Sekolah Kadet Berastagi

by
Vila BPM, Bukit Kubu, Berastagi
Vila BPM, Bukit Kubu, Berastagi

Sumpit Beracun.

Tanggal 22 Nopember 1945, 4 orang anggota kompi Inggris yang berasrama di Planters School Berastagi menaiki jeep dalam perjalanan dari Medan. Ketika beberapa kilometer akan tiba di kota Berastagi, mereka diam-diam diserang oleh beberapa pemuda Karo.

Dua tentara Inggris ini tewas oleh sumpitan beracun. Sejak itu timbul sikap permusuhan dari pihak serdadu Inggris. Mereka mulai menunjukkan sikap kasarnya.

Awalnya kehadiran serdadu-serdadu Inggris ini adalah untuk melucuti tentara-tentara Jepang. Namun kerap sekali serdadu-serdadu Inggris memukuli pemuda yang ditemuinya dengan popor senapan dan sebagainya. Hingga peristiwa pembalasan dilakukan diam-diam dengan sumpit beracun.

Tanggal 25 Nopember 1945, sejak pagi pihak serdadu Inggris melakukan razia di Berastagi. Asrama TKR, Markas Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), Hotel Matahari dan lain-lain diobrak-abrik. Bahkan bendera merah putih diturunkan.

Baca : Insiden Merah Putih di Berastagi

Hal ini menimbulkan kemarahan hingga akhirnya pasukan TKR, Pesindo dan masyarakat Berastagi sekitarnya melakukan perlawanan. Dua orang pemuda gugur. Dan dua lagi luka-luka. Salah satunya Martinus Lubis. Di pihak Inggris, dua serdadunya tewas dan beberapa terluka.

Krilanga Martinus Lubis

Secepat kilat pohon-pohon ditumbangkan di jalan antara Sibolangit hingga Berastagi. Tujuannya untuk memblokir agar pasukan Inggris dari Medan tak dapat memberi bantuan. Dan tujuan akhirnya agar membuat pasukan Inggris di Berastagi menyerah bulat-bulat kepada pasukan rakyat Taneh Karo.

Setelah mempertimbangkan berbahayanya posisi Kompi Staf Batalyon 6 /SWB yang terkepung di Berastagi, Komando Brigade 4 India buru-buru meminta bantuan Gubernur Sumatera Timur untuk menghentikan perlawanan rakyat dan melindungi usaha penarikan kompi tersebut ke Medan. Gubernur Hasan meluluskan permintaan itu.

Pada tanggal 27 Nopember 1945, Kompi Staf Batalyon 6/SWB yang terkepung di Berastagi itu pun kembali ke Medan dengan selamat. Dan semenjak itu kota dingin Berastagi dan sekitarnya bebas dari gangguan pengacau tentara Inggris sementara waktu.

Nama Martinus pasca kejadian itu jadi terkenal. Selain karena mampu memimpin barisan-barisan rakyat walau minim senjata melawan Belanda, ternyata ia masih hidup walau terluka di bagian pinggang dan mendekam selama dua minggu di rumah sakit Berastagi.

Martinus hidup bersama sepupunya di Berastagi. Sepupunya yang bermarga Siregar adalah bekerja di Grand Berastagi Hotel.

Julukan Krilanga

Sejak itu Martinus mendapat nama julukan yang baru yakni Krilanga (Kri = habis, Langa = belum) yang berarti tetap abadi. Dia dikenal hingga hayatnya bernama Letnan Kolonel Krilanga Martinus Lubis.

Dan diumumkan ke publik bahwa Martinus sudah wafat agar pihak tentara Inggris tidak membalaskan dendamnya. Sama halnya dengan Kayamuddin di Pulo Brayan yang namanya diubah menjadi Lang Lang Buana agar menghindari balas dendam tentara Inggris. Dan Martinus kini dikenal sebagai Krilanga.

Selanjutnya Kapten Achmad Tahir mempercayakan Krilanga Martinus memimpin sebuah lembaga pendidikan kadet Divisi IV TKR Komando Sumatera. Sekolah Kadet Berastagi ini menggunakan villa BPM (Bataafse Petroleum Maatschappij) di Bukit Kubu, Berastagi. Di usia 22 tahun, Krilanga Martinus dipercaya menjadi Direktur Latihan Kadet Berastagi.

