Peresmian Sanatorium di Kabanjahe dan Menari Bersama (1931)

oleh
Ny.Paneth menari tarian Karo
Ny.Paneth menari tarian Karo

Sekitar pukul setengah sebelas Dr. Paneth berbicara. Ia memulai pidato pembukaan.

Ini adalah awal baik yang sangat sederhana, katanya. Tujuannya adalah untuk menyediakan tempat pengobatan bagi para penderita penyakit paru-paru dengan memanfaatkan iklim Kaban Djahe yang sangat baik dan makanan sehat yang telah diuji cobakan dan teruji, bersama dengan metode-metode terapeutik modern. Sebagian besar pasien tuberkulosis di sini dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan waktu yang efektif. Dalam beberapa tahun terakhir apa yang disebut “collapstherapie” tuberkulosis paru telah digunakan pada kasus-kasus penderita yang parah dan memberikan hasil yang sangat bagus.  Ini adalah suatu keuntungan besar dari metode ini yang juga dapat diaplikasikan pada penderita rawat jalan.

Bagi sebagian pasien yang tinggal jauh, yang datang kembali untuk mendapatkan suntikan, telah disedikan paviliun.  Sering terjadi pasien pergi ke Kaban Djahe yang dikirim oleh dokter di tempatnya, terpaksa pindah-pindah dari satu rumah ke rumah di kampung lain, yang tentunya tidak  cocok untuk mendukung kesembuhannya. Ini dipandang dari sudut pandang higienis.

Paviliun-paviliun yang telah dibangun ini menawarkan solusi bagi pasien-pasien ini. Salah satunya adalah untuk pasien yang mampu diharapkan membayar. Untuk yang tidak mampu membayar sedikit atau tidak sama sekali. Dengan cara ini biaya operasional  rumah sakit dapat ditutupi. Di sisi Pemerintah, tidak ada dukungan keuangan yang diharapkan pada waktu-waktu ini. Sejauh ini, pengendalian tuberkulosis, yang terdiri dari pengobatan tuberkulosis, dapat dibiayai yang dananya berasal komunitas kita dan para penderita itu sendiri, karena semua ikut berkontribusi sesuai dengan kemampuan dana yang mereka miliki masing-masing. Rasa optimis hadir untuk masa depan.

Paviliun dibangun beberapa tahun yang dananya hasil dari kompetisi tentang tuberkulosis. Paviliun ini  ia namakan “Paviliun Wilhelmina.”

Dr. Djabangun telah menyatakan dirinya siap untuk membebani dirinya dengan pengawasan dan perawatan medis sehari-hari.  Sementara dokter pemerintah seperti Dr. Fischer, yang dulunya terikat pada sanatorium lama Hellendoorn di Belanda, cukup baik untuk menghadapi kasus-kasus khusus.  Ia akan datang sekitar seminggu sekali untuk menerapkan metode perawatan khusus. Akhirnya, terima kasih banyak diucapkan  kepada Dr. H. Vervoort yang menyumbangkan meja operasi dan sejumlah obat-obatan dan ucapan terima kasih kepada Yang Terhormat Tuan Tan Cheng Lock dari Malaka, yang telah mengirim sejumlah uang untuk pembelian peralatan dan kursi panjang. Juga kepada Sibajak dari Lingga, Pa Sendi, yang telah memberi ijin penggunanaan lahan tanah ini dan berikut nasehat-nasehatnya. Kami harus berterima kasih.

Di akhir pidato ini, Dr. Paneth berbicara dalam bahasa lokal yaitu bahasa Karo yang ditujukan kepada ribuan masyarakat Karo yang hadir. Dilanjutkan dengan pidato dari  Sibajak Lingga yang berbicara dalam bahasa Karo atas nama masyarakat Karo. Tepuk tangan terus hadir di sela-sela pidatonya. Di akhir pidatonya, mewakili masyarakat Karo diberikanlah hadiah kepada Dr. Paneth dalam bentuk seperti : ayam, beras, buah-buahan, dan sajian dua ekor babi yang utuh (namun bulunya sudah dibersihkan/dibakar).