Perang Sunggal, Sebuah Kesaksian Mata (Bagian 4)

by

Penyebab adanya Perang Sunggal dimulai dari ambisi Kesultanan Deli dalam menguasai lahan orang-orang Sunggal sepeninggal Datuk Abdullah Ahmad Surbakti, raja Sunggal, pada 1857. Penolakkan dilakukan oleh Datuk Muhammad Kecil Surbakti, adik Datuk Ahmad yang memegang kendali kerajaan untuk sementara karena putra raja masih kecil.

Pada tahun 1865, Sultan Mahmud Al Rasyid mengundang pihak Hindia Belanda untuk membantu pasukannya dalam menyelesaikan konflik tersebut. Sebagai kompensasi, dia berjanji menyerahkan lahan-lahan subur milik Sunggal kepada maskapai tembakau milik orang-orang Belanda.

Datuk Kecil tentu melakukan perlawanan keras. Bersama Sulong Barat dan Datuk Jalil, Datuk Kecil menyiapkan 1.500 pasukan. Perang meletus pada 1872.

Koran De Sumatra Post menerbitkan cerita bersambung dengan 34 bagian dengan judul : “Van Riouw naar Deli in 1872. Door een ooggetuige.” Kisah ini diterbitkan dari tanggal 19 Agustus 1915 hingga 25 September 1915.

Kisah bersambung ini dituliskan dari sisi mata seorang tentara Kolonial Belanda yang didatangkan dari Riouw (Riau) ke Deli (Medan) untuk menghadapi gejolak yang terjadi.

Orang-orang Karo di Sunggal bersama pemimpinnya menolak tanah-tanahnya direbut oleh Kesultanan Deli dan Pangeran Langkat, dimana kedua pemimpin ini meminta bantuan tentara Kolonial Belanda yang juga punya kepentingan untuk perluasan areal perkebunan milik orang-orang Eropah.

Sambungan dari Bagian Ketiga

 

Dari Riau ke Deli pada tahun 1872.  Sebuah  kesaksian mata.

 

Yang terakhir itu adalah alasan yang bisa diterima, karena bukan kemauannya. Dan bukan ada niat jahat untuk menuntun kita ke jalan yang salah.

Ketika kami berdiri di sana dengan ragu-ragu, mempertimbangkan arah mana yang harus dipilih dan sia-sianya membelalakan mata dalam kegelapan untuk menemukan cahaya, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara yang terdengar berat dan panjang. Menebak-nebak dari mana asalnya. Dan suara itu diulangi lagi dan terus terdengar.

Sekarang komandan detasemen ingat sebuah perintah, bahwa tanda dari tiupan terompet tanduk kerbau adalah tanda peringatan yang dibunyikan bila perusahaan perkebunan diserang oleh orang-orang Karo.

Pada waktu-waktu biasa, suara yang sama memang terdengar, pada jam-jam tertentu, yang fungsinya untuk tanda memberi kesempatan pulang para kuli-kuli atau buruh di perkebunan ketika jam istirahat telah tiba. Sekarang suara terompet tanduk kerbau ini terdengar pada waktu yang tidak biasa. Suaranya begitu keras dan lama, tidak diragukan mungkin musuh sedang mendekat.

Secepat mungkin kami berjalan mengikuti arah asal suara, yang secara tak terduga menunjukkan tempat tujuan kami. Berjalan di antara ladang tembakau. Tak lama kemudian, jalan yang lebih lebar dicapai, dan mengarah ke gerbang kayu besar yang ditunjuk oleh pemandu sebagai pintu masuk ke halaman, tempat tinggal pemilik rumah itu.

Gerbang itu tertutup dan kami berulang kali mengetuk untuk memberi tahu akan kedatangan kami. Akhirnya seseorang mendengar dan dari dalam terdengar suara yang berasal dari orang Eropa, dan berkata dalam bahasa Melayu :

“Siapa yang ada di sana?”

Kami memberi jawaban, “tentara yang datang untuk membantu.”

Segera setelah itu, terdengar gerbang barikade digerakkan. Dan pintu terbuka.

Seorang pria Eropa bertubuh ramping dan berpakaian putih muncul dengan revolver di tangannya. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Tuan Peijer dari perkebunan Persévérance.

Ia memberi tahu komandan detasemen bahwa para pengawalnya telah berkeliling dan ditempatkan juga para pengintai. Di kejauhan terdengar suara-suara, mereka telah meniup tanduk kerbau sebagai tanda bahwa musuh mendekat.

Dan orang-orangnya bersama kuli, dan pelayan bersatu di halaman. Mereka berjaga-jaga dan bersiap untuk mengusir bila serangan datang di waktu tak terduga.

