Radio Taishoo di Medan

by
Jambur Lige di Lapangan Merdeka, Medan. (Karo Architecture - Medan, Sumatra 1948. This WWII era photo was taken by Capt. George S. White)
Jambur Lige di Lapangan Merdeka, Medan. (Karo Architecture - Medan, Sumatra 1948. This WWII era photo was taken by Capt. George S. White)

Senam Pagi vs Radio Taishoo

Majalah Tempo, 2 April 1983

 

Medan, zaman Jepang. Setiap pagi ratusan, kadang-kadang lebih seribu orang, para pegawai, anak sekolah, serdadu Jepang dan sebagainya, berkumpul di lapangan yang dalam zaman Belanda dinamakan Esplanade, di depan Stasiun Besar Kereta Api.

Semua berdiri menghadap podium ramping berbentuk rumah adat Karo tanpa dinding. Kedengaran musik mars dari radio.

Sekitar pukul 9.15 waktu Tokyo, belum lagi pukul 7 waktu Sumatera, dari sisi lapangan arah Grand Hotel masuk mobil terbagus di sana waktu itu. Dari dalamnya keluar Nakashima, Gubernur Jenderal (?), dengan atau tanpa pengiring.

Dia biasanya mengambil tempat agak ke kanan, baris paling depan atau kedua dari depan. Seorang serdadu Jepang dengan celana dril dan kaus oblong putih muncul di pentas. Orang-orang merapikan barisan. Tanpa komando, tanpa absen.

Pukul 9.30 musik intro mulai. Semua orang lantas kiotsuke, bersiap, lantas meletakkan kedua tangan di pinggang, dan beberapa detik kemudian Radio Taishoo dimulai.

Serdadu berkaus oblong itu yang memulai, seenaknya saja tanpa komando apa-apa. Langsung saja melakukan gerakan pertama dengan menekukkan lutut dan tegak kembali, berturut-turut sampai satu baris musik, yang jika dihitung akan genap 2 x 8 hitungan.

Gerakannya sangat sederhana, hanya satu gerakan setiap satu hitungan. Gerakan pertama agaknya dapat dianggap sebagai pemanasan.

Lantas mulailah gerakan kedua, ketiga dan seterusnya sampai ke sembilan, teratur sistematis, mulai dari leher sampai memutar pinggang. Diakhiri dengan gerakan pertama sebagai mengembalikan otot-otot, dan ditutup dengan mengatur pernapasan kembali.

Semua bubar tanpa upacara. Tidak sampai sepuluh menit terpakai. Nakashima mengambil bajunya yang terletak di rumput, mengenakannya, berjalan ke mobil dan berangkat dari tempat itu.

Para pegawai berangkat ke kantor, dan anak sekolah berangkat ke sekolah. Semuanya serba sederhana. Suasananya sederhana, dan terutama gerakan-gerakannya sederhana.

Begitu sederhananya, sehingga tidak perlu latihan berlama-lama, tidak perlu didemonstrasikan melalui TV setiap Minggu pagi. Tidak dipertandingkan antar-anak sekolah maupun antar-pegawai departemen dalam pekan olah raga mereka.

Tidak ada pretensi muluk-muluk bahwa itu adalah gerakan-gerakan asli Jepang, serta tidak ada hubungan dengan warisan budaya segala. Namun terasa sangat memasyarakat untuk ukuran masa itu.

Apakah justru serba kesederhanaan itu penyebabnya? Atau logika urut-urutan gerakan itu? Bahkan sampai sekarang pun saya masih ‘melakukan radio taishoo itu setiap pagi, dengan tambahan gerakan-gerakan tertentu yang saya reka-reka sendiri, pada urutan logika yang tepat.

Gerakan leher yang cuma dua saya tambahi dengan memutar. Gerakan lengan yang cuma ke atas dari depan dan dari samping, saya tambahi gerakan tinju dan variasi patah siku. Namun gerakan saya jaga tetap sederhana, dan urutan-urutan logika saya pelihara.

Ini tidak saya lihat pada Senam Pagi Indonesia. Gerakan-gerakannya sangat tidak sederhana. Dalam satu hitungan terdapat dua, tiga bahkan empat gerakan, yang jika dilaksanakan dengan baik memang akan menghasilkan sederetan gerakan indah. Namun sangat rumit, sehingga akan menimbulkan perasaan kikuk pada orang awam.

Senam ini bukan yang dapat diikuti dengan mencontoh seseorang di depan. Diperlukan instruktur dan latihan beberapa minggu. Bahkan sesudah semua ini pun, masih terlihat gerakan yang kaku, seperti yang dipamerkan di TV setiap Minggu pagi.

