Perang Sunggal, Sebuah Kesaksian Mata (Bagian 8)

by
Ilustrasi (sumber : www.abmc.gov)
Ilustrasi (sumber : www.abmc.gov)

Orang-orang Karo di Sunggal menolak tanah-tanahnya direbut oleh Kesultanan Deli dan Pangeran Langkat, dimana kedua pemimpin ini meminta bantuan tentara Kolonial Belanda yang juga punya kepentingan untuk perluasan areal perkebunan milik orang-orang Eropah.

Koran De Sumatra Post menerbitkan cerita bersambung dengan 34 bagian dengan judul : “Van Riouw naar Deli in 1872. Door een ooggetuige.” Kisah ini diterbitkan dari tanggal 19 Agustus 1915 hingga 25 September 1915.

Kisah bersambung ini dituliskan dari sisi mata seorang tentara Kolonial Belanda yang didatangkan dari Riouw (Riau) ke Deli (Medan) untuk menghadapi gejolak yang terjadi.

 

Sambungan dari Bahagian Ketujuh.

 

Dari Riau ke Deli pada tahun 1872.  Sebuah  kesaksian mata.

Koran De Sumatra Post tanggal 27-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 27-08-1915

Letnan Kempe dan  SersanTessers  dengan sebanyak 25 orang pasukannya segera mengejar para musuh. Pasukan lainnya, ketika mereka telah memanjat tebing sungai, ikut dalam pengejaran. Setiap orang berusaha untuk mendekati orang-orang di depan.

Itu adalah gerakan umum. Tembakan terus-menerus terdengar di mana-mana. Beberapa pemimpin tentara menembakkan senjata mereka ke para musuh yang lari mengungsi.

Berjarak sekitar 500 atau 600 meter dari tepi sungai, pasukan yang terdepan secara tak terduga terhenti oleh kehadiran benteng yang dicari. Yang tidak akan ditemukan orang begitu cepat jika musuh tidak mundur hingga menunjukkan jalan kepada para pemburunya selama pertempuran.

Orang-orang berdiri di depan sebuah benteng persegi yang besar dan dikelilingi oleh kanal, randjoe dan rintangan lainnya. Pasukan sudah mendapati sedikit perlawanan, karena ujung tombak pertahanan musuh tidak lagi ditempati.

Barisan depan di bawah pimpinan Sersan Tessers sudah membersihkan randjoe. Dan berusaha menembus pagar, dibawah perlindungan meriam pelontar para pelaut di bawah pimpinan Letnan Kempe.

Musuh-musuh yang masih berada di dalam benteng, menembakkan senjata mereka membabi buta. Namun peluru-peluru itu terjebak di pagar mereka sendiri.  Sebenarnya, benteng itu tidak lagi dipertahankan.

Aksi menyeberangi sungai dan serangan kita yang terburu-buru setelahnya, tampaknya benar-benar membuat marah para musuh.  Sersan Tessers berusaha menembus pagar. Tak lama kemudian, beberapa pagar ditembus. Westdijk, kopral Burghardt, penembak Christian di bawah pimpinan Letnan Kempe segera menyusul. Letnan Von Schmidt, bersama pasukan dibawah Metman, termasuk Inspektur Polisi Deerns juga turut dalam penyerbuan. Dengan meriam pelontar mortar, dilakukan pelemparan granat ke arah musuh.

Pukul setengah lima lagu kebangsaan Wilhelmus jaya terdengar. Kami menguasai  Benteng Timbang-Langkat.  Bahaya berikutnya tidak dapat dibayangkan karena kegelapan kian mendekati.

Koran De Sumatra Post tanggal 27-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 27-08-1915

14. Cadangan berikut dengan barang bawaan melalui Mentjirim.

Sementara itu, pasukan cadangan telah sampai dan mengambil tempat di dekat tebing sungai dan di dekatnya ikut tandu-tandu ambulan dengan pasukan yang terluka, kuli, amunisi dan barang-barang lainnya. Pos dibentuk, bersandar pada tebing sungai, di mana Howitzer telah dipasang oleh pasukan baterai artileri.

Dari sini orang-orang mendengar bagaimana penembakan di sisi lain sudah mulai berkurang, sampai akhirnya tidak ada yang bisa dilihat lagi, sementara matahari mulai turun.

Para penjaga mengawasi sisi Selatan, di mana tiba-tiba terdapat lembah yang dalamnya sekitar 15 hingga 20 meter dan ditumbuhi pepohonan dan semak belukar. Diam-diam ada yang melaporkan bahwa mereka mendeteksi beberapa musuh turun.

