Raja Copet dari Medan

by
ilustrasi : pencopet
ilustrasi : pencopet

Koran De Sumatra Post menuliskan keberadaan “Raja Copet dari Medan” pada masa Kolonial Belanda berkuasa. Oleh media-media cetak, ia diberi julukan “Radja Tjopet tanpa Mahkota”.

Tidak didapatkan informasi ia dari keluarga mana. Orangnya parlente dan mampu beradaptasi dengan mudah. Kadang makan di restoran hotel-hotel mewah dan kadang tidur seperti layaknya gelandangan di jalan sambil minum tuak.

Badjora namanya. Ia telah mencopet sejak umur 16 tahun dan telah dihukum 33 kali. Di pengadilan, Badjora punya teori-teori yang cerdas, antara lain :

seseorang seharusnya tidak hanya bisa mencuri tetapi juga mampu menyimpan dengan benar barang yang dicuri!

Apakah tokoh Badjora adalah sama dengan tokoh “Naga Bonar” dalam film-film? Belum tentu. Berikut selengkapnya kabar Badjora yang dapat dibaca dari pemberitaan-pemberitaan yang ada di koran De Sumatra Post dari tahun 1936 hingga 1941 :

Koran De Sumatra Post  tanggal 23-05-1936.
Koran De Sumatra Post tanggal 23-05-1936.

Dihukum untuk Kesebelas Kalinya.

Raja Gelandangan yang Tidak Bermahkota.

(Koran De Sumatra Post tanggal 23-05-1936)

Harus diingat bahwa beberapa bulan yang lalu, ketika jumlah pencurian kecil dan jumlah pencopetan meningkat secara mengejutkan, polisi melakukan razia terhadap gelandangan. Puluhan orang yang tidur di kaki lima atau yang berkerumun di rumah-rumah kosong, mereka diangkut dan dibawa ke hadapan hakim.

Pada persidangan, ketika ditanya di mana mereka tinggal, mereka memberikan alamat mereka dan tidak sedikit dari mereka menyebutkan sebagai alamat mereka : Badjora jalan Sei Rengas.

Hakim yang selalu mendengar alamat Badjora jalan Sei Rengas, bertanya siapa pria itu. “Radja toekang Tjopet” jawab salah satu polisi penyelidik  yang hadir di persidangan.

Memang, Badjora dikenal oleh para petugas sebagai “Radja Toekang Tjopet”. Harus juga dinyatakan bahwa bagi polisi penyelidik, gelandangan dan pencopet hampir sama.

Badjora tidak pernah membayar sewa.

Badjora tinggal, seperti yang dikatakan, di jalan Sei Rengas, di sebuah rumah yang disewa sebesar ƒ 3,-.

Badjora belum membayar sewa selama tiga bulan. Suatu ketika pemilik rumah meminta pembayaran kepada Badjora, dia diancam dengan tinju.

Ia berusaha keras dalam upaya untuk mengeluarkan Badjora dari rumah itu. Dia tampaknya memiliki banyak teman dan banyak yang telah memberinya nasihat yang sangat baik dan dia juga mengikuti.

Pada tanggal 5 Februari, dia pergi ke rumah Badjora dengan beberapa saksi. Dia menemukan pintu terbuka dan memasuki rumah. Lalu berikutnya, dia melepaskan beberapa genteng ! …….

Badjora menggugat.

Pulang ke rumah, Badjora melihat apa yang terjadi. Dia bertanya siapa yang telah melepaskan genteng dan ketika dia tahu bahwa pemilik rumah telah melakukan itu sendiri, Badjora tiba-tiba menemukan bahwa miliknya telah dicuri dari saku mantelnya yang tergantung di rumah. Dia menggugat pemilik rumah karena pencurian ƒ 10,-.

Kasus ini diselidiki oleh polisi, pengaduan ditemukan tidak berdasar. Wanita itu menyatakan antara lain, bahwa tidak mungkin Badjora memiliki uang sebesar itu.

Dia, pada akhirnya, menggugat balik Badjora karena mengajukan tuduhan palsu.

Saya bertobat sekarang ….

Pagi ini Badjora diadili di hadapan hakim, dituduh telah mengajukan pengaduan palsu. Badjora membantah. Dia benar-benar kehilangan ƒ 10,-.

