Recana Narsar ke Eropah di Tahun 1911

by
Narsar Karo-karo Purba

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Kejutan dari Narsar di Medan (1910)”  telah diketahui bahwa pecatur Narsar Karo-karo Purba akan akan pergi dalam beberapa bulan ke Eropa atas usaha dari Mr. de Koning uit Djember untuk pergi bersamanya ke Eropa pada bulan  Januari 1911 dengan biaya darinya selama sekitar sepuluh bulan. Agar Narsar Karo-karo dapat meningkatnya pengetahuannya dengan bermain catur melawan para Master catur Eropa.

Tulisan sebelumnya : Kejutan dari Narsar di Medan (1910)

Pada tanggal 28 Oktober 1910, Koran De Sumatra Post menuliskan berita bahwa Koran Nieuwe Rotterdamsche (di Belanda) telah mengulas pemberitaan dari Koran De Sumatra Post  tentang  para pemain catur Karo dan partai pertandingan catur di Medan  yang dimainkan  antara juara Si Narsar dan Mr. von Oefele. Kontributor Nieuwe Rotterdamsche berpendapat antara lain, meskipun aturan permainan untuk catur di Eropah dalam beberapa hal berbeda dengan Catur di Karo, Si Narsar tidak sepenuhnya bisa bermain catur Eropah dengan baik dan berbakat. Jika orang Karo itu benar-benar datang ke Eropa, maka jika dia tidak belajar banyak, tidak perlu salah satu master catur ras kulit putih melawan mereka. Bahkan pemain biasa kita dapat menghadapi permainannya.

Kira-kira begitulah kesimpulan dari tulisan sang kontributor. Namun, kontributor yang lain menentang pendapat ini.  Kira-kira begini pendapatnya :

Tampaknya bagi saya bahwa beliau memiliki pendapat yang benar-benar salah mengenai saudara pecatur kita dari kulit berwarna itu. Sepertinya banyak yang percaya bahwa para pemain Karo ini meniru kemampuan seni bermain orang Barat, dan sekarang datang untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Pendapat ini kurang tepat bagi saya. Sebaliknya, saya percaya (jika pendapat saya salah, saya mohon dikoreksi) kedatangan mereka untuk melakukan sesuatu yang sangat istimewa di sini, mungkin dengan keunikan dalam hal penyebaran peradaban, fakta yang tidak kalah pentingnya, dalam hal itu, bahkan penelitian tentang masalah linguistik terkadang dapat diidentifikasi.

Koran De Sumatra Post tanggal 28-10-1910

Apakah kita tidak berpikir akan adanya cabang-cabang permainan catur yang telah menyebar ke seluruh bumi, dan akhirnya, setelah ribuan tahun, berkumpul kembali dan menawarkan kesempatan sebagai bahan untuk perbandingan? Adalah kenyataan bahwa orang-orang Karo yang sederhana itu, orang-orang yang dekat dengan alam, ternyata di desa-desa mereka selama berabad-abad ada yang tetap melakukan permainan agung ini, dan mereka hidup di antara suku-suku lain yang tidak tahu permainan ini, mereka satu-satunya mungkin yang tahu permainan catur di negeri Insulinde*.

Apakah fakta ini tidak begitu luar biasa sehingga hal ini saja sudah cukup untuk membuat kedatangan para pria Karo ini sebagai suatu peristiwa besar, kesempatan untuk memperhatikan cara mereka bermain.

Selebihnya, saya mungkin singkatkan. Aturan permainan catur Karo memang berbeda dari kita. Hanya saja, ini bukan berarti bahwa ini adalah permainan yang sama sekali berbeda. Semua orang tahu bahwa ketika seseorang mengubah hal kecil dalam permainan, karakter permainan tidak benar-benar berubah (dan sama hal dengan kita yang tahu bahasa Inggris walau berbeda negara).

Kekuatan para master catur kita, bagaimanapun juga memperhatikan detail-detail hingga terkecil, dan dipikirkan sebaik mungkin, dari semua yang mungkin dan selama berabad-abad, melalui generasi yang berbeda, mencoba dan menguji langkah-langkah pembukaan, yaitu titik untuk memulai permainan. Kini varian yang berbeda-beda jumlahnya ada seratus hingga dua ratus varian.

Modifikasi pergerakan bidak  – dari varian-varian yang ada –  semuanya berantakan, dan ingatan yang besar akan varian-varian pembukaan itu  telah menjadi tidak berguna untuk saat ini. Juara Master catur kita kemudian merasa menjadi pemula melawan pribumi yang telah lebih sangat maju atau canggih permainannya.

Pemain Karo itu selalu merasa tidak aman, dan tak memiliki langkah pembukaan yang tetap di tiap awal permainan, ini tentu digerakkan oleh pengalamannya, dengan caranya sendiri bermain. Dia punya cara untuk melalui langkah-langkah sulit.

