Peresmian Gereja di Lau Simomo (1923)

by
Gereja baru di Lau Simomo
Gereja baru di Lau Simomo

Seperti yang dikatakan oleh Pdt. JH. Neumann, ini adalah bangunan gereja yang terindah di Tanah Karo. Dan dibangun oleh orang-orang yang penuh kekurangan.

Oleh Edi Santana Sembiring.

Majalah Nederlandsch Zendingsblad yang terbit pada hari Kamis tanggal 1 Mei 1924 menuliskan artikel Peresmian Gereja di Lau Simomo. Pemukiman Rumah Sakit Kusta Lao Simomo mulai dibangun sejak 25 Agustus 1906 atas kerja keras Pdt. E.J. Van den Berg. Dan barulah pada tanggal 9 Desember 1923 berdiri sebuah gereja permanen di Lau Simomo.

Begitu lama baru berdiri bangunan gereja ini, yang dikatakan oleh Pdt. JH. Neumann sebagai bangunan gereja yang terindah di tanah Karo saat itu. Dan JH. Neumann memberi pujian dengan kenyataan bahwa gereja ini dibangun oleh orang-orang yang penuh kekurangan.

Para penderita kusta yang adalah orang miskin dan terusir dari kampungnya, kini memiliki gereja terindah. Mereka telah menabung sekian tahun untuk bisa membangun gereja ini.

Bagaimana acara peresmian gereja yang baru berdiri ini? Berikut penuturan JH. Neumann yang diterjemahkan dari artikel berjudul De Kerkinwijding te Laoe si Momo (Deli) ke dalam bahasa Indonesia:

Peresmian Gereja di Lau Simomo (Deli).

9 December 1923

Ada hari-hari yang terukir dalam ingatan kita dan yang tak terhapuskan. Itulah hari ketika saya pertama kali mengunjungi rumah sakit kusta yang baru berdiri. Pdt. Van den Berg, sang pendiri dan sekaligus pemimpin pertama, membawa saya ke sini. Kami mengikuti jalan yang baru dibangun menuju Sarinembah. Sekitar 9 km dari Kabanjahē, kami berbelok ke kiri dan setelah berjalan beberapa kilometer kami menemukan sejumlah gubuk yang tersebar di dataran dengan alang-alang yang luas.

Tiba-tiba tampak gubuk-gubuk setengah digali di tanah dengan dinding tanah dan atap bambu. Dan dari dalamnya beberapa pasang mata liar memandang kami, dan terkadang dengan tatapan kosong.

Pemandangan yang sunyi terlihat di hamparan gubuk-gubuk yang seperti tersesat di antara alang-alang, di dataran luas di bawah langit yang terbentang. Tidak pohon, tidak semak belukar, tidak ada yang bisa menghentikan angin berhembus di sini untuk melindungi orang-orang malang yang tinggal di sana.

Beberapa tahun telah berlalu. Jumlah orang-orang malang ini telah menjadi lebih dari empat ratus orang. Belum lagi mereka yang sudah tiada dan dikubur di bawah tanah.

Tapi kini, kami menulis keadaan 9 Desember 1923 dan hari ini adalah perayaan. Saat ini baru pukul sembilan pagi dan tamu-tamu sudah datang dari Medan yang sudah melewati 93 kilometer melintasi pegunungan.

Ke mana perginya wajah desa milik orang-orang malang itu? Dimana gubuk-gubuk kumuh itu? Di manakah mereka yang berpakaian buruk dan makan tidak enak?

Tampak pepohonan tumbuh di semua sisi, bahkan mawar bermekaran di sepanjang jalan. Di mana-mana orang mendapat kesan bahwa ini adalah desa yang makmur. Halaman besar dengan rumah-rumah bagus yang dibangun dengan arsitektur Karo. Jalan yang bagus membelah kampung. Di mana-mana Anda akan menemukan pipa tegak, itulah pipa air bersih.

Hari ini semuanya menghirup kegembiraan. Dimana-mana, jalanan dihiasi dengan daun-daun kelapa berwarna kuning. Di sana-sini ada karangan bunga. Apa yang akan dilakukan di desa ini?

Hari ini adalah acara pentahbisan gereja. Gereja baru akan diresmikan. Mereka telah bekerja dan menunggu berbulan-bulan bahkan menghabiskan waktu bertahun-tahun, dan sekarang?

Gereja sudah siap. Gereja terindah di seluruh tanah Karo, gereja mereka sudah siap. Dan mereka memperoleh pemikiran: Tidak ada gereja seperti gereja ini di seluruh negeri yang diutus!

Para penderita kusta, yang merupakan orang miskin yang terusir, mereka memiliki gereja yang bentuknya tidak seperti di daerah lain. Dalam beberapa tahun mereka telah menabung $ 4.000 untuk gereja mereka!

Sungguh ajaib, ada orang-orang miskin yang mampu membuat karya besar layaknya yang bisa dilakukan orang kaya! Seperti : pelayan menunggang kuda, pangeran berjalan kaki. Atau keadaan di gurun, bermekaran bunga seperti mawar!

Dan di sini bukti diberikan, meskipun ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan, seseorang dapat hidup bahagia. Di sini terlihat rahasia: “Adalah baik bagiku untuk dekat dengan Tuhan.” (Mazmur 73.)

Kaum paria yang terbuang dan yang terusir, telah menemukan rumah di sini. Dan mereka telah menemukan di sini, setidaknya banyak dari mereka, apa yang menenangkan hati yang terluka. Dan sekarang berdiri gedung gereja baru, yang mengingatkan mereka setiap hari bahwa Tuhan memberi dan manusia tidak hidup dari roti saja!