Saya cenderung mengelompokkan Senam Pagi Indonesia sebagai seni daripada olah raga. Dan ini diperkuat dengan adanya pretensi yang dikaitkan sebagai warisan budaya bangsa. Dengan adanya perlombaan-perlombaan. Dan juga karena dipertontonkan.

Logika urut-urutan gerakan juga tidak terlihat. Kita tidak dapat mengatakan bahwa gerakan-gerakan itu melatih otot-otot secara berturutan dari atas ke bawah, atau dari bawah ke atas, atau dari kiri ke kanan dan sebagainya. Ini sukar mengingatnya.

Namun harus diakui bahwa Senam Pagi Indonesia sudah memenuhi tugasnya dengan baik sebagai seni, sebagai nomor pertandingan dan sebagai tontonan. Mungkin juga sebagai pengantar pelajaran bela diri.

Untuk dimasyarakatkan agaknya terlalu rumit. Banyak kita yang lebih senang menontonnya saja. Untuk dimasyarakatkan agaknya perlu diciptakan yang baru, yang sederhana dan logis, serta tidak berpretensi apa-apa.

Dan jika ingin disajikan lewat TV, barangkali pemunculan yang nonperson dengan suara otoriter malah tidak membantu. Agaknya lebih baik muncul seseorang yang memperkenalkan diri, atau yang sudah dikenal, yang dengan santai dan ramah mengajak penontonnya ikut bersenam. Seorang Yenny Rahman, misalnya. Atau Bob Tutupoli. Atau Gepeng.

Musik pengiringnya pun hendaklah sederhana, atau yang akrab saja seperti Rasa Sayang ee yang kebetulan setiap bait dan refrainnya sudah mempunyai 16 hitungan. Kalau ini tidak bisa, bagaimana kalau kita populerkan kembali radio taishoo yang berbau asing itu?

Toh kehidupan kita sehari-hari sudah jauh dirasuki yang serba asing? Bahkan “pakaian resmi” yang tertera di sudut kiri bawah undangan resmi, jelas berbau asing, dan tidak dapat dikatakan warisan budaya bangsa, kan?

Kalau kita keberatan dengan yang terakhir ini, agaknya baik kita kumpulkan dan susun suatu seri gerakan-gerakan baku. Misalnya gerakan-gerakan pemanasan, latihan otot leher, bahu, lengan, dan seterusnya.

Nah, setiap Minggu pagi di layar TV muncul tokoh yang sudah kita kenal, mengajak kita dengan ramah, “Gerakan berikutnya, ibu-ibu, bapak, adik-adik sekalian, adalah melatih pergelangan, siku, bahu, dan sekalian sisi tubuh. Coba kepalkan tinju kiri, tinjulah ketiak kiri sambil memiringkan badan ke kanan seperti ini. Satu ! Kembali, dua! Ke kanan, tiga! Kembali, empat! Teruskan, lima, enam, tujuh, delapan . . .!”

 

————————

 

Tambahan informasi :

Radio Taishoo atau Rajio Taiso merupakan sebuah fenomena yang populer namun telah berakhir sebagai budaya nostalgia saat ini. Radio Calisthenics (ラジオ体操 Rajio Taisō) adalah sebuah program senam radio nasional Jepang NHK yang mulai dipraktikkan sejak tahun 1928.

Setiap pagi pukul 06:30 di seantero negeri melakukan rutin berolahraga bersama selama 10 menit. Latihan Rajio taiso baru berubah beberapa kali dalam 85 tahun terakhir. Musiknya selalu sama juga. Ini adalah sebuah rutintitas pagi yang sangat biasa di Jepang dan sangat sering dilakukan.

Asal Mula Taiso

Taiso berasal dari kata tai yang berarti badan dan kata sou yang berarti gerakan. Taiso dapat diartikan sebagai gerakan badan.

Rajio taiso pertama kali diperkenalkan tahun 1928 di Jepang, bersamaan dengan perayaan pemahkotaan kaisar Hirohito.

Sempat terhenti untuk beberapa saat setelah perang dunia II, program tersebut dihidupkan kembali pada tahun 1950-an, yang lebih difokuskan untuk latihan dan menguatkan ikatan dengan rekan kerja, teman sekelas dan anggota masyarakat.  Namun musiknya diperbaharui dan latihannya dimodernisasi.

Selain itu teknologi televisi sedang populer mengalahkan radio sehingga membuat aktivitas Rajio Taiso sekali lagi meledak secara populer melalui siaran televisi.

(Sumber : jic.co.id.)