Penyair TariganU Berpulang

by
Tariganu (Usaha Tarigan)
Tariganu (Usaha Tarigan)

Mari kemari banting kemudi
Ikut aku menghadap matahari!
(Menghadap Matahari, 1981, Tariganu)

 

Tariganu atau Drs. Usaha Tarigan lahir di dataran tinggi Tanah Karo (Karolanden), 9 Oktober 1938. Saat ipetelayoken (upacara mandi pertama di sungai waktu berusia 7 hari) diberi gelar Usahakita, merga Tarigan, bere Ginting, kempu Purba, binuang Sinulingga, kampah Ketaren, soler Sitepu.

Pendidikan terakhir di Universitas Peking (RRC) dan Universitas Indonesia (UI). Tariganu yang juga pelukis ini, menulis puisi sejak tahun 50an, menerjemahkan puisi Chairil Anwar dan Amir Hamzah ke bahasa Tiongkok, pernah tinggal di Tiongkok saat menjelang zaman peralihan terjadi di Indonesia. Sempat mengajar sastra Cina di UI dan mendirikan Yayasan Bengkel Sastra ’78.

Sejumlah tulisannya pernah dimuat dalam antologi puisi tunggal maupun bersama. Antara lain : “Kemudikan Hari Menjadi Cerah,” Balai Pustaka (1964). “Kumpulan Sajak-sajak Amir Hamzah” dan “Kumpulan Sajak-sajak Chairil Anwar” diterjemahkan oleh Tariganu ke dalam bahasa Tionghoa (Yayasan Kebudayaan Jamrud, 1965), “Anggrek Hitam” (1971). “Elang” dan “Menghadap Matahari”, Yayasan Bengkel Seni’78 (1981).

“Tembang Negeri Hijau” kumpulan bersama Virga Bellan dkk (1986), “Ritus Warna Ritus Kata” antologi bersama Adjim Arijadi dan Ajammudin Tifani, (1994). Antologi “Kami Bicara : Kembang Setaman Prosa dan Puisi,” LBH Jakarta (2006).

Foto Tariganu bersama para tokoh seniman Progresip Revolusioner Bumi Tarung. Dilihat dari kiri ke kanan : Toga Tambunan, Penyair. Djoko Pekik, Maestro Pelukis. Amrus Natalsya, Maestro pematung. Tariganu, Penyair yang juga Pelukis. Muhammad Tempel Tarigan, Mantan Wartawan Merdeka Grup. Salim, Pelukis. Foto diambil sebelum pameran tunggal Misbah Thamrin dibuka di Galeri Seni Jakarta, 2015. Sumber foto dari FB mama Muhammad Tempel Tarigan.
Foto Tariganu bersama para tokoh seniman Progresip Revolusioner Bumi Tarung. Dilihat dari kiri ke kanan :
Toga Tambunan, Penyair.
Djoko Pekik, Maestro Pelukis.
Amrus Natalsya, Maestro pematung.
Tariganu, Penyair yang juga Pelukis.
Muhammad Tempel Tarigan, Mantan Wartawan Merdeka Grup.
Salim, Pelukis. Foto diambil sebelum pameran tunggal Misbah Thamrin dibuka di Galeri Seni Jakarta, 2015.
Sumber foto dari FB Muhammad Tempel Tarigan.

Tariganu juga menulis lebih dari 500 puisi dalam bahasa Karo yang diterbitkan dalam buku Pincala (Hasta Mitra, 2004) dan Bunga Dawa (Yayasan Bengkel Seni’78, 2010).

Musikalisasi puisi-puisi Tariganu juga sudah dilakukan. Diantaranya berjudul Pincala, Leng-leng Keleng, I stasiun Semut, Karo Simalem, Kuakap, Rombak-ombak, Katanduana, Ralep-Alep dan lain-lain.

Tariganu, sang penyair, telah dipanggil Sang Pencipta pada tanggal 02 April 2019, di usia 81 tahun, pada pukul 20.00 WIB di RS. Polri Kramat Jati. Berita duka yang membuat banyak orang-orang merasa kehilangan.

Selamat jalan menuju keabadian. Lurus menuju Sang Khalik.

Pincala  yang tertinggal tetap berkicau menyuarakan suara hati KINIKARON dan suara hati MANUSIA-MANUSIA MERDEKA !

……..
Sebut kerina bintang-bintang
deleng-deleng meganjang
lau simaler page simole
kerangen kendit simelang
je kap aku
rende ngogeken puisi
puisi pincala bunga dawa
cinta langit cinta doni.

(puisi “Je Aku,” oleh Tariganu)