Pemberontakan 4.000 Aron di Sumatera Timur (1942) – Bahagian 3

by
Ragamu Musnah Tapi Tjahaja Djiwamu Tetap Menjala. Tugu Pahlawan Tani (Aron). Mengenang Peristiwa 30 Mei 1942. (Foto oleh Ricky Tarigan)
Ragamu Musnah Tapi Tjahaja Djiwamu Tetap Menjala. Tugu Pahlawan Tani (Aron). Mengenang Peristiwa 30 Mei 1942. (Foto oleh Ricky Tarigan)

Mula-mula tembakan diarahkan kepada Tambun Tarigan dan Ndia Ginting yang berjalan di depan sambil membawa bendera merah putih. Dan seketika itu juga keduanya jatuh tertelungkup. Amuk kian menjadi. Mereka terus maju. Perluru-peluru tak henti terbang ke arah mereka.

 

Sambungan dari Bahagian Kedua

 

Korban Berjatuhan

Satu persatu demonstran berguguran memenuhi halaman depan Tangsi Polisi. Pihak Aron melakukan serangan dari segenap penjuru dan telah berhasil memasuki tangsi. Akhirnya bala bantuan tentara Jepang datang dari Medan dengan persenjataan lengkap dan pihak Aron terpaksa mundur.

Korban pemberontakan Gerakan Aron ini ada 16 orang yang gugur. Sementara yang luka-luka berat dan ringan memenuhi zal II Rumah Sakit Umum Medan. Keenam belas anggota Aron yang gugur ini dikuburkan bala tentara Jepang dalam satu lobang pada jalan arah ke Deli Tua.

Nama-nama pahlawan yang gugur dalam Pemberontakan Gerakan Aron tersebut adalah : Nabari Ginting (Kampung Rumah Mbacang), Ngimbung Sembiring (Kampung Tamburen), Gajah Sembiring (Urung Serbanyaman), Pa Timah Ginting (Kampung Lau Bicik), Tulus Tarigan (Kampung Bandarsuka), Mabuk Sembiring (Kampung Genting), Robah Saragih (Kampung Namopecawir), Tambun Tarigan (Kampung Namorih), Ndia Ginting (Kampung Penungkiren), Pa Ngekerin Ginting (Kampung Namomirik), Tentu Surbakti (Kampung Namobintang), Ngemat Ginting (Kampung Belawan), Ngerti Sinuraya (Kampung Lau Beringin), Nibar Perangin-angin (Kampung Lau Kerenda) dan Pa Nabas Sembiring.

Sementara yang meninggal akibat luka berat di Rumah Sakit Umum Medan adalah : Nibar Perangin-angin (Kampung Taburen), Pa Ngayah Sembiring (Kampung Lau Kerenda), Sampang Ginting (Kampung Kutabatu), Ngemat Ginting (Kampung Belawan), Pa Njalani (Kampung Kutambaru). Kelimanya dikuburkan di Medan.

Total yang tewas menurut laporan Jepang di pihak Aron ada 21 orang dan 57 luka-luka. Sementara di pihak polisi Jepang, ada 4 orang luka-luka.

Tugu Pahlawan Tani (Aron) di Batukarang (Karo).
Mengenang peristiwa Gerakan Aron tanggal 30 Mei 1942 di Batukarang.
(Foto oleh Rick Tarigan)

Hukuman Pancung

Walaupaun telah banyak korban berjatuhan dalam penyerbuan ke Tangsi Polisi Jepang di Pancurbatu, Gerakan Aron terus berjalan. Akfitifas di perladangan berjalan seperti biasa. Namun keluarga para Raja (Datu) semakin bingung, mereka belum berani pulang ke kampungnya masing-masing.

Dan pemerintah Jepang secara diam-diam terus menyebarkan mata-matanya untuk menyelidiki kegiatan Aron. Dan mencatat nama-nama pimpinannya hingga ke kampung-kampung, termasuk yang terlibat dalam pembunuhan beberapa Raja (Datuk) di kampung.

Gubernur (Chokan) memerintahkan Kepala Polisinya yakni Kapten Inoue Tetsuro untuk mengadakan penyelidikan menyeluruh dan menghancurkan gerakan ini. Asisten utama Inoue adalah Tengku Arifin Tobo. Sebelumnya ia adalah kepala inteljen politik Belanda di Medan dan juga anggota Istana Kerajaan Serdang.

Sepertinya ini adalah peluang bagi Arifin untuk meletakkan tanggung jawab atas gerakan ini dipundak politisi militant anti kesultanan dari GERINDO. Ketakutan awalnya tampak saat GERINDO dulu dirangkul masuk Barisan Tentara “F” atau F-kikan.