Lebih kurang 6 bulan, Sekolah Kadet ini berhasil mendidik 149 orang kadet yang dikemudian hari berhasil ikut serta menjalani berbagai pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dan selanjutnya mereka mengisi kedudukan penting baik di tubuh TNI mapun di bidang non militer.

Para pelatih para kadet yang dipilih diantaranya adalah Letnan Dua Raja Tengging Ginting, Letnan Dua M Sukardi, Letnan Dua Washington Napitupulu juga Letnan Dua Zainuddin Hasibuan.

Raja Tengging Ginting
Raja Tengging Ginting

Sesuai rencana, sekolah kadet ini hanya berlangsung 6 bulan. Tibalah saatnya upacara penutupan pendidikan kadet Berastagi tanggal 15 Mei 1946.

Pemberian pangkat Sersan Mayor dilakukan oleh Kolonel Achmad Tahir pada tiap-tiap siswa. (Perubahan pangkat Achmad Tahir dari Kapten jadi Kolonel seiring perubahan nama Divisi IV Sumatra menjadi Divisi Gajah II). Selaku Komandan Divisi Gajah II, ia berharap agar kesulitan yang terjadi selama ini bagi TRI seperti kurangnya tenaga staf dan pimpinan ketentaraan dapat diatasi dengan selesainya pendidikan kadet ini.

Raja Tengging Ginting dan muridnya

Selanjutnya jamuan perpisahan dilakukan di Restoran Matahari, Berastagi. Dan malam harinya bertempat di panggung bioskop Berastagi diadakan hiburan sandiwara untuk menghibur para kadet dan undangan. Rombongan sandiwara didatangkan dari Medan.

Selanjutnya Mayor Krilanga Martinus dipercayakan membentuk batalyon baru di bawah komando Resimen II Divisi Gajah II Komando Sumatera yang berkedudukan di Wingfoot, Labuhan Batu. Krilanga mengikut sertakan Letnan Raja Tengging Ginting, Letnan Zainuddin Hasibuan dan 25 orang kadet lulusan Berastagi seperti Sersan Mayor Salomo Tarigan, Sersan Mayor Agus Salim Rangkuty, Sersan Mayor Baharudin Surbakti dan lain-lain.

Salomo Tarigan dan para kadet.

Taktik Belanda

Pada tanggal 15 Febuari 1947, Krilanga Martinus memimpin 3 Batalyon untuk menyerang pos tentara Belanda di Simpang Limun, Medan. Pukul 05.40 mulai kontak senjata. Namun senapan rantai Kadet M. Rosetam ini macet. Dan akhirnya digunakan senjata yang lain.

Pasukan Belanda pindah ke Gudang Hitam. Ini bukan pertanda baik, ternyata taktik Belanda untuk mengetahui posisi tentara Indonesia yang berada di 3 arah.

Sebagai lanjutannya, Belanda menghujani lawannya dengan mortir bertubi-tubi. Kira-kira pukul 10.00 sebuah mortir Belanda meledak di dekat keberadaan Krilanga Martinus. Kedua ajudannya yakni Sersan Mayor Umar dan Muchtar tewas di tempat dengan tubuh hancur.

Krilanga Martinus luka berat, paha kanannya remuk semua. Dan jiwanya tak dapat tertolong lagi. Pada tanggal 16 Febuari 1947 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Siantar. Setelah penyerahan kedaulatan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Medan.

Salmah Nasution, istri Krilanga Martinus, saat itu mengandung 3 bulan. Saat bayinya lahir, Salmah memberi nama Marinus Martinus Lubis.

Salmah Nasution menghadapi kejadian kereta api terbalik pada tanggal 30 April 1964, pukul 20.00 Wib di Trowek (Jawa Barat). Salmah wafat pada usia 33 tahun.

Sumber bacaan : Kadet Brastagi – Akademi Militer Perjuangan, penerbit Ikatan Kadet Brastagi, 1980.