ke daerah pegunungan Tapanuli, dimana menurut dugaan ia sampai sekarang masih berkeliaran. Kekuatannja jang terutama terdiri dari laskar “Harimau Liar”, tetapi setjara resmi Inoue tidak pegang pimpinan atas laskar itu. Sebelum aksi polisionil, Harimau Liar pernah dua kali digempur oleh Polisi Tentara, karena sudah melakukan terlalu banjak perbuatan-perbuatan jang melanggar hukum. Pertama kali di Kuala Namu, kedua kalinja di Tandjung Balai. Disinilah sedjumlah anggauta laskar itu dapat ditangkap, tetapi kemudian harus dilepaskan lagi, karena Jacoeb Siregar, jang waktu itu mendjadi “wakil Kementerian Pertahanan”, tjampur tangan.

Sebaliknja dengan Westerling, Inoue belum pernah ”mengundang” wakil-wakil pers buat bertemu dengan dia. Bekerdjanja lebih setjara sembunji, dibelakang lajar. Inoue pertjaja sedalam-dalamnja …. bahwa sepuluh tahun setelah Djepang kalah, tentara Nippon akan kembali lagi menduduki Indonesia …… Dari itu ia harus mempertahankan diri, hingga tahun 1955, buat nanti memberikan bantuannja lagi, dalam Perang Pasifik II !

Inoue telah ditjari oleh djawatan-djawatan rahasia Inggeris dan Belanda, djuga oleh Republik. Karena antara lain di Porsea ia pernah “meliquideer” 18 orang dari suatu gerombolan intelligence service TRI jang terdiri dari 22 orang. Tetapi selamanja Inoue bisa “molos”. Dia terkenal sebagi orang jang sangat tjerdik dan litjin, pandai menjamar. Djika menjamar sebagai orang Indonesia, tak mungkin untuk mengenalinja. Djuga kalau berbitjara, karena ia pandai Bahasa Indonesia, dan seperti sedikit sekali orang Djepang telah berhasil tidak mendengarkan suara ”r’’ bila mengatakan perkataan Indonesia dengan suara “l”. Tidak heran, banjak pembesar pemerintah di Sumatera mendjadi gelisah, djika mareka mengetahui jang Inoue sudah turut tjampur dengan suatu kekatjauan dalam daerah mareka ……

Barangkali Westerling dan Inoue pernah berhadap-hadapan di Sumatera  Timur, biarpun tak setjara langsung Westerling sebagai anggauta tentara jang antara lain djuga ingin membekuk batang leher Inoue!

Dua avonturier ini memang mempunjai banjak hal jang sama. Dua-duanja mareka berasal dari tentara jang pernah menduduki Indonesia. Dua-duanja mulai mengindjakan kaki di Indonesia dari Sumatera Utara. Dua-duanja waktu itu berpangkat Luitenant ke-I, sama-sama dari djawatan rahasia, setidak-tidaknja dari suatu gerakan gelap. Dua-duanja sekarang berpangkat Kapitein, dan sama-sama melakukan rol nja sebagai avonturier jang mengatjaukan negara Indonesia. Jang satu bergerak di tanah pegunungan Priangan, jang lain di tanah pegunungan Tapanuli.

Catatan kaki :

publiciteit = publisitas

avonturier = petualang

berucht = terkenal

potig = kekar

boksen = tinju

Ik vertrouw de hele republiek voor geen cent = Saya tidak percaya seluruh republik untuk satu sen.

gelooft niet in de Nederlandse regering = tidak percaya pada pemerintah Belanda.

vriendelijk = ramah

speurhond = detektif, inteljen

gespierd = berotot

rol = peran

operatieterrein = daerah operasi

Shuchokan = gubernur

zonder = tanpa

meisjes = gadis

pereman = orang bebas.

Sumber foto : Kompas.com.