Perang Sunggal, Sebuah Kesaksian Mata (Bagian 10)

by
ilustrasi perkampungan Karo di tepi sungai
ilustrasi perkampungan Karo di tepi sungai

Kisah bersambung ini dituliskan dari sisi mata seorang tentara Kolonial Belanda yang didatangkan dari Riouw (Riau) ke Deli (Medan) untuk menghadapi gejolak yang terjadi.

Koran De Sumatra Post menerbitkan cerita bersambung dengan 34 bagian dengan judul : “Van Riouw naar Deli in 1872. Door een ooggetuige.” Kisah ini diterbitkan dari tanggal 19 Agustus 1915 hingga 25 September 1915.

Orang-orang Karo di Sunggal menolak tanah-tanahnya direbut oleh Kesultanan Deli dan Pangeran Langkat, dimana kedua pemimpin ini meminta bantuan tentara Kolonial Belanda yang juga punya kepentingan untuk perluasan areal perkebunan milik orang-orang Eropah.

Sambungan dari Bahagian Kesembilan.

Koran De Sumatra Post tanggal 30-08-1915.
Koran De Sumatra Post tanggal 30-08-1915.

Dari Riau ke Deli pada tahun 1872.  Sebuah  kesaksian mata.

Pada tanggal 19, berangkat 20 orang  menemani orang sakit dan terluka,  yang diterima oleh dokter sipil Sandeis di Arendsburg dan lalu dibawa melalui sungai ke Kapal Laut De Banka, di mana petugas kesehatan Keijzer berada dan ditugaskan untuk perawatan lebih lanjut. Di dekat daerah perkebunan yang terakhir, penembak berkebangsaan Eropa bernama Agelink meninggal. Letnan Lange sementara tetap tinggal di rumah dokter sipil  untuk perawatan.

Pada hari itu asisten residen Siak dan Pantai Timur Sumatra, Locker de Bruijne, tiba di Timbang-Langkat untuk melihat keadaan dan mendiskusikannya dengan komandan pasukan, setelah itu pejabat itu kembali pada hari yang sama ke Laboean.

Koran De Sumatra Post tanggal 30-08-1915.
Koran De Sumatra Post tanggal 30-08-1915.

 

17. Ke Rantau-Betul dan kembali.

Tidak ada kabar yang terdengar tentang pemberontak yang melarikan diri. Menurut desas-desus, Datoe Dalil dan Ketjil dengan para pendukungnya, telah melarikan diri ke Rantau-Betoel, yang berada di barat laut daerah itu, tempat yang akan menjadi tempat pertahanan mereka sepenuhnya. Laporan lain melaporkan bahwa tempat itu telah ditinggalkan.

Pada tanggal ini, ditarik pasukan dari 75 pasukan bayonet, terdiri dari 30 orang dari angkatan laut dan 45 tentara, berikut 2 mortir dan Letnan Van Meurs dan Ponstijn ditugaskan.  Letnan laut Kempe, sebagai perwira senior adalah komandan ekspedisi ini, yang juga didukung oleh  Inspektur Kroesen. Kedatangan di dekat Rantau-Betoel tidak menghasilkan pertemuan apa pun yang layak disebut. Ketika mereka tiba di sekitar tempat itu, pasukan itu berhenti sementara Inspektur Kroesen melanjutkan perjalanan dilengkapi dengan bendera putih.  Tujuannya untuk memeriksa apakah kampung itu ditinggalkan atau ditempati oleh musuh.

Jika kampung dihuni, mungkin perempuan dan anak-anak di dalamnya akan melarikan diri bila melihat pasukan muncul.  Untuk mencegahnya, pejabat itu datang tanpa pengawalan memasuki kampung, hanya ditemani oleh seorang tukang pukul.  Dan informasi yang didapat akan diberi tahu kepada pasukan yang menunggu.

Setelah menunggu beberapa lama, kode disampaikan dari tempat itu  dan  pasukan bergerak ke dalam kampung. Ternyata kampung itu dibentengi dengan kuat namun telah ditinggalkan. Seandainya kampung itu diduduki dan dipertahankan dengan baik,  mungkin pertempuran akan menelan banyak korban bagi kita. Lebih dari pertempuran di Timbang-Langkat.

Kanal kering kecil, yang tanahnya telah dikeluarkan, mengelilingi seluruh kampung dalam bentuk persegi panjang yang luas, dimana satu sisi panjang dibentuk oleh Sungai Mentjirim, dan di sepanjang tepiannya ada pagar pembatas dari pohon yang menutupi sungai dari sisi lain yang didukung oleh sebuah rumah kayu kecil, sangat kuat.