Gedung gereja itu dibangun dalam bentuk salib, menyediakan ruang yang cukup untuk semua. Jendela-jendela indah dengan kotak-kotak merah, hijau, biru, kuning dan ungu yang memberikan sesuatu yang intim, sesuatu yang hangat. Campuran warna coklat di dinding menenangkan mata.

Amsal ditulis di balok besar, memberitakan Injil kepada mereka yang masuk: Datanglah semua yang berbeban berat, dosa-dosamu diampuni, Akulah Tuhan, Tabibmu! Dan organ terdengar lembut; semuanya berbicara tentang Injil dan kasih karunia yang luar biasa. Hari ini, “banyak ucapan syukur akan naik kepada Tuhan dan turun lagi sebagai berkah bagi tanah.”

Tetapi pertama-tama, kami pergi ke gereja tua dulu. Sebuah bangunan yang sangat sederhana dan tak kokoh, di mana pada hari Minggu tidak mampu menampung semua pengunjung. Pertama, di sini kami mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan untuk setiap berkat yang dinikmati oleh karena kasih-Nya. Di sini orang-orang percaya dibaptis, di sini persekutuan dengan Tuhan dinikmati pada Perjamuan Tuhan, di sini juga banyak pasangan menjadi keluarga melalui berkat Tuhan.

Kemudian selanjutnya berjalan ke gereja baru. Semua menunggu di luar. Di sebelah kiri para penderita kusta berdiri dan di sebelah kanan adalah orang sehat, termasuk Gubernur Pantai Timur Sumatera dan banyak pihak berwenang.

Semua menunggu saatnya gereja baru akan dibuka. Kemudian ketua kami melangkah masuk: Tuhan memberkati dari sekarang hingga selamanya. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus!

Kuncinya diputar, gereja dibuka. Dan orang pertama yang diizinkan masuk ke gedung itu adalah pengulu yang bernama Pa Merlep.

Dalam beberapa pekan sebelumnya, ketegangan meliputi pria. Itu karena kekurangan uang, dan pembangunan akan dihentikan. Katanya: “Aku mungkin seperti halnya Musa, dia mungkin melihat tanah perjanjian, tapi di sana aku tidak akan datang!”

Dan ia juga sakit, benar-benar terkena penyakit kusta yang mengerikan itu. Kadang-kadang merasa sekarat. Dan kemudian kemarin malam, dia masih mengalami saat-saat yang sangat sulit: “Aku tidak akan melihat pagi hari,” pikir “iman” kecilnya. Dan dia memanggil penginjil Pa Samel untuk berdoa bersamanya.

Sekarang dia berdiri ditopang tongkatnya; Tuhan telah mempermalukan “iman” kecilnya, dia akan menjadi yang pertama memasuki rumah Tuhan yang baru. Dan setelah dia masuk, orang-orang yang sakit juga masuk.

Dari sisi lain yang masuk orang-orang yang sehat. Gereja penuh dan di luar banyak yang menunggu, tapi mereka tidak bisa masuk, sudah penuh.

Pdt. Van Eelen mengucapkan votum. Kemudian semua bangkit dan berdiri, lalu terdengar dari gedung baru: “Aku percaya kepada Allah, Bapa Yang Mahakuasa!” Sangat hikmat, tidak ada mata yang terbuka, suara kami menempel di tenggorokan kami. “Aku percaya!” Itulah yang menaklukkan dunia!

Pdt. Van Eelen berbicara tentang kegembiraannya karena gereja ada di sini, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada begitu banyak orang Eropa yang telah ikut mewujudkannya, kepada para pembangun yang membangun tanpa pamrih, atas kehormatan yang telah dilakukan banyak orang saat ini dengan muncul di sini.  Puji Tuhan, hai jiwaku!

Gubernur mengucapkan kata-kata dari sanubari hatinya : “Oh, bisakah orang-orang Eropa lamban yang suam-suam kuku itu ada di sini dan melihat apa yang terjadi di sini!”

Pdt. Neumann berbicara tentang mukjizat Tuhan: padi di tanah tandus kelihatannya enak, dan yang di tanah subur hanya menghasilkan bulir kosong! Dan setelah beberapa pembicara lagi, Van den Berg menutup pertemuan, sebagai pekerja pertama yang meletakkan dasar untuk Lau Simomo.

Tapi sebelum kita pergi, ada upacara baptisan. Seorang anak dari keluarga Van Eelen dan seorang anak Karo akan dibaptis. Sebuah kesaksian bahwa rumah Tuhan ada untuk semua dan di kerajaan Tuhan tidak ada orang Belanda dan tidak ada orang Karo, tetapi hanya anak-anak Tuhan.

Dan selanjutnya kegiatan dilakukan di luar. Di sana makanan sederhana telah disiapkan, semua mendapatkan makanan. Di atas bukit duduk para tamu Eropa, termasuk perwakilan dari gereja Protestan dan Jemaat Reformed di Medan. Di bagian bawah tampak tamu dari Karo, khusus yang sehat. Dan di seberang jalan duduk para saudara kita yang sakit kusta.

Sekarang orang Lau Simomo begitu bahagia dan bangga. Hari ini mereka adalah tuan rumah dan tidak ada gereja di tanah Karo yang menyamai keindahan gereja mereka.

Ini hari yang indah, kami telah melihat anugerah dan belas kasih Tuhan. Oh, bisakah orang-orang Eropa yang suam-suam kuku dan lambat itu … Tapi juga terima kasih kepada semua yang telah membantu. Ada monumen kasih Kristen yang berbicara lebih keras daripada khotbah.

Penulis : JH Neumann.