Wawancara dengan Sibayak Lingga di Bintang Karo (1929-1930)

by
Bintang Karo

Bintang Karo No.11, Bulan November Tahun 1929.

Pada edisi kali ini ada pengumuman perubahan susunan dalam tubuh Bintang Karo. Pimpinan Redaksi sekarang disebut Tengkoe Dachroel Bs. Editor adalah Ms. Abedah Sjarif dan Ms. Sitti Hasnah. Sementara Mr. Mahat Singarimboen, tetap disebutkan sebagai Penanggung Jawab.  Ini tercantum dalam kolom “Komite Editorial.”

Pada edisi kali ini mengangkat wawancara dengan Sibayak Lingga yang dilakukan oleh Mahat Singarimboen sendiri. Ketika ditanya bagaimana pendapat Sibayak mengenai majalah Bintang Karo, Sibayak menjawab bahwa ia merasa isinya  berguna untuk masyarakat umum. Asalkan tetap tidak mengandung kebohongan dan rekayasa, dan liputan itu harus tetap netral. Sibayak sendiri telah berlangganan empat atau lima surat kabar, dan meskipun ia tidak punya waktu untuk membaca semuanya. Berita utama selalu dibacanya.

Sibayak melanjutkan wawancara dengan menjawab beberapa pertanyaan tentang sekolah tenun Karo di Lingga. Sekolah tenun Karo telah didirikan oleh dia untuk memberikan pelatihan kejuruan yang tepat untuk para wanita, dengan maksud bahwa Misionaris dan pemerintah akan mengikuti contoh ini dan mendirikan sekolah-sekolah seperti itu.

Hasilnya tidak sia-sia, karena istri pendeta Van den Berg dari Kaban Djahe sekarang juga sibuk dengan melatih ibu-ibu rumah tangga dan lain-lain. Sekolah tenun didirikan dengan modal awal f2 pada tahun 1925 , dan para guru tidak dibayar. Tetapi sekarang semuanya dapat dibayar dengan hasil dari produk-produk sekolah tenun.

Sibayak menyatakan bahwa ia juga berkontribusi mendirikan sekolah menengah di Lingga dan Tiga Nderket dari bantuan sumbangan, tetapi kini sekolah-sekolah itu telah diambil alih oleh pemerintah tidak lama setelah pendirian. Dengan uang yang diterima untuk sekolah-sekolah ini, sekolah asrama di Lingga ini didirikan oleh Sibayak dan pimpinan Urung lainnya, sementara pembangunan sekolah asrama di Tiga Nderket baru dimulai.

Pada pertanyaan tentang sekolah mana yang didirikan setelah penutupan sekolah yang  dilakukan oleh misi (Zending), Sibayak menjawab bahwa pertama ia mendirikan sekolah desa swasta di Batoekarang pada tahun 1920, setelah sekolah desa “Karo Persadan” masuk ke dalam Lanskap Sarinembah. Pada tahun 1926, pada awal tahun akademik, semua sekolah desa diambil alih oleh Landskap.

Sibayak Lingga mengatakan bahwa sulit untuk menjawab pertanyaan mengapa sekolah-sekolah desa di Tanah Karo sekarang telah menjadi kian buruk ketika sekolah-sekolah kembali diambil alih oleh Zending dan pemerintah Belanda. Begitu pula pertanyaan mengapa kegiatan pendidikan berjalan dengan baik di masa lalu, ketika para Sibayak masih memiliki suara di dewan sekolah.

Sekolah H.I.S di Kaban Djahe didirikan pada 1922, sebelum didirikan mereka telah mengumpulkan pendanaan. Sibayak mencari cara untuk mendapatkan dukungan demi berdirinya sekolah. Ketika pewawancara menyarankan bahwa sekolah harus dipindahkan ke misi (Zending) agar lebih baik, Sibayak mengatakan bahwa baru-baru ini para pendeta dari Kaban Djahe, Laoe Si Momo dan Raya telah menemuinya dengan mengajukan rencana seperti itu. Dan mereka telah menyadari bahwa pendidikan di Tanah Karo kini berkembang pesat.

Sibayak Lingga telah mengatakan kepada mereka untuk mendiskusikan masalah ini pada pertemuan dewan sekolah berikutnya, tetapi menurut pendeta diskusi tidak diperlukan. Pendidikan di Tanah Karo memang kian berkembang pesat dan karena itu laju tercepat harus diadopsi dengan menggunakan jalan berbeda.

Tanah Karo masih terlalu jauh dari pembangunan. Pertama, jumlah sekolah harus diperbanyak, di sekolah negeri di Kaban Djahe, hanya beberapa siswa yang diterima dari banyak yang mendaftar.

 

Bintang Karo No.4, Bulan April Tahun 1930.

Seperti Sinar Deli dan Pewarta Deli, majalah Bintang Karo tidak senang dengan pemberitaan di “Deli Courant” tentang sekolah swasta  H.I.S. di Kaban Djahe, yang didirikan oleh Asosiasi Sekolah Karo. Sekolah ini telah berdiri selama 10 tahun  dan selama ini tanpa subsidi atau dukungan lain dari pemerintah. Diberitakan kini diambil alih oleh Misi (Zending) dengan membelinya dari keempat para Sibayak.

Pemberitaan “Deli Courant” dianggap berbahaya, bisa menimbulkan kebencian terhadap asosiasi sekolah atau terhadap Misi (Zending).  Sebagai penduduk Kaban Djahe, penulis mengatakan dengan pasti bahwa sekolah itu tidak dijual ke Misi (Zending), tetapi ada harapan besar dari sisi Misi (Zending) bahwa mereka akan menjadi pemilik sekolah karena para dewan serikat sekolah banyak yang merasa menyerah.

