Sukarno Merayakan Ulang Tahunnya di Tempat Tidur

by
Rahmawati dan Sukarno
Rahmawati dan Sukarno

Perayaan ulang tahun Soekarno ke-69 berlangsung sangat sederhana di Wisma Yaso, tempat tahanan rumah bagi Soekarno.

Oleh Edi Santana Sembiring.

Koran Algemeen Dagblad tanggal 8 Juni 1970 menuliskan perayaan ulang tahun Soekarno yang dilakukan dengan cara sangat sederhana di atas tempat tidur. Koran Algemeen Dagblad memberi judul : “Soekarno merayakan ulang tahunnya di tempat tidur”. Dituliskan :

Mantan Presiden Indonesia, Soekarno, berusia 69 tahun pada hari Sabtu. Kesehatan presiden pertama Indonesia ini telah memburuk dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir. Dia sekarang harus terus menerus berada di tempat tidur. Ulang tahunnya dirayakan secara sederhana. Soekarno dikunjungi antara lain oleh putrinya Rachmawati.

Soekarno viert verjaardag in bed.
De vroegere Indonesische president Soekarno is zaterdag 69 jaar geworden. De gezondheidstoestand van de eerste president van Indonesië is de laatste jaren snel achteruit gegaan. Hij moet nu vrijwel voortdurend het bed houden. Zijn verjaardag werd bescheiden gevierd. Soekarno kreeg onder andere bezoek van zijn dochter Rachmawati
.

Koran Limburgsch Dagblad tanggal 08 Juni 1970, juga menuliskan tentang perayaan sederhana ulang tahun Soekarno pada tanggal 6 Juni 1970. Rachmawati Soekarnoputri datang untuk memberi selamat kepada ayahnya pada hari Sabtu, di hari ulang tahun Soekarno yang ke- 69. Kesehatan mantan Presiden Indonesia ini, yang antara lain menderita sakit ginjal, sangat buruk.

Ketika salah satu anggota keluarga yang ikut berkunjung berbicara tentang Pangeran Norodom Sihanouk, Soekarno berkata, “Dia telah digulingkan seperti saya.”

Rachma Wati de lievelingsdochter van Soekarno kwam haar vader zaterdag feliciteren op zijn 69ste verjaardag. De gezondheid van de Indonesische ex-president die onder andere aan een nierkwaal lijdt is zeer slecht. Toen een van de familieleden tijdens het verjaarsbezoek over prins Norodom Sihanoek sprak, zei Soekarno: “Hij is afgezet, net zoals ik”.

Hubungan Soekarno dan Sihanaouk memang sangat dekat. Pada periode 1959-1965, Soekarno telah berkunjung 5 kali ke Kamboja—lebih banyak dibandingkan dengan pemimpin negara manapun. Soekarno juga mengagumi kota Phnom Penh yang cantik dan bersih. “Soekarno adalah seorang estetikus dan pesolek,” tulis Norodom Sihanouk dalam memoarnya yang berjudul World Leaders I Have Known.

Sidang Umum MPRS pada 22 Juni 1966 menolak pidato pembelaan Soekarno yang bertajuk Nawaksara. Ini merupakan sinyal kuat bahwa ia harus segera meninggalkan Istana Negara. Kecemasan Soekarno akhirnya terjadi. Sidang Istimewa MPRS tanggal 7 Maret 1967 meresmikan Soeharto sebagai pejabat presiden. Pada Mei 1967, seperti dikutip dari Kontroversi Supersemar dalam Transisi Kekuasaan Soekarno-Soeharto (2007), Soekarno tidak boleh lagi memakai gelar presiden atau kepala negara.

Dikutip dari Tirto.id, selanjutnya Soekarno tidak lagi menempati Istana Negara. Kolonel Bambang Widjanarko, salah seorang ajudan Soekarno, dalam buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66 (2008) menuliskan :

“Bung Karno meninggalkan Istana Negara sebelum tanggal 16 Agustus 1967, keluar hanya memakai celana puaman warna krem dan kaos oblong cap Cabe. Baju piyamanya disampirkan di pundak, memakai sandal cap Bata yang sudah usang. Tangan kanannya memegang kertas koran yang digulung agak besar, isinya Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih” (hlm. 267).

Awalnya ditempatkan di sebuah paviliun di Istana Bogor. Lalu Soekarno minta dipindahkan ke rumah peristirahatan yang berlokasi di Batutulis, Bogor. Namun, Soekarno juga tidak betah tinggal di rumah itu. Ia merasa tertekan karena hampir setiap hari diinterograsi. Soekarno kemudian menulis surat yang isinya meminta agar diizinkan kembali ke Jakarta. Surat tersebut dibawa salah seorang putri Soekarno, Rachmawati, untuk disampaikan kepada Soeharto.

Permintaan itu dipenuhi. Kabarnya, seperti diungkap Syamsu Hadi dalam Bung Karno dalam Pergulatan Pemikiran (1991), salah satu orang yang menganjurkan kepada Soeharto agar mengizinkan Bung Karno dipindah ke Jakarta adalah Mohammad Hatta. Wakil Presiden pertama RI ini meminta agar Soekarno dipindahkan ke Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala).

Dikutip dari Historia.id, Sukarno berada di Wisma Yaso sejak penghujung Desember 1967. Ia dikucilkan dari rakyatnya. “Bahkan, keluarga dan kerabatnya pun sulit menemui Bung Karno. Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dulu dari otoritas yang berwenang,” tulis sejarawan Bob Hering dalam Soekarno Arsitek Bangsa.

“Saya menjadi amat sedih. Pikiran saya, kok, mengapa tega-teganya orang terhadap beliau, sampai beliau –pemimpin bangsa itu– diperlakukan seperti itu. Saya yakin, beliau pasti menderita. Apakah itu disengaja? Masa’ ada yang sengaja berbuat begitu?” kata Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta dua periode (1966-1977) dalam Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi karya Ramadhan KH.

Dan Soekarno menjalani tahanan rumah di Wisma Yaso hingga akhir hayatnya.