Mungkin para musuh yang melarikan diri, setelah mencegah orang lain mengambil alih wilayah itu. Mereka telah pergi ke samping dan sekali lagi menyeberangi sungai ke sisi sungai yang lain. Dan mungkin mereka menganggap bahwa sekarang pasukan telah menyeberangi sungai, dan sisi seberang adalah ruang kosong yang tersisa. Jadi di mana mereka pikir mereka bisa pergi kembali dengan selamat.

Di tempat yang memungkinkan, Howitzer ditarik dan  ditempatkan di antara tumpukkan batang dan cabang pohon yang ditebang di sisi itu. Para penjaga diperintahkan untuk tidak menembak dan menunggu serangan tembakan dari musuh. Musuh bergerak sangat hati-hati dan diam-diam sehingga hampir tidak ada yang bisa dilihat dari keberadaan mereka di bawah rimbunan tanaman hijau. Pada suatu ketika, beberapa rambut hitam terlihat di sana-sini, meriam Howitzer diarahkan dan serangan beruntun dari Kartet mengejutkan mereka, dan bersama juga tembakan peluru dari penjaga yang berdiri di sana.

Musuh telah lenyap tak terlihat dan sepertinya pergi diam-diam seperti saat dia datang. Penyerangan balasan tidak terjadi. Howitzer beralih ke posisinya di tebing sungai, semua orang tetap di tempatnya, dan pasukan cadangan kembali ke tempatnya sampai keheningan muncul.

Tidak ada suara yang bisa terdengar dari sisi lain. Hal terakhir yang mereka dengar di arah Barat karena jarak dan tumbuhan hutan lebat adalah suara yang tidak dapat dikenali, dan setelah itu tidak mendengar apa pun.

Untuk lebih memastikan keamanan, sementara hari sudah mulai gelap, Komandan pasukan cadangan, setelah berkonsultasi dengan Letnan Van Meurs dan Inspektur Kroesen, yang juga ada di sana, mengirimkan pasukan patroli untuk mengikuti arah musuh. Dan memberi pesan agar kembali memberi laporan sesegera mungkin. Sementara laporan berikutnya dari pasukan cadangan ini dikirim ke Komandan pasukan, di mana permintaan penambahan pasukan patroli penjagaan karena hari mulai malam.

Baru saja menyeberangi sungai, pasukan patroli sudah bertemu pasukan tambahan yang lain yang dikirim.

Sekitar 30 pasukan bayonet di bawah Letnan Von Schmidt segera meninggalkan benteng untuk membantu pasukan cadangan yang berpatroli, yang mereka pikir telah diserang. Mereka justru mendapat kabar gembira, musuh yang melarikan diri dari benteng telah pergi melewati sungai.

Kini tandu ambulan dan barang bawaan bisa bergerak lebih lanjut dan bergabung dengan pasukan lain.

Namun diperintahkan untuk tidak lengah. Pasukan patroli di bawah pimpinan Letnan Von Schmidt  tetap berada di sisi tepi lain untuk menjaga pos depan, dan segera penyeberangan dimulai. Namun, butuh banyak upaya untuk membawa seluruh barang-barang, termasuk amunisi, juga pasukan yang terluka, untuk menyeberang ke sisi lain sungai. Dan saat ini dalam keadaan remang-remang. Di bawah pandu cahaya ragu-ragu dari obor akan berjalan dalam arus deras sungai.

Kuli yang terlalu banyak bekerja terlihat lelah dan harus memenuhi tugas yang sulit dan harus berusaha untuk kuat. Memanggul beban berat sementara arus deras sungai menarik-nariknya. Mereka harus mempertahankan dirinya agar terus bergerak di antara batu-batu licin, meskipun tak terlihat, yang menutupi dasar sungai.

Terkadang satu kaki terjepit di antara batu-batu, yang sering menyebabkan rasa sakit, mereka rubuh ke satu sisi. Kadang menginjak lumpur dan jatuh hingga lututnya membentur batu. Para kuli setiap saat harus bisa untuk menjaga keseimbangan mereka di sungai atau akan kehilangan barang-barang bawaan mereka. Bahkan orang-orang yang terluka di atas tandu bisa masuk ke dalam air. Ini bisa membuat orang-orang yang terluka yang tak berdaya itu kemungkinan terseret oleh sungai dan menghilang ke dalam kegelapan untuk selamanya.

Ini berbahaya dan guncangan yang tak terelakkan dapat mengguncang tandu, setiap kali kuli tergelincir atau jatuh di lumpur, menyebabkan banyak ketidaknyamanan dan rasa sakit yang diderita pasien yang berada di tandu.

