Perang Sunggal, Sebuah Kesaksian Mata (Bagian 6)

by
Sungai Bingei di tahun 1905. Foto oleh Charles Kleingrothe

Koran De Sumatra Post menerbitkan cerita bersambung dengan 34 bagian dengan judul : “Van Riouw naar Deli in 1872. Door een ooggetuige.” Kisah ini diterbitkan dari tanggal 19 Agustus 1915 hingga 25 September 1915.

Kisah bersambung ini dituliskan dari sisi mata seorang tentara Kolonial Belanda yang didatangkan dari Riouw (Riau) ke Deli (Medan) untuk menghadapi gejolak yang terjadi.

Orang-orang Karo di Sunggal menolak tanah-tanahnya direbut oleh Kesultanan Deli dan Pangeran Langkat, dimana kedua pemimpin ini meminta bantuan tentara Kolonial Belanda yang juga punya kepentingan untuk perluasan areal perkebunan milik orang-orang Eropah.

Sambungan dari Bagian Kelima.

Dari Riau ke Deli pada tahun 1872.  Sebuah  kesaksian mata.

 

Tampaknya para kuli harus meninggalkan banyak barang agar perjalanan tak banyak tertunda. Komandan telah memutuskan untuk meninggalkannya di bivak saat ini dan mengarahkan agar para kuli lebih banyak mengangkut barang artileri dan amunisi. Pemandu juga mengatakan bahwa jika tidak bergerak lebih cepat dari hari sebelumnya, dikhawatirkan tidak dapat mencapai ke daerah musuh sebelum matahari terbenam.

Untuk menghindari lambatnya perjalanan para kuli, sejumlah besar perbekalan makanan, dan beberapa amunisi dan barang-barang lainnya ditinggalkan di bivak. Dan untuk mengawasinya, sebuah detasemen terdiri dari  30 orang  di bawah komando Lurinck bertugas berjaga-jaga di sini. .

Petugas yang ditugaskan ini, setelah kepergian iringan pasukan, harus memperkuat diri untuk keselamatannya sendiri. Serta untuk melayani rombongan pasukan, yang mungkin harus mundur jika pada saat pertempuran nanti tidak menguntungkan. Selain itu, detasemen ini direkomendasikan untuk melakukan kewaspadaan tinggi dan selalu mempertahankan diri dalam serangan dan tidak meninggalkan posisi.

Orang-orang dari rombongan pasukan itu diberi kopi dan roti kering  sebelum perjalanan dilakukan.

Sumber Koran De Sumatra Post tanggal 25-08-1915
Sumber Koran De Sumatra Post tanggal 25-08-1915

10. Di hutan perawan. Tugas detasemen diubah.

 

Jalan berlanjut melalui hutan, ladang, dan hamparan alang-alang, dan mengalami masa-masa sulit seperti hari sebelumnya. Sekarang ada kuli yang cukup untuk membawa Howitzer.  Rangkainnya kemudian dipisah-pisahkan. Karena jumlah kuli cukup banyak untuk membawa peralatan-peralatan itu, sehingga mereka dapat terus berjalan dari waktu ke waktu, konvoi dapat bergerak cukup cepat dan mengalami sedikit penundaan. Inspektur  Kroesen,  yang berasal dari Arendsburg,  ikut bergabung dalam perjalanan.

Segera iringan pasukan memasuki hutan yang sepenuhnya perawan. Lantainya lembab, udaranya sejuk, dan tinggi di atas tampak hijau lembut pepohonan, daun-daunnya terkurung lebat.

Suasana sangat sepi. Hanya di kejauhan, dari waktu ke waktu terdengar suara-suara burung, atau konser pasukan monyet yang bersahutan dengan suara-suara yang berat. Di sekujur batang-batang pohon besar yang usianya berabad-abad, di sekujur kulit kayu hidup tanaman-tanaman yang merambat dan ditutupi dengan dedaunan sejenis Ivy.

Pada ketinggian yang cukup tinggi, terlihat cabang-cabang yang besar dan memanjang, ditutupi dengan dedaunan hijau, dimana akar-akar yang menggantung di udara berlomba menghujam ke tanah. Ada yang menempel di tanah untuk berkembang menjadi begitu banyak “pilar” tegak lurus panjang yang tampaknya “mendukung” cabang-cabang berat, dan membantu memberi makan.

Di sana ada pohon raksasa, yang batangnya membelah di ketinggian satu meter di atas tanah. Lalu batang-batang itu membelah menjadi beberapa batang yang lebih kecil, lalu masing-masing terbelah sedikit beberapa kali. Sehingga tampak pohon seperti ditarik ke udara dan ratusan jarinya mencengkeram bumi.

