Rudy Kousbroek Kembali ke Berastagi (Bahagian 1)

by
Rudy Kousbroek bersama dengan Pramoedya Ananta Toer (mungkin 1990). Dari buku Indische Letteren. Volume 20 (2005)
Rudy Kousbroek bersama dengan Pramoedya Ananta Toer (mungkin 1990). Dari buku Indische Letteren. Volume 20 (2005)

Herman Rudolf Kousbroek atau dikenal dengan nama Rudy Kousbroek menuliskan kisah perjalanannya kembali ke Berastagi. Rudy Kousbroek  lahir di Pematang Siantar pada tanggal 1 November 1929 dan meninggal di Leiden, Belanda, 4 April 2010 pada umur 80 tahun. Rudy Kousbroek adalah seorang penulis dan esais terkenal di Belanda. Ia biasa menulis dengan nama samaran Leopold de Buch dan Fred Coyett.

Rudy Kousbroek pada tahun 1979 kembali ke negeri ia dilahirkan dan dibesarkan di Sumatera Utara. Kedatangannya ini untuk serangkaian artikel bagi harian NRC Handelsblad dengan judul “Terug naar Negri Panerkomst” atau “Kembali ke Negri Asal.”

Ia mengunjungi lokasi dari sisa-sisa bangunan Planters School Vereniging (PSV) di Berastagi, di mana ia sempat bersekolah. Lalu ia mengunjungi Bungalow Batavian Petroleum Company (BPM) di Bukit Kubu, Bungalow Harrisons & Crosfield, bekas Grand Hotel dan sebagainya.

Rudy Kousbroek tak hanya mengunjungi Berastagi tapi juga beberapa perkebunan di Sumatera Utara di mana ia pernah tinggal. Ia juga mengenang Letjen. Jamin Ginting dan keadaan saat tahun 1938.

Tulisan ini dimuat secara bersambung di Koran NRC Handelsblad, namun kami memilih tulisan mengenai perjalanannya ke Berastagi yang dimuat pada tanggal 2 November 1979 dan 09 November 1979.

Berikut ringkasannya :

 

“Terug naar Negri Panerkomst”

(Kembali ke Negri Asal)

oleh Rudy Kousbroek

 

Hari Rekonsiliasi Besar

Selama beberapa hari, saya mencoba membuat pilihan dari foto-foto yang menggambarkan apa yang tersisa dari Plantersschool (Sekolah Pertanian) di Berastagi, setelah lautan api melahap bangunannya. Ini seperti tugas yang mustahil. Kolom harian ini terbatas dengan jumlah tertentu, sementara saya punya lusinan foto. Dimulai dari tahun 1938 dan selanjutnya apa yang tersisa darinya; setidaknya harus dimasukkan. Dari halaman taman bagian depan, lalu tempat kami selalu muncul untuk sarapan di pagi hari, dengan bangunan utama di latar belakang.

Koridor asrama anak laki-laki (1938)
Koridor asrama anak laki-laki (1938)

Saya juga punya gambar interior yakni ruang tunggu, dengan kursi rotan di mana tidak ada yang diizinkan duduk. Ada koridor di sisi ruang tunggu itu – di sebelah kiri koridor ruangan asrama anak perempuan dan di sebelah kanan koridor ruangan asrama anak laki-laki – dekat pintu keluar ruangan asrama; yang ada di foto adalah koridor anak laki-laki, dengan pintu masuk ke asrama saya di sebelah kanan. Saya juga punya foto kamar mandi di belakang asrama.

Halaman depan ke pintu utama (1938)
Halaman depan ke pintu utama (1938)
Pintu masuk ke gedung utama (1938)
Pintu masuk ke gedung utama (1938)

Dari semua tempat tersisa ini, aku mencoba memotret keadaan saat ini dan membandingkan ukuran dalam foto seperti dalam ingatanku : ruang makan, sekarang menyusut menjadi sepotong semen yang setengahnya dipenuhi dengan genangan air hujan. Pintu masuk ke bangunan utama dengan gunung berapi berasap di latar belakang, Sibayak – bahwa memang Sibayak masih ada di sana, tetapi bangunan itu telah menghilang, tersapu, dihancurkan oleh tangan raksasa; puing-puing yang ditumbuhi oleh mantel hijau yang memilukan.

