Pemberontakan 4.000 Aron di Sumatera Timur (1942) – Bahagian 1

oleh
Menanam adalah Melawan (sumber foto : http://menyalakanapi.tumblr.com/)

 

Dataran tinggi Karo baru berhasil dimasuki oleh tentara Belanda pada tahun 1904. Dan baru benar-benar tunduk pada tahun 1907.

Pada tahun 1926, perjuangan secara politik terjadi di dataran tinggi Karo. Di tahun itu, pemberontakan terjadi di mana-mana melawan Belanda, seperti di Banten dan Sumatera Barat. Terjadi penangkapan besar-besaran terhadap anggota PKI dan Sarekat Islam. Termasuk di dataran tinggi Karo. Belanda tak ingin bibit anti kolonialisme membesar.

 

Gerakan Politik Lahir di Karo

Walaupun belum berupa gerakan fisik, tapi Belanda sudah menangkap pemuda-pemuda seperti : Nerus Ginting Suka dan Nolong Ginting Suka yang dianggap sebagai pimpinan. Mereka dibuang ke Boven Digul (Papua). Saat itu Nolong Ginting Suka berusia sekitar 24 tahun. Keduanya diasingkan ke Boven Digul tahun 1929.

Ikut juga ditangkap seperti : Leman Sebayang dan Lengkar Perangin-angin dibuang ke Cilacap. Sedangkan Koda Bangun (anak Panglima Kiras Bangun), Nitipi Bangun, Tinggeran Sitepu, Batang Bangun, Nembah Bangun (anak Panglima Kiras Bangun), Radu Sembiring, Pa Dumange, Nerih Ginting, Natangsa Sembiring, Pa Raja Nggengken Barus ditangkap pemerintah Belanda. Lalu ada yang dipenjarakan di rumah penjara Kabanjahe. Ada juga ditahan di penjara Arnhemia (Pancur Batu).

Penangkapan belasan pemuda-pemuda Karo ini membawa era baru. Bangkitnya rasa nasionalisme pemuda-pemuda Karo melawan Belanda dan keinginan kuat berjuang melalui media cetak (koran), organisasi dan partai. Bukan lagi sepenuhnya melalui perang fisik. Sejak itu ide dan bentuk-bentuk pergerakan telah menjadi pengetahuan umum.

Seorang tokoh pergerakan nasional yang berhasil menyingkirkan dirinya ke Kota Medan pergi ke Berastagi. Ishak Kesuma secara diam-diam menggerakkan pembentukan partai Pendidikan Nasional Indonesia cabang Tanah Karo. Gerakan Pendidikan Nasional Indonesia yang menggunakan asas non koperasi ini terus menerus diintai oleh Dinas Intelijen Kepolisian Belanda atau yang dikenal dengan sebutan PID.

Pada pertengahan tahun 1939, pimpinan Pendidikan Nasional Indonesia cabang Tanah Karo ditangkap. Tama Ginting dipenjarakan selama 3 bulan di penjara Kabanjahe. Keras Surbakti dan Pa Tolong Manik dibuang ke pulau Jawa dan dipenjara di Cimahi.

Tahun 1942 sesudah tentara Jepang menaklukan kekuasaan Belanda di Indonesia, Keras Surbakti dan Pa Tolong Manik dibebaskan dari penjara dan kembali ke Medan. Bersamaan dengan itu berdirilah GERINDO (Gerakan Rakyat Indonesia) di Berastagi. GERINDO melakukan asas koperasi. Tokoh-tokoh ini memikirkan sikap bantuan kepada tentara Jepang dalam menaklukan Belanda bila saatnya tiba.

 

Barisan Tentara “F”

Setelah 37 tahun Belanda berkuasa di dataran tinggi Karo, pada tanggal 8 Desember 1941 meletuslah perang Asia Timur Raya. Tiga setengah bulan bala tentara Jepang melancarkan serangannya ke Asia Tenggara.

Pada tanggal 14 Maret 1942 Jepang berhasil menduduki kota Kabanjahe. Serangan tentara Jepang ke dataran tinggi Karo ini dilakukan melalui Seribudolok tanpa perlawanan berarti dari pihak tentara Belanda.

Pasukan Komando Territorial Sumatera pimpinan Mayor Jenderal R.T. Overakker, yang pada tanggal 9 Maret telah memindahkan markasnya ke Kabanjahe, ternyata tak mampu menahan arus serangan tentara Jepang itu. Berikutnya pada tanggal 24 Maret 1942, Tigabinanga dan Kutabuluh Berteng jatuh dan tentara Belanda melarikan diri ke lembah Alas.

Kedatangan tentara Jepang ini dibantu oleh anggota Barisan Fuziwara Kikan yang terkenal dengan Barisan Tentara “F” yaitu sejenis pasaukan kolone kelima yang bertugas membantu pasukan tempur Jepang. Pada umumnya anggota Barisan Tentara “F” ini adalah anggota GERINDO. GERINDO melakukan asas koperasi atau kerjasama dengan pihak Jepang.

