Perang Sunggal, Sebuah Kesaksian Mata (Bagian 9)

by
Ilustrasi (sumber : www.abmc.gov)
Ilustrasi (sumber : www.abmc.gov)

Kisah bersambung ini dituliskan dari sisi mata seorang tentara Kolonial Belanda yang didatangkan dari Riouw (Riau) ke Deli (Medan) untuk menghadapi gejolak yang terjadi.

Koran De Sumatra Post menerbitkan cerita bersambung dengan 34 bagian dengan judul : “Van Riouw naar Deli in 1872. Door een ooggetuige.” Kisah ini diterbitkan dari tanggal 19 Agustus 1915 hingga 25 September 1915.

Orang-orang Karo di Sunggal menolak tanah-tanahnya direbut oleh Kesultanan Deli dan Pangeran Langkat, dimana kedua pemimpin ini meminta bantuan tentara Kolonial Belanda yang juga punya kepentingan untuk perluasan areal perkebunan milik orang-orang Eropah.

Sambungan dari Bahagian Kedelapan.

 

Dari Riau ke Deli pada tahun 1872.  Sebuah  kesaksian mata.

Derak nyala api disertai dengan dentuman dan pukulan keras  seperti tembakan meriam, yang disebabkan oleh  terbakar dan ambruknya tiang-tiang bambu yang besar dari  rumah-rumah tinggal itu. Sementara kebisingan yang hebat ini bertambah dengan suara kambing mengembik dan lolongan serta gonggongan anjing-anjing yang berkeliaran di dekat kobaran api yang melahap rumah-rumah tempat tinggal mereka.

Maju ke dalam benteng, terdengar terus-menerus teriakan dan nyanyian. Semua orang menemukan sesuatu dari kesenangannya sendiri di sana, karena dalam penaklukan kekuatan, ada sejumlah besar tikar dan bantal. Termasuk barang-barang yang sangat indah dihiasi dengan perak tipis berukir, semua jenis katun berwarna, beberapa senjata dan peluru, sejumlah besar tembikar Inggris berwarna, peti, semua jenis barang rumah tangga, sejumlah besar beras merah (padi) dan sejumlah kambing dan ayam jatuh ke tangan kami.

Semua ini disambut baik oleh para pelaut, tentara, dan kuli, dan terutama kuali dan wajan yang ditemukan. Karena ini terkait dengan perut, yang dibungkam oleh pertempuran, sekarang menegaskan hak-haknya dengan sangat mendesak. Karena ceret dan makanan ditinggal di bivak sebelumnya, begitu juga peralatan-peralatan dapur yang menjadi sangat berharga. Beras berlimpah, kambing dan ayam berkeliaran  di sekitar, jadi tidak perlu menunggu berjam-jam sampai kuli, yang memanggul  ransum selama dua hari, akan tiba dan makanan dari itu telah dipanggang untuk seluruh pasukan.

Segera ruang luas di dalam benteng itu sebagian besar ditempati oleh api-api kecil, di mana kuali dan wajan, piring dan ceret dari segala bentuk dan ukuran, diisi dengan air, beras, potongan-potongan daging kambing dan ayam sedang dimasak, mendidih  dan menguap.

Di sela-sela itu, para prajurit, marinir, dan pelaut bergerak bersama dalam wajah-wajah ceria sambil saling membagi cerita tentang bagian istimewa dalam kegiatan-kegiatan hari itu dengan suara nyaring.

Orang-orang mendengar dan mendiskusikan siapa yang pertama kali sampai di benteng, mengapa bukan ini atau itu yang pertama atau kedua atau ketiga. Tetapi kisah yang menarik adalah ketika ada tersandung atau tergelincir di jalan, sementara yang lain ada kehilangan pisaunya, atau sepatu, atau topinya di jalan, atau berhenti untuk mengisi senapannya terlebih dahulu. Yang lain ada merobek mantel atau celananya sambil berjuang untuk membebaskan diri dari semak-semak. Lalu ada yang menjadi bingung atau terlalu banyak membelok ke kanan atau kiri, sehingga ia mengambil jalan memutar, lalu telah tertinggal di belakang. Dengan cara ini orang bisa mendengar segalanya, sementara yang lebih berpengalaman, yang sebelumnya pernah melakukan berbagai ekspedisi, mengambil perbandingan tentang perjalanan mereka sebelumnya di Bandjermasin, Boni atau Bali, di mana semuanya begitu berbeda dengan ini.