“Berapa kali kamu dihukum?” tanya hakim.

Badjora tampaknya telah kehilangan hitungan.

“Banyak kali! Saya dulu bandit yang sangat besar, sekarang saya bertobat, saya sangat tenang sekarang,” kata Badjora.

Hakim memperdalam informasi dari dokumen-dokumen dan ternyata Badjora telah memiliki 10 vonis untuk pencopetan, pencurian dan lain-lain.

“Dulu, sejak dua tahun aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku kini menjadi tenang sekarang, tidak seperti sebelumnya, ketika keinginan untuk maju terlalu kuat untukku!” jawab Badjora.

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa Badjora pertama kali dihukum pada usia 16 tahun.

Saya, Badjora yang terkenal …

Pemilik rumah, dipanggil sebagai saksi, menceritakan beberapa hal tentang kebiasaan Badjora.

“Bagaimana mungkin dia bisa kehilangan f 10,-. Dia bahkan sering tidak punya uang untuk makan. Badjora sering makan nasi petjel dengan satu atau dua sen,” kata saksi.

Badjora “melompat” terkejut ketika dia mendengar begitu banyak hal keburukan tentang dirinya. Dia ingin menyela, tetapi hakim menyuruhnya menunggu gilirannya.

Ketika tiba gilirannya, ini terdengar dari mulut Badjora: “Bohong, semuanya itu bohong !” Di sini hakim memintanya tenang.

Badjora melanjutkan: Aku Badjora yang terkenal bisa mendapatkan makanan di semua hotel. ….. Saya tidak membeli nasi petjel dengan harga beberapa sen! “

Badjora mendapat 3 bulan.

Hakim bertanya, apakah Badjora ingin yang lainnya dipanggil, tetapi tidak muncul saksi yang pernyataannya dibaca dalam penyelidikan pendahuluan untuk didengar semua.

Badjora tidak menganggap itu perlu, setelah itu hakim-hakim pergi ke ruang dewan.

Menunjuk hasil keputusan, pengadilan menyatakan Badjora mendapat hukuman 3 bulan penjara.

Badjora mengungkapkan keinginannya untuk mengajukan permohonan pengampunan.

De Sumatra Post, 14-05-1937

Pencurian Hebat di Jalan Dillenburgstraat.

ƒ 3020. – Diambil Pencuri.

(Koran De Sumatra Post tanggal 14-05-1937)

Tadi malam, sebelum pukul sebelas, seorang pencuri berhasil memanjat sebuah tiang yang berada di dekat dinding belakang rumah petak di jalan Dillenburgstraat – sisi jalan Julianastraat – untuk masuk ke bagian belakang rumah. Di bagian ini terlihat jendela kamar tidur yang memiliki teralis besi. Teralis besi ini tidak diperkuat oleh tiang melintang, sehingga cukup mudah bagi penyusup untuk menarik tiang teralis agar meregang dan dengan demikian dapat menembus masuk ke dalam ruangan.

Di sini ada sebuah koper baja diikat ke salah satu pilar tempat tidur dengan rantai besi. Membuka koper sepertinya tidak menyulitkan dan itu berisi ƒ 3020,- dalam bentuk tunai, Billyet Giro sebesar ƒ 100,- ƒ 50,- dan ƒ 140,- dalam uang perak. Juga dinyatakan kehilangan Cek Bank sebesar ƒ 10.000,- yang dikeluarkan oleh Amoy Bank.

Rumah petak dihuni oleh seorang Cina. Nyonya rumah sedang pergi ke Penang, tuan rumah dan putranya pergi tadi malam dan pulang pukul sebelas malam. Mereka menyadari bahwa pencuri telah mengambil miliknya. Polisi segera diberitahu dan dalam waktu singkat kepala polisi ada di lokasi.

Tindakan polisi.

Malam itu juga polisi mulai mengambil tindakan. Pertama-tama, semua “orang yang dikenal” yang dapat ditemukan pada waktu itu diangkat dari tempat tidurnya dan semua dibawa ke kantor. Orang-orang juga mulai melakukan pencarian rumah dari “kenalan baik” itu. Sampai saat penulisan ini masih belum ditemukan, yang mungkin bisa membawa kejelasan dalam kasus pencurian.

