Penangkapan Belasan Pemuda Karo Tahun 1926

oleh

Perlawanan PKI bersama Serikat Islam terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda antara tahun 1926 sampai 1927 terjadi di Batavia, Tangerang, Banten, Priangan, Solo, Banyumas, Pekalongan, Kediri, Surakarta. dan Sumatra Barat. Pemberontakan ini akhirnya dihancurkan dengan brutal oleh penguasa kolonial.

Beberapa catatan menyebutkan, akibat pemberontakan menemui kegagalan, sekitar 13.000 orang ditangkap di seluruh Hindia Belanda. Beberapa orang langsung ditembak. 5000 orang ditempatkan dalam penahanan untuk pencegahan. Lalu, 4500 orang dipenjara setelah pengadilan. Dan 1300-an orang dibuang ke Boven Digul, Papua.

Tidak banyak diketahui, apakah di Karo juga ikut melakukan perlawanan fisik pada tahun itu. Tapi imbas pemberontakan melawan kolonialisme Belanda itu ada terhadap tokoh-tokoh pemuda Karo.

Sepuluh tahun sesudah gugurnya Panglima Nabung Surbakti (pemimpin Simbisa saat perang Sunggal hingga perang Pa Garamata) bermuncullan pemuda-pemuda Karo yang ingin kebebasan dan berpikiran maju.

Sekitar tahun 1917, muncul nama Nerih Ginting, Pa Raja Nggengken Barus, Natangsa Sembiring, Nerus Ginting. Mereka sudah dekat dengan organisasi Serikat Islam Cabang Sumatera Timur yang dipimpin Mhd. Samin.

Tokoh-tokoh ini masih merekam dalam ingatan akan perang panjang dari 1872 hingga 1907 yang dilakukan para orang tuanya. Dari Perang Sunggal, perang Tanduk Benua, perang Tanjung Beringin, Perang Liang Muda, perang Sukajulu, perang Seberaya, perang Kabanjahe, perang Lingga Julu dan perang Batukarang menahan Belanda agar tidak menjajah Taneh Karo.

Datuk Badiuzzaman Surbakti ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Pa Garamata (Kiras Bangun) tertangkap, Panglima Nabung Surbakti gugur, Pa Tolong akhirnya dibuang ke pulau Jawa. Para Simbisa harus membayar denda kepada pemerintah Belanda agar bisa kembali pulang.

Akibat pemberontakkan di Banten dan Sumatera Barat, maka terjadi penangkapan besar-besaran terhadap anggota PKI dan Sarekat Islam. Termasuk di dataran tinggi Karo. Belanda tak ingin bibit anti kolonialisme membesar.

Walaupun belum berupa gerakan fisik, tapi Belanda sudah menangkap pemuda-pemuda seperti : Nerus Ginting Suka dan Nolong Ginting Suka yang dianggap sebagai pimpinan. Mereka dibuang ke Boven Digul. Saat itu Nolong Ginting Suka berusia sekitar 24 tahun. Keduanya diasingkan ke Boven Digul (Papua) tahun 1929.

Koran De Sumatra Post bertanggal 06-02-1929 memberitakan keputusan pengasingan Nolong Ginting Suka ke Digul.

“Dengan alasan yang sama seperti dalam keputusan sebelumnya Si Nolong Ginting Suka, berusia sekitar 24 tahun, mantan penulis dari Melta & Co di Kabandjahe, subdivisi Karolanden dan penulis Weltevreden, propagandis dan pemimpin PKI Karolanden untuk diasingkan ke Boven Digul.”

Ikut juga ditangkap seperti : Leman Sebayang dan Lengkar Perangin-angin dibuang ke Cilacap. Sedangkan : Koda Bangun (anak Panglima Kiras Bangun), Nitipi Bangun, Tinggeran Sitepu, Batang Bangun, Nembah Bangun (anak Panglima Kiras Bangun), Radu Sembiring, Pa Dumange, Nerih Ginting, Natangsa Sembiring, Pa Raja Nggengken Barus ditangkap pemerintah Belanda. Lalu ada yang dipenjarakan di rumah penjara Kabanjahe. Ada juga ditahan di penjara Arnhemia (Pancur Batu).

Penangkapan belasan pemuda-pemuda Karo ini membawa era baru. Bangkitnya rasa nasionalisme pemuda-pemuda Karo melawan Belanda dan keinginan kuat berjuang melalui media cetak (koran), organisasi dan partai. Bukan lagi sepenuhnya melalui perang fisik. Sejak itu ide dan bentuk-bentuk pergerakan telah menjadi pengetahuan umum.

Generasi baru dari nasionalis radikal seperti Sukarno sebagai tokohnya, berikutnya muncul di gelanggang pergerakan. Sukarno membesarkan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) pada tahun 1927. Sukarno terpanggil untuk meneruskan perjuangan melawan kolonial Belanda.

Dalam bukunya, Sarinah, tahun 1947, Soekarno mengatakan, “Imperialisme Belanda pada waktu itu baru saja mengamuk tabula rasa di kalangan kaum Komunis. Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyat dipukulnya dengan hebatnya, ribuan pemimpinnya dilemparkannya dalam penjara dan dalam pembuangan di Boven Digul. Untuk meneruskan perjuangan revolusioner, maka saya mendirikan Partai Nasional Indonesia.”

Sumber bacaan :

1. Karo dari Zaman ke Zaman oleh Brahma Putro
2. Koran “De Sumatra Post,” 06-02-1929