Namun diam-diam di sana-sini masih ada terlihat gerakan Aron berjalan dalam senyap. Pada tanggal 7 September ada aksi pembunuhan terhadap Penghulu sebuah desa oleh anggota simpatisan Gerakan Aron.

Ketika data telah terkumpul, pada tanggal 27 September 1942, bala tentara Jepang mulai mengambil tindakan. Pada hari tersebut, dengan mendapat petunjuk dari Datuk Kampung Baru, sepasukan tentara Jepang dilengkapi dengan senjata bayonet melakukakan pengepungan terhadap bangsa tembakau Kampung Ujung Labuhan dekat Two Rivers. Tempat ini dipergunakan Aron untuk beristirahat pada siang hari.

Para Aron tidak dapat bergerak atau melarikan diri. Pihak Kempetai Jepang menangkap Gumba Karo-karo dari Kampung Lau Cih yang saat itu datang untuk bergotong-royong Aron sebagai utusan dari pimpinan Gerakan Aron 3 Urung. Bersamanya juga ditangkap Ngatas dan Mabai Purba. Lalu ketiganya diikat di tiang bangsal.

Selanjutnya seorang opsir Jepang dengan memegang pedang samurai yang terhunus memanggil 5 orang pemuda anggota Aron dan menyuruhnya duduk berjongkok di depan. Kelimanya selain sebagai anggota Gerakan Aron, dulunya adalah mantan pengurus GERINDO (Gerakan Rakyat Indonesia) Ranting Namo Rambei.

Tidak berapa lama kemudian, opsir Jepang itu mengayunkan pedangnya dan memenggal satu persatu leher kelima pemuda Aron yang berjongkok tadi. Semua ini disaksikan oleh ketiga pengurus Aron dan anggota Aron lainnya. Tentara Jepang ingin memberikan contoh akibat bila rakyat melawan pemerintah Jepang. Kapten Inoue telah menunjukkan aksinya pada gelaran hukuman pancung terbuka ini.

Setelahnya Gumba Karo-karo, Ngatas dan Mabai Purba dibawa ke Medan oleh Kempetai Jepang. Di rumah penjara Suka Mulia Medan, Gumba Karo-karo bernasib sama. Kepalanya dipenggal oleh algojo Jepang dan dikuburkan di Sungai Semayang A. Tentara Jepang menganggap Gumba Karo-karo juga telah melanggar janjinya. Karena pada Juli 1942, Gumba Karo-karo pernah ditangkap dan dibebaskan setelah berjanji taat kepada pemerintah Jepang dan dapat mengamankan gerakan Aron Deli Hulu. Namun perintah Jacub Siregar agar meneruskan perjuangan sampai tetes darah yang penghabisan dalam menghancurkan feodalisme dan kolonialisme Jepang, lebih diingatnya.

Kelima pemuda Aron yang tewas itu dikuburkan oleh masing-masing keluarga. Nama-nama pahlawan Aron itu adalah Kuri Sinuhaji, Kuasa Sitepu, Tebel Ginting, Sangkut Karo-karo dan Dedas Sembiring.

Insiden terakhir yang dilaporkan adalah adalah insiden di Kampung Bulilir di daerah Langkat pada tanggal 15 Oktober 1942. Upaya-upaya Kesultanan melarang penggarapan tanah perkebunan yang dilakukan Gerakan Aron berakhir dengan kerusuhan. Korban yang tewas 6 penduduk dan 4 luka parah oleh tembakan polisi Jepang. Malam harinya penduduk menyerbu dan memasuki rumah Penghulu yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa itu. Istri penghulu dan pembantu rumah tangganya tewas. Dan polisi Jepang kembali menangkap dan mengadili 7 orang anggota Gerakan Aron yang dianggap bertanggung jawab pada penyerangan malam itu.

Melihat tindakan tentara Jepang tersebut, Gerakan Aron nampak tidak ada lagi dalam aksi-aksi perebutan tanah-tanah perkebunan. Masing-masing mencoba untuk membaca situasi.

Sibayak-sibayak dan para Raja Urung di dataran tinggi Karo merasa lega. Dan dibentuklah Panitia Gendang Aron dan dipertunjukkan di Kantor Gunseibu Berastagi. Inilah Gendang Aron dan Aron asli yang tidak diperalat politik, inilah budaya asli Karo, budaya Aron, kata Sibayak-sibayak di depan anggota pemerintahan Jepang yang hadir di acara itu.

 

Penangkapan Serentak

Selanjutnya di bulan Desember 1942, tentara Jepang mengadakan penangkapan serentak terhadap pimpinan Gerakan Aron Sumatera Timur, baik di Tanah Karo, Deli dan Serdang serta Langkat Hulu. Sementara Sultan Deli mengeluarkan amanatnya, memerintahkan semua penduduk agar tidak ikut Gerakan Aron. Dan barang siapa ikut campur, akan ditindak dengan tegas dan harus patuh kepada perintah Sultan Deli dan pemerintah Jepang.

