Prof. Dr. Ponis Tarigan, Apt dan Penemuannya

by
Prof. Dr. Ponis Tarigan, Apt

“Ampuh Tarigan.”

Majalah Tempo (14 November 1987).

 

Tidak sia-sia, Dr. Ponis Tarigan, 50 tahun, berkeliling Jawa dan Sumatera selama hampir setahun mengumpulkan contoh tanah yang mengandung mikroorganisme. Hasilnya: ia menemukan mikroba baru yang menghasilkan antibiotik yang ampuh terhadap jamur hama tanaman dan ganggang, tapi aman bagi lingkungan.

Mikroba dan antibiotik yang sudah dipatenkan di Jepang itu menarik perhatian Universitas New South Wales, Sydney, Australia. Senin pekan lalu universitas itu mengirim surat kepada Ponis Tarigan, menawarkan kerja sama untuk menjajaki kemungkinan penemuan itu diproduksi secara besar-besaran.

Laboratorium kimia organik Unpad, tempat Tarigan melakukan penelitian, memang tidak memungkinkan antibiotik itu dibuat dalam jumlah besar.

“Alat fermentasinya berkapasitas kecil,” kata dosen kimia organik Unpad yang juga kepala Laboratorium Bioteknologi Pusat Antar-Universitas (PAU) ITB itu.

Sedang di laboratorium bioteknologi Universitas New South Wales ada alat fermentasi berkapasitas 5.000 sampai 50 ribu liter. Penemuan baru ini lahir dalam rangka kerja sama antara Pusat Penelitian Sains & Teknologi Unpad dan Riken (Rikagaku Kenkyu-Sho) atau The Institute for Physical and Chemical Research-IPCR, di Jepang.

Itu sebabnya antibiotik temuan baru ini diberi nama RP-265. R = huruf awal Riken, P = huruf awal Padjadjaran. Angka 265 cuma kode saja. Sedangkan mikroorganisme penghasil antibiotik yang juga turut dipatenkan itu disebut Streptomycin sp RP-265.

Sejak Februari 1985, Ponis mengumpulkan contoh tanah di beberapa tempat di Pulau Jawa dan Sumatera. Desember 1985 contoh-contoh tanah yang diduga mengandung mikroorganisme (jasad renik pembusuk zat-zat organik) itu mulai diproses di laboratorium kimia organik Unpad dan di laboratorium bioteknologi Riken, di Jepang, selama 1 setengah tahun. Baru pada Maret 1987 ditemukan mikroba streptomycin sp RP265, yang kemudian menghasilkan antibiotik RP-265 itu.

Antibiotik tersebut terbukti sangat aktif terhadap penyakit jamur tanaman (Pyricularia oryzae) dan ganggang. Jamur yang terutama menyerang padi ini tak kalah ganasnya dibanding wereng. Sedangkan ganggang Chlorera vulgaris biasanya menyumbat pipa ledeng, merusakkan selokan, dan mencemari kolam renang. Satu liter ganggang cukup dibasmi dengan 1 mg RP-265. Sedangkan untuk mengganyang jamur tanaman, 2,3 mg RP-265 dicampur air langsung disemprotkan pada tanaman yang terkena.

Dibandingkan fungisida atau herbisida lain, antibiotik ini tidak mencemari lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia atau binatang.

“Begitu kena pada tanah langsung mengurai lagi,” kata Ponis. Kenapa dari tanah? Menurut Ponis, sejak antibiotik pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming, 1940, tanah merupakan sumber utama mikroorganisme.

Tapi diketahui pula bahwa tanah, terutama di negara-negara maju, sudah habis dikuras untuk penelitian mikroba sejak 1950. “Di negara kita ternyata penelitian mikroba dari tanah belum menarik perhatian para peneliti,” kata Ponis. Meski begitu, pengambilan tanah contoh tidak sembarangan. Tanah yang tercemar kotoran manusia, misalnya, tidak bisa diambil untuk sampel.

“Mikroba kotoran manusia akan mendominasi tanah, sehingga mikroba baru akan mati dengan sendirinya,” tutur Ponis. “Dan itu sudah alamiah, di antara mikroba juga ada kompetisi.”

