Siap untuk Berpisah

oleh

Sabtu, 08 Desember 1979

Majalah Tempo

 

Debata Sitongal Singarajai, dalam bahasa Karo berarti Tuhan Yang Maha Kuasa. Tapi sebagaimana banyak kepercayaan animis lain, Pelbegu menganggap roh nenek moyang bergabung dengan Debata Sitonggal sebagai kesatuan super natural. Toh roh itu sendiri menjadi perantara antara manusia dan Si Pencipta.

Komunikasi itu bisa saja terjadi lewat mimpi sewaktu tidur — tapi kebanyakan melalui guru dewa, yaitu dukun (pria atau wanita) yang konon dikehendaki sang roh. Guru dewa punya keistimewaan dibanding dukun pengobat biasa.

“Lehernya bisa bersuara,” ujar Muhammad Yamin Depari (51), staf di Kantor Departemen Agama Kabupaten Karo, bekas penganut Pelbegu.

Suara desah di leher guru dewa ketika kesurupan itulah dianggap suara sang roh. Arti suara itu tentu saja hanya diketahui sang guru, yang kemudian “menterjemahkannya” untuk yang berkomunikasi. Sebelum komunikasi, biasanya disediakan sesajen terdiri dari daun sirih minyak kelapa, pinang dan kapur, ditaruh di loteng rumah, di atas lemari, atau di tempat lain yang tinggi dalam rumah.

Doanya misalnya begini :

Reh kam begu jabu mate sadawari, bicara guru, junjung-junjunganku. Enda kecibalkan belau. Man bandu krina. Adi malem pinakit aku berjanji kuperumahken kam/begundu krina.

Maksudnya, kira-kira : datanglah kamu roh, makanlah sajian ini. Kalau penyakit sembuh kamu akan kupanggil ke rumah. Ini doa untuk minta kesembuhan. Untuk keperluan lain, misalnya membuka ladang, pindah rumah, tentunya lain lagi.

Bila penyakit sembuh, maka dipanggil guru dewa dan diadakan upacara memanggil roh ke dalam rumah. Tapi terkadang roh itu tak cukup hanya diberi sesajen. Dia masih meminta yang lain, misalnya kambing atau kerbau. Maka diadakanlah kenduri dengan merebahkan kambing atau kerbau. Atau dia meminta jiwa seseorang. Dan ini gawat.

Tapi jangan khawatir : ternyata bisa dibuat tebusan, yaitu dengan upacara mbikin ganti. Untuk pengganti seseorang, batang pisang diberi baju dan dirias sebagaimana manusia. Lalu ditaruh di tempat sunyi atau perempatan jalan. Mbikin ganti bisa juga dengan melilitkan rumput padang teguh (sejenis rumput di daerah itu) di lengan orang yang seharusnya mati itu.

 

Bukankah manusia memang pintar?

Roh ternyata punya tempat tinggal. Di mana? Itu tergantung pemberitahuan yang disampaikan lewat mimpi atau guru dewa yang kesurupan tadi. Biasanya dia senang di rerumpunan pohon pisang. Karena itu di depan atau di belakang rumah penganut animisme sering kelihatan rumpun pisang terawat rapi.

Atau ada gubuk kecil (2 kali 2 meter) — karena ada juga roh yang rupanya lebih menyukai gubuk yang hangat itu. Karena upacara harus memakai guru dewa, fungsi dukun jadi penting. Kalau guru dewa meninggal, di kuburannya dipancangkan bendera kecil berwarna putih.

“Agar ilmu guru dewa tidak mengganggu orang yang masih hidup,” dijelaskan oleh Muhammad Yamin Depari. Sekarang ini penganut Pelbegu hidup berdampingan secara damai dengan saudara-saudaranya yang Islam atau Kristen.

“Mereka tidak pernah menentang Islam atau Kristen,” ujar Anggapen Ginting Suka, Ketua GBKP itu.

P. Sitepu, Kepala Subdit Sospol Kabupaten Karo, juga membenarkan hal itu. “Mereka patuh kepada peraturan pemerintah, termasuk membayar Ipeda atau kewajiban lainnya.”

Artinya mereka orang-orang baik, yang ganti rupa.

 

Majalah Tempo