Turang Memperoleh Hadiah Terbanyak

by
Pemberitaan film Turang di Star Weekly.

Yang teristimewa dari Film Turang adalah pemutaran perdana film ini tak digelar di bioskop, melainkan di Istana Merdeka. Dan ditonton langsung oleh Presiden Sukarno.

Selain itu, dalam Festival Film Indonesia (FFI) yang berlangsung dari tanggal 21 Februari 1960 hingga 25 Febuari 1960, film Turang memperoleh hadiah terbanyak. Dari 14 film yang dikompetisikan, film Turang menyapu lima penghargaan yakni :

1. Penghargaan Film Terbaik.
2. Peran Pembantu Terbaik
3. Dekor Terbaik
4. Film Drama Terbaik
5. Sutradara Terbaik

Film Turang mengangkat kisah perjuangan gerilya melawan Belanda di Tanah Karo (Sumatera Utara), khususnya di Seberaya, kampung yang pernah jadi pusat komando. Wakil komandan Rusli (Omar Bach) yang terluka diserahkan perawatannya kepada Tipi (Nyzmah), adik anggota gerilyawan Tuah (Tuahta Perangin-angin).

Tumbuhlah cinta antara Rusli dan Tipi, namun keadaan tidak memungkinkan mereka terus bersama. Serangan Belanda, atas petunjuk mata-mata Djendam (Hadisjam Thahax), memaksa pasukan terus berpindah-pindah, bergerilya.

Pada tahun 1957, perusahaan Rentjong Film bekerjasama dengan Jajasan Gedong Pemuda Indonesia untuk menghasilkan  film “Turang.”

Koran “Het nieuwsblad voor Sumatra” pada tanggal 19 Agustus 1957 menuliskan sebagai berikut :

Perjuangan Kemerdekaan di Tanah Karo Difimkan.

Perusahaan Rentjong Film, bekerjasama dengan Jajasan Gedong Pemuda Indonesia menghasilkan  film “Turang.” Film ini adalah tentang perjuangan revolusi kemerdekaan di Tanah Karo di tahun empat puluhan. Ini adalah sebuah epos kisah cinta pertama seorang komandan TNI pada masa revolusi dengan seorang gadis sederhana Karo dari desa.

Rekaman akan dilakukan di Tanah Karo. Dalam film ini akan ditampilkan kehidupan Karo, saat yang dulu dan sekarang. “Turang” juga akan menjadi film dokumenter.

Pimpinan produksi film ini dipercayakan kepada Bapak Elmud Lumban Tobing (Wakil Ketua Jajasan Gedong Pemuda) dan Mohammad Hasan (dari Perusahaan Rentjong Film), sedangkan sebagai direktur akan bertindak Bachtjar Siagian yang telah mempunyai nama dari produksi sejumlah film.

Skenario “Turang” juga ditulis oleh Siagian. Kemarin pagi ada acara selamatan di Kabandjahe sebagai awal untuk pembuatan film “Turang”. Dalam selamatan ini juga berbicara Panglima Teritorial, Djamin Gintings, yang juga sebagai Ketua Jajasan Gedong Pemuda, dan Bupati dari Tanah Karo yaitu Abdullah Eteng.

Keduanya mengungkapkan harapan bahwa pembuatan film “Turang” akan sukses. Panglima Teritorial juga yakin ini akan menjadi daya tarik bagi masyarakat setempat untuk bekerja sama untuk keberhasilan “Turang.”

Selain menyabet banyak penghargaan di dalam negeri, Film Turang juga ikut diputar dalam gelaran Festival Film Afrika-Asia di Tashkent.

Koran “Algemeen Handelsblad” pada tanggal 30 Agustus 1958 melaporkan:

Di Tashkent (ibu kota Uzbekistan) digelar Festival Film Afrika-Asia, dimana antara lain film dari Indonesia dipertunjukkan. Para penonton sangat tertarik dengan Film Turang dan film dokumenter tentang perjalanan Sukarno selama di Eropa.

Koran : Algemeen Handelsblad, 30-08-1958.

Tak hanya di Uzbekistan, Film Turang juga diputar di Bioskop Broadway New York. Kisah gelora perjuangan kemerdekaan Indonesia telah tampil di dunia luar. Kisah yang menyala-nyala seperti pidato Sukarno yang berapi-api di atas podium.