Para kuli, yang telah dengan bijaksana membekali diri mereka dengan tongkat panjang sebelum memasuki air, berhasil menyeimbangkan diri di antara aliran sungai agar tetap berdiri. Dan perlahan serta hati-hati satu demi satu berjalan sambil berusaha memastikan beban mereka tetap kering hingga menyeberang ke tujuan.

Namun kesulitan itu belum berakhir, kini mereka harus berhadapan dengan keadaan yang lebih sulit lagi. Selepas keluar dari air sungai, mereka mengambil nafas terlebih dahulu sambil meletakkan barang bawaan sejenak di tanah basah di tepi sungai ini. Mereka masih harus memanjat tebing curam, berlumpur yang begitu licin.

Bahkan memanjat tebing dengan beban kosong sekalipun sambil menopang diri dengan tongkat, masih harus bekerja keras dengan tangan dan kaki untuk dapat naik. Dan resiko yang dihadapi adalah tergelincir berulang kali.  Barang-barang berat, seperti kotak amunisi, bisa ditarik dengan tali, tetapi yang tentara yang terluka tidak bisa.

Untuk mengangkat tandu ke atas adalah pekerjaan yang paling sulit bagi para kuli, harus didukung oleh sebanyak mungkin tangan-tangan mereka untuk mengangkat tandu dari belakang untuk mencegah tandung miring. Ketika tandu miring maka harus ditopang oleh mereka sendiri dengan tangan dan kaki agar pasien yang terluka tidak jatuh.

Selama di air dan di tepi sungai, dokter Steendijk sibuk untuk memeriksa tandu yang berisi pasukan yang terluka. Dan di sana-sini berusaha mengurangi ketidaknyamanan pasien dan mencegah hal terburuk terjadi.

Berikutnya giliran Houwitser ditarik oleh banyak tangan dengan dua tali tebal di sepanjang jalan setapak mendaki tebing curam. Jalan ini telah dilalui oleh banyak pasukan yang basah yang menyebabkan jalan setapak penuh lubang. Belum lagi ujung as roda jadi macet karena terlalu lebar sementara jalan setapak sempit.

Semua upaya untuk menaikkan Howitzer gagal, ditandai dengan putusnya tali. Lalu dengan semangat seluruh pasukan bernyanyi, dibawah pimpinan seorang pelaut. Mereka berbekal pacul dan sekop melancarkan hambatan bagi pergerakkan roda. Akibatnya, kereta pistol itu bebas dari hambatan dan sekarang ditarik ke atas.

Beberapa penembak bergegas untuk menurunkan meriam, hingga memicu riuh tawa. Sebelum menyeberangi sungai, mereka khawatir bahwa sebagian dari apa yang mereka bawa di kantong mereka akan basah saat menyeberangi sungai. Dan kebetulan pula mereka mengambil kesempatan saat komandan pasukan tidak ada di dekat mereka.

Barang-barang seperti tembakau, korek api, sapu tangan, dan lain-lain secara diam-diam dimasukkan ke dalam meriam  Houwitser, dan berharap barang-barang itu tidak basah. Bersama-sama para kuli dalam jumlah besar mendorong Houwitser di sungai, namun ketika mencapai tengah sungai, meriam ini tenggelam di bawah permukaan air. Hingga akhirnya mereka mendapat olok-olokkan dari temannya yang lain yang lebih memilih membawa barang-barang berharga di atas kepala mereka.

Koran De Sumatra Post tanggal 27-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 27-08-1915

15. Ke benteng.

Sebelum pukul 7 malam, semuanya telah berkumpul, dan mereka berbelok ke jalan yang menuju ke hulu. Di kanan dan kiri ada sejumlah tabung besar dan kecil, beberapa di antaranya terletak di sekitar pintu masuk benteng yang dihuni oleh musuh dan baru saja ditinggalkan.

Agar tidak ditembaki dari rumah-rumah di malam hari di benteng ini, komandan pasukan telah membakar bangunan-bangunan ini dan dengan demikian daerah ini tidak berbahaya untuk pendudukan.

Ini adalah pemandangan yang mengesankan dan fantastis ketika kuli dan pasukan terakhir bergerak di antara rumah-rumah yang terbakar tinggi.

Langit di atas kami berwarna merah, dan pilar-pilar besar asap bercampur dengan lautan bunga api yang berkilauan, seperti kembang api besar. Nyala api naik dengan cepat, tinggi terangkat di udara. Cahayanya seperti hantu yang menerangi kegelapan pohon-pohon di belakangnya.

Sumber : Koran De Sumatra Post tanggal 27-08-1915

 

Bersambung ke Bahagian Kesembilan.