Penulis Pewarta Deli datang pada rapat umum tanggal 19 April untuk mengetahui apa niat Zending di Kaban Djahe dan apa akibatnya bagi penduduk asli. Karena dia belum tahu apa motif batin untuk Misi dalam mengambil alih sekolah.

Mungkin saja dalam niat murni Misi (Zending) yang bersikeras meminta untuk mengambil alih sekolah karena mereka melihat bahwa sekolah tidak berjalan dengan baik.  Bahwa pendidikannya kurang sempurna dan hasilnya kurang baik.

Sebaliknya, jika Misi (Zending) ingin menggagalkan sekolah dan bermaksud untuk membuat sekolah berakhir, majalah ini bersama  dengan Pewarta Deli otomatis  akan berdiri dengan gigih melawan upaya-upaya untuk membunuh aktivitas penduduk asli. Pimpinan Dewan dan anggota asosiasi sekolah itu berhak untuk melakukan tugas mereka.

Fakta di lapangan, Tanah Karo memang kini telah meningkat secara signifikan, baik di bidang ekonomi dan pendidikan. Kemajuan ini jauh lebih besar daripada di Jawa, dan faktanya bahwa Tanah Karo hanya berada di bawah kekuasaan Belanda selama 26 tahun dan  sementara Jawa selama 3 abad.  

Di Tanah Karo sudah ada banyak usaha-usaha yang berkembang, seperti bank  desa, pandai besi, pertukangan kayu, asosiasi sekolah  Karo  dan lain-lain. Bank desa Karo didirikan pada tahun 1915 oleh Sibajak Lingga,  yang sebelumnya secara khusus melakukan perjalanan  ke Pantai Barat Sumatera untuk mempelajari tentang perbankan di sana.  Kini mereka sudah memiliki modal besar, bank sentral di Kaban Djahe dan 36 cabang di seluruh negeri.

Rumah-rumah di Berastagi dan Kaban Djahe (tidak termasuk vila-vila milik orang Eropa) sejumlah 99% dimiliki oleh orang yang terlahir sebagai orang Karo. Bengkel pertukangan yang dikenal di seluruh Tanah Karo, dipimpin oleh Mr. B. Ketaren,  yang juga seorang ahli konstruksi dengan banyak pengetahuan praktis.

Pembangunan Bioskop di Berastagi oleh Batiren Ketaren
Pembangunan Gereja di Kabanjahe oleh Batiren Ketaren

Dia sekarang telah banyak melahirkan orang-orang muda Karo  yang dapat bekerja  sendiri, membangun rumah dan lain-lain.  Sepanjang Tanah Karo sangat sedikit tukang berkebangsaan Cina. Gedung bioskop di Berastagi, gedung gereja di Kabanjahe dan gedung pasar adalah karya B. Ketaren, tidak kalah dengan karya arsitek berkebangsaan Eropah.

Pendidikan pertama di Tanah Karo  dibuka oleh pemerintah Belanda melalui mediasi Zending (NZG), tetapi karena pertumbuhan “benih”  itu tidak berkembang dengan baik, Zending merasa terpaksa untuk menutup semua sekolahnya atas dasar pendapat : “Orang Karo  tidak menginginkan sekolah.” Ini terjadi pada tahun 1919.

Karena dirasa pendidikan penting, Sibayak Lingga mendirikan berbagai sekolah swasta di Lingga bersama Kepala Urung dan Penghulu desa lainnya. Semuanya didanai Sibajak, Kepala Urung dan Penghulu. Bila sekolah ini memungut biaya, sementara sebelumnya sekolah Zending gratis.

Dua tahun kemudian, ada permintaan pada pemerintah Belanda dan  Zending untuk mendirikan Sekolah H.I.S. Tapi itu dianggap pemerintah dan Zending mustahil  dan bahwa itu tidak bisa ada. Kemudian diputuskan untuk mendirikan sendiri sekolah umum H.l.S. dari dan untuk rakyat pada 6 November 1922. Orang tua murid membayar biaya masuk masuk sebesar f100 dan biaya bulanan sekolah sebesar f5.

Saat ini sekolah telah berjalan 9 tahun, tanpa subsidi dari pemerintah Belanda. Dan banyak lulusannya telah melanjutkan ke Mulo, Medan.  Sebagian besar sekolah swasta di desa-desa berada dalam pengawasan pimpinan-pimpinan (Sibajak) Lanskap di Tanah Karo.

Bintang Karo

Sekolah umum telah sangat berkembang di Berastagi dan lebih banyak lagi jumlah muridnya dibandingkan pada tahun 1929. Mungkin karena pada tahun itu ada begitu banyak mutasi di antara para guru. Sejak kedatangan Tuan Ndengkeh Ketaren, sekolah sekarang memiliki sekitar 90 murid.

Penulis mengajukan permintaan hormat kepada Inspektur Pendidikan di Medan, untuk penambahan ruang sekolah.  Sekolah di Kaban Djahe tidak bisa lagi menerima murid. Pada awal tahun ajaran 1930-1931, 150 anak harus ditolak karena kurangnya ruangan.

 

Sumber bacaan : Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers.

Catatan tambahan dari Karosiadi :

Ketika sedang terjadi Perang Dunia I di Eropah, Zending memutuskan menutup rumah-rumah sekolah di Tanah Karo. Kesulitan ekonomi salah satu penyebabnya. Sehingga para Sibajak (pimpinan masing-masing Landskap) mengambil keputusan mengambil alih sekolah-sekolah itu demi berlanjutnya pendidikan di Tanah Karo. Namun ketika kondisi di Eropah membaik, Zending dan pemerintah Kolonial mengambil alih.