Percakapan mengembara selama mereka duduk di sana, di mana kepentingan bersama telah menyatukan mereka dalam kelompok-kelompok kecil. Beberapa pelaut telah menangkap seekor kambing. Beberapa tentara telah mengambil panci tanah besar. Kambing dan panci adalah dua magnet yang menyatukan pasukan, lalu berbagi tugas. Sementara kambing sedang dipersiapkan, beberapa pergi keluar untuk mengambil air; yang lain datang dengan beras atau mencari kayu bakar di daerah tersebut. Yang sedang rawat jalan tak diberi perkerjaan dapur dan sekarang duduk dengan tenang, berbicara sebentar dan menikmati pipa tembakau sebelum daging dimasak. Dengan potongan kayu yang menyala membakar kayu-kayu yang runcing dan akhirnya makanan mulai dimasak.

Sup-sup sudah selesai direbus, dibawa untuk didistribusikan pada orang-orang yang memegang batok kelapa. Semua orang memujinya. Nasi tidak mudah meluncur melalui tenggorokan tanpa sup, meskipun tanpa garam atau sayuran, tidak dapat disangkal dengan adanya daging kambing dan potong-potongan lombok (lada Spanyol) menjadi lezat. Orang yang memegang sup mengundang rekannya untuk memakan sup yang telah dia masak sendiri.

Penduduk pribumi sudah memasak nasi mereka di sepotong bambu dan dan memasak sayur yang terbahan dari  bambu muda. Sementara para kuli Cina, suara riuh ada di sana dan mereka mengambil makanan dengan jari mereka.

Penjaga sibuk mematahkan pagar berbahan runcing, membiarkan Howitzer masuk, dan memperbaiki lagi. Beberapa orang masih menggunakan waktu untuk menangkap ayam. Di pos, mereka harus mempercayakan penyimpanan barang namun tidak ada yang lebih aman daripada diri mereka sendiri: ayam tergantung terikat menjuntai dan akan dipersiapkan untuk bahan makan.

Mereka yang terluka segera mendapatkan tempat yang baik di bangunan besar di tengah benteng, di mana mereka aman dan kering ditempatkan di bawah atap dan, di atas kasur dan bantal kapuk, segera menikmati waktu tidur. Jumlah mereka dalam perjalanan ke benteng meningkat  ditambah beberapa kuli yang setelah adanya pertengkaran kecil, telah saling melukai serius dengan golok.

Kelelahan yang dialami pasukan dan kuli hari itu sangat terasa efeknya, dan tak lama kemudian semua orang berbaring di tikar yang diletakkan di atas rumput, di bawah langit yang terbuka. Sementara sejumlah penjaga yang berjaga di belakang pagar pengaman mengawasi keamanan .

Koran De Sumatra Post tanggal 28-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 28-08-1915

16. Menginap di Timbang-Langkat.

Ketika fajar pagi telah menyingsing, orang bisa melihat pada benteng luas, dengan semua yang ada di dalamnya, dan seterusnya akan  kian tampak dalam terang hari.

Bangunan utama yang berdiri di tengah-tengah benteng adalah rumah kokoh, terdiri dari papan dan balok yang berat ini memiliki  dua tingkat, yang dibagi menjadi sejumlah kamar dengan dinding anyaman  (sessak). Lalu tingkat satu rumah ini terhubung dengan tingkat kedua yang ukurannya lebih kecil di atasnya. Lalu ditutupi dengan atap. Lantai bangunan dari papan dan balok tebal yang berada dua meter di atas tanah.