Sebelum diajukan ke lembaga paten Jepang, penemuan ini diuji dulu oleh sebuah dewan ilmu pengetahuan.

“Terbukti hasil ini orisinil dan belum pernah ditemukan peneliti lain sebelumnya,” kata Prof. Dr. Sasongko S. Adisewoyo, Kepala Pusat Penelitian Sains & Teknologi Unpad. Hasan Syukur (Bandung).

 

Profil  Prof. Dr. Ponis Tarigan, Apt

Prof. Dr. Ponis Tarigan, Apt lahir di Juhar, 2 Maret 1936. Memiliki istri bernama Yanasari Sembiring dan empat orang anak, yaitu, dr. Prima Artha Tarigan , Ir. Antonius Tarigan, Ir. Hera Sushanti Tarigan, dr. Helen Christin Tarigan.

Prof. Dr. Ponis Tarigan, Apt menyelesaikan pendidikan S1 dari Farmasi FMIPA Unpad (angkatan 1968) dan melanjutkan ke jenjang S2 di bidang Kimia di RU Utrech, Belanda pada tahun 1972. Sementara gelar Doktoral diraihnya di FMIPA Unpad pada tahun 1980 dan menempuh postdoctoral Research on Microbial Bioconversion IPCR-Wako-Shi, Jepang pada tahun 1981.

Selama hidupnya almarhum pernah merintis Program Studi Kimia di FMIPA Unpad untuk jenjang S1 hingga S-3. Almarhum juga pernah dianugerahi penghargaan Satya Karya Bakti 25 Tahun dari Unpad pada tahun 1985 dan Satyalancana Karya Satya Kelas II dari Presiden RI tahun 1992.

Guru besar purnabakti Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ponis Tarigan, Apt., wafat pada tanggal 10 Juli 2017 di usia 81 tahun. Beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Santo Borromeus. Penghormatan terakhir jenazah oleh civitas akademika Unpad dipimpin langsung oleh Rektor Unpad Prof. Tri Hanggono Achmad di Grha Sanusi Hardjadinata Kampus Unpad Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung.

Usai pelepasan jenazah oleh civitas akademika Unpad, jenazah dibawa ke rumah duka di Jl. Sekeloa Selatan II 3-B Bandung dan dimakamkan esoknya Selasa (11/7/2017) di Pemakaman San Diego Hill, Karawang. (sumber : Unpad.ac.id)

 

Dari sebuah artikel di media Sipayo.com, salah seorang keluarga bercerita sekilas tentang kisah hidup Prof. Ponis Tarigan. Berikut kisahnya sebagaimana diceritakan oleh salah seorang pihak keluarga, yakni keponakannya (Bahasa Karo: Bebere), Andreas Ginting :

Prof Ponis Tarigan adalah sosok seorang putra Karo yang lahir di Juhar, 2 Maret 1936. Pada masa mudanya, kehidupan sederhana orang tua menjadikan Ponis Tarigan kecil harus berjuang sendiri memperoleh pendidikan di sekolah yang tidak berbiaya mahal.

Dia akhirnya melanjutkan pendidikan di Sekolah Asisten Apoteker Kabanjahe (setara SMA). “Karena dia merupakan siswa yang cerdas dan pintar, maka seorang dokter yang juga merupakan Suku Karo di Kabanjahe memberikan rekomendasi dan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke Farmasi Unpad Bandung,” ujar Andreas.

Setelah menamatkan pendidikan kuliah di Farmasi Unpad, Ponis Tarigan kemudian menjadi dosen di universitas tersebut. “Mengingat dirinya merupakan seorang peneliti yang tekun dalam bidang biotek dengan paper internasional yang lumayan banyak, sekaligus sebagai seorang apoteker pula, sehingga akhirnya dia menjadi Guru Besar (Profesor) di Unpad,” ujarnya.

Andreas Ginting juga mengatakan Prof Ponis Tarigan dikenal sebagai sosok dermawan. “Sebagai pegawai negeri yang berjuang secara ekonomi, tapi ia tetap membantu keluarga yang mempunyai keinginan melanjutkan sekolah ke Bandung, termasuk kami keponakannya. Ini merupakan salah satu contoh baik bagi kita semua untuk mendorong memajukan teman dan keluarga, khususnya di bidang pendidikan,” tutupnya.