Untuk melepaskan diri dari penangkapan oleh tentara Jepang, tidak sedikit pengurus Aron mengungsikan dirinya ke daerah Dairi dan Aceh Tenggara. Namun ada beberapa yang tertangkap. Di daerah Deli dan Serdang pengurus-pengurus Gerakan Aron yang ditangkap adalah Djampi Kaban, Tampah Sembiring, Cawir Sembiring, Pet Sembiring, Balo Karo-karo, Ngangkat Sinulingga, Nimbak Ginting, Djeneng Ginting, Ganda, Tanda Ginting, Ngatas Sembiring, Pa Pindah Bangun, Narsar Tarigan, Nalemen Karo-karo, Tek Karo-karo, Merei Karo-karo, Rantei Sembiring, Manis Surbakti dan lainnya.

Di Tanah Karo, pengurus Gerakan Aron yang ditangkap adalah Mhd. Nabari Sinulingga, Geliren Sinulingga, Baleng Sinulingga, Borong Bangun, Benana Bangun, Pijer Bangun, Kata Lemo Bangun, Pa Ngajar Bana Bangun, Raja Mehuli (R.M) Pandia, Mantek Sembiring Depari, Liling Sitepu, Kolah Tarigan, Tampe Malem Sinulingga, Turah Perangin-angin dan lainnya.

Di Langkat, Pengurus Gerakan Aron Langkat Huluyang ditangkap adalah Djumbak Perangin-angin, Reh Malem Perangin-angin, Bena Ginting, Patut Surbakti, Nimbasi Sembiring dan lainnya. Sebahagian lagi sudah melarikan diri.

 

Tampilnya Inoue Tetsuro

Setelah terjadi penangkapan serentak dan razia yang dilakukan di basis-basis pergerakkan Aron, maka Gerakan Aron tidak ada lagi. Walau Gerakan Aron telah lumpuh dan  hancur luluh dengan meninggalkan luka yang mendalam, namun jiwa patriotik pada masyarakat Karo tetap membara.

Pasca Gerakan Aron, peranan Ibu Hadijah sangat penting. Beliau adalah isteri dari Jacub Siregar. Ibu Hadijah berjuang untuk membela pimpinan-pimpinan Gerakan Aron yang dipenjara dan terancam hukuman pancung.

Dengan segala cara ibu Hadijah dapat mempengaruhi Kapten Inoue Tetsuro. Didukung kemampuan berbahasa Inggris dan diplomasi yang baik menyebabkan Kapten Inoue Tetsuro akhirnya membebaskan Jacub Siregar dan pemimpin Aron lainnya. Jacub Siregar, Kitei Purba, Ngumban Surbakti dan pengurus Gerakan Aron lainnya yang tidak tersangkut kegiatan kriminal dibebaskan setelah 9 bulan ditahan.

Inoue juga tentu punya kepentingan besar. Dari peristiwa Gerakan Aron ini, Inoue dapat mengetahui bara sekam yang ada sepeninggalan kolonialisme Belanda. Inoue kelak memanfaatkan mereka dalam inteljen politik dan melatih kelompok-kelompok gerilyawan nasionalis.

Dari peristiwa Gerakan Aron di Pancur Batu kelak lahirlah pempin-pemimpin revolusioner pada Barisan Harimau Liar (BHL). Tokoh-tokoh  penting  di  dalam Gerakan Aron seperti : Jacub Siregar, Saleh Umar, Ngumban Surbakti, Kitei  Purba adalah merupakan  tokoh  penting  dalam  pendirian  BHL.

Pembentukan Laskar Barisan  Harimau  Liar pada   masa   pemerintah   Jepang   berkuasa, dibentuk untuk kepentingan Jepang. Dan pada masa kemerdekaan, Barisan Harimau Liar yang anggotanya adalah Orang Karo, digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Sekutu yang akan mengambill alih pemerintahan Indonesia.

Peristiwa Gerakan Aron merupakan perjuangan dalam mempertahankan tanah ulayat dan melawan kaum feodal. Peristiwa Gerakan Aron adalah lanjutan dari perang yang tiada pernah henti di Tanah Karo sejak Perang Sunggal atau Tandukbenua melawan penguasa yang sewenang-wenang.

 

Bahan Bacaan :

Perang Kemerdekaan di Karo Area Jilid1 oleh Letkol. A.R. Surbakti (1977)

Karo dari Zaman ke Zaman oleh Brahma Putro (1982)

Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia  oleh Anthony Reid (2010)