Njujungi Beras Piher di Nageri (1981)

by
Njunjungi Beras Piher di Nageri Tahun 1981

Sembuh dari Sakit

Di Nageri dekat Kineppen (Kecamatan Munte, Kabupaten Karo), pada tanggal 25 Agustus 1981 diadakan acara Njujungi Beras Piher.  Acara ini diadakan oleh keluarga besar Pulung Ginting (40 tahun) dan istrinya Dalangit Br. Sitepu (33 tahun).

Dalam arti kiasan, upacara ini adalah ucapan syukur atas kesembuhannya. Keyakinan pada tendi, kekuatan penopang hidup, adalah elemen mendasar dari keyakinan lama Karo ini.  Njujungi beras piher secara harfiah berarti “meletakkan beras di kepala” untuk memperkuat tendi seseorang.

Pulung Ginting dan Dalangit Br. Sitepu

Upacara ini dilakukan setiap kali seseorang kembali ke keluarga besar setelah lama sakit atau tidak lama muncul. Di desa Nageri, keluarga Ginting merayakan pesta semacam itu dikarenakan Dalangit br SItepu telah lama dirawat di rumah sakit.

Pulung Ginting dan Dalangit br Sitepu telah memiliki lima anak (tiga putra dan dua putri). Pada kehamilan keenam rupanya terjadi komplikasi serius. Dan sempat dilakukan operasi di rumah sakit di Medan.

Para peserta acara Njunjungi Beras Piher terdiri dari kelompok : sukut / senina (Merga Ginting), anak beru (Merga Sembiring) dan kalimbubu (Merga Karo-karo, Peranginangin dan Tarigan). Kelompok pemusik Gendang Sarunei datang dari Tiga Binanga, diperkuat oleh dua pemain gong dari Nageri, mereka adalah :

  • Asli Sembiring (32 tahun) / sarunei
  • Ngawer Tarigan (59 tahun / gendang indungna
  • Longge Sembiring (70 tahun) / gendang anakna
  • Sada Arih Ginting (40 tahun) / gung
  • Sampit Ginting (24 tahun) / penganak
Pemusik dari dari Tigabinanga dipimpin Asli Sembiring

 

Prosesi  yang  Meriah

Pukul 10.30, mobil dari Medan tiba di pinggir perkampungan Nageri dan disambut dengan tarian saat Dalangit br Sitepu turun dari kendaraan. Kelompok gendang, yang ditempatkan di depan sebuah rumah, mulai mengiringi tari adat.

Dua Guru Sibaso melempar beras ke atas Pulung Ginting, Dalangit br Sitepu dan keluarga. Salah satu dari mereka berteriak, “Dengan sebelas keinginan ini kami berharap bahwa tendi dapat kembali masuk ke rumah kita. …..

Satu persatu disebutkan sambil melempar beras ke arah atas kelompok yang datang. Dan kesebelas keinginan ini disebutkan berulang-ulang oleh kedua Guru Sibaso.

Lalu dipasangkan Uis untuk bulang-bulang dan tudung serta perhiasan kepada Pulung Ginting dan Dalangit br Sitepu. Perhiasan ini dimiliki oleh keluarga dan dihormati serta diwariskan dari generasi ke generasi. Setelah prosesi dilanjutkan dengan berjalan memasuki kampung dan pemusik berjalan mengikuti di belakang.

Lalu iringan berhenti di depan rumah Pulung Ginting. Kedua Guru Sibaso berada di depan dan menghadap kepada iringan. Kampil dengan beras terisi di dalamnya di taruh di atas kepala salah seorang Guru Sibaso dan Guru Sibaso yang lainnya memegang kain putih.

Kain putih diayun-ayunkankan maju mundur oleh Guru Sibaso, untuk menarik/menangkap tendi (sang perempuan). Gerakan menangkap ini, berulang-ulang ini dilakukan.

Tendi dipikat dengan wadah kampil berisi beras, sementara Guru Sibaso lainnya dari Kineppen mencoba menangkap tendi dengan kain. Dengan tangan terulur, Guru Sibaso menunjukkan bahwa tendi itu kembali ke rumah bersama wanita itu.

Lalu ia membungkus kampil dengan kain putih dan menari sambil mengangkat kampil yang dibungkus kain putih di atas kepala Dalangit br Sitepu dan keluarga.  Terdengar teriakan sukacita “Alop alopa!” Lalu berjalan memasuki pintu rumah diikuti oleh Pulung Ginting dan keluarga.

Guru Sibaso Memanggil Tendi

(Tidak dalam film : ) Dua Guru Sibaso pergi ke jalan desa untuk menangkap tendi. Mereka terpikat dengan wadah beras yang dibungkus kain putih, sementara Guru Sibaso lainnya mencoba menangkap tendi dengan kain.  Lalu Guru Sibaso memberi isyarat bahwa tendi telah kembali. Pada saat yang sama musik berhenti di sini.

Keluarga (sukut) tinggal di dalam rumah. Persiapan untuk jamuan makan nanti di akhir acara telah dilakukan. Anak beru terlihat memasak untuk makan siang.

Selanjutnya prosesi Sukut dari rumah ke Loosd. Kerabat Kalimbubu sudah ada di sana. Tari adat dengan musik Gendang Simalungun Rayat dilakukan.

Di Loosd Nageri tahun 1981

Sementara itu, ada anak beru bertugas di meja, di mana semuanya dicatat dengan cermat atas uang yang diterima dan hadiah material seperti  ayam dan lain-lain.

Gendang Sarunei dari Tiga Binanga

Tarian dilakukan : Senina dengan Anak Beru, berikutnya Senina dengan Kepala desa dan pejabat lainnyaSenina dengan Kalimbubu.

Selengkapnya dapat dilihat pada potongan film berikut ini di Youtube : klik.

 

Sumber bacaan : “Encyclopaedia Cinematographica” oleh Franz Simon dan Artur Simon, Institut Fur Den Wissenchaftlichen Film, 1997.