Toemboek Sinoelingga akan Bertanding ke Jawa

by
Toemboek Sinoelingga dari Bintang Meriah

Juara catur baru dari Tanah Karo telah muncul. Dan Master catur dari Serbia bernama Mr. Boris Kostic yakin bahwa pecatur di pulau Jawa yang hebat akan mungkin dikalahkan oleh jago catur dari Karo itu.

 

Munculnya Toemboek Sinoelingga

Koran De Sumatra Post pada tanggal  24-07-1916 mengabarkan akan rencana diadakannya pameran kuda mulai pada hari Selasa pagi tanggal 1 Agustus 1916. Pameran kuda tahunan akan diadakan di Kaban Djahe. Namun kali ini tidak akan berlangsung selama dua hari, tetapi hanya satu hari. Antara lain disebabkan karena tidak ada sapi dan kerbau (sehubungan dengan penyakit ternak yang belum pulih sepenuhnya) akan dipamerkan.

Kuda yang dipamerkan dikelompokkan sebagai berikut : Kuda jantan dari umur 1 hingga 2 tahun, Kuda jantan dari umur 2 hingga 3 tahun, Kuda jantan dari umur 3 tahun ke atas, Kuda betina dari umur 1 hingga 2 tahun, Kuda betina umur 2 hingga 3 tahun, Kuda betina umur 3 tahun ke atas, Kuda betina dengan anaknya yang masih kecil. .

Yang menjadi juri penentu siapa yang menang adalah dokter hewan seperti dr. G. A. van Lier, J. van der Laan dan dokter hewan Noto Soediro.

Selain pameran kuda, ada juga kegiatan pameran produk lokal, tarian dan juga diadakan pertandingan catur. Sepuluh pemain catur Karo yang terbaik ikut ambil bagian.

Raja catur terkenal Narsar Karo-karo Purba dari Tanah Karo wilayah Timur akan hadir untuk pertama kalinya. Dan juga hadir dua bintang muda dari Tanah Karo wilayah bagian Barat yang bernama Si Toemboek dan Si Ngoekoem.

 

Kemenangan Toemboek Atas Narsar

Koran De Sumatra Post pada tanggal  04-08-1916 melaporkan kegiatan Pameran Kuda di Kabanjahe yang diadakan pada tanggal 1 Agustus 1916. Dilaporkan juga hasil pertandingan catur yang dihadiri oleh juara catur Narsar.

Narsar dikalahkan oleh Toemboek. De Sumatra Post, 04-08-1916

Ini adalah pertama kalinya Narsar mengalami kekalahan. Toemboek Sinoelingga dari Bintang meriah menjadi juara 1. Sementara posisi kedua ditangan Narsar. Dan juara ketiga adalah Rantjap dari Koeta Boeloeh.

 

Toemboek Bertanding Simultan di Medan

Koran De Sumatra Post pada tanggal 27-03-1919 melaporkan tentang hasil pertandingan malam sebelumnya. Toemboek hadir di Hotel De Boer, Medan, untuk mengadakan pertandingan simultan terhadap anggota klub catur Medan.

Hanya Mr. Van Dijk, Slors dan Titz yang bisa menang. Sedangkan Mr. Fruin mendapat hasil imbang.

Sementara sebelas pemain yang tersisa harus mengakui kehebatan permainan catur Toemboek. Jago catur muda dari Karo telah muncul.

Kembali diadakan pertandingan simultan di Medan. Koran De Sumatra Post pada tanggal 09-07-1919 mengabarkan bahwa malam nanti Klub catur “Medan” akan menyelenggarakan pertunjukan simultan di Hotel De Boer mulai pukul delapan lewat seperempat. Pemain catur Toemboek akan menghadapi peserta simultan.

 

Pertandingan Catur di Acara Pameran Kuda

Kembali diadakan pameran tahunan di Kabanjahe. Koran De Sumatra Post tanggal 02-09-1919 melaporkan ramainya kota Kabanjahe. Seperti acara tahunan sebelumnya, kemeriahan ditandai dengan banyaknya orang-orang dan kendaraan berseliweran di jalan.

Hiruk-pikuk menggeliat di sekitar kota. Tampak kerumunan di alun-alun (tanah lapang). Dan kuda-kuda satu persatu berjalan gagah dibawa masuk ke arena pameran.

Ada sekitar 400 ekor kuda yang dipamerkan. Orang-orang Karo tampak sabar menunggu sampai juri memutuskan siapa pemenangnya.

Orang-orang Karo itu terlihat juga kritis, mereka mengamati tajam setiap kuda-kuda yang masuk untuk diperiksa oleh para juri yang terdiri dari dokter-dokter hewan. Ribuan mata melihat cara dokter-dokter itu mengamati dan meraba para kuda.

Memang ada sedikit cara pandang orang Karo yang menganggap bahwa kuda yang laku di pasaran adalah yang kekar dan kuat dan punyai nilai (ekonomi) tertentu. Sementara juri lebih memperhatikan kualitas luar dan dalam. Dan Dr. Van Lier tahu bagaimana menjelaskannya pada orang-orang Karo yang hadir.

Orang-orang Karo ini berkesempatan juga belajar dari sekelilingnya, tentang sepatu kuda misalnya, atau apa yang harus dilakukan agar dapat lolos dalam pameran ini. Memperhatikan kuda-kuda orang lain yang tampak lebih baik baginya. Semua kegiatan ini dirasa penting untuk diadakan kembali setiap tahunnya.

Pada malam hari diadakan makan malam, dan menari. Diadakan juga pameran pakaian terbaik dan perhiasan paling mahal.

