Pemberontakan 4.000 Aron di Sumatera Timur (1942) – Bahagian 2

by
Hentikan Kekerasan Terhadap Petani (sumber foto : http://menyalakanapi.tumblr.com/)

Tiba-tiba beberapa bom asap terlempar ke arah mereka, kepanikan atas serangan tiba-tiba itu menimbulkan kemarahan para Aron. Si pelempar bom asap dikejar-kejar oleh para Aron. Ia berlari ke arah Tiganderket dan bersembunyi di rumah salah satu penduduk.

 

Sambungan dari Bahagian Satu

 

Propaganda Anti Feodalis

Di Batukarang, gerakan Aron dibawah pimpinan Borong Bangun dan Binana Bangun telah menguasai dan menuai padi sawah hak Kerajaan Urung Lima Senina. Tindakan Aron yang hendak menguasai tanah atau persawahan ini, akhirnya menimbulkan gangguan keamanan, menyebabkan campur tangannya pihak kepolisian.

Di daerah Deli Hulu, Gerakan Aron meningkatkan kegiatannya untuk menanami tanah-tanah perkebunan yang terlantar di sekitar kampungnya, sebagai realisasi rapat Rumah Mbacang pada awal Juni 1942. Akibat tindakan Aron yang telah menguasai tanah-tanah perkebunan ini, maka pihak kepolisian melakukan penangkapan terhadap pengurus Aron di Kampung Tiang Layar dan menahannya selama 15 hari di Pancurbatu.

Penggarapan tanah perkebunan di Tiang Layar inilah mula-mula yang dilakukan oleh Aron Deli Hulu dan kemudian menyusul di tempat-tempat lain. Di daerah Durin Jangak, 350 orang Aron melakukan penggarapan dan konsolidasi antara sesama Aron.

Aron Belin Deli Hulu kembali kedua kalinya melakukan penggarapan di perkebunan di sekitar kampung Belobon, Barung Ketang, Tianglayar pada penghujung bulan Juni 1942. Saat Aron sibuk bekerja, tiba-tiba muncullah rombongan Polisi Jepang bersama Raja (Datuk) dan Jaksa dari Pancurbatu. Dan menyuruh para Aron untuk menghentikan penggarapannya,

Dengan dalih untuk memperbanyak hasil bahan makanan sesuai dengan anjuran pemerintah Jepang, Aron tetap bertahan dan tidak mau meninggalkan tanah yang telah didudukinya. Karena Aron tetap bertahan, terjadilah adu mulut dan saling mengancam yang kemudian disusul dengan penyerbuan salah seorang anggota Aron terhadap Polisi Jepang. Pihak Polisi Jepang melepaskan tembakan dan kemudian kembali ke Pancurbatu.

Di daerah Sukapiring, pihak Aron melancarkan propaganda anti feodalis. Pada awal Juli 1942, Gerakan Aron di daerah Ujung Labuhan dan Batu Penjemuran mendapat larangan dari Polisi Jepang bersama Datuk, karena melakukan penggarapan tanpa izin.

Sebagaimana di kampong Tiang Layar, di Ujung Labuhan ini juga terjadi serangan anggota Aron kepada Datuk Kamil dan Polisi Jepang. Insiden ini tidak menimbulkan korban, karena pihak Datuk dan polisi Jepang segera meninggalkan tempat tersebut.

 

Penangkapan Pimpinan Gerakan Aron

Setelah peristiwa ini dilaporkan oleh pihak Raja kepada Gunseibu di Medan, maka pengurus Aron 3 Urung yang terdiri dari Kite Purba, Ngumban Surbakti, Gumba Karo-Karo dan Teras Ginting dipanggil untuk menghadap Gunseibu. Setelah keempat pengurus Aron ini menghadap, mereka ditangkap dan diserahkan ke rumah tahanan Kempetai Jepang. Di rumah tahanan ini mereka berjumpa dengan Jacub Siregar yang telah lebih dahulu ditangkap.