Sementara koran De Sumatera Post dalam pemberitaan ini hanya menambahkan sedikit koreksi bahwa orang Dayak juga mengenal permainan catur. Dan Insulinde* yang dimaksud di atas adalah Hindia Belanda atau Indonesia kini.

Judul lukisan : “Si Narsar adalah pemain catur yang terkenal.” Lukisan ini dilukis oleh HF van Lent-Gort pada 14-07-1920. Sumber : Collectie Koloniale wereldtentoonstellingen.

Admin Karosiadi.com telah mencoba mencari sumber-sumber berita yang menuliskan tentang perjalanan Narsar Karo-karo selama di Eropah, namun tidak memperolehnya. Hanya menemukan berita tentang Narsar Karo-karo selanjutnya di tanggal 10 Juni 1912 di Koran De Sumatra Post. Apakah Narsar jadi berangkat ke Eropah atau tidak? Berita berikut ini jawabannya.

Pada Koran De Sumatera Post tanggal 10-06-1912 dituliskan Si Narsar, si pecatur jenius dari Karo saat ini masih tinggal di Medan. Ia hilir mudik bergantian dari dataran tinggi Tanah Karo ke dataran rendah Medan.

Dia bermain catur hari demi hari, dia memanfaatkan peluang ini. Dengan otak yang gesit dia juga mendapat teori tentang pembukaan, dia menjadi pemain yang lebih kuat.

Sangat disayangkan bahwa, dari rencana perjalanannya ke Eropa, yang memungkinkan untuk memperkirakan kekuatan permainannya dengan nilai yang tepat, tidak kunjung datang. Ada yang membuatnya tetap tak bisa berangkat.

Akhirnya dia tidak diizinkan untuk pergi. Namun keuntungan bagi penggemar di Deli adalah bahwa mereka sekarang memiliki dia di sini untuk mengukur kekuatan mereka sendiri.

Bagaimanapun, dia adalah bintangnya. Besok malam pukul 7.30, Si Narsar diundang untuk bermain secara simultan di White Society. Jika ada banyak penggemar catur hadir, itu bisa menjadi malam yang menarik. Mereka ingin segera melihat suasana baru yang dhadir untuk kegiatan dari Club Catur Medansche Schaakvereeniging.

Koran De Sumatra Post tangga 10-06-1912

Dari Koran De Sumatera Post tanggal 10-06-1912 ini didapatkan informasi bahwa Narsar Karo-karo Purba tak jadi berangkat ke Eropah karena ada yang menggagalkan keberangatannya. Sebelumnya di atas telah dituliskan oleh Koran De Sumatra Post tanggal 28-10-1910  yang mengutip tulisan Koran Nieuwe Rotterdamsche.

Kontributor pertama merasa Narsar Karo-karo tidak bermain layaknya pemain Eropah. Mereka rata-rata sudah menghapal 100 atau mungkin 200 langkah-langkah pembukaan.  Hingga kontributor ini menulis bila Narsar tidak mau belajar atau merubah cara bermain, maka akan banyak pemain catur Eropah yang tidak setuju bermain dengannya. Mungkin ada cara bermain Narsar yang tidak lazim untuk orang-orang Eropah walau sebenarnya Narsar pun tak melanggar peraturan resmi yang ada.

Itulah sebabnya, maka kontributor kedua di Koran Nieuwe Rotterdamsche itu membela Narsar. Seakan dia paham bahwa pecatur-pecatur Eropah itu terkejut pada cara bermain Narsar yang tak biasa. Varian-varian pembukaan yang dihapal berantakan karena langkah catur Narsar. Seakan apa yang diingat mereka tak lagi ada gunanya. Kontributor kedua ini sampai yakin, bahwa Master catur Eropah itu pasti merasa menjadi pemain pemula dihadapan pribumi dengan kejutan permainannya.

Dengan kata lain, kontributor kedua ini mau mengejek ketakutan kontributor pertama dan teman-temannya pecatur kaum kulit putih. Jadi kegagalan akan rencana keberangkatan Narsar Karo-karo Purba pergi ke Eropah adalah usaha mencegah mendapat rasa malu. Menyelamatkan opini bahwa ras kulit putih tetap yang terhebat dan terpintar. Menjaga citra ras dengan mengatakan bahwa pribumi bernama Narsar tak paham dengan etika permainan Catur di Eropah.

Padahal sebenarnya mereka tak siap dengan kejutan-kejutan dari permainan Narsar Karo-karo. Termasuk tak siap kalah dengan pribumi dari Hindia Belanda. Ya…. Ini memang kejadian di akhir tahun 1910. Akan berbeda dengan kejadian di tahun-tahun berikutnya. Narsar juga dijanjikan kembali untuk berangkat ke Eropah.

 

Bersambung ke Van Lith Memunculkan Narsar Hingga Bertanding ke Batavia (1914)