Sayonara Sumatra…. Sayonara Tanah Karo (Bagian 2)

oleh
ilustrasi

“Tadi juga sudah saya katakan. Kemarin kami bertemu Gunseibu  di rumah Tuan Fukuchi sendiri di Berastagi. Dalam pertemuan, pertanyaan yang serupa saya ajukan juga. Jawabnya : “Tidak ada kalah, tidak ada menang. Perang sudah berhenti. Itu saja.” Jadi, kalau saudara tanya lagi, siapa yang menang atau kalah……. mana saya tahu ….. jelas!”

Sambungan dari Bagian 1

 

Orang Jepang ini usianya sudah lanjut, berkacamata tebal dan pakai gigi palsu. Namun sikapnya garang dan gerakan masih Genki (lincah dan bersemangat). Di kiri dan kanan leher kemejanya merah, bergaris (strib) tiga dengan dua bintang kecil, warna kuning. Berpangkat Cui atau Letnan Satu, jabatannya Komandan Kompi (Cu Taico).

Dalam sikap sempurna pedang Samurai ditangan kanan, berdiri tegap dihadapan ratusan prajurit Sukarelawan atau Gyugun yang tersusun dalam barisan. Dia menyampaikan amanat.

Dengan suara lantang, tempo agak diperlambat, dia mulai berpidato :

“Minna sang …..Cumo! Tadai ma yori ….. Dai toa senso…. Watta ….! De …. Dore kara …..Amerika ……..to ……Oranda ….teki nai! Minnawa …….tomodaci! ………..wakatta ka?”

Mendapat sambutan serentak dari barisan dengan kata : “Hai …..”

Maka diteruskannya : “Yorosi! Wakaret …….!”

Seorang prajurit yang berdiri tegak di samping kanannya mengalih bahasakan kata-kata yang disampaikan dengan suara yang serupa lantangnya.

“Tuan-tuan sekalian …..Perhatikan! Mulai sekarang ……..Perang Asia Timur Raya ……… sudah selesai!………… Dari itu ……………Amerika juga Belanda ………tidak musuh! Semua teman……….. mengerti? Bagus! Bubar ….!

Setelah mendengar terjemahan, si Jepang tadi segera berlalu meninggalkan barisan.

Pembubaran barisan dilakukan oleh pembantu-pembantunya : yang berkebetulan saya kenal yaitu antara lain :

Gyu Jun 1 = Boike Nainggolan

Gyu Syoco = Bom Ginting

Gyu Syoco = Nelang sembiring

Barisan bubar. Tapi mereka masih berdiri di tempat secara berkelompok. Jelas terlihat di wajahnya, bahwa mereka mendapat berita yang mengejutkan. Demikianlah peristiwa apel sore ini berlangsung di tempat asrama Gyu Gung tersebut, yang letaknya di jalan Kabanjahe-Berastagi.

Tempat ini dikenal dengan nama “Pasar Tiga Baru”dan “Kantor Camat Kota Kabanjahe.”

 

————————————-

Bukan ratusan saja ….. tapi sering juga ribuan jumlahnya. Mereka berbaris, sambil bernyanyi secara bergantian, sambung menyambung. Ada juga barisan yang berlari-lari dengan teriakan “Hosyah-hosyah”. Juga bergantian dan berkesinambungan.

Dilakukan bukan di salah satu atau dua jalan saja. Sering juga di seluruh jalan-jalan kota Kabanjahe. Bayangkan saja betapa gembiranya suasana kota setiap sore hari.

Memang kota Kabanjahe berada di daerah pada ketinggian lebih kurang 1.100 meter di atas permukaan laut. Oleh karena itu udara tetap segar, kota ini dipilih sebagai tempat istirahat.

Disinilah berkumpul dan dikumpulkan prajurit-prajurit yang sudah letih bertarung menyambung nyawa di berbagai medan laga. Dengan berakhirnya perang, kegiatan serupa ini secara tiba-tiba terhenti sama sekali. Tidaklah sulit pula membayangkan bagaimana perubahan suasana kota.

Oleh penduduk dipergunakan kata-kata : Kota Kabanjahe bagai disambar burung Garuda.

 

—————————————

Sungguh melankolis nyanyian itu. Iba dan tersentuh hati mendengarnya. Dari kejauhan terdengar suara serak dengan irama Negara Matahari Terbit yang bernada “minor”. Mari kita ikuti kata-katanya :

“Sumatora …… Sayonara…….  Mata kuru madewa……. Mo sepuruh tahun ragi…. Masta datang kombari….. Indonesia parumpuang…. Jaga anak baik-baikku ……… Mo sepuluh tahung ragi …. Masta datang kombari”.

Hal yang semula sedih, bisa berubah gemas dan membara. Dikatakan begitu, karena lirinya menyinggung martabat wanita bangsa awak, yang segera ditinggal pergi oleh si “Hettei san” walaupun berjanji akan kembali sepuluh tahun lagi.

Cukilan peristiwa yang disajikan  adalah sebagian dari banyak kejadian yang berlaku di daerah Karo yang ada kaitannya dengan “Perang yag telah berganti”. Walaupun belum diumumkan secara resmi mengenai kekalahan Jepang, bagi penduduk bukan suatu rahasia lagi.

Keyakinan mereka diperkuat dari berita-berita yang mereka dapat dari berbagai sumber. Demikian juga hasil pengamatan mereka sendiri mengenai perubahan keadaan yang berlaku.

Dari orang-orang Cina penduduk kota, penyebab kekalahan Jepang adalah senjata rahasia yang dipergunakan Amerika. Senjata rahasia tersebut adalah serupa dengan yang pernah disaksikan di dalam film “Flash Gordon”.

Demikian juga berita tentang pimpinan tentara Sekutu sudah berada di Medan untuk mengatur dan menerima penyerahan Jepang. Iring-iringan konvoi tentara Jepang yang mereka saksikan menuju tempat-tempat mereka ditangani, seperti : Medan, Tanjung Morawa, Perkebunan Marihat dan berbagai tempat lain.

Penduduk juga melihat perubahan sikap orang-orang Jepang yang ada di sekeliling mereka. Sikap congkak selama ini sudah berubah menjadi pendiam dan menjauhkan diri dan kelihatan loyo (hilang semangat).

Dari berita dan perubahan yang mereka saksikan, maka mereka menarik kesimpulan : Perang sudah berakhir dan Jepang kalah di dalam peperangan.