Piso Surit, Malam Terakhir di Gunung (1961)

oleh
Mieke Widjaja dalam Film Piso Surit
Mieke Widjaja dalam Film Piso Surit

“sebagai seorang putra bangsa dari Suku Karo yang memiliki tradisi patriotik selama dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Negara, seharusnya Pande menerima segala “tekanan bathin” itu sebagai suatu senjata “kekuatan” menghadapi hari depan yang gilang gemilang. Dan justru oleh ucapan-ucapan Wita yang tajam menikam ulu hati itu, membuat Pande sadar dan ia merasa menemui dirinya kembali.”

 

Sinopsis Film “Piso Surit” :

(Majalah Tri Bakti Wanita No.3 tahun ke I, 1961)

 

Produksi pertama “Pelangi Films” mempersembahkan :

Achmady Hamid dan Mieke Widjaja dalam PISO SURIT

(Malam terakhir di Gunung)

Ke daerah pegunungan Tanah Karo yang kaya dengan pemandangan alam yang indah mempesona, telah datang seorang gadis “Wita” (Mieke Widjaja), mahasiswi jurusan antropologi dari sebuah perguruan tinggi di ibukota dengan maksud melakukan research berapa waktu di tempat tersebut.

Untuk melaksanakan maksud itu, gadis Wita telah meminta bantuan tenaga seorang pemuda penduduk kampung di situ – tukang menyewakan kuda tunggang bernama Pande (Achmady Hamid) yang oleh Wita dipergunakan sebagai petunjuk jalan dan secara langsung pula menyewa kuda kepunyaan Pande tersebut sebagai alat kendaraannya selama melakukan peninjauan di desa-desa.

Film Piso Surit
Film Piso Surit

Dalam kelanjutan pergaulan mereka sehari-hari, yang oleh Pande sendiri hubungan pergaulan tersebut dirasakan begitu bebas dan manja sekali, telah membuat dia “jatuh hati” kepada gadis Wita, mahasiswi jelita itu. Bahkan ia akhirnya jadi demikian “mabuk kepayang”dan lupa daratan dengan serta merta telah mengabaikan nasib kudanya yang selalu jatuh sakit dan kelaparan akibar kurang pemeliharaan. Padahal selama ini kuda tersebut adalah satu-satunya mahluk yang paling disayangnya, tempat ia menggantungkan rejeki hidupnya.

Film Piso Surit
Film Piso Surit

Dalam hal ini Wita sendiri sedikitpun tidak menyadari betapa lara cinta sang tukang kuda kepadanya, karena sebegitu jauh dalam kesehariannya ia hanya melulu memusatkan fikirannya kepada tugas dan pelajarannya. Ia hanya melulu memikirkan bukunya, dengan melupakan pertumbuhan dan perkembangan sekelilingnya, symbolik dari seorang mahasiswa/i yang melupakan tantangan jamannya.

Film Piso Surit
Film Piso Surit

Demikianlah, didesak oleh rasa gelora rindu dendam yang tak tertahankan akhirnya Pande menyatakan perasaan yang dikandungnya pada malam terakhir Wita berada di daerah itu. Pernyataan itu barang tentu saja mengejutkan Wita dan dengan terus terang cinta Pande ditolaknya dengan mengemukakan sikapnya selama ini yang menganggap Pande tak lebih dari seorang temannya. Penolakkan ini membuat Pande jadi kalap, ia seoalah-olah merasa tertipu dan merasa dipermainkan, sehingga ia hendak mencoba memperkosa Wita ketika itu ……

Tetapi akhirnya niatnya yang jahat itu tak jadi dilakukan setelah melihat sikap Wita yang ikhlas rela menyerahkan tubuhnya, apabila memang hal tindakan “menggagahi” itu dianggap Pande adalah jalan satu-satunya melepaskan diri dari segenap rasa kekesalan dan kemurkaan yang sebenarnya berpokok dari ketidaksadarannya terhadap perkembangan alam rohani Pande yang bertiup dari api pergaulan mereka yang menyala …..

Film Piso Surit
Film Piso Surit

Seterusnya, didera oleh “rasa malu diri” dan rasa “berdosa,” Pande melarikan diri dari sisi Wita dalam kegelapan malam, seraya mengambil keputusan hendak menghabisi riwayat hidupnya dengan jalan melompat ke jurang yang dalam. Tapi bersamaan dengan itu, Wita dengan perantaraan seorang sahabat karib Pande yang bernama Sampe (Slamet B) telah dapat mencegah tindakan nekad tersebut.

Dan justru Wita pada saat-saat yang kritis itu dengan ikhlas menyatakan kepada Pande bahwa sebagai seorang putra Tanah Karo yang baik, Pande tidak perlu berkecil hati atas kejadian-kejadian itu. Dan sebagai seorang putra bangsa dari Suku Karo yang memiliki tradisi patriotik selama dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Negara, seharusnya Pande menerima segala “tekanan bathin” itu sebagai suatu senjata “kekuatan” menghadapi hari depan yang gilang gemilang. Dan justru oleh ucapan-ucapan Wita yang tajam menikam ulu hati itu, membuat Pande sadar dan ia merasa menemui dirinya kembali.

Besoknya, dengan diantar oleh senyum ikhlas yang penuh dengan suasana keharuan, Pande melepaskan Wita pulang, setelah lebih dulu kepada Wita diserahkannya sehelai Uis Karo sebagai tanda persahabatan yang tulus. Kemudian dengan air mata gembira yang berlinang-linang Pande menghampiri dan memeluk kudanya yang telah sekian lama kehilangan tuannya. Kedua mahluk itu akhirnya berjanji setia menempuh hari depan mereka yang terpercaya …..

Sinopsi Film Piso Surit di Majalah Tri Bakti Wanita No.3 tahun ke I, 1961
Sinopsi Film Piso Surit di Majalah Tri Bakti Wanita No.3 tahun ke I, 1961

Inilah sekelumit pokok isi cerita dari Film “Piso Surit” atau “Malam terakhir di Gunung” produksi pertama dari Pelangi Films yang skenario dan penyutradaraannya berada di tangan Bachtiar Siagian. Dalam film ini Bachtiar dengan sangat berhasil tidak banyak memakai bintang film, hanya ditokohi oleh dua orang pemaian utama (Achmady Hamid dan Mieke Widjaja), dan seorang pemain pembantu yang baru muncul dalam layar perak Slamet B, dari Medan.

Film “Piso Surit” yang sekaligus pula mencetuskan suatu ciri dari realisasi “Rediscovery of our revolution” atau sebagian dari inti pidato Bung Karno, pencetusan masalah mahasiswa, bahwa seorang mahasiswa tidak boleh hanya terbenam dalam buku-buku, tetapi harus dan wajib memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat sekelilingnya.