Di tempat lain ada beberapa batang kayu miring ke arah satu sama lain. Tinggi di atas tanah untuk bertemu di ruang bebas.

Pohon-pohon dan cabang-cabang ditutupi dengan semua jenis tanaman parasit aneh dan juga tanaman merambat. Tampak rotan menjulur dari puncak pepohonan, berakhir benar-benar tidak dapat dikenali dalam cangkang tebal yang ditutupi dengan duri yang sangat tajam.

Di bagian atas, tampak dari cabang ke cabang di mana-mana tampak tumbuhan  Liana tebal dalam ukuran besar. Terlihat seperti tali atau kabel besar yang tampak menghubungkan setiap pohon dan rimbunan daun  hijau.

Ilustrasi : Hutan di Sibolangit.Tanaman Liane. Copyright Notice : ETH-Bibliothek
Ilustrasi : Hutan di Sibolangit.Tanaman Liane. Copyright Notice : ETH-Bibliothek.

Apa musuh sulit menduduki hutan ini?

Banyak kesempatan yang bila diperhatikan, dapat dimanfaatkan musuh untuk menyerang kami. Tetapi kami tidak mendengar atau melihat apa-apa. Dan kami melanjutkan perjalanan tanpa gangguan melalui jalan-jalan setapak.

Dari jejak yang dijumpai, tampak asalnya dari gajah yang telah menjelajah hutan ke segala arah. Tampak cabang-cabang yang patah dan daun-daun lebar yang sobek, dan bukti lainnya menunjukkan bahwa hewan-hewan itu mungkin ada di sana malam sebelumnya.

Ketika menuruni lereng sungai, untungnya kami menemukan jalan setapak. Di antara rerumputan tampak beberapa batang bambu menjadi penguat jalan anak-anak tangga jalan setapak. Untungnya ditemukan setelah melewati perbukitan tadi, bila tidak akan berbahaya berjalan menuruni lereng sungai ini.

Ada tampak batang pohon yang tinggi dan batangnya telanjang tanpa tanaman benalu atau tanaman merambat. Ditambah  terlihat takikan di batang kayu dari bawah sampai ke atas.

Kami menduga bahwa pohon itu berfungsi sebagai  tempat mengintai musuh,  meskipun kelihatannya batang itu ditakdirkan untuk mengumpulkan getah dan madu dari lebah liar yang membangun sarangnya di atas sana.

Pada siang hari selama satu jam, pasukan diistirahatkan di tempat terbuka. Ini lokasi di mana mereka mencoba membuat ladang-ladang. Terlihat dari tumpukkan bekas pohon yang ditebang rebah menutupi tanah.

Di sini komandan utama dari pasukan mengumpulkan perwira-perwira untuk membahas tugasnya yang kali ini berbeda dengan sebelumnya. Divisi dan tugas masing-masing adalah sebagai berikut :

  1. Bagian Infanteri sebagai penjaga depan, dua  Mortir dan Howitzer, dilengkapi oleh 20 bayonet, ditugaskan untuk membuka serangan.
  2. Sementara 75 bayonet dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut di bawah Letnan Lange dimaksudkan untuk menggempur di depan
  3. Dan 45 bayonet Angkatan Laut di bawah Letnan Metman,  bertugas untuk menyerang dengan cara menjepit dari sekeliling jika memungkinkan, atau berfungsi sebagai cadangan.

Komandan utama memimpin secara keseluruhan. Dalam urutan itu, ia berjalan di tengah diikuti oleh para kuli yang membawa  barang-barang. Lalu ditutup oleh barisan penjaga belakang.

Sumber Koran De Sumatra Post tanggal 25-08-1915
Sumber Koran De Sumatra Post tanggal 25-08-1915

11. Pertempuran di Sungai Bingei. Dua bala bantuan kecil diambil. Letnan Lange terluka ringan.

 

Sore hari jam 3 sore, ketika kembali berjalan setelah melewati hutan ke daerah terbuka, tampak dimana-mana alang-alang dengan semak-semak rendah berganti-ganti dengan ladang-ladang. Pandangan tidak terhalang, memungkinkan menatap cakrawala.

Pemandu kami yakni Tuan Peijer menunjuk ke arah sebelah kiri. Ia mengatakan wilayah-wilayah ini telah diserahkan oleh Sultan untuk  dieksploitasi  (para pekebun Eropah).

Tampak di arah depan, sungai dengan tebing curam yang jaraknya kira-kira 30 langkah dari tepi hutan. Sungai berbelok ke kanan dan kemudian tak terlihat mata tertutup semak-semak rimbun.