Selebihnya, bagian dalam tidak mengandung sesuatu yang luar biasa. Itu adalah ruangan sederhana berbentuk bujur sangkar, tertutup, berdinding kayu yang digabungkan dengan rotan dengan tinggi dinding setinggi hampir 3 meter. Ruangan dalam setiap sisi memiliki panjang 50 meter. Sejajar dengan dinding di bagian luar pada jarak 2 mater terdapat dinding pagar dari bambu runcing. Ruang di antaranya ditaruh randjoe. Untuk memperkuat sisi depan dan belakang, sebuah kanal kering digali selebar 2,5 meter dan sedalam 3,5 meter. Mereka tidak memiliki pandangan yang tidak terhalang di sisi mana pun. Pohon kelapa dan pohon sagu (aren)  tumbuh di kerumunan di daerah terdekat, sementara di belakangnya lagi hutan dan terus hutan belantara.

Satu-satunya benda bernilai yang ditemukan di rumah itu adalah gading gajah besar, yang nilainya diperkirakan 200 dolar oleh (pemandu) penduduk pribumi. Senjata yang ditemukan dan yang disukai musuh umumnya senjata api dengan laras lebar, yang ujungnya memiliki seperti membentuk terompet.

Pistol itu disebut Pamoeran dan membuat hentakan berat ketika ditembakkan, seperti meriam kecil. Yang lain juga ditemukan, dilengkapi dengan cerobong asap. Itu adalah senjata biasa, tetapi jenis yang terburuk seperti itu sering dijual di Malaka, dan dijual di Singapura dan Riouw, dan yang berasal dari resimen Inggris, di mana senjata-senjata itu ditolak dan diambil serta dipasarkan oleh pembeli. Peluru yang ditembakkan musuh kepada kami memiliki selubung timah atau timah yang berisi campuran kaca, pasir, dan pecahan tembikar. Peluru itu seukuran kelereng. Untungnya, isi peluru tidak menyebar ke dalam luka.

Selama inspeksi yang diadakan di pagi hari atas benteng dan sekitarnya, ternyata semua pasukan dapat dikumpulkan di bawah atap jika semua ruangan diubah menjadi satu.

Selanjutnya segera dilakukan usaha untuk mendorong dinding kamar keluar dari tiangnya. Dindingnya sangat kokoh dan terdiri dari beberapa anyaman (sessak) tebal yang memiliki pintu dan jendela. Dengan bantuan banyak tangan kemudian mendobrak dengan bantuan balok. Akhirnya dengan banyak usaha dan upaya secara keseluruhan, orang-orang bekerja  melepaskan  dan mendorong keluar, sehingga tak ada sekat yang tak diinginkan.

Di bawah rumah itu tampak berserakkan tumpukan sampah besar yang dibentuk oleh sisa-sisa dapur dan rumah tangga yang telah dibuang ke sana oleh para penghuni rumah selama masa tinggal mereka yang lama.

Upaya untuk membersihkan semua kotoran itu harus dihentikan, karena kami hanya tinggal untuk sementara, lebih baik membiarkan kotoran ini tidak tersentuh walau bau yang menyebar, karena dibutuhkan jumlah tenaga kerja yang besar untuk melakukannya.

Dari tumpukan besar atap yang ditemukan, kuli membangun deretan panjang atap miring, dekat dengan tanah di mana pasukan telah menyebar.

Sebuah sumur dibuat di benteng untuk bisa digunakan pada malam hari, karena sekeliling tidak dapat dianggap aman dan Sungai Bingei yang mengalir di belakang benteng berjarak lebih dari 100 langkah jauhnya.

Beberapa patroli kecil dikirim hari itu untuk menjelajahi daerah sekitarnya, salah satunya menemukan benteng kecil yang sepi tetapi sangat kuat yang menutupi pintu masuk di sayap belakang. Dan terletak di sekitar pohon tinggi tunggal yang disebutkan sebelumnya.

Juga pada hari itu senjata-senjata yang sudah bekerja berat diperiksa begitu juga amunisi ditukar dan ditambah; selain itu, sejumlah lubang tembak dibuat di pagar dan pekerjaan ini  akan  dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang.

Pada tanggal 18, Lurinck tiba dengan detasemen, bersama kuli yang dikirim dari Timbang Langkat ke bivak di ladang merica, di mana ransum dan  barang bawaan lainnya ditinggalkan.

Sumber Koran De Sumatra Post tanggal  28-08-1915

 

Bersambung ke Bahagian Kesepuluh.