Di dalam alun-alun, hampir semua rumah kampung terletak di sepanjang jalan setapak yang memberi akses ke pusat kampung. Ada dua rumah besar yang berdiri berdampingan, dikelilingi oleh  pagar yang tinggi, yang terdiri dari batang pohon runcing tebal yang terikat kuat  berbaris.  Dan baris bambu doerri (bambu duri) melintang yang diikat rotan. Seluruh ini benar-benar tersembunyi dari pandangan di sekitarnya, ditutupi oleh batang tebu tinggi yang ditanam. Di antara rumah-rumah dan juga di luar perkampungan, ada ladang djagong (jagung) yang tumbuh tinggi. Semua rumah ditinggalkan, tetapi berisi sejumlah besar padi.

Seekor kambing putih diikat ke pohon dan beberapa bendera putih terpasang pada rumah-rumah yang telah ditinggalkan oleh penduduk pengungsi sebagai tanda sikap damai mereka,  yang mana bala bantuan yang kuat sedikit.

Pangeran Langkat, bersama beberapa pasukan tambahan dengan perahu, telah berada di daerah terdekat, memasuki jalan yang sama mendekati kami.

Sementara sejumlah penjaga berjaga di sepanjang perbatasan kampong, pasukan di dalam kampong beristirahat dan makan.

Padi sebanyak mungkin dibawa oleh kuli-kuli sebelum seluruh kampung  menjadi abu. Sangat disayangkan nasib  semua rumah indah yang tampak begitu kokoh dibangun. Seorang tentara pribumi, yang sebelum diberi perintah, telah membakar beberapa rumah, dan akhirnya  dihukum karena itu. Ini menyebabkan pasukan bergegas meninggalkan kampung. Pukul dua siang, perjalanan pulang menuju ke Timbang-Langkat, tempat yang sudah bisa dicapai saat matahari terbenam.

Pada tanggal 20, Djaksa muncul dengan pasukan pembantu dari Deli, yang berangkat dari Soenggal hingga menutup pintu masuk ke Timbang-Langkat, sehingga tidak mungkin bagi musuh untuk melarikan diri ke sisi itu.

Djaksa berjalan dengan pasukannya dari Soenggal (dua hari pawai ke timur) menuju benteng melalui hutan yang bisa membuat tersesat. Mungkin itu akan lebih aman dalam menjaga diri dari bahaya langsung dari Kadjoeroean Selesse, salah satu kepala paling berpengaruh di daerah-daerah itu, yang  putra-putranya berperang melawan kami. Rombongan sampai hari itu.

Semua pasukan yang datang juga diperiksa oleh petugas kesehatan, tetapi ternyata 21 di antaranya seperti tentara dan pelaut  menderita luka dan lecet di kaki. Ternyata tidak cocok untuk pergi dengan sepatu lars ke Soenggal karena jarak maupun kesulitan yang ditemui di sepanjang jalan tidak diketahui dengan baik. Dokter memutuskan untuk mengarahkan mereka ke Arendsburg.

Pada tanggal 21, detasemen ini berangkat di bawah komando Letnan Mettman, begitu juga Letnan Verhegge, kembali ke benteng dengan perahu (prauw). Sementara Letnan Kempe  memimpin perjalanan konvoi pasukan.

Koran De Sumatra Post tanggal 30-08-1915.
Koran De Sumatra Post tanggal 30-08-1915.

 

18. Benteng Timbang-Langkat dibakar dan ditinggalkan.

Lambat laun, berbagai alasan mulai muncul untuk membuat tinggal lebih lama di Timbang-Langkat tidak begitu diinginkan. Benar, orang dan barang bisa  berteduh di bawah atap, tetapi tidak cukup  memadai.

Barang-barang dan perbekalan makanan sebagian telah  mendapatkan tempat yang kering di bawah rumah, sementara sebagian lainnya telah disimpan di bawah terpal penutup amunisi artileri, sehingga perbekalan makanan atau ransum  tidak menjadi basah dan rusak oleh hujan.

Orang-orang bisa menemukan rumah dan tidur di bawah atap, tetapi ruangan dalam tidak memungkinkan semua orang memiliki tempat tidur yang luas. Terlalu sempit, sehingga banyak di antara mereka, terutama penduduk asli, lebih suka  tidur beralas tikar di rumput  pada malam hari, yang tentu saja tidak sehat, terutama karena tanah yang lembab.

Akomodasi para perwira memiliki penampilan yang  lain  dan bila dilihat dari kejauhan, memiliki beberapa kemiripan dengan  Waijang Cina (teater). Di ruangan  persegi dengan dinding sessak (sasak) dan berlantai kayu yang berada  di lantai paling atas, para perwira memilih berdiam di sini, di atas kediaman para prajurit. Udara, cahaya, dan pandangan yang tidak terhalang lagi oleh penghilangan seluruh sekat dinding.

Sebuah bambu yang sangat primitif, sengaja dibuat dan ditempatkan di luar di depan rumah, berfungsi untuk memanjat (tangga) tempat tinggal  ini, sehingga dia bisa mencapai ruangan  yang berada di ujung atas bambu.  Karena hujan dan aktifitas  yang sibuk, kolam lumpur besar telah terbentuk  di mana ujung bawah tangga berada, dan setiap kali seseorang memanjatnya, bagian bawah bambu akan jatuh terbenam dan terbenam lebih dalam dan lebih dalam, sehingga tangga akan menjadi lebih pendek dan lebih pendek.

Hingga akhirnya tangga ditarik ke atas tegak dan diikatkan ke lantai atas dengan tali.  Orang bisa berbahagia, setelah dengan tangan dan kaki membuktikan dengan konstruksi yang lemah, dapat mencapai anak tangga teratas.

Keceriaan terus-menerus hadir seperti piknik harian, lantai berfungsi sekaligus sebagai meja, kursi, dan tempat tidur, menjadikan rumah ini pengalaman menginap yang nyaman  dan menyenangkan. Tidak ada yang lebih menyenangkan ketika  orang-orang memanggil di sungai, di mana Letnan laut Mettman telah mengambil bagian dari tepi sungai dan telah mencapai kedalaman sungai yang jauh melebihi rata-rata, sehingga  yang lainnya tanpa takut berjalan dengan semangat ke dalam air dan perlahan-lahan ingin pergi lebih dalam hingga  ke leher.

Halaman, yang membentuk ruang bagian dalam benteng, secara bertahap oleh hujan dan lalu-lalang begitu banyak orang di genangan lumpur besar dan menjadi  kubangan sumber kotoran besar  sementara sapu tidak membantu. Terlebih lagi, sejumlah besar kuli yang berada di dalam benteng membuang sembarangan semua sampah, seperti  kelebihan beras, limbah dari ayam dan kambing yang disembelih.  Sehingga pada malam hari tidak dapat dihindari bahwa mereka juga mencemari ruangan bagian dalam rumah dengan kaki penuh lumpur dan kotoran sehingga semua upaya untuk menjaga kebersihan  ruangan tidak dapat dilakukan.

Pasukan bantuan dari Deli dan Langkat, yang kini tidak melakukan kegiatan apa-apa, sekarang, berada di bawah perlindungan benteng, datang  menetap di sekitar mereka  dan hidup  bersama pasukan ekpedisi. Total sekarang lebih dari  700 orang harus diberi makan setiap hari, sehingga pasokan beras turun tajam, terlepas dari sejumlah besar sawah yang telah ditemukan.

Ini mendorong kami untuk menyelamatkan diri dan menyingkir dari ketidaknyamanan dan bau tidak enak itu, yang kini mulai menyebar dan  merugikan kesehatan. Tidak  ada cara yang lebih baik selain meninggalkan Timbang-Langkat untuk selamanya.

Pangeran Langkat kemudian akan terus  menduduki tempat itu bersama pengaruhnya.

Pada pagi buta di tanggal 22 Mei sekitar pukul  4 pagi, pasukan dibangunkan untuk mempersiapkan semuanya lebih awal untuk perjalanan pawai.  Setelah semua barang diikat dan diatur untuk dipanggul masing-masing dua orang, pasukan dan kuli keluar dari benteng dan berbaris  di luar.

Sekelompok pelaut melepas pagar-pagar dan mengumpulkannya hingga menjadi kumpulan kayu besar, yang semuanya dibakar begitu juga dengan dua rumah di tengah benteng.

Itu adalah cara terbaik untuk benar-benar membersihkan benteng itu. Segera bekas kediaman menyala dalam api besar dan tercipta kembali  suara keras derit kayu terbakar. Dan pasukan yang berjalan berbaris menuju Soenggal menyaksikan kejadian itu.

Sumber : Koran De Sumatra Post tanggal 30-08-1915.

 

Bersambung ke Bahagian Kesebelas.