Perang Sunggal, Sebuah Kesaksian Mata (Bagian 5)

by
ilustrasi (Sumber : http://timeimg.pw/Patent-Drawing-for-a-Gatling-Gun-Civil-War-1865-Rob-t.html)

Datuk Muhammad Kecil Surbakti, bersama Sulong Barat dan Datuk Jalil melakukan perlawanan terhadap ambisi Kesultanan Deli dalam menguasai lahan orang-orang Sunggal. Perangpun meletus pada tahun 1872.

Koran De Sumatra Post menerbitkan cerita bersambung dengan 34 bagian dengan judul : “Van Riouw naar Deli in 1872. Door een ooggetuige.” Kisah ini diterbitkan dari tanggal 19 Agustus 1915 hingga 25 September 1915.

Kisah bersambung ini dituliskan dari sisi mata seorang tentara Kolonial Belanda yang didatangkan dari Riouw (Riau) ke Deli (Medan) untuk menghadapi gejolak yang terjadi.

Orang-orang Karo di Sunggal menolak tanah-tanahnya direbut oleh Kesultanan Deli dan Pangeran Langkat, dimana kedua pemimpin ini meminta bantuan tentara Kolonial Belanda yang juga punya kepentingan untuk perluasan areal perkebunan milik orang-orang Eropah.

Sambungan dari Bagian Keempat.

 

Dari Riau ke Deli pada tahun 1872.  Sebuah  kesaksian mata.

 

Sekarang amunisi dikeluarkan dan diisi ke dalam senjata, demi kehati-hatian, setelah menyeberangi sungai baru dilakukan. Para penjaga depan, kemudian artileri, lalu pasukan utama dan akhirnya antrian panjang para koeli mulai bergerak. Dan di barisan penutup diisi oleh penjaga belakang.

Sudah satu jam arakan pasukan berjalan. Awalnya jalan ke Langkat cukup bagus dan lebarnya empat hingga lima meter, tetapi secara bertahap melewati jalan setapak. Dan seperti biasa, pasukan perlu berbaris dalam satu jalur. Oleh karena itu iringan terlihat panjang, hampir 700 meter.

Hari itu sangat cerah, lambat laun rombongan menjadi sangat lelah karena adanya penundaan terus-menerus dari deretan para kuli Cina yang ujungnya tidak terlihat dari depan. Jalur ini melewati hutan, alang-alang (dataran dengan rumput setinggi 1 hingga 2 meter) dan perladangan secara bergantian.

Karena jalannya sangat sempit membuat peralatan Howitzer yang berat, yang telah diambil dari Kapal De Banka, sulit untuk maju dengan cepat. Perjalanannya banyak tertunda oleh banyaknya batang pohon dan dahan yang ditebang dan rebah di jalan-jalan.

ilustrasi : Senjata Howitzer
ilustrasi : Senjata Howitzer

Sudahpun barisan pasukan depan berjalan perlahan di depan kuli, mereka terus-menerus harus berhenti dan menunggu para Koeli yang selalu jauh tertinggal di belakang. Itu sangat melelahkan, terutama tetap berdiri dan diam di tempat di bawah sinar matahari yang membakar kepala. Bagi orang yang berada di bagian ekor rombongan, ini tidak kalah melelahkan daripada mereka yang berada di bagian paling depan.

Mengapa perjalanan sangat lambat? Karena banyak batang-batang pohon tergeletak di jalan. Para prajurit harus memanjat. Para kuli perlu terlebih dahulu meletakkan beban mereka dan kemudian mengangkat dan melewati batang pohon, sementara mereka sendiri memanjatnya, kemudian meletakkan beban ke bawah dan akhirnya menggantungnya di kayu pikulan lagi.

Jika melewati batang pohon ini hanya memakan waktu setengah menit untuk setiap perpindahan, maka bila diasumsikan ada enam puluh perpindahan, berarti ada waktu yang dibutuhkan selama setengah jam untuk menunggu sebelum semua kembali berjalan beriringan. Dan hambatan seperti itu ditemui setiap saat, baik kayu berdiameter besar maupun kecil.