Dari kediaman salah satu yang berprofesi sebagai pencopet, ditemukan kamera yang pastinya berasal dari pencurian, meskipun tidak ada laporan yang diterima tentang kehilangan kamera.

Di kantor polisi kami melihat bersama pagi ini hampir semua pencopet yang dikenal, yang sekarang berada di luar penjara. Antara lain ada juga di sana raja mereka yang tidak bermahkota, Si Badjora, yang baru dibebaskan beberapa hari yang lalu.

Polisi sekarang bekerja dengan keras untuk mendapatkan “keterangan” dari kasus pencurian ini.

De Sumatra Post, 18-10-1937

Dipenjara Tiga Bulan!

(Koran De Sumatra Post tanggal 18-10-1937)

Si Badjora adalah orang yang terkenal di kalangan dunia jalanan di Medan. Dia disebut raja copet yang tidak bermahkota. Dia sudah memiliki banyak hukuman untuk pencurian dan hal-hal lain. Terakhir dia dihukum karena tuduhan palsu.

Si Badjora waktu itu menggugat seorang wanita ke polisi. Wanita ini adalah pemilik rumah tempat ia menyewa sebuah kamar. Menurutnya pada jaksa penuntut, wanita itu mencuri dompet dan pakaiannya.

Pada persidangan, wanita itu berkomentar antara lain : “Pria itu tidak punya apa-apa, bagaimana saya bisa mencuri sesuatu darinya!”

“Apa, aku tidak punya apa-apa? Aku, yang bahkan datang ke hotel-hotel bermartabat di Medan dan makan malam di sana dengan sendok dan garpu?” ucap Si Badjora marah menanggapi kata-kata wanita itu.

Baru-baru ini kami melihat Si Badjora berkeliaran di kawasan Pecinan. Sering menyanyikan lagu di jalanan. Kemudian dia tentu saja mabuk oleh tuak, yang dia habiskan dalam jumlah besar. Seseorang yang bertugas mengawasi orang-orang di dunia jalanan, melaporkan,

Si Badjora tertangkap ketika ia menghabiskan malam di sebuah kaki lima. Dia tidak punya uang, juga tidak punya rumah. Pagi ini dia dihadapkan ke hakim, Tuan Schill, sebagai orang yang terkena operasi tunawisma.

Si Badjora mengaku di persidangan atas perkara ditangkapnya ia.

“Berapa kali kamu dihukum?”

Si Badjora tidak bisa mengingat.

“Dia adalah kepala pencopet dan telah dihukum beberapa kali,” petugas pendapatan memberi kesaksian.

“Polisi mana yang kenal dia?” tanya Tuan Schill sambil berpaling ke arah polisi di ruangan itu.

Ternyata Si Badjora sangat terkenal di kalangan polisi.

Salah satu polisi menjelaskan bahwa Si Badjora telah dijatuhi hukuman setidaknya lima kali dalam tiga tahun terakhir.

Kemudian vonis jatuh: tiga bulan, “bekerja untuk hidup tanpa upah”.

De Sumatra Post, 17-08-1938

“Raja Copet” Sedang Diadili Lagi.

Hukuman yang ke-19 Kalinya.

(Koran De Sumatra Post tanggal 17-08-1938)

Badjora, yang disebut Raja Copet yang tidak bermahkota” dari dunia jalanan di Medan, telah lama dilupakan.

Baru-baru ini kami melaporkan kepadanya bahwa ia telah masuk ke rumah singgah (penampungan). Itu tahun lalu

Tampaknya dia telah mampu mengatasi keterasingan ini dan kembali bebas ke masyarakat. Ia sepertinya segera pergi ke tempat di mana ia dan para pengikutnya berada.

Pada pagi hari tanggal 23 April, Tuan R., yang tinggal di jalan Serdang, memiliki mantel dengan kancing-kancing perak dan sepasang sepatu dan telah hilang. Sekitar dua minggu kemudian, seorang detektif di daerah Pecinan melihat Badjora yang membawa paket yang dibungkus kertas koran dan kemudian menyerahkan paket ini kepada Pardi.

