Pandji Karo, Jong Karo dan Adat (1929)

by
Pandji Karo

Sebuah majalah bulanan  telah terbit dengan nama Pandji Karo di bulan Januari tahun 1929. Pemimpin redaksinya G. Keliat. Memiliki kantor di Kaban Djahe. Selain berbahasa Karo, majalah ini juga memuat beberapa artikel dalam bahasa Melayu.

Pandji Karo

Saat Pandji Karo terbit, Majalah Merga Si Lima yang dipimpin oleh Missionaris J.H. Neumann telah berusia 7 tahun. Bila tuan Neumann menuliskan ayat dari Roma 12: 17 pada bahagian depan majalah Merga Si Lima, Pandji Karo tak mau kalah.

Di halaman depan dari Pandji Karo tertulis slogan berbunyi “Mempertimbangkan Apa yang Menjadi Adil untuk Semua Orang.” Kedua majalah ini kadang berseberangan dalam membahas adat, karena Pandji Karo bersikeras untuk mempertahankan adat dari pengaruh masuknya agama baru dan perkembangan jaman. Pandji Karo menyoroti perubahan adat-adat lama.

Majalah Pandji Karo nomor 6, menguraikan perkembangan pendidikan di Tanah Karo (Karolanden). Namun timbul pertanyaan, apakah pendidikan pertanian tidak diinginkan? Dirasa perlu adanya pendidikan guna kepentingan pertanian di Karo agar lebih maju lagi.

Dalam tulisan tentang ekonomi, di terbitan Pandji  Karo nomor 7,  terdapat kecaman terhadap pembukaan perkebunan di Langkat yang  telah berkembang begitu luas. Dampaknya terjadi pada masyarakat Karo di Langkat yang terganggu oleh pembukaan perkebunan-perkebunan asing ini.

Pandji  Karo juga memuat artikel-artikel bagus tentang praktek-praktek pertanian, transaksi di pasar dan peredaran uang pada zaman dulunya. Mungkin ini lanjutan dari artikel di Pandji Karo nomor 6 yang menyatakan perlunya pendidikan di bidang pertanian. Begitu juga muncul artikel tentang layanan pemakaman.

Pandji Karo

Seorang kontributor membahas pertanyaan, apakah  kata terbaik untuk “istri.”  Dia setuju untuk memakai kata “ndehara.” Tulisan  lain ada menyatakan, bahwa ada 200.000 orang Karo saat itu dan yang  berada di wilayah pemerintahan Tanah Karo (Karolanden) ada berkisar 84.000 orang.  Lainnya berada di  daerah Dairi, Simeloengoen , Langkat dan Deli Serdang.  Sehingga diserukan perlunya semua orang Karo bersatu, jika tidak adat Karo akan binasa.

Pandji Karo nomor 8 -10 juga menulis tentang adat, perihal musik dan tarian Karo. Dan pemikiran akan perlunya buku-buku di sekolah dalam bahasa Karo karena ini penting dalam memajukan pendidikan di Tanah Karo. Dan penegasan politik, bahwa Karo tak bisa diasingkan dari tanah ulayatnya.

 

“Boeangkan Adat Artinja Mendjaoehkan Keluarga.”

 

Pada Pandji Karo nomor 12, terdapat artikel berjudul “Boeangkan Adat Artinja Mendjaoehkan Keluarga.” Membuang adat berarti menghapus kekeluargaaan. Perbedaan pendapat dengan majalah Merga Si Lima soal adat istiadat terus ada. Bahkan ada artikel tajam dari seorang Karo di Singapura melawan Merga si Lima. Penulis menyebut dirinya: “Jong Karo” atau Pemuda Karo.

Jong Karo : “Saya dapat saja dianggap rabun, tapi saya pikir majalah itu (Majalah “Merga Si Lima”) tidak memiliki nama yang layak untuk apa-apa yang dituliskannya dan itu harus diganti sesegera mungkin”

Dia menyatakan meskipun majalah Merga si Lima, yang memasuki tahun ke-7, terbit di Karo, dan nama “Merga Si Lima” dikenal secara nasional tetapi tidak dirasa ada semangat nasionalistik terutama semangat “membangun” untuk kehidupan pemilik nama itu yaitu Suku Karo.

“Saya dapat saja dianggap rabun, tapi saya pikir majalah itu tidak memiliki nama yang layak untuk apa-apa yang dituliskannya dan itu harus diganti sesegera mungkin. ” Bagian ini ditulis dalam bahasa Belanda, mungkin tak semua pembacanya bisa memahaminya. Namun memang kritikan ini ditujukan bagai orang-orang Belanda.

Artikel lain menawarkan masukan bagi majalah Merga si Lima, agar sesuai dengan namanya maka baiknya artikel-artikelnya di tulis dalam dalam bahasa Karo. Kesannya sebuah masukkan, tapi sebenarnya sindiran bagi majalah Merga Si Lima.

 

Sumber bacaan : Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers.