Perang Sunggal, Sebuah Kesaksian Mata (Bagian 7)

by
ilustrasi (sumber www.britishbattles.com)
ilustrasi (sumber www.britishbattles.com)

Koran De Sumatra Post menerbitkan cerita bersambung dengan 34 bagian dengan judul : “Van Riouw naar Deli in 1872. Door een ooggetuige.” Kisah ini diterbitkan dari tanggal 19 Agustus 1915 hingga 25 September 1915.

Kisah bersambung ini dituliskan dari sisi mata seorang tentara Kolonial Belanda yang didatangkan dari Riouw (Riau) ke Deli (Medan) untuk menghadapi gejolak yang terjadi.

Orang-orang Karo di Sunggal menolak tanah-tanahnya direbut oleh Kesultanan Deli dan Pangeran Langkat, dimana kedua pemimpin ini meminta bantuan tentara Kolonial Belanda yang juga punya kepentingan untuk perluasan areal perkebunan milik orang-orang Eropah.

Sambungan dari Bahagian Keenam.

 

Dari Riau ke Deli pada tahun 1872.  Sebuah  kesaksian mata.

 

Koran De Sumatra Post tanggal 26-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 26-08-1915

Pasukan artlieri di bawah Sersan Tesser akan menjadi benteng pertahanan dengan menyiapkan peralatan meriam pelontar mortir yang diletakkan di jalan setapak. Diarahkan ke tempat pendudukan musuh, penembakan dipersiapkan.

Namun penembak meriam Agelink menerima peluru yang mengenai pinggangnya hingga menembus ke bahagian belakang tubuhnya. Ia mencoba untuk menembakkan mortir, tetapi segera ambruk dan terjatuh. Sementara Sersan Jansen mendapat tembakan di jari telunjuk kanan, tetapi terus memerintah pasukannya.

Penembak meriam Van Santen mendapat peluru di dada, tetapi tetap berusaha berada di posnya. Penembak meriam dari pribumi  Soeperman, sekarang mencoba menembakkan meriam namun tangan kanannya remuk oleh tembakan peluru dari musuh. Hanya Sersan dari angkatan darat bernama Kassim adalah satu-satunya dari pasukan penembak meriam ini yang tidak terluka. Lemparan mortir darinya terjadi, di bawah ketinggian 7 derajat, pada jarak sekitar 25 langkah, pertahanan musuh diterjang.

Sementara di belakang dan agak tertutup oleh semak belukar, Divisi Lange sedang menunggu perkembangan penembakan mortir, namun seorang pasukannya yang mengenakan topi putih menerima tembakan di paha. Bala bantuan Howitzer kini telah maju dan melakukan tembakan kartet. Tembakan beruntun terjadi. Adanya bala bantuan ini menyebabkan tak ada perlawanan dari seberang.

Musuh-musuh telah melarikan diri melalui celah tebing yang menurun curam langsung menuju ke dalam sungai. Namun oleh adanya semak-semak tebal yang menutupi tebing curam, mereka tetap tidak terlihat. Agak berhati-hati terhadap randjo yang mereka tinggalkan. Kedua benteng yang berada di tepi sungai itu jatuh ke tangan kami tanpa perlawanan lebih lanjut. Kedua benteng kecil itu segera dibongkar dan dibakar.

Koran De Sumatra Post tanggal 26-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 26-08-1915

12. Langkah-langkah untuk menyeberang sungai. Letnan laut Lange mendapat luka di kaki.

Petugas kesehatan Steenwijk segera datang menemui pasukan yang terluka untuk memberikan pertolongan pertama di lokasi. Dan memerintahkan tandu ambulan untuk mengangkut yang terluka.

Suasana hening itu tak lama. Kini peluru berterbangan lagi yang datangnya dari sisi lain. Tembakan dapat terdengar dari sisi itu, tetapi pohon-pohon yang lebat menutupi tempat mereka berada.

Pasukan depan artileri sebagian maju dengan Howitzer dan pos jaga ditempatkan di sini di sepanjang tepi sungai dan mencoba menjawab dengan tembakan ke arah kedudukan musuh. Lokasi tempat kita sekarang berada adalah terbuka, tetapi ditutupi dengan segala macam penghalang dari cabang dan batang pohon yang tumbang.

Para kuli dengan barang bawaannya berdesakan dan berdekatan satu sama lain dan jongkok di tanah. Tandu ambulans telah maju dan menempatkan diri jauh dari mereka. Di belakangnya ada Divisi dari pasukan Metman yang mengikuti. Divisi Lange telah dikumpulkan lagi. Setengah jalan antara alang-alang dan kayu panjang, pasukan menikmati saat jeda, sementara tembakan sesekali terjadi di sepanjang tepi sungai.