Pemandu mengatakan bahwa ini adalah Sungai Bingei, yang bergabung dengan Sungai Mentjirim. Dan dalam jarak tak jauh, bisa saja lawan berada di suatu tempat.

Segera Komandan memberi perintah kepada penjaga depan untuk menyelidiki medan frontal di sepanjang sungai. Tiba-tiba datang tembakan dari balik semak-semak belukar yang menutupi sisi di seberang sungai.

Hujan tembakan membuat pelaut Schouten terluka di paha. Pasukan di bawah Sersan Tessers segera menyusun tameng-tameng sebagai berikade pertahanan atas perintah Letnan Ponstijn. Segera terbentuk garis lengkung pertahanan yang kuat dan menempatkan diri di rumput tinggi di sepanjang tepi sungai.

Dan tembakan dari seberang langsung dijawab. Sementara itu, peralatan Howitzer disatukan. Tameng penutup artileri harus tetap berdiri menjadi benteng pemisah dengan lawan musuh selain dipisahkan oleh sungai.

Dan meskipun telah lelah jalan berbaris sejak subuh, orang-orang itu belum kehilangan api semangat atas kejadian yang tak terduga ini. Formasi telah terpelihara dengan baik, semua orang siap untuk berperang dan perintah diikuti dengan ketat.

Pasukan Letnan Lange dan Metman segera bergerak ke luar dari tepi hutan, dan berlindung dalam tameng-tameng agar tidak terkena tembakan dari lawan. Para kuli berjalan di antara brikade tameng-tameng dengan peti amunisi dan tandu ambulan.

Sepertinya para kuli tidak bingung dan panik. Tidak ada yang melarikan diri atau berteriak. Para kuli diam dan jongkok, menutupi diri mereka dengan bersembunyi di belakang kotak-kotak bawaan.

Sementara kontak bersenjata berlangsung, di kesempatan itu segera peralatan-peralatan Howitzer disatukan. Dari kejauhan, di arah hulu, di alur sungai yang berbelok ke kanan dan hilang di balik semak-semak, tampak pihak lawan menyeberangi sungai. Mereka berteriak-teriak dan menyeringai. Jaraknya beberapa ratus langkah dari sini.

Sebuah granat ditembakan dari pelontar mortir, dan dengan kasat mata jelas terlihat terbang dan turun di sekitar mereka. Dan setelahnya ada pula kelompok lain ikut pula menyeberangi sungai.

Komandan kemudian memerintahkan penjaga depan untuk melakukan eksplorasi di sisi itu. Sementara tandu ambulan dan para medis, diperintahkan untuk menempati rumah kecil yang tampak ada di ladang. Beberapa peluru terbang namun tak mengenai rumah itu.

Sekarang Howitzer telah dirakit sempurna. Waktunya mengirim beberapa granat ke seberang sungai. Ini membuat tembakan-tembakan dari arah semak-semak itu telah berkurang.

Sementara lawan berhasil diusir, ditemukan kabar yang mengejutkan. Pemandu pun tidak tahu di mana benteng sebenarnya berada.

Ternyata, serangan ini berfungsi untuk mengalihkan perhatian lawan ke arah seberang sungai. Sementara di sisi yang sejajar ada lokasi benteng. Benteng persegi ini ada dua, dan letaknya berdekatan. Masing-masing setinggi 5 hingga 6 meter.  Salah satu ditutupi dengan atap, dan terdiri dari papan dan balok tebal yang tegak lurus. Mempunyai pagar, dan dilengkapi dengan celah.

Randjoe dan penghalang lainnya diatur di sekeliling, sementara di sisi agak jauh ada jalan yang terkubur, yang memungkinkan lawan untuk melarikan diri tanpa hambatan ke sungai.

Penjaga depan yang ingin memeriksa lokasi ini terhalang pandangannya oleh semak-semak, namun segera disapa oleh peluru yang berterbangan. Segera ia mundur untuk mengabarkan temuannya atas benteng ini kepada komandan utama.

Selanjutnya, Komandan utama kemudian memerintahkan penjaga depan untuk segera kembali ke lokasi itu, dengan disertai bantuan tambahan mortir di bawah kendali Sersan Jannsen  untuk  menghancurkan pagar tersebut. Sementara penembak akan memotong semak-semak untuk membawa Howitzer ke sana.

Setelah beberapa kali lemparan mortir diperoleh kesuksesan yang diinginkan. Sementara divisi Metman tetap berjaga sebagai cadangan, berada di antara hutan dan alang-alang dan berjaga di belakang.

Sumber : Koran De Sumatra Post tanggal   25-08-1915.

 

Bersambung ke Bahagian Ketujuh