Perang Sunggal, Sebuah Kesaksian Mata (Bagian 3)

by
ilustrasi
ilustrasi

Barisan prajurit Sultan yang berkisar 30 orang mengenakan pakaian khusus dan dipimpin oleh seorang sersan tentara. Hampir semua dari mereka dipersenjatai dengan senapan pendek dan ini adalah senjata bagi para penjaga Sultan. Mereka menggunakan back-loading rifles, yang dikenal sebagai senapan Kuhn.

Sementara jumlah pasukan yang di datangkan dari dari Riouw (Riau)  ditambah petugas kepolisian bersenjata ada berkisar 240 orang.

Sambungan dari Bagian 2

Dari Riau ke Deli pada tahun 1872. Sebuah  kesaksian mata.

 

Dari Laboean jalan itu lumayan baik, dan memiliki lebar empat atau lima meter. Sekarang dapat dibedakan bahwa warnanya gelap, warnanya hampir hitam dan bagian dasarnya adalah abu halus.

Jalan tanah yang hitam itu ditaburi cahaya matahari, yang berkilau seperti taburan berlian yang terserak di setiap langkah. Di arah Barat, tidak ada yang terlihat selain hutan yang luas. Di pagi ini kami seperti terkurung dan pandangan tak jauh bebas.

Hutan yang luas, yang mengisyaratkan bahwa penghuninya hanya hidup dari pisang. Bagaimanapun, seperti yang dikatakan para kuli dan menunjukkan kepada kami keteduhan dari pohon pisang yang ditanam, pohon-pohon masa depan masih dalam bentuk semak-semak. Naungan daun lebar pohon pisang menutupi sinar matahari yang terang.

Hamparan tanaman pisang dengan daun-daun terbentang dan tandan pisang yang matang, terus-menerus berubah dan jatuh ke tanah. Dan akhirnya membentuk lapisan humus yang tebal dan subur.

Koran De Sumatra Post tanggal 21-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 21-08-1915

4. Naik ke arah hulu sungai. Detasemen meneruskan ke Kloempang.

Detasemen menemukan pemandangan silih berganti antara hutan dan ladang tembakau. Di sana-sini ada gudang/lumbung besar. Akhirnya tiba di perkebunan Arendsburg pada pukul 7 pagi.

Sebuah gudang tembakau kosong diberikan kepada pasukan oleh Mr. de Munnik sebagai tempat berkumpul. Setelah istirahat, para prajurit menyingsingkan lengan mereka untuk bekerja.

Mereka merapikan gudang untuk menyambut rombongan pasukan berikutnya. Setelah itu, makanan harus disiapkan untuk kedatangan.

Seekor karbouw (kerbau) besar dikirim ke sini oleh Sultan sebagai bentuk penyambutan. Dan akan dinikmati sebagai sup yang hangat untuk menghilangkan lapar di perut dari beberapa ratus pelaut dan tentara.

Koran De Sumatra Post tanggal 21-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 21-08-1915

Sepuluh orang tentara ini tidak mampu menarik binatang kuat itu rebah ke tanah. Ada tali, lalu diikatkan di kaki-kaki binatang itu. Akhirnya beberapa kuli membantu untuk merebahkan karbouw ini.

Selanjutnya masuk ke dalam pekerjaan berikutnya, para prajurit memotong dan menguliti dengan pisau parang mereka. Inilah pekerjaan yang tersisa.

Dari priuk-priuk mendidih nasi disiapkan terlebih dahulu. Kemudian sup dan daging, dan yang terakhir meletakkannya dalam wadah sehingga semuanya siap jauh sebelum pasukan yang ditunggu datang.

Sekitar jam 9 malam, pasukan yang ditunggu diterpa hujan yang deras. Saat itu masih satu jam perjalanan menuju Arendsburg. Namun mengalami penundaan yang cukup lama.

Jalan itu segera berubah menjadi lubang berlumpur akibat campur tangan hujan. Ini tentu sangat menghambat perjalanan kuli yang memanggul barang. Kadang terpeleset dan muatan barang terjatuh ditambah gelap yang mengurung.

Banyak waktu habis untuk mengemas kembali barang ke pikulan para kuli. Dan obor-obor itu jelas padam oleh hujan.

Secara bertahap kesulitan akibat kegelapan dan lumpur dapat dilalui. Kuli yang berjalan di depan kian berjalan cepat, ketika mengetahui tujuan telah dekat.

Mereka mencari tempat berteduh di gudang. Semuanya berdiri berdampingan dan penuh sesak. Teriakan-teriakan para kuli Cina sulit dipahami. Dari lentera yang berpendar, hanya tampak samar-samar wajah mereka dan tak cukup menggambarkannya.

Ada banyak yang harus dilakukan terutama para Kuli seperti meletakkan dan mengumpulkan barang-barang berbaris di ujung gudang. Tak ada diantara para Kuli yang bisa mengerti bahasa Melayu.

Hanya dengan satu ancaman (tanpa eksekusi) sering kali merupakan cara yang paling praktis dan dapat dipahami untuk dilaksanakan. Setelah semua orang dibagi tempat yang ditunjuk, amunisi dan perbekalan dijaga ketat di bawah perlindungan.

Berbaring untuk beristirahat dengan pakaian basah, bahkan isi ransel juga basah. Namun terbayar oleh kopi, sup, nasi, dan daging yang disantap bersama.

Sementara itu, dua pemilik perkebunan Eropa telah menerima kabar bahwa perusahaan mereka akan diserang malam ini atau mungkin saat matahari terbit nanti oleh orang-orang Karo.  Sebagai tindak selanjutnya mereka meminta bantuan pasukan.

Para prajurit sebenarnya sangat lelah oleh perjalanan panjang. Terutama selama dua jam terakhir ketika orang-orang harus bergerak melalui kegelapan dan lumpur.

Tapi tanpa bantuan pasukan, para pemilik perkebunan tidak bisa menahan serangan dibantu kuli mereka. Bahkan rumah-rumah serta gudang-gudang hasil tanaman beserta hewan milik perkebunan akan menjadi mangsa api. Setelah serangan sukses, musuh dengan lebih berani juga akan bereaksi di tempat lain.

Kembali pada tujuan dari Misi kami, maka tidak ada pilihan untuk dipertanyakan. Komandan tertinggi memerintahkan dua detasemen untuk segera berangkat setelah makan. Masing-masing terdiri dari 30 pasukan bayonet.

Satu dengan tujuan ke perkebunan Rotterdam yang letaknya satu jam perjalanan dari sini. Dan yang lain ke perkebunan Persévérance, hanya satu setengah jam perjalanan lagi.

Kedua detasemen bertugas menjaga perusahaan dan menunggu perintah lebih lanjut di sana dari komandan. Pasukan yang pertama, di bawah komando sersan Allia, telah tiba ditujuan.

Koran De Sumatra Post tanggal 21-08-1915
Koran De Sumatra Post tanggal 21-08-1915

5. Dua detasemen ke Persévérance dan Rotterdam.

Namun pasukan yang kedua, di bawah Letnan Ponstijn, tidak seberuntung itu. Mereka harus berhadapan dengan banyak kesulitan.

Detasemen ini telah pergi pada saat yang sama dengan pasukan yang lain, tetapi dalam arah yang berbeda. Dilengkapi dengan obor dan pemandu, tas dengan 20 kartrid, ransel dengan 2 paket amunisi cadangan dan perut diisi dengan nasi dan daging, mereka berbaris di bawah pancuran hujan yang deras dan angin kencang.

Mereka menemukan Soengai yang harus dilintasi. Tidak ada cara lain untuk menyeberang selain dengan perahu kecil yang terbuat dari batang pohon berlubang. Di mana tidak lebih dari empat orang dapat menaikinya tanpa beban berlebihan.

Proses menyeberang dengan perahu ini dilakukan oleh orang Melayu di arus deras tanpa sarana selain bantuan bambu panjang. Meskipun lebar sungai tidak mencapai 10 meter, tepian  sungai yang tinggi, kegelapan, dan hujan tidak membuat penyeberangan menjadi mudah.

Hujan dan angin turun sepanjang waktu membuat obor tidak lagi bisa dinyalakan. Sehingga proses untuk turun ke tepi sungai di kegelapan di sepanjang tebing curam dan licin, harus sangat hati-hati. Agar tidak kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam sungai.

Arus sungai sangat deras meskipun sungai tidak dalam. Bila tercebur ke dalam sungai, kemungkinan tenggelam dan terbawa arus sangat mungkin.

Lentera milik pembawa perahu sangat membantu sebagai suar petunjuk. Sebagai patokan posisinya di tepi sungai.

Berturut-turut kami terus turun di sisi curam ini dengan hati-hati untuk siap diseberangkan dan tiba di sisi lain. Setelah menyeberang, saatnya membersihkan tangan dan kaki yang kotor saat menuruni sisi sungai yang tadi.

Akhirnya kami semua bahagia, dan detasemen kini siap bergerak kembali dengan gerakan yang dipercepat setelah semua selesai menyeberang. Namun hujan di sisi sungai yang kami jumpai ini, menunggu untuk memeluk rapat. Dan kami tetap terperangkap dalam dingin.

Saat iringan perjalanan pada malam sebelumnya dari Laboean ke Arendsburg, ketika melewati daerah yang tenang, tidak ada tindakan pencegahan khusus yang diperlukan. Tetapi sekarang mereka harus bersiap untuk segalanya, bahwa mereka berbaris melalui wilayah yang sudah terancam oleh musuh.

Karena pasukan bisa menemukan makanan di perkebunan, detasemen tidak membawa perbekalan makanan. Sehingga bisa waspada pada kemungkinan adanya serangan.

Sekarang, jika sesuatu terjadi, pasukan bisa bergerak dengan bebas. Dan bila tiba-tiba ada tembakan musuh, penjaga depan dan komandan regu akan berkumpul, agar tidak kehilangan satu sama lain dalam kegelapan.

Kini jalan, yang awalnya selebar 3 meter, secara bertahap melewati jalan setapak yang sempit yang melintasi ladang tembakau. Mereka kini terus berjalan satu baris dalam gelap yang pekat, karena hujan telah memadamkan obor. Dan semua upaya untuk membuat obor-obor terbakar lagi gagal.

Jalan setapak sering bercabang. Tampaknya tidak ada akhir bagi jalan setapak di ladang tembakau ini. Waktu menunjukkan pukul 3 malam dan pemandu berbicara dengan suara gelisah.

Dia mengakui tidak lagi tahu jalannya. Jadi perjalanan dihentikan sementara. Apa yang harus dilakukan dan ke mana?

Di sana kami menatapi kegelapan dalam kesunyian, tidak ada cahaya yang ditemukan. Timbul putus asa!

Memang benar di tempat itu kering. Tetapi tidak ada titik cahaya di langit.

Setelah berkomentar kepada seorang pemandu bahwa kami telah berada di jalan sejak tengah malam dan perusahaan hanya berjarak dekat, dia menjawab, bahwa dia meragukan jalan yang benar. Karena jalan, yang membelah diri setiap waktu itu, tidak menunjukkan tanda-tanda menuju tujuan karena ditutupi kegelapan.

 

Sumber : Koran De Sumatra Post tanggal  21-08-1915

 

Bersambung ke Bagian 4