Pa Rembak (1926)

by
Pa Rembak dan keluarga

Dengan pengetahuan yang dia peroleh, kecerdasannya yang tinggi dan tulisan tangan yang jelas dan cepat, Syam bisa saja langsung mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang sangat tinggi di salah satu dari banyak toko pedagang asing di Arnhemia, tapi Syam tidak menginginkannya. Kelak akhirnya Syam (Pa Rembak) memilih mengabdi di pelosok-pelosok kampung.

Oleh : Edi Santana Sembiring.

Majalah Nederlandsch Zendingsblad terbitan hari Rabu tanggal 1 September 1926 menuliskan tentang sosok Pa Rembak atau Syam. Tulisan ini berjudul  Uit de Karo Zending (Deli). Pa Rembak adalah salah satu penginjil Karo. Berikut gambaran sosok pa Rembak yang dituliskan oleh missionaris J.P. Talens dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dari Zending Karo (Deli).

Penginjil Karo, Pa Rembak (si Syam) patut kita perhatikan sepenuhnya.

Lahir di dataran tinggi Karo, dia dibawa oleh orang tuanya ke daerah dataran yang lebih rendah, tempat mereka kemudian menetap. Sepenuhnya ia “dididik” dengan cara Karo, atau lebih tepatnya dibesarkan dalam lingkungan kepercayaan Karo. Syam bersekolah di sekolah negeri di dekat Arnhemia (Pancurbatu saat ini, red.) pada usia sekitar 12 tahun. Tempat ini merupakan ujung salah satu jalur kereta api dari kota utama Deli, Medan.

Di Arnhemia Syam bergaul dengan anak laki-laki Karo lainnya, termasuk anak-anak  dari orang Batak Toba yang bekerja di sini, serta anak-anak Tionghoa dan Keling di sekolah netral milik pemerintah.

Ia berhasil menyelesaikan empat tahun pertama sekolah ini. Kemudian dia putus sekolah.

Dia tidak ingin menuruti keinginan orangtuanya untuk menikah segera, di mana mempelai wanita dan mas kawin disiapkan dan ibu Syam akan mendapatkann teman di ladang. Dia tidak ingin menyerah pada kebiasaan lama di kampung.

Pada saat itu, dengan pengetahuan yang dia peroleh, kecerdasannya yang tinggi dan tulisan tangan yang jelas dan cepat, dia bisa langsung mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang sangat tinggi di salah satu dari banyak toko pedagang asing di Arnhemia, atau di salah satu dari sekian banyak majikan Eropa di kawasan itu, tapi Syam juga tidak menginginkannya. Luar biasa. Padahal kebanyakan rekannya dengan pengetahuan dan bakat yang jauh lebih sedikit, tetapi berhasil diburu untuk pekerjaan semacam itu.

Lebih hebatnya lagi, Syam pada tahun 1913 bersama beberapa teman seperjalanannya menemui penulis (Pdt. J.P. Talens yang dimaksud, red.) di Kabanjahe di dataran tinggi Karo dan ingin bergabung. Dan bertanya, apakah pendeta dapat menerima dia dan kedua temannya dalam pekerjaan misionaris di sekolah.

Syam sendiri saat itu belum tahu, apa keraguan yang ada didalam benak misionaris ini, apakah Tuhan akan menggunakan remaja ini dalam pelayanan-Nya. Tetapi ini mungkin kabar sangat baik bagi misionaris yang diliputi oleh banyak kekecewaan dengan calon lain.

Ia menjawab permintaan Syam, bahwa ada pos jauh di sebelah Barat dataran tinggi Karo. Dan dia harus pergi bekerja sebagai asisten kepala sekolah di sana, di mana Kepala Sekolahnya seorang Batak Toba.

Biasanya anak laki-laki Karo lainnya sudah langsung menyerah. Atau kembali setelah berjalan setengah perjalanan ke arah sana dan kemudian menulis dari kampung halaman mereka bahwa mereka belum mencapai tujuan mereka karena sakit. Dan memang mereka sempat merasa kurang enak badan, karena takut harus jauh meninggalkan rumah, jauh-jauh ke arah Aceh itu !