Perjalanan yang melelahkan di bawah panas yang menyengat ini tiada hentinya. Berturut-turut 3 tentara dan 1 perwira dan 1 orang dari angkatan laut terjatuh oleh panas dan kelelahan. Sementara, dalam empat usungan ambulan, sudah ada orang-orang yang pingsan. Dengan jumlah kuli yang terbatas, pemanggulan barang-barang menjadi tambah lebih tertunda ditambah oleh karena medan yang dilalui sangat berat.

Mulai menjadi ragu apakah rombongan ini, dapat mencapai tempat perhentian yang ditentukan (Bivak) sebelum malam. Tempat yang menurut pemandu yang satu-satunya sesuai dengan yang diperlukan ini adanya beberapa jam perjalanan lagi.

Beberapa anggota pasukan melaporkan bahwa mereka tidak lagi sanggup berjalan hingga ditandu dan mengharapkan bantuan dokter. Komandan memerintahkan agar semua ditandu dan dievakuasi, dan tidak ada yang boleh tinggal di sana. Sedangkan yang tidak dapat berbaris lagi setelah diistirahatkan, sebagian besar kembali ke Arendsburg, setelah menerima jaminan dari Inspektur Deli bahwa pengembalian ini dapat dilakukan tanpa ada ancaman bahaya dari lawan.

Di antara mereka yang kembali adalah pemuda yang baru tiba dari Eropah, prajurit muda ini terjatuh mungkin karena terkena sengatan matahari. Ditemukan oleh Kopral Gygli, tubuhnya ditemukan di jalan dengan mantel.

Koran De Sumatra Post tanggal 24-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 24-08-1915

8. Beristirahat tanpa minum. Pertempuran kecil pertama.

Pada sore hari, jam setengah tiga ada kesempatan istirahat, sesuatu yang dibutuhkan semua orang. Di ladang alang-alang pasukan berbaris, Howitzer ditempatkan di dalam pekat hutan, dan beberapa penjaga ditempatkan di sepanjang tepi hutan.

Kebutuhan akan air minum  sangat besar. Persediaan air telah habis di sepanjang jalan tadi. Di sumur dangkal yang ditemukan di sekitarnya ada sedikit air keruh ditemukan, yang dipakai dengan penuh semangat. Tetapi hanya sedikit yang kebagian. Yang lain harus menunda minum sampai nanti.

Sebelum berbaris lagi pada jam 3, sejumlah kecil senjata diberikan kepada masing-masing orang untuk pasukan di bagian paling terakhir. Pawai pasukan sekarang mendekati ladang lada, juga disebut kebun lada (merica).

Daerah ini termasuk salah satu lokasi utama asal para pemberontak yang sering melakukan perlawanan besar-besaran. Dan dibutuhkan kehati-hatian, karena bisa saja kontak perlawanan pertama terjadi.  Pasukan dengan sangat hati-hati berjalan.

Tak lama barisan depan menemukan berbagai cabang pohon yang ditebang, dan rebah di sana-sini yang menghalangi jalan. Salah satu dari mereka ada yang menemukan pagar yang belum selesai.

Kegiatan pembersihan harus dilakukan, perjalanan terhenti tak terhindarkan. Pembersihan jalan dilakukan oleh pasukan di depan yang dibantu oleh tentara berkebangsaan Eropa. Namun tiba-tiba rentetan tembakan muncul.

Jalan segera dibersihkan para kuli untuk membuat Howitzer bisa bergegas jalan ke depan. Suara-suara teriakan kemudian terdengar bersama potongan bambu yang dipukul berkali-kali. Yang juga diulang-ulang di kejauhan, ini sepertinya pemberitahuan kabar adanya pasukan ini.

