Perang Sunggal, Sebuah Kesaksian Mata (Bagian 2)

by
ilustrasi : Laboehan tahun 1915

Pada malam di tanggal 8 Mei 1872, bagai sebuah bom jatuh dari langit, perintah datang kepada komandan militer di Riouw (Riau) untuk segera dilaksanakan, perintah sesegera mungkin untuk membawa konvoi pasukan maju menuju Deli. Perintah ini melalui telegram disampaikan oleh pemerintahan di Batavia ke Singapura, lalu disampaikan ke Riouw.

Sambungan dari bagian 1

 

Dari Riau ke Deli pada tahun 1872. Sebuah  kesaksian mata.

 

De Sumatra Post tanggal 20-08-1915
De Sumatra Post tanggal 20-08-1915

2. Mendekati Pantai. Pertemuan.

Siang dan malam terus berlayar di lautan luas, kapal tiba pada hari keempat, berlabuh pada pukul setengah empat sore di sekitar perairan Deli. Setidaknya, diketahui bahwa tempat itu ada di sini. Dan daratan itu masih enam jam jauhnya, terlihat garis tipis di kejauhan.

Kami akan bertemu kapal uap “Banka,” yang berangkat juga dari Riouw, tetapi sekarang di Deli. Namun agak mengecewakan adalah, untuk memasuki daratan ini,  karena dangkal terpaksa harus menunggu air pasang untuk mencapai daratan.

Tampak hanya pemandangan hutan pantai saja, tanpa kehidupan di muara Sungai Deli. Sebuah sekoci diturunkan untuk mengeksplorasi, dan kami menunggu dengan sabar. Dengan harapan mendengar berita pada pagi berikutnya, kebanyakan pergi tidur lebih awal.

Beberapa jam setelah matahari terbit, kapal sekoci datang dengan seorang petugas dari kapal Banka. Banka telah tiba  dan telah menurunkan jangkar. Sampai pukul setengah dua sore harus menunggu sebelum air cukup tinggi untuk masuk.

Di sore hari tanggal 14, Kapal den Briel memasuki garis pantai dan menurunkan jangkar. Kedatangan kami sedang ditunggu kapal uap Banka. Segera sebuah pertemuan diadakan oleh dua Komandan perang dan pasukan ini.

Kami mendapatkan informasi bahwa Komandan Banka telah berkonsultasi dengan inspektur Deerns, tokoh/agen politik, dan dengan Sultan Deli, diminta 50 tentara dari Riouw yang dibantu divisi pendaratan angkatan laut, untuk menangkap dua Datoe yang memberontak terhadap Sultan yang saat ini berada dibenteng pertahanan mereka.

De Sumatra Post tanggal 20-08-1915
De Sumatra Post tanggal 20-08-1915

Pemerintah pusat, melalui telegram disampaikan ke Poeloe Penang dan Singapura selanjutnya ke Residen Riouw, ingin membuat hasil yang baik dengan tidak memulai dengan kekuatan kecil. Tetapi untuk menyelesaikan masalah ini sekaligus, alih-alih 50 tentara kini telah mengirim 140 prajurit dan pasukan artileri, dan memerintahkan komandan militer Riouw untuk melakukannya.

Pertemuan tersebut mengambil keputusan bahwa gabungan kekuatan divisi pendaratan angkatan laut yang terdiri dari awak dua kapal perang, komposisinya adalah sebagai berikut :

Pasukan terdiri dari sekitar 200 dari kekuatan pasukan Riouw, yang terdiri dari 111 pasukan bayonet di bawah pimpinan Letnan von Schmidt auf Altenstadt dan Ponstijn, 1 meriam Howitzer, 2 meriam mortir 12 inci dan 19 artileri di bawah pimpinan Letnan Meurs. Termasuk medis, total orang Eropa dan pribumi ada 140 orang.

Angkatan laut terdiri dari 82 orang, terdapat 69 orang Eropa, baik marinir dan pelaut, dipimpin Letnan Metman, Verheggo dan Kempe, sedangkan layanan ambulans ke petugas kesehatan “Banka” yaitu Steendijk.

Keseluruhannya, berkisar 222 orang, berada di bawah komando Kapten Koops, yang telah menyerahkan komando atas komando kepada Letnan Comfurius. Angkatan laut dan tentara, sekarang bersatu di Deli untuk berperang, tidak asing satu sama lain, walau yang satu di kapal, yang satu di asrama garnisun, telah bersama menjaga ketertiban dan kedamaian di masa damai.

Pada tanggal 1 April lalu, ketika merayakan 300 tahun Watergeuzen menaklukan kota Den Briel,  Kapal Uap Den Briel memberikan pesta yang indah untuk penduduk Riouws. Bersama-sama kami memperingati kemenangan kota Belanda pertama – kami sekarang juga berharap untuk merayakan kemenangan di pantai timur Sumatra.

Tempat pendaratan beberapa jam melalui sungai, di sekitar kota utama Laboean – Deli, atau hanya disebut Laboean, dan sungai itu tidak cukup dalam untuk dapat terus berlayar.

Muatan yang berat menimbulkan benturan hebat di atas kapal, dan terlihat cahaya dari lentera kapal bergoyang-goyang. Barang-barang harus segera dipindahkan. Sepanjang malam disibukkan dengan kegiatan pemindahan barang ke perahu-perahu.

