Narsar Keliling Jawa Bertanding Catur (1914)

by
Lukisan Narsar

Setelah sukses besar melawan pecatur-pecatur dari Club Catur Batavia, Narsar Karo-karo Purba direncanakan akan bertanding melawan pecatur-pecatur dari Club Catur di Bandung, Magelang, Semarang, Yogya hingga Malang.

Sambungan dari Van Lith Memunculkan Narsar Hingga Bertanding ke Batavia (1914)

Narsar ke Bandung

Koran De Preanger Bode tanggal  13-01-1914 memberitakan, kemarin malam Si Narsar, sang juara catur yang ulet, memberikan pertandingan simultan di Bandung. Meja disusun menyerupai huruf U dan papan-papan catur terletak di atasnya. Ada 3 lusin  penggemar catur akan hadir menyaksikan permainan melawan Narsar dalam permainan simultan ini. Termasuk 2 perempuan dan 2 orang pribumi.

Dan orang Karo yang masih muda dan sopan itu melangkah mengitari meja berbentuk huruf U itu untuk melayani satu persatu penggemar catur. Ia mengenakan peci merah di kepala, terlihat rambut di dahi. Ia memakai jas hitam, celana putih dan kemeja berwarna.

Perlahan dan serius, ia berjalan dari satu papan ke papan catur lainnya, mengulurkan tangan kanannya dan menatap tajam ke arah papan. Tak begitu lama ia telah menggerakkan bidaknya  dengan gerakan  tegas. Segera kemudian ia maju berjalan ke papan berikutnya, tidak lupa melemparkan pandangan pada pemain sebelumnya.

Secara umum, Si Narsar bermain dengan cepat. Dia telah berjalan mengitari ke tiga belas papan dengan cepat dan kembali lagi ke papan awal. Sebelum kembali ke papan awal dia sesekali menyapa dan berkenalan dengan para peminat catur yang datang.

Koran De Preanger-bode 13-01-1914

Sebenarnya Si Narsar tidak bermain melawan tiga belas orang, tetapi melawan 36 orang! Tidak hanya memikirkan tiga belas papan di kepalanya, tetapi dia benar-benar memainkan setiap partai “melawan” pengunjung di seluruh atau setengah ruangan. Sementara masing-masing lawannya memiliki waktu tiga belas kali lebih banyak untuk mempertimbangkan langkahnya.

Dari jam setengah tujuh malam sampai jam sebelas malam, ia berjalan berkeliling dan satu demi satu lawan, dengan sikap hormat, merebahkan rajanya di atas papan catur. Dari tiga belas partai yang dimainkan, Si Narsar kalah melawan Mr. Van der Hoeven dan Von Pritselwitz van der Horst.

Narsar Karo-karo. Ia mengenakan peci merah di kepala,memakai jas hitam, celana putih dan kemeja berwarna.

Pada permainan menegangkan terakhir ini bertahan paling lama, dan Si Narsar pada akhirnya duduk sambil mengisap sebatang rokok. Dengan penuh perhatian, dia mengintip permainannya yang akan kalah namun dia, berharap bisa seri. Tetapi akhirnya dia menyerah dan dengan sopan berkata: “Soedah mati”

Tepuk tangan meriah untuknya atas penampilan yang baik malam ini. Dan juara catur Karo ini pergi, meninggalkan tatapan kekaguman bersinar di ruangan ini.  Ada ucapan keheranan,  “Astaga.” Saudara kita berkulit coklat ini, sendirian melawan begitu banyak orang “Blanda” yang tampan.

Koran Bataviaasch Nieuwsblad, 12-01-1914

Narsar ke Semarang

Koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal 12-01-1914 memberitakan Si Narsar di Semarang. Dan akan bermain pada hari Rabu dengan para anggota klub catur di sini. Sedangkan  Jumat melawan masyarakat umum penggemar catur.

Koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal 15-01-1914 memberitakan Si Narsar bermain catur simultan melawan 8 anggota klub catur dan memenangkan semuanya.  Dalam pertandingan partai tersendiri, berakhir remis (imbang).

Koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal  17-01-1914 memberitakan Si Narsar, juara catur dari Karo, sudah mengadakan dua pertandingan catur simultan di Semarang. Dia memainkan 17 pertandingan, menang 14 kali dan kalah 2 kali, sementara 1 pertandingan berakhir seri. Sampai sekarang, orang Karo ini memperoleh uang f 300.-

Koran De Preanger-bode  pada tanggal  20-01-1914 menuliskan, Si Narsar melakukan pertandingan simultan kedua pada Jumat malam di Maison Smabers, di Semarang. Kali ini ia menghadapi 17 lawan, termasuk pemain catur yang kuat. Dia telah memenangkan 14 pertandingan, kalah melawan Mr.  Waall dan Bertram. Dan bermain imbang melawan Mr. Onnen.

Mengutip koran Locomotif, koranDe Preanger-bode mengatakan, sejumlah besar lawan-lawan Narsar adalah pecatur hebat. Dan kontributor koran ini yakin ketiga pemain yang disebutkan itu adalah lawan terberat Narsar.

Ada banyak minat pada pertandingan simlutan ini, dimana lebih dari seratus wanita dan pria berdiri di sekitar arena pertandingan dan mengikuti dengan perhatian. Para penonton mengumpulkan jumlah f 116,50.