Rimbunan pepohonan yang beraneka ragam dan tinggi membuat sulit memprediksi di depan. Pasukan artileri disebar, mengapit para kuli dan peralatan yang dibawa. Kewaspadaan ditingkatkan sambil maju perlahan.

Tak lama kemudian, mereka menemukan ladang lada yang luas. Letaknya tepat di tepi hutan. Terdapat juga rumah besar.

Secepat itu segera dikepung dan diperiksa oleh pasukan penjaga di depan. Tampaknya tempat itu baru ditinggalkan oleh penghuninya karena perapian masih menyala.

Sementara beberapa orang sibuk memeriksa tempat tinggal ini, tiba-tiba tembakan muncul dari sisi ladang dari tepi hutan. Suaranya terdengar keras namun tidak beruntun menyerang. Sepertinya sebuah peringatan agar pasukan mundur.

Segera pasukan maju ke depan dan menyebar, di antara tiang-tiang lada (1) untuk menjawab tembakan. Pasukan dari angkatan laut di bawah pimpinan Letnan di laut Kemps dikirim ke depan untuk penguatan. Namun langkah mereka kini harus hati-hati, karena mereka disambut oleh peluru-peluru yang berterbangan menghujam tanah.

Tidak ada yang bisa dilihat dari keberadaan musuh itu sendiri, hanya asap dari tembakannya yang terlihat. Para penembak itu menempatkan di perbukitan di ketinggian lebih dari 200 meter. .

Belum ada perintah untuk membalas tembakan. 250 prajurit akhirnya mendapat komando untuk menembak. Para pelaut, yang dipersenjatai dengan senjata pelontar melepaskan tembakan ke arah sisi pemberontak. Namun sepertinya mereka menghilang ke rimbunan hutan yang hijau.

Penembakan berlebihan ini diizinkan untuk meruntuhkan rasa percaya diri musuh dengan hujaman peluru. Mungkin ini pertempuran terbesar pertama kalinya yang mereka hadapi di lapangan.

Sementara itu Kapten Koops datang menuju ke bagian depan pasukan di bawah perlindungan barikade artileri. Ia memberi perintah untuk berhenti menembak ketika tidak mendengar ada lagi tembakan dari lawan. Letnan Van Meurs yang pasukannya dengan senjata pelempar mortir menghentikan pasukannya. Tidak tidak diketahui apa yang terjadi dipihak lawan.

Koran De Sumatra Post tanggal 24-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 24-08-1915

9. Kamp pertama. Meninggalkan perbekalan. Melanjutkan pawai.

Ketika matahari mulai terbenam, dan konvoi pasukan sampai di tempat yang dituju, yang oleh pemandu dianggap paling cocok untuk bermalam, Komandan kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan pengejaran lagi di hutan. Tetapi menggunakan waktu untuk menyusun ulang kekuatan dan tinggal sementara di sini.

Bagian depan Kamp ini berada dekat sungai yang hampir kering. Di bagian belakang tidak jauh dari hutan.

Empat sisi Kamp dibuat pos penjagaan keamanan untuk menjaga bila ada pertempuran kembali. Perbekalan ditempatkan di rumah ladang (gubuk), artileri dan amunisi ditempatkan di tempat yang cocok di belakang dan depan.

Menyambut malam, api dinyalakan oleh kuli. Kemudian makanan disiapkan dan dihabiskan. Setelah itu para prajurit berbaris dan memasukan senjata bayonet ke dalam lubang di tanah yang telah dipersiapkan.

Sumber : Koran  De Sumatra Post tanggal 24-08-1915

 

Catatan :

(1) Ini adalah tiang yang dibuat dari cabang pohon lurus. Dikuliti dan panjangnya berkisar 2 sampai 3 meter dengan diameter 10 sampai 30 centimeter. Ditancapkan ke tanah dalam barisan yang lurus dan teratur. Fungsinya untuk tempat tanaman lada menjalar ke atas.

 

Bersambung ke Bahagian Keenam