Pardi ini juga merupakan “kenalan baik” dari polisi dan seperti semua polisi yang ingin tahu mengenai kegiatan dari orang-orang yang “dikenal,” si detektif mengikuti pria itu bersama paketnya. Segera paket itu disita dan Badjora dan Pardi dibawa ke kantor polisi.

Isinya ternyata jaket dan itu adalah pakaian yang hilang dari Tuan R. Saat diinterogasi, Badjora menyatakan bahwa ia telah membeli jaket dari orang yang ia kenal. Pakaian itu dibungkus dengan koran dan Badjora bahkan belum membuka paket itu dan membayar ƒ 0,50 untuk itu.

Polisi mencari orang dari siapa Badjora membeli isi paket itu, tetapi lelaki itu, Djamissan, tidak ditemukan di manapun, sehingga Badjora bisa dinyatakan bersalah atas pencurian dan penadahan.

Minggu lalu dia datang untuk persidangan, dimana diketuai oleh Tuan Bondam. Badjora juga menceritakan kisah yang sama di persidangan dengan polisi. Kali ini salah satu kawannya, juga pencopet terkenal, akan menjadi saksi untuk menjelaskan bahwa Badjora telah membeli paket yang belum dibuka dari Djamissan.

Namun saksi ini meskipun dipanggil dengan benar ternyata tidak muncul, sehingga pengadilan harus menunda kasus terhadap Badjora.

Pada hari Sabtu, saksi muncul di hadapan persidangan, yang menghukumnya dengan denda lima gulden.

Penanganan kasus Badjora terus berlanjut. Namun, saksi membantah bahwa dia melihat Badjora telah membeli paket dari Djasiman.

Badjora tidak punya saksi lebih lanjut. Meskipun ia mencoba dengan baik untuk mempertahankan tidak bersalah di hadapan persidangan, para hakim menjatuhkan hukuman lima bulan penjara.

Ini termasuk hukuman ke-19 Badjora, yang karena itu dijuluki “Raja Copet tanpa Mahkota,” tapi itu sekarang lemah karena pencopet ini terpaksa berurusan dengan pencurian kecil.

De Sumatra Post,  06-08-1941.

Lima Pencurian di Djati Oeloe.

(Koran De Sumatra Post,  06-08-1941)

Badjora, yang dikenal sebagai “Raja Copet Medan yang Tak Bermahkota” empat atau lima tahun yang lalu, kini sekali lagi kembali di hadapan pengadilan, dituduh melakukan lima perampokan di Djati Oeloe.

Kita masih ingat tiga atau empat tahun lalu, ketika Badjora diadili di hadapan Hakim Pengadilan, sebelumnya ia telah menggugat seorang wanita tua dengan tuduhan mengambil milliknya. Badjora menjawab dengan sangat marah terhadap ucapan wanita ini : “Saya bisa melakukannya. Saya kadang makan dengan sendok dan garpu di hotel-hotel Eropa! …”

Kali ini Badjora melakukan pekerjaan yang hebat juga! Dia dituduh melakukan lima pencurian. Dia mengaku telah melakukan tiga kali.

“Polisi telah menyusun laporan resmi untuk lima pencurian”. “Maka itu adalah laporan resmi palsu!” kata Badjora.

“Lihat,” Badjora lebih lanjut mengatakan, “menurut polisi, aku mencuri sarung yang merek itu. Itu adalah salah satu merek yang berbeda. Laporan resmi ini tidak terpercaya. Anda harus percaya padaku!”

“Kamu telah dihukum lima belas kali?”

“Tidak, tidak lima belas kali, tetapi tiga puluh tiga kali aku telah dihukum.

Mengenai lima pencurian di Djati Oeloe, para saksi yang didengar membuat semua keterangan yang menyerang Badjora.

Setelah majelis hakim menghukum Badjora dengan hukuman delapan belas bulan penjara, Badjora meminta untuk mempertimbangkannya.

Saat menunggu vonis, Badjora menyatakan kepada mereka yang hadir di pengadilan beberapa “teorinya”, antara lain bahwa : seseorang seharusnya tidak hanya bisa mencuri tetapi juga mampu menyimpan dengan benar barang yang dicuri!