Tentu saja, kali ini juga pertandingan catur memancing penuh minat. Orang-orang berkerumun menyaksikan dan menimbang peluang para pemain, tentu juga terjadi taruhan.

Berapa banyak yang yakin, apakah Nassar akan kembali menjadi juara? Sepertinya tidak banyak. Karena semua tahu, tahun lalu ia sudah kalah. Dan juga tahun ini dia akhirnya tak menjadi juara.

Nassar semakin tua, kata teman-temannya.

Dia mendapat juara tiga. Pemenangnya adalah Toemboek, yang juga baru-baru ini mengembangkan kualitas catur yang hebat di Medan.

Si Narsar semakin tua, kata teman-temannya. Dia terlalu sibuk dengan persewaan mobilnya, pikir beberapa orang.

 

Imbang dengan Kostic

Koran De Sumatra Post pada tanggal 06-10-1925 mengabarkan kedatangan master catur Serbia bernama Boris Kostic. Pada pertandingan simultan, Kostich menghadapi  enam pecatur.

Kostic memenangkan lima pertandingan, sementara satu imbang. Dr de Jong menjadi lawan Kostic yang berakhir remis.

Hari ini, Kostich bermain dalam pertandingan perkenalan atau pengantar untuk kedua orang Karo. Ternyata Ngoekoem bukan pemain catur yang buruk. Dia berhasil membuat permainan imbang.

Dan akhirnya pertandingan persahabatan antara Kostich dan Ngoekoem berakhir dengan satu papan dimenangkan Ngoekoem.

Kostic vs Toemboek berakhir imbang dalam pertandingan perkenalan. De Sumatra Post, 06-10-1925

Saat Kostic melawan Toemboek, hasilnya imbang. Master catur Kostic terus terang menyatakan bahwa ia terlalu menganggap remeh pecatur Karo ini. Padahal harusnya dia menempatkan mereka dengan kapasitas lebih tinggi dari pemain catur terkenal Meyer di Jawa.

Pertandingan resmi malam ini pukul setengah delapan di Hotel Medan bisa menjadi sangat menarik, setelah pertandingan perkenalan ini. Master catur Kostic pasti akan lebih waspada.

Koran De Sumatra Post pada tanggal 07-10-1925 memberitakan tentang pertandingan yang menarik hati bagi para penggemar catur di Medan. Digambarkan kerumunan penggemar catur cukup banyak datang ke Hotel Medan.

Mereka ingin menjadi saksi permainan catur antara Mr. Kostich dengan pemain-pemain catur terkuat yang dihasilkan dari dari Dataran Tinggi Karo. Toemboek Sinoelingga, Narsar Karo-karo Purba dan Ngokoem Sembiring berhadapan dengan master catur dari Serbia ini.

Toemboek seorang pemain yang berani mengambil resiko, seolah-olah membiarkan bidaknya berjalan begitu mudah. Kostich sesekali menatapnya dengan kecurigaan. Tapi dia paham, orang Karo bermain dengan cara mereka sendiri.

Yah, mereka telah berpikir keras. Sekitar pukul satu malam, pertandingan selesai. Master catur Kostich telah mengalahkan mereka bertiga. Tetapi dia mengakui puas pada pertandingan ini. Terutama mengagumi permainan Toemboek.

Dengan ini perjalanan Mr. Kostich telah berakhir di sini dan sore ini dia telah berangkat ke Singapura, untuk melanjutkan perjalanannya ke seluruh dunia. Dia berikutnya akan pergi ke Hong Kong.

 

Rencana ke Jawa

Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië pada tanggal 18-11-1925 memberitakan pertandingan tiga partai simultan Kostic di Medan tanggal 6 September 1925 melawan Toemboek, Narsar dan Ngoekoem.

Toemboek saat itu diketahui sebagai juara peringkat pertama di antara pecatur Karo. Sementara Narsar, yang telah menjuarai selama kunjungannya di Jawa, kini berada di peringkat keempat. Dan Ngoekoem sebagai nomor dua.

Dalam partai melawan Si Toemboek  memang terlihat kekurangan di permainan pembukaan.

Koran De Sumatra Post tanggal 03-12-1925 mengutip pernyataan master catur Mr. Kostich tentang pernyataannya bahwa ia menganggap pecatur Karo sangat kuat. Dan Mr. Kostic yakin bahwa pecatur di pulau Jawa yang hebat akan mungkin dikalahkan oleh jago catur dari Karo itu.

Master catur Kostich menyatakan ini setelah bertanding dengan 3 pecatur Karo di Medan pada tanggal 6 September 1925 lalu. Lalu koran De Sumatra Post mengutip tanggapan kolumnis catur dari Koran “Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië” yang menyatakan hal berikut sebagai tanggapan atas pernyataan Mr. Kostic itu :

“Sejauh mana pendapat ini benar, kita dapat membuktikannya dengan baik, sampai ada kesempatan untuk mengukur kekuatan. Kami sangat memuji anjuran yang diajukan oleh Master Kostic, melawan pemain catur Karo terkuat Si Toemboek pada pertandingan federal berikutnya.

Bagaimanapun, kompetisi tahunan akan menarik minat. Dalam pandangan luas, orang tentu akan penasaran bagaimana hasilnya orang-orang Karo yang sangat terkenal dalam pertandingan serius melawan juara dari Jawa.  Kami menyarankan gagasan itu kepada pemerintah federal, semoga dipertimbangkan. ”

 

Bersambung ke bahagian : Max Euwe Melawan 3 Pecatur Karo (1930)