Para pimpinan Barisan Tentara “F”di Tanah Karo antara lain adalah :

Komandan adalah Meriam Ginting. Dan Wakil Komandan adalah Kolah Ginting.
Di wilayah Kesibayakan Lingga adalah : Geliren Sinulingga, Baleng Sinulingga.
Di wilayah Urung Telukuru : Nabari Sinulingga
Untuk Urung XII Kuta adalah Busan dan Jauling
Urung Empat Teran : Patumbak dan kawan-kawan.

Untuk Urung Lima Senina adalah K. Bangun, P. Bangun, Benana Bangun, Nembah Bangun, Borong Bangun.
Untuk Urung Tiganderket adalah Tampe Malem Sinulingga, Gandil Bangun dan Turah Perangin-angin.
Di Kesibayakan Barusjahe dipimpin oleh Liling Sitepu, Norong Sitepu, Ndia Sembiring dan Pajak Sitepu.

Di Kesibayakan Suka dipimpin oleh R.M. Pandia, M.S. Depari, K. Depari, Djaga Depari dan K. Sinulingga.

Di Kesibayaken Sarinembah dipimpin oleh Keterangan Sebayang dan kawan-kawan.

Untuk menghancurkan kekuatan Belanda di Tanah Karo, pihak Jepang hanya mendapat perlawanan di Siuram-uram, di dekat kampung Sarinembah. Seorang tentara Jepang tewas dan dikuburkan di Siuram-uram.

Tentara Belanda kocar-kacir melarikan diri. Hal ini membuat rakyat sekitarnya memperoleh keberanian melihat ketakutan para tentara Belanda. Senjata-senjata dan perlengkapan tentara Belanda itu dirampas oleh penduduk. Mulai timbul keberanian pada rakyat Karo. Dan secara diam-diam mereka menyembunyikan senjata yang dirampas itu.

Atas anjuran salah seorang anggota PNI bernama Pa Mantasi Purba, maka senjata-senjata itu disembunyikan oleh simpatisan-simpatisan PNI di kampung Kandibata. Kelak senjata-senjata itu dalam Perang Kemerdekaan dipergunakan untuk menyerang Jepang di Sipiso-piso oleh pemuda Kandibata.

Begitu Belanda terusir dari dataran tinggi Karo, Jepang mengijinkan rakyat untuk mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kenyataan ini disambut dengan penuh gembira, seolah-olah Indonesia telah diambang pintu kemerdekaan.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh Pendidikan Nasional Indonesia cabang Tanah Karo untuk mengembangkan organisasi gerakannya dengan jalan membentuk ranting dan anak ranting sampai ke desa-desa. Beribu-ribu penduduk masuk menjadi anggota Pendidikan Nasional Indonesia. Kantor Pendidikan Nasional Indonesia cabang Tanah Karo berdiri di depan kantor Polisi Berastagi dan hampir setiap malam mengadakan rapat penerangan.

Pada tanggal 3 April 1942, Pendidikan Nasional Indonesia cabang Tanah Karo mengerahkan massanya dari Berastagi berjalan kaki ke Kabanjahe. Sebanyak 3.000 orang menghadap pada komandan bala tentara Jepang. A. Kesuma dihunjuk sebagai pembicara. Mereka mengucapkan terima kasih telah dapat mengusir pemerintah dan militer Belanda dan bersedia bekerjasama dengan tentara Nippon (Jepang).

Sebagai penterjemah, Rumpia Bukit menyampaikan rasa terima kasih dari tentara Jepang dan Jepang menganjurkan supaya rakyat rajin bekerja di ladangnya dan dapat membantu bala tentara Jepang, serta perperangan Asia Timur Raya lekas dimenangkan oleh Nippon.

 

Serikat Tani Indonesia

Pemerintah Pentadbiran Militer Jepang yang dikepalai oleh seorang Gunseibu disusun dengan berkedudukan di kota Berastagi. Para pegawai yang bekerja dari sejak zaman Belanda diperintahkan terus bekerja seperti biasa, demikian juga para Sibayak tetap memegang Kepala Pemerintahan di wilayahnya dengan hak dan kedudukan yang diperolehnya dari jaman penjajahan Belanda.

Penyerahan kekuasaan oleh bala tentara Jepang kepada para Sibayak-sibayak ini kurang dapat diterima oleh Barisan Tentara “F” yang pada umumnya terdiri dari pemuda-pemuda GERINDO, tapi belum memperoleh jalan untuk menentangnya.

Tiada beberapa lama kemudian Barisan Tentara “F” dibubarkan dan disusul pula dengan pembubaran partai-partai politik. Kini tentara Jepang mulai menunjukkan belangnya. Bahkan adanya pelarangan pengibaran bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sampai waktu yang tidak ditentukan.

Kekecewaan ini membuat para pemuda mencari wadah untuk mengorganisir pergerakkan. Serikat Tani Indonesia menjadi wadah dari anggota-anggota GERINDO untuk meneruskan pergerakkan.

Melalui organisasi tani ini, disusun program-program untuk membela rakyat petani. Para pengurusnya antara lain : Jacub Siregar, Saleh Umar, Kite Purba, Mabal Purba, Usin Surbakti, Kolah Tarigan, R.M. Pandia, Meriam Ginting dan M.S. Depari. Pada awal Juni 1942 kegiatan organisasi ditingkatkan, antara lain Komite-komite Perladangan yang ada di tiap Urung, Perbapaan, diganti dengan Gerakan Aron.

Dengan demikian Serikat Tani Indonesia ini telah beralih menjadi Gerakan Aron Sumatera Timur. Pengurus Gerakan Aron 3 Urung di Deli Hulu, antara lain adalah :

  1. Gerakan Aron Urung Serbanyaman dipimpin oleh Ngumban Surbakti, Usin Surbakti, Ng. SItepu, K. Sinulingga dengan dibantu oleh D. Tarigan , Djampi Kaban, Tempah Sembiring, dan Tangkep Ginting.
  2. Gerakan Aron XII Kuta dipimpin oleh Kite Purba, Mabai Purba, Ngasil Sinuhaji, Pa Ngendik, Tek Karo-Karo, dengan dibantu oleh Rante Sembiring, Mere Karo-Karo, Gumba, Nalemen Karo-karo dan lain-lain.
  3. Gerakan Aron Sukapiring dipimpin oleh Kenaken Ketaren, Pehi Sembiring, Bangun Perangin-angin, Nimbang Ginting, dengan dibantu oleh Nokoh Sembiring, Pa Pidah dan Teras Ginting.

Sebagai pimpinan dari Gerakan Aron ketiga Urung Deli Hulu ini adalah Kite Purba sebagai Ketua. Dan Terang Ketaren sebagai Ketua II. Mersik sebagai Sekretaris. Teras Ginting dan Bajuk sebagai Bendahara. Tek Karo-Karo dan Ng. Sitepu sebagai Propaganda. Ngasil Sinuhaji dan Tempah Sembiring sebagai pembantu-pembantu.

Dalam melancarkan operasinya, Gerakan aron diatur dan disusun dengan pengerahan tenaga Aron Belin dan Aron Kitik. Tenaga Aron Belin (Besar) dikerahkan untuk seluruh daerah Hoofd Perbapaan. Dan tenaga Aron Kitik (Kecil) dikerahkan dalam satu kampung atau dua kampung.

Dipilihnya nama ARON adalah sebagai penyamaran kepada penguasa Jepang. Pengertian ARON di daerah Karo adalah kumpulan sekelompok orang-orang petani, yang bekerja secara gotong-royong dalam mengerjakan tanah perladangan atau persawahan secara bergiliran.

Dengan ber-ARON ini orang mudah berkumpul tanpa dicurigai, sebab kelihatanya hanya sebagai petani saja. Tetapi sesungguhnya kegiatan Aron ini telah diorganisir sedemikian rupa, sehingga kegiatan ke dalamnya bertujuan membina kesadaran nasional dan memupuk rasa kebangsaan. Sementara kegiatan keluarnya membela para petani dalam memiliki kembali tanah rakyat yang telah dirampas oleh Raja-raja atau sekurangnya dapat penguasai tanah perkebunan yang tidak ditanami tembakau kembali.

Di dataran tinggi Karo, Gerakan Aron ini dipimpin oleh Kolah Tarigan, Meriam Ginting, Juara Ginting, Koda Bangun, Jauling, R.M. Pandia, M.S.Depari, Liling Sitepu, Norong Sitepu, Ndia Sembiring, Mohd. Nabari Sinulingga, Turah Perangin-angin dan lain-lain. Kemudian ke daerah Langkat Hulu, Gerakan Aron tersebut dipimpin oleh Jumbak Perangin-angin beserta teman-temannya.

Di dataran tinggi Karo, kegiatan keluar ditonjolkan untuk menguasai kembali tanah rakyat yag telah dikuasai oleh para Sibayak-sibayak beserta keluarganya dan menyerahkan kepada pemiliknya. Tanah atau persawahan yang direbut Aron ini adalah tanah persawahan yang telah dikuasai oleh para Sibayak-sibayak yang tadinya diperolehnya sebagai hak istimewa dalam setiap pembukaan proyek persawahan,

Aron di dataran tinggi Karo pernah diserang saat sedang bekerja menguasai sawahnya kembali. Tiba-tiba beberapa bom asap terlempar kearah mereka, kepanikan atas serangan tiba-tiba itu menimbulkan kemarahan para Aron.

 

Bersambung ke Bahagian Kedua

 

Bahan Bacaan :

Perang Kemerdekaan di Karo Area Jilid1 oleh Letkol. A.R. Surbakti (1977)

Karo dari Zaman ke Zaman oleh Brahma Putro (1982)