Ini adalah gambar-gambar yang harus saya lihat berulang kali, tetapi untuk dapat memahaminya, bahwa Anda mungkin harus berjalan di sana sebagai seorang anak yang merasakan kegembiraan yang meresapi segalanya. Dan ketika semuanya terbakar, akhirnya harus menjadi sedikit panas di sana. Di koridor itu, Anda selalu harus berjalan perlahan di atas kaki Anda dan tidak pernah diizinkan untuk berbicara sepatah kata pun.

PSV (Sekolah Pertanian), seperti dapat dilihat pada gambar adalah sekolah berasrama. Bangunan-bangunan itu telah ada di sana selama tepat dua puluh tahun, bangunan itu selesai dibangun pada tahun 1926 dan dihancurkan oleh api pada tahun 1946. Saya menghabiskan empat tahun hidup saya di sana: dari tahun 1939 hingga 1942 sebagai anak kost dan kemudian diinternir/ditahan oleh Jepang hingga akhir tahun 1943.

Kepala sekolah asrama adalah pasangan suami istri Tuan dan Nyonya Ubu. Keduanya serba halus; efek dari ini tidak menguntungkan dalam kasus tertentu, tetapi pada pemahaman terbatas Ny. Ubu sikapnya benar-benar kaku: dia secara pribadi mewakili Kehendak Tuhan di Bumi. Dari peraturan asrama, dibuat oleh Mr. Ubu sendiri, saya kutip: “Perawatan untuk anak-anak didedikasikan kepada Dewan, lebih dalam arti sempit kepada Direktur.”

Anak-anak tahu itu. Sementara itu, yang tidak tahu adalah orang tua. Ketika PSV berubah dari sekolah asrama menjadi kamp interniran/tahanan pada tahun 1942 barulah kebaikan Ibu (sebagaimana juga dijelaskan dalam peraturan) mendapat kesempatan untuk dikenal dalam lingkaran yang lebih luas. Misalnya, setelah hampir dua tahun diinternir, ternyata Ibu pengganti ini menyimpan di lemari barang-barang yang penuh dengan kebutuhan tempat tidur, susu bubuk dan bahan makanan lainnya. Perlu diketahui bahwa ada bayi di kamp yang belum pernah melihat susu dalam setahun dan bahwa wanita tidur di atas tikar karena kurangnya tempat tidur.

Di sisi lain, Ny. Ubu selalu bersedia untuk melerai keributan orang-orang; dia berdiri sendirian; bahwa Tuhan telah memberinya untuk melahirkan damai.

Ketika saya melihat foto-foto itu, saya melihat ekornya bergoyang-goyang, diikuti oleh anjing dari jenis Dachshund yang gagah. Apa yang terjadi dengan hewan-hewan ini? Saya tidak ingat.

Mungkin kuburan mereka ada di sini atau di sana, di bawah reruntuhan. Puing-puing yang ada selama bertahun-tahun; apa yang terjadi pada PSV, saya mulanya hanya mendengar dari teman saya W beberapa tahun yang lalu. Dan dari situlah muncul rencana untuk pergi dan melihat bersama lagi.

Ia tidak pernah mengenal PSV sebagai sekolah asrama, ia kemudian datang dengan membawa istri dan anak-anak dari Siantar. Dia memiliki ingatan yang berbeda dari saya. Perbedaannya adalah, saya percaya, antara perasaan penyesalan dan tidak menyesali, bahwa saya tidak pernah memiliki bayangan sebelumnya akan sekolah asrama ini dan akan kembali lagi. Dan bahwa semuanya akan secara pasti sekolah asrama ada di belakang saya, dan sepertinya ingatanku akan berantakan.

Hari pembebasan ini adalah Selasa, 11 September. Ketika kami mendekati tempat itu, dorongan yang semakin kuat memegang saya, dan segera setelah kami tiba saya berjalan ke semak-semak.

Setelah 36 enam tahun meninggalkan tanah Berastagi, saya menemukan beberapa batu-batu berlumut di antara tanaman hijau dan saya tahu di mana saya berada, saya mengenali tempat itu. Saya berjalan melewati semak-semak dan tiba-tiba sebuah fatamorgana muncul di depan mata saya – di tengah-tengah tanaman, sepotong persegi panjang telah dibersihkan dan di depan saya terletak hamparan lantai bangunan utama. Di bagian bawah, dinding-dinding batu alam yang bagus hilang dan dinding di bagian atas yang terbuat dari kayu, juga hilang. Gambaran geometri bangunan bersama koridor, dan perimeter bangunan utama, seperti telah dicukur halus dengan “gunting rambut.”