Koran De Sumatra post tanggal 23-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 23-08-1915

6. Dengan Tuan Peijer. Rencana Baru.

Di halaman, kami melihat sejumlah orang memegang patjol (pacul), sekop, tongkat bambu dan beberapa persenjataan api berkumpul. Mereka berharap dapat mengusir musuh bila muncul. Sebagai gantinya, mereka sekarang melihat pelindung mereka hadir di depan mata mereka.

Orang-orang penjaga luar mengemukakan pendapat bahwa musuh sedang mendekat. Bagaimanapun, mungkin saja musuh benar-benar datang, dan karena itu perlu cepat memeriksa keadaan sekitar.

Di halaman ada bangunan rumah  yang dibangun dari kayu beratap sessak (rumput alang-alang dan anyaman bambu). Lalu rumah kayu panggung yang dibangun dua meter di atas tanah. Bangunan ini dilengkapi dengan teras depan dan belakang.

Lalu ada sebuah gudang kecil dan bangunan tambahan. Dan semuanya berada di tanah yang dikelilingi oleh pagar. Sementara di luar ada pagar ada ladang kayu, rawa dan hamparan tanaman tembakau.

Pada malam hari, menjadi pertanyaan apakah bangunan ini cocok sebagai pertahanan. Memang dirasa tidak benar-benar cocok untuk tujuan ini, tapi yang paling penting untuk tetap waspada.

Yang disebut rumah kayu, digunakan sebagai pos jaga oleh tentara. Ada di luar gerbang dan di halaman belakang, ada pos-pos ditempatkan di sana-sini.

Tuan rumah yang bahagia itu mengungkapkan kegembiraannya atas kedatangan pasukan yang tepat waktu. Dan dengan segera menyiapkan berbagai hidangan, yang merupakan cara terbaik untuk menjaga agar tentara yang lelah dan basah itu tidak tidur.

Karena itu perlu bagi seluruh anggota detasemen untuk tetap terjaga. Karena seperti kabar yang terdengar, musuh biasanya memiliki kebiasaan menggunakan jam menjelang pagi untuk menyerang. Seolah-olah mereka menganggap lawan-lawannya kurang waspada.

Jika sebagian dari tentara ada yang tidur, dipastikan mereka akan susah bangun akibat kelelahan. Saat ini mungkin akan datang serangan.

Setelah makan, mereka menjaga agar mata tak tertidur dengan dibantu oleh anggur atau bir. Ini diberikan oleh tuan rumah dengan murah hati. Namun tetap saja ini adalah perjuangan yang sulit untuk terus-menerus menolak tidur.

Hingga akhirnya cahaya senja yang pertama muncul di pagi ini disambut dengan sukacita. Serangan yang diperkirakan datang ternyata berlalu dan tidak ada ditemukan gangguan dari musuh.

Pukul 7 pagi setelah mendapat laporan dari patroli kecil, tentara penjaga diizinkan untuk pergi tidur. Pada pukul setengah sembilan, detasemen menerima perintah dari panglima untuk langsung konvoi menuju Sungai Soenggal (Sunggal). Untuk maju melawan pasukan musuh.

Sebagian besar pasukan lain, ada di perkebunan Arendsburg. Detasemen ini dikabarkan menghabiskan malam tanpa gangguan di gudang tembakau. Pasukan mereka tiba pada jam sebelas malam dan dalam keadaan basah kuyup. Dan karena tidak ada gangguan, sebahagian pasukan diperkenankan tidur setelah tengah malam.

Pesan juga telah sampai ke Arendsburg. Pesan tentang posisi musuh, dan telah diputuskan untuk meninggalkan Arendsburg pukul 10 pagi untuk berkumpul dengan detasemen lainnya beserta pasukan bantuan untuk sesegera mungkin memukul musuh.

Menurut laporan yang diterima, musuh sibuk memperkuat dirinya karena mereka telah memperoleh informasi tentang kedatangan pasukan-pasukan ini. Tindakan yang cepat dan tegas perlu untuk menggagalkan usaha mereka. Karena membiarkan mereka sama saja membiarkan mereka setiap hari meningkatkan kekuatannya.

Koran De Sumatra Post tanggal 23-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 23-08-1915

Para pemimpin pemberontak adalah Dato (kepala distrik) Dalil dan Ketjil dan Soelang Barat.

Mereka telah lama berada dan menetap di Timbang Langkat, yang terletak di sebelah barat kesultanan, di pertemuan sungai Mentjirim dan Bingei. Tanah-tanah ini telah jadi perdebatan kepemilikan oleh Sultan Deli dan Pangeran Langkat.

Otoritas Dato besar di sana. Dan mereka menolak untuk mematuhi panggilan pemerintah. Mereka bertahan dan akhirnya memperkuat diri di tempat itu. Ini dirasa mengancam Kesultanan dan Sultan Deli.