Sekarang jam setengah empat. Pasukan lelah dan membutuhkan istirahat dan makanan, karena mereka tidak memiliki hari yang mudah, dan biskuit  yang disediakan di pagi hari telah lama dikonsumsi.

Untuk menghemat waktu, mereka tidak memasak di jalan dan menunda makan sampai malam. Komandan pasukan membahas apa yang harus dilakukan. Tetap di sini, di dekat tepi sungai, di mana peluru musuh masih mendesis melewati telinga, di sebuah tempat yang penuh dengan batang dan cabang pohon yang tergeletak menyebabkan Howitzer tidak bisa bergerak, itu tidak terbayangkan.

Agar terjamin untuk malam itu, seseorang harus pergi memeriksa ke sini atau ke sana, untuk menjelajahi daerah itu untuk menemukan tempat yang cocok untuk berkemah. Dan kemudian memimpin pasukan yang terluka dan barang bawaan ke sana.

Tetapi tidak seorang pun, baik inspektur polisi maupun pemandu, yang tahu jalan ke situ atau tahu tentang kondisi daerah sekitarnya. Tidak ada yang benar-benar pernah ke sini,  yang terlihat hanya jalan setapak yang mengarah ke sungai. Di peta dari kesultanan tidak ada. Tidak pernah tentara dari Sultan Deli  mengunjungi negeri ini. Hanya pemandu setempat yang tahu, tetapi tidak lebih dari ini.

Di mana benteng yang sebenarnya sekarang? Diduga bahwa itu berada di seberang sungai. Tapi dimana dan seberapa jauh? Tidak ada yang bisa untuk menjawab ini.

Satu-satunya harapan adalah kemungkinan benteng itu tidak jauh dari sisi lain sungai dan bisa dicapai dan diambil sebelum gelap datang. Mengenai kekuatan dan jumlah pasukan lawan, desas-desus sangat bervariasi.

Bagaimanapun, keputusan harus diambil dengan cepat sebelum waktu berlalu. Karena musuh tidak menunjukkan dirinya di seberang sana.

Setelah banyak upaya, mereka berhasil menemukan seseorang untuk memimpin di sungai untuk mengidentifikasi tempat itu. Dia adalah seorang Karo, pelayan dari Mr. Peijer, yang pindah ikut dengannnya dengan bayaran 25 dolar untuk melayani pasukan ini.

Komandan kemudian memutuskan untuk menyeberangi sungai dan mencari benteng, yang penaklukannya akan dapat memberikan pasukan istirahat malam yang paling aman dan teraman. Artileri sekarang sedikit demi sedikit maju ke depan dan dibantu bala bantuan dari tembakan meriam untuk mengusir musuh yang masih mengganggu kita dari sisi lain.

Sungai Mencirim. Foto oleh G.R. Lambert & Co. (1880-1895)
Sungai Mencirim. Foto oleh G.R. Lambert & Co. (1880-1895)

Sementara di sebelah kanan ada tanjung, yaitu pertemuan dari Sungai Mentjirim dan Bingei. Dan ini perlu dikuasai untuk mengusir musuh yang juga menetap di sana. Pohon-pohon tinggi yang berada di belakangnya telah dilempari mortir, dengan asumsi bahwa benteng  terletak di sekitar itu.

Koran De Sumatra Post tanggal 26-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 26-08-1915

13. Mengarungi arus sungai saat berperang dan dan menaklukan benteng Timbang Langkat.

Sementara artileri penjaga berada di tepi sungai, pasukan lain dikumpulkan untuk mengambil langkah-langkah untuk penyerbuan. Pasukan penjaga artileri diperkuat menjadi 40 bayonet di bawah komando Letnan Ponstijn, selain melindungi pasukan yang akan menyeberangi sungai, juga untuk melindungi tenaga medis, tandu ambulan, kuli dan barang bawaan yang tersisa di lokasi ini. Juga berfungsi sebagai pasukan cadangan bila rombongan pasukan harus mengambil sikap mundur. Dan bersama pasukan ini ada Howitzer di bawah kendali Letnan Van Meurs.