1979
1979
1979
1979
1979
1979
1979
1979

Sebuah mukjizat, ketika kami baru saja tiba, rimbunan semak belukar dan pepohonan telah ditebangi untuk mengubahnya menjadi lahan tanah bangunan. Jika kami tiba seminggu sebelumnya, semuanya tidak akan terlihat di bawah semak belukar, seperti letak asrama dan kamar mandi.

Aku berjalan “menembus” dinding ruang makan ke bagian ruangan dalam. Di mana-mana di tanah terdapat serpihan-serpihan eternit (pecahan asbes) dan tiba-tiba saya sadar bahwa itu adalah langit-langit yang jatuh selama kebakaran.

Lalu pukulan datang. Kesadaran bahwa apa yang saya lihat sekarang adalah benar-benar tempat yang saya ingat, tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya: dan ini membuka kunci aliran ingatan panas yang membebaskan, sekarang semuanya menjadi lega. Aku menangis, aku melihat diriku melolong; tapi bukankah ini niatku?

Mengapa saya tidak pernah mengerti bahwa ini akan terjadi, ketika saya di sini sebelumnya? Di sini, di asrama ini, di mana aku berbaring terjaga sementara semua orang tertidur (dan sekarang aku melihat daun yang tumbuh menembus tempat tidurku). Atau di pagi hari di sini, di mana keberanian tenggelam di sepatuku mengingat sisa hari itu.

Saya sekarang tiba-tiba ingat, bagaimana saya melihat lutut Thea D ketika dia berjalan di depan saya ke ruang makan untuk sarapan, di bawah rangka pergola yang bisa Anda lihat di foto. Baiklah, semuanya baik-baik saja. Saya membungkuk dan mengambil potongan-potongan gerabah. Saya mengenali motif bunga dengan kacang di atasnya yang bagian dari makanan asrama dan kesedihan mulai lagi. Ingatan yang jelas, tetapi saya tidak dapat menghindarinya : dulu saya makan di atasnya dan sekarang, saya memegang pecahan di tangan saya. Pompeii! Sepertinya begitu.

Dinding tersisa yang ditumbuhi di bawah sinar matahari, pecahan plester yang dapat Anda ambil dari tanah, dengan jejak warna dinding yang sama di atasnya. Tetapi perbedaannya adalah bahwa saya telah pernah melihatnya utuh. Saya ingat warna itu. Lalu tampak potongan-potongan rendah dinding di antara tanaman hijau, yang saya kenal sebagai toilet yang dapat dilihat pada gambar kamar mandi.

Toilet-toilet itu diberi nomor; jika Anda menggunakan nomor yang berbeda dari nomor yang ditetapkan untuk Anda, maka Anda akan dihukum. Begitulah semuanya ada di sana; larangan gila, timbul dari nafsu akan kekuasaan dan dalam bentuk karakteristiknya: melarang sesuatu tanpa tujuan lain selain untuk menghukum pelanggaran mereka. Itulah sebabnya, ketika sekolah asrama menjadi kamp konsentrasi. maka peraturan-peraturan seperti itu tidak lagi diperlukan, kepatuhan tidak lagi dipertimbangkan.

Sekarang saya berjalan bebas, tidak ada hukuman lagi. Badai kebakaran mengerikan menghancurkan segalanya, dindingnya hancur, atapnya robek, jendelanya pecah. Kursi, meja, tempat tidur, lemari, piring dinding, wastafel, toilet telah hilang, dibakar dan dihancurkan sampai tidak ada yang tersisa darinya.

Kemarahan akhirnya mereda, hujan sudah lewat, sudah gelap sejak lama, tetapi akhirnya rekonsiliasi datang. Matahari mulai bersinar lagi, tanaman mulai tumbuh dan memang, tempat ini akhirnya memiliki sesuatu yang damai.

 

Bersambung ke bahagian kedua.

Sumber : Koran NRC Handelsblad, 2 November 1979.