Tempat itu adalah tujuan pengerahan pasukan dan dapat dicapai dalam dua hari. Mr. Peijer, mengajukan diri untuk menjadi pemandu bagi konvoi itu.

Inspektur Deli, Mr. Deerns, juga akan menemani pasukan dalam perjalanan ke Timbang Langkat. Para pangeran Deli dan Langkat akan mendukung pasukan dengan pasukan tambahan milik mereka.

Akhirnya Komandan merancang rencana serangan. Bagian yang untuk berjaga ditugaskan untuk laskar kesultanan. Sementara memukul dan lainnya di bawah wewenangnya.

Pangeran Langkat telah mengambil tempat ke hilir, sedekat mungkin dengan benteng, bersama pasukan tambahan darinya. Kepala Djaksa (kepala polisi) bersama dengan pasukan pembantu dari Deli (Soengal dan Sapoe Idjoe) akan menduduki pintu masuk ke Timbang Langkat dari sisi itu.

Kedua kekuatan ini akan bergerak begitu kontak senjata terdengar dari pasukan tentara. Dan akan mendekati sedekat mungkin untuk menangkap musuh jika mereka melarikan diri.

Mengetahui musuh terus berusaha memperkuat dirinya di pintu masuk, sang Komandan, menuruti desakan pemandu, pengontrol dan Djaksa untuk mempercepat perlawanan. Bertindak cepat dan cepat untuk mencegah musuh dalam rencananya lebih lanjut, untuk memperkuat dirinya lebih banyak lagi.

Koran De Sumatra Post tanggal 23-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 23-08-1915

 

7. Konvoi berjalan melewati Sungai Soengal dan berbaris ke Timbang Langkat. Korban pertama.

Atas rencana itu, pasukan dari Arendsburg diperintahkan untuk maju jam 9 pagi. Namun baru benar-benar berangkat pukul 10 karena tertahan oleh pergerakkan para kuli.

Sersan Allia memimpin detasemennya, sementara 4 pelaut dan 1 marinir tetap tinggal di perkebunan. Tugas mereka berjaga di sekitanya.

Sungai Sunggal

Sungai SunggalPertama-tama, Sungai Soengal harus dilintasi. Meskipun ada kesulitan-kesulitan saat proses penyeberangan, tapi tak sesulit  yang dialami detasemen yang kemarin malam menuju Persévérance.

Ada lima sampan besar yang disiapkan. Dan dibutuhkan dua jam penuh untuk proses pemindahan oleh kuli atas semua barang bawaan dan artileri.

Sementara itu, pasukan pasrah disengat panas sinar matahari di tengah hari karena kurangnya tempat berteduh. Dan mereka harus sabar menunggu antrian panjang.

Penyeberangan hampir berakhir, saat Letnan Ponstijn bergabung dengan kelompok itu bersama pasukannya. Pasukannya terlambat karena mempersiapkan makanan dan baru melahap nasi, daging dan sup pukul 10 pagi.

Dirasa lebih baik pergi satu jam kemudian dengan kondisi tentara telah kuat dengan makanan yang disantap. Dari pada pergi dengan perut kosong, karena perjalanan jauh akan menguras tenaga. Dan dipastikan tidak banyak makanan yang dapat diperoleh di hutan.

Dan bukan kebetulan pula detasemen ini hampir tidak tidur dalam dua hari terakhir. Bekerja di siang hari dan berbaris di malam hari.

Letih ini semua ini terbayar oleh sambutan yang diterima, tas-tas itu penuh dengan potongan-potongan makanan dan sambutan penduduk perkebunan. Mereka menunjukkan bantuan. Dan saat perpisahan tadi, kedua pihak saling mengucapkan terima kasih dan mengucap selamat tinggal satu sama lain

Akhirnya, semua kuli dengan perbekalan, amunisi, dan artileri telah tiba di seberang sungai. Selanjutnya berjalan berbaris menuju ke arah Langkat. Jalannya lebar sehingga bisa untuk mengatur posisi pasukan dengan baik dan dapat teratur terus.

Pasukan ditempatkan dalam urutan batalion dan semua kuli dengan muatan mereka dalam satu baris. Dan tiap batallion dibagi lagi menjadi peleton dengan pembagian kekuatan yang sama. Pelindung belakang dan depan lengkap dengan senapan.

Para perwira laut dan tentara dibagi menjadi pasukan mereka masing-masing. Dan ditempatkan pada urutan yang telah ditetapkan komandan tertinggi.

 

Sumber : Koran De Sumatra Post tanggal  23-08-1915

 

Bersambung ke Bagian 5