Pada hari Minggu pagi, Narsar masih akan bermain melawan dengan beberapa pemain catur terkuat di konsulat. Kemudian dia mungkin pergi ke Magelang dan Jogja dan kembali ke Batavia.

Koran De Preanger-bode 20-01-1914

Dari Mr.  M F. Onnen, dewan Semarangsche Schaakclub yang mengorganisir acara pertandingan ini, diterima keterangan laporan keuangan sebagai berikut :

  1. dari klub catur ini dikeluarkan dana f 100.-
  2. dari penonton di pertandingan simultan pertama dikumpulkan f 35
  3. dari penonton di pertandingan simultan kedua f 50
  4. dari partai taruhan yang dimainkan untuk taruhan f 50

Total terkumpul dana f 301.50. Sementara biaya untuk menyewa kamar, transportasi, dan lain-lain berkisar f 40, tetapi akan dibayarkan oleh beberapa pengagum Narsar, sehingga jumlah dana yang terkumpul dapat diserahkan semua kepada  Narsar.

 

Narsar ke Magelang

Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië pada tanggal 17-01-1914 memberitakan, pada hari Senin, si pemain catur yang jenius, Si Narsar, bermain di klub di Magelang.

Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië pada tanggal  20-01-1914 memberitakan
Si Narsar, juara catur dari Karo, bermain sembilan pertandingan di Magelang kemarin. Delapan dimenangkan Narsar, sedangkan 1 pertandingan melawan Kapten Gerger, berakhir imbang. Pertandingan berlangsung dari  jam setengah tujuh sampai sebelas malam.

 

Narsar ke Malang

Koran De Sumatra Post pada tanggal  21-01-1914 menuliskan, Narsar telah bermain catur di Malang. Di Malang, ia bermain 9 pertandingan dengan hasil 8 menang dan 1  permainan imbang.

 

Narsar ke Yogyakarta

Koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal  22-01-1914 memberitakan di Djokjakarta, kemarin malam Si Narsar menang di klub dengan melawan sebelas pemain catur Eropa yang bermain simultan dengannya. Mantri Mas Sosrosoekondo, sebagai tuan rumahnya, memenangkan satu pertandingan.

 

Kembali ke Batavia

Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië pada tanggal 24-01-1914 memberitakan bahwa Narsar telah kembali dari tur nya ke Jawa Kamis malam. Dan Jumat malam bermain di Socië “de Harmonie.” Si Narsar memainkan 9 pertandingan, di mana ia menang 8 dan kalah 1 melawan  Mr. Hillebrandt.

Pada pertandingan dengan editor Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië akhirnya dimenangkan oleh Narsar. Dimana pada pertandingan pertama dimenangkan oleh Narsar dengan sangat baik. Pertandingan kedua imbang. Sementara  yang ketiga setelah pertempuran sengit, di mana Mr. Hillebrandt menyia-nyiakan kesempatan, akhirnya juga menjadi berakhir seri. Dua permainan terakhir ini tidak dihitung untuk pertandingan. Pada pertandingan keempat, akhirnya  dimenangkan oleh Si Narsar.

Koran De Sumatra Post tanggal 26-01-1914 memberitakan bahwa di “Harmonie” Batavia, Si Narsar memberikan pertunjukkan yang sukses. Tiga pertandingan melawan Mr. Speet, dimenangkan oleh Narsar. Kemudian memainkan pertandingan simultan dengan melawan delapan pemain, yang juga ia menangkan.

Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië pada tanggal 31-01-1914 memberitakan hasil wawancaranya dengan Narsar Karo-karo Purba :

Si Narsar, yang berkeliling Jawa dengan sangat sukses, tinggal  bersama editor selama kehadirannya di Batavia. Ini memberi saya kesempatan untuk mencari tahu tentang tentang kepribadian Narsar dan secara singkat akan saya ceritakan

Juara catur Karo ini  berusia sekitar tiga puluh tahun, memiliki tiga istri dan banyak anak-anak. Tempat tinggalnya adalah Berastagi, yang terletak di Dataran Tinggi Karo, di sebelah utara Danau Toba.

Di kampungnya, dia sepenuhnya tidak bekerja di ladang. Karena umumya di kalangan orang Karo, kegiatan di ladang diserahkan kepada istrinya.

Orangnya sederhana dan awalnya tampak pendiam. Namun, lambat laun sikapnya berubah. Ketika percakapan menarik baginya, matanya tiba-tiba menyala dan bersinar-sinar.

Terdapat kesan, bahwa di balik dahi yang lebar itu, satu set otak yang luar biasa tersembunyi bagi penduduk pribumi ini. Ini yang membedakan dirinya dari sebagian besar rekan-rekannya karena dia jelas memikirkan segalanya.

Foto Narsar Karo-karo di Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 31-01-1914

Dari sifatnya ini, ia sangat terkesan dengan banyak teknologi baru yang asing baginya. Namun, ia tidak puas untuk melihat saja, tetapi selalu bertanya bagaimana ini atau itu bekerja.

Juga pada hal-hal atau kejadian yang tampaknya tidak penting di kehidupan sehari-hari kita, yang tidak lagi kita perhatikan, kadang dipikirkan dan direnungkannