Patung Budha di Karo (1920)

by
Patung Budha ditemukan di Ujung Sampun

P.V Van Stein Callenfels dalam buku Oudheidkundig Verslag 1920 pada halaman 62 menuliskan pengamatannya tentang candi dan patung-patung yang ia teliti dengan judul Rapport Over Een Dien Dienstreis Door Eeen Deel Van Sumatra. Ia mendapatkan informasi berharga tentang patung Budha yang berada di dataran tinggi Tanah Karo.

P. V Van Stein Callenfels datang ke Sumatera Timur dengan mulai bergerak sejak tanggal 15 Januari 1920 dari Padang menuju Sumatera Timur dengan melewati daerah Penyambungan dan lainnya untuk meneliti candi-candi dan patung yang ada.

P.V Van Stein Callenfels ada menuliskan :

Berkat informasi yang diberikan oleh Tuan Schadee, mantan Asisten Residen di Pantai Timur, saya menemukan patung perunggu yang sangat luar biasa di kampung Oedjoeng Sampoeng (Soeka, sub-bagian dari Karolanden) di Dataran  Tinggi Karo.  Seperti ditunjukkan dalam foto (PI 10), patung Buddha duduk di atas ular. Hal yang luar biasa tentang patung ini adalah kesamaan yang mencolok dengan patung batu Malaka, digambarkan oleh Coedès dan dijelaskan dalam risalahnya yang terkenal “Le royaume de Crïvijaya” di bagian B.E.F.E.O. XVIII No. 6.

Akhirnya, pernyataan Obdeyn, Sekretaris Pemerintah Pantai Timur Sumatra harus disebutkan. Bapak Obdeyn berpendapat, bahwa nama Aroe (Teluk Aroe) tidak ada hubungannya dengan nama pohon, yang telah diklaim bahwa dari itulah nama teluk berasal.  Tetapi ini terkait dengan kata Karo.

Dalam konteks ini juga menarik perhatian pada kata  “Haro Haro” yang dikenal dalam buku-buku sejarah Simeloengoeng, Tanah Djawa, dan lain-lain. Yang pada saat itu juga memainkan peran yang signifikan dalam bidang politik, yang keduanya patut mendapat perhatian penuh. Saya berharap memiliki beberapa data yang dapat saya gunakan tidak lama setelah itu saya dapat mencoba untuk menyebarkan sedikit lebih banyak tentang sejarah kuno ini,

Dari Belawan tanggal 24 Maret, saya tiba tanggal 28 di Tandjoeng Priok, yang dengannya perjalanan ini berakhir.

Kali Bana, 6 September 1920.

 

Dalam tulisannya ia juga menyertakan foto patung-patung yang terdapat di Namo Bintang yang berada di daerah Tuntungan, Deli Hulu. Menurutnya, ini adalah bagian dari kehidupan Orang Karo saat dulu.

Patung-patung di Namo Bintang, Tuntungan.