Namun Syam mengikuti ke mana pun misionaris akan mengirimnya, selama dia ditugaskan untuk pekerjaan ini. Diuntungkan pula, dia tidak merasa begitu canggung terhadap guru Batak Toba yang datang dari jauh.

Segera anak laki-laki yang cerdas dan ceria ini menunjukkan dirinya sebagai bantuan yang sangat tepat. Syam juga bekerja dengan rajin dan menyerap semua pengetahuan tentang Sejarah Alkitab dan makna Kekristenan. Kemudian dia diberi lebih banyak kesempatan untuk bekerja dan akhirnya dipindahkan ke pos misionaris.

Suatu kesenangan bagi penulis untuk memimpin pemuda ini dan pada keinginan pemuda ini untuk menerima Pembaptisan dan Pengakuan dalam Gereja Kristus. “Percakapan rahasia” mengungkapkan, tidak hanya Tuhan Allah sendiri telah memimpin jalan Syam, tetapi dia juga menjadi semakin sadar akan hal ini. Dia juga merasakan kesedihan batin akan kepercayaan yang masih dipeluk orang tuanya dan masyarakat umumnya.

Untungnya, ia dapat menikahi seorang putri Karo yang bernama Moendjoet, yang telah dibaptis bersama orang tuanya dan yang telah dididik selama beberapa tahun di rumah utusan injil (pertama di keluarga Van den Berg, kemudian di keluarga penulis).

Tampak di foto adalah putri pertama mereka (di foto tersenyum ramah) lahir pada bulan Juni 1918, dan anak yang ketiga pada bulan Juli 1925. Dalam foto tersebut, mereka berada di depan rumah Penginjil di Lingga. Sang ibu tanpa tudung (penutup kepala untuk wanita) khas Karo

Foto lainnya, diambil lebih dekat ke rumah yang sama (dengan papan tanda yang mengumumkan bahwa bacaan dan perlengkapan sekolah tersedia di sini), menunjukkan 10 gadis Karo yang sejak tahun lalu ditempatkan dalam asuhan dan arahan Syam dan istri. Mereka diantarkan oleh orang tua dan keluarga.

Tampak pada foto, di urutan ketiga dari kanan adalah saudara perempuan Syam sendiri yakni si Ngeroemahi. Yang keenam dari kanan adalah keturunan almarhum Pa Pelita, seorang penguasa (yang memiliki pengaruh besar hingga ke luar wilayah dataran tinggi Karo sampai wafat), tetapi tetap tidak menyukai pengaruh agama Kristen. Yang pertama dari kanan adalah si Perèntah, putri kepala kampung Batukarang, yang dikenal sebagai pejuang yang gigih dalam perang Karo yang diakhiri oleh pemerintah (1905/1906).

Gadis-gadis ini dibawa ke dalam keluarga ini dengan sedikit bayaran. Mereka menerima pendidikan sekolah dan kerajinan tangan yang sesuai dan pendidikan dalam semangat Kristen. Siang hari, di bawah bimbingan istri Syam, mereka melakukan pekerjaan berkebun seperti biasa (menanam padi, kentang dan sayur-sayuran).

Kami sengaja tidak ingin memberi nama Barat kepada lembaga yang masih muda ini. Melainkan, marilah kita mencatat pekerjaan sederhana ini dengan kasih dan penghormatan, dan memohon berkat Tuhan untuk itu, agar pada akhirnya tampak bahwa pekerjaan kekal dilakukan di sini dalam semua kesederhanaan untuk keselamatan jiwa dan raga.

Dalam korespondensinya, Syam secara meminta doa syafaat dan mengucapkan terimakasih atas nama jemaat dan istrinya kepada Missionaris Belanda, masyarakat dan semua orang Kristen di Belanda.

Arnhemia, Maret 1926

J.P. Talens.

Mantan Misionaris.