Apa yang harus dibawa, sering berakhir tertumpuk di bawah barang-barang lain. Barang-barang dilemparkan ke dalam perahu-perahu kecil. Pemindahan senjata dilakukan, semua dipindahkan ke dalam perahu-perahu kecil yang telah dipersiapkan di sekitarnya.

 

De Sumatra Post tanggal 20-08-1915
De Sumatra Post tanggal 20-08-1915

3. Ke Arah Bagian Atas Sungai. Detasemen Menuju ke Kloempang.

Pada jam 10 malam, Letnan Postijn pergi dengan 10 tentara dengan sebuah perahu, diangkut ke lokasi pendaratan. Dan melanjutkan perjalanan ke Kloempang, tempat perkebunan tembakau tuan Munnik, yang bernama Perkebunan Arendsburg.

Karena air sungai surut, perahu yang ditumpangi Letnan Verhegge  tampak berjalan lambat di kejauhan, dan kandas.  Ini menyebabkan banyak kesulitan dan keterlambatan, karena berbahaya untuk membiarkan para pelaut keluar dari kapal, membawa  kapal berjalan di sungai yang kering membuat tidak aman.

Di sekitar sungai dibalik semak-semak terdapat rawa-rawa yang dipenuhi dengan nyamuk-nyamuk yang haus darah. Yang tidak meninggalkan kita sendirian untuk sesaat. Ukurannya tidak biasa dan sangat sulit dihalau.

Pukul setengah satu malam kami tiba di tempat pendaratan dan segera mungkin menuju rumah inspektur Deerns, yang dicapai dalam 15 menit. Di sana, melalui bantuan pejabat ini, mereka sibuk menyiapkan makanan untuk pasukan ini.

Setelah menghabiskan malam di atas kapal, di pagi hari pada jam 5 pagi,  kegiatan pemindahan dari atas kapal dari Briel kembali dilakukan. Memindahkan pasukan dengan perahu-perahu dan membawa mereka dengan barang-barang ke tempat pendaratan. Hilir mudik kapal dayung terlihat berjalan lambat karena penuh muatan.

Ketika berturut-turut pasukan telah menginjak di tempat pendaratan, makanan yang disiapkan di sana dibagikan. Dan sementara itu barang-barang yang dibawa diserahkan pada para kuli.

Para kuli ini adalah pekerja di perkebunan tembakau yang datang dari Tiongkok, yang telah diberikan hingga 200 orang oleh perkebunan tembakau di dekat situ. Ini atas permintaan inspektur. Gunanya untuk membawa barang-barang perlengkapan pasukan. Dengan rotan mereka mengikat barang-barang dan dipanggul menggunakan tongkat bambu.

Distribusi muatan menuntut banyak pengawasan dan perhatian pada para kuli, meskipun dibayar ekstra untuk ini, mereka datang atas perintahkan tuan tanah dan ini atas permintaan inspektur. Pekerjaan mereka biasanya hanya menanam tembakau. Tidak mengenakan mantel.

Mereka tidak menunjukkan minat yang besar untuk pekerjaan mengangkut barang-barang ini, jika seseorang merasa sudah terlalu berat akan bebannya, maka ia kurangi dan tinggalkan. Dengan harapan teman-teman di belakang akan membawanya.

Diperlukan kewaspadaan besar untuk menjaga mereka agar tetap fokus pada beban bawaan mereka hingga tujuan dan tak ada perhentian terlalu lama.  Dengan wajah yang marah dan ancaman yang besar dengan senjata di tangan, mereka akan menaikkan tangan dan mengakhiri semua gerundelan dan ocehan mereka. Lalu berjalan maju sambil membawa  beban.

Siang hari pukul 2, pasukan dan semua koper sudah siap untuk pawai. Jumlah pasukan masih ditambah lagi dari Kapten (Djoeragan), beberapa pelaut, petugas polisi bersenjata, sehingga kekuatannya telah berkembang menjadi lebih dari 240 orang ketika dia meninggalkan Laboean.

Ini belum termasuk barisan prajurit Sultan yang berkisar 30 orang yang mengenakan pakaian khusus dan dipimpin oleh seorang sersan tentara. Hampir semua dari mereka dipersenjatai dengan senapan pendek dan ini adalah senjata bagi para penjaga Sultan. Mereka menggunakan back-loading rifles, yang dikenal sebagai senapan Kuhn.

Detasemen kecil yang dikirim dari Letnan Ponstijn dari kapal telah meninggalkan Laboehan pukul 2 malam. Arakan perjalanan pada malam hari tidak istimewa. Malam dingin. Kuli tak punya apa-apa selain membawa peralatan memasak, dan tidak perlu mendesak pemandu untuk menyalakan obor lebih terang di depan kami. Patuh memandang obor mereka yang melambai melambaikan, dan memberi aba-aba dengan suara tertahan di beberapa tempat.

Tidak mengerti mengapa  mereka tiba-tiba berjalan lari begitu cepat. Kami diberitahu berhati-hati di sini. Ketika ditanya mengapa, mereka menjawab  : “ada matjan toean.” Ini membuat kami cukup mengerti mengapa harus bergegas.

Ketika pagi mulai menyingsing dan kabut mulai menghilang, kami baru bisa melihat tanah tempat kami berada. Tempat yang kami rasakan dengan kaki selama pawai, tetapi karena kegelapan malam, kami tidak bisa melihat dengan mata kami.

Sumber : Koran De Sumatra Post tanggal  20-08-1915

 

Bersambung