Gumba Karo-Karo dan Teras Ginting dibebaskan setelah berjanji taat kepada pemerintah Jepang dan dapat mengamankan gerakan Aron Deli Hulu. Sebelum mereka pergi, diam-diam Jacub Siregar sempat meminta agar mereka meneruskan perjuangan sampai tetes darah yang penghabisan dalam menghancurkan feodalisme dan kolonialisme Jepang.

Pimpinan Gerakan Aron 3 Urung di Deli dan Serdang kini diteruskan oleh Kenaken Ketaren, Pa Ngendik, Mabai Purba, Usin Surbakti, Kelang Sinulingga, Ng. Sitepu, Tek Karo-Karo dan Ngasil Sinuhaji. Oleh pimpinan yang baru ini juga telah diadakan hubungan dengan pimpinan Aron di Kampung Belir dan Parik Bindu di Langkat Hulu.

Pihak kerajaan kian menyelidiki tentang sepak terjang gerakan Aron. Dan mengadakan provokasi dan pecah belah dikalangan masyarakat guna melemahkan perjuangan Aron.

Sebaliknya pimpinan Aron dibawah pimpinan Kenaken Ketaren kian giat merapatkan barisan dan memerintahkan untuk menindak semua orang yang menghalang-halangi gerakan Aron. Garis tegas ini menyebabkan situasi keamanan menjadi panas, dan berakibat banyaknya Datuk-datuk di desa ditindak Aron. Ada pula yang terbunuh.

Pada tanggal 21 Juli 1942, serombongan polisi Jepang menangkap Ng. Sitepu pimpinan Aron 3 Urung bersama beberapa anggota Aron dari Kampung Lianggagang dan menahannnya di Pancurbatu. Melihat tindakan Polisi Jepang ini, pimpinan Aron menjadi panik bercampur panas hati.

Pada hari itu juga diperintahkan kepada seluruh pimpinan Aron d kampung-kampung untuk mengerahkan semua kekuatan Aron 3 Urung di Deli Hulu untuk berdemonstrasi ke Pancurbatu. Juga pimpinan Aron mengajukan tuntutan supaya kekuasaan feodal di Sumatera Timur dihapuskan.

 

Menyerbu Tangsi Polisi Jepang

Dalam waktu yang singkat Kelang Sinulingga dan Usin Surbakti serta pengurus lainnya telah berhasil mengerahkan anggota-anggota Aron. Pukul 20.00 malam, lebih kurang 4.000 orang anggota Gerakan Aron telah sampai di Pancurbatu dari segala penjuru.

Dengan semangat bernyala-nyala mereka maju menuju Tangsi Polisi dengan membawa senjata tajam. Sementara Aron dari Pasarpipa dan Aron sepanjang jalan Deli Tua –Pancurbatu masih dalam perjalanan.

Pimpinan Aron menyampaikan tuntutan kepada penguasa Jepang di Pancurbatu, agar pimpinan dan anggota Aron yang ditahan di Pancurbatu dan Medan dibebaskan. Tuntutan Aron ini tak mendapat sambutan dari penguasa Jepang.

Ini menimbulkan kemarahan. Gelombang demonstrasi tidak dapat dikendalikan dan kemarahan yang meluap-luap dari para anggota Aron meledak. Para demonstran menyerang dan menyerbu Tangsi Polisi Jepang tanpa mengenal rasa takut. Dari dalam tangsi terdengar hiruk pikuk dan diselingi suara tembakan.

Mula-mula tembakan diarahkan kepada Tambun Tarigan dan Ndia Ginting yang berjalan di depan sambil membawa bendera merah putih. Dan seketika itu juga keduanya jatuh tertelungkup. Amuk kian menjadi. Mereka terus maju. Perluru-peluru tak henti terbang kearah mereka.

 

Bersambung ke Bahagian Ketiga

 

Bahan Bacaan :

Perang Kemerdekaan di Karo Area Jilid1 oleh Letkol. A.R. Surbakti (1977)

Karo dari Zaman ke Zaman oleh Brahma Putro (1982)