Divisi Lange, dengan Letnan Von Schmidt auf Altenstadt dan Kempe, pertama-tama akan memeriksa tanjung di tepi sungai itu. Namun bagian garis depan pertempuran di bawah pimpinan Sersan Tessers. Dia diperintahkan, ketika sisi yang berlawanan telah tercapai, untuk segera berbaris menyebar di sepanjang tepi sungai. Dan ketika divisi Lange tiba, mereka akan bergerak maju untuk menjelajahi daerah itu, dan mencari jalan yang mengarah ke benteng utama yang mungkin berada di sekitar itu.

Selanjutnya bila keadaan mendukung akan melanjutkan eksplorasi, divisi arteleri penjaga maju segera melanjutkan ke serangan. Ketika divisi artileri penjaga telah mencapai sisi itu, Divisi Metman harus mengikuti jika diperlukan, atau bertahan untuk penguatan atau untuk berfungsi sebagai cadangan.

Sersan Tessers pertama kali turun memasuki sungai dan diikuti oleh pasukan barisan depan. Mereka bergandengan tangan di antara sungai yang mengalir deras. Ketegangan yang menakutkan terlihat dari muka rekan-rekan mereka yang berdiri di tepi sungai, terutama ketika mereka mencapai tengah sungai di mana mereka takut akan ada yang tenggelam. Tetapi airnya hanya di atas pinggang dan untungnya tidak lebih tinggi.

Meskipun arusnya deras, sungai itu masih dapat dilalui. Letnan Kempe diperintahkan segera untuk mengikuti bersama pasukannya yang terdiri dari selusin bayonet. Setelah itu, Divisi Lange dari posisinya di belakang yang agak tertutup bergerak turun di sepanjang tepian sungai.

Sekarang, musuh mencoba untuk mencegah pasukan ini menyeberang. Tembakan senjata terjadi. Meskipun tidak terlihat, asap terbakar itu keluar dari semua sisi di rimbunan pepohonan yang hijau.

Saat akan memasuki sungai, Letnan Lange terluka untuk kedua kalinya, yaitu di kaki kanan bawah, dan kemudian diambil tindakan ditarik dari sungai. Prajurit  Odinot menjerit saat menerima tembakan di betis. Prajurit pribumi  Ressosentiko mendapat tembakan di kaki, dan koelie Cina menerima terjangan yang fatal, peluru mengenai dada.

Kapten Koops sekarang mengambil alih komando divisi Lange, dan membawanya ke lereng sepanjang tepi sungai sedikit ke depan ke arah meriam. Itu adalah momen yang penting dan pemandangan menakjubkan yang terlihat dari tepi sungai yang tinggi.

Divisi Lange menuruni tebing curam menuju arus yang deras, bergandengan tangan dan tas tergantung di leher mereka. Dengan hati-hati memegang pistol di atas air.

Dari satu sisi, terdengar orang-orang Eropa menyanyikan lagu “Wien Neèrlandsch bloed,” bercampur dengan teriakan seram tentara pribumi,  sementara di atas kepala mereka tembakan kawan-kawannya di tepi sungai menjawab tembakan musuh. Suara nyanyian timbul tenggelam bersama dentuman yang membuat api menyala di sisi seberang.

Selanjutnya pasukan Divisi Metman juga diperintahkan untuk mengikuti. Mereka menuruni tebing curam sungai. Dibantu oleh polisi Braggaar dan pasukannya, Letnan Van Meurs meskipun sepenuhnya terkena tembakan musuh, mengarahkan Howitzer ke arah musuh. Ia mengirim tembakan dari kartet (1) ke arah musuh sebagai pembawa pesan kedatangan kami.

Berpegangan dan mendukung satu sama lain, garis panjang terlihat berantai melalui sungai dan segera mencapai tepi lainnya. Letnan Van Meurs  memutar sekrup set setengah putaran lebih rendah, yang membuat mulut Howitzer naik sedikit. Tarikan pada tali penarik dan tembakan terakhir diberikan.

Tembakan menghasilkan suara berdengung dan peluru berterbangan di atas kepala para pemimpin pasukan. Dan mereka terlihat telah mencapai tanah kering, kini menunggu teman-teman mereka.  Dan sekarang sebahagian memanjat tepian sungai.

Musuh telah diusir oleh tembakan-tembakan ini. Dan berakhir dengan melarikan diri ketika mereka melihat pasukan bayonet muncul di sisi sungai.

Catatatn :  (1) Tabung terbuat dari besi lembaran dengan  95 peluru.

“Wien Neêrlands bloed” atau “Those in whom Dutch blood” adalah lagu kebangsaan Belanda antara tahun 1815 – 1932.

Sumber : Koran De Sumatra Post tanggal 26-08-1915

 

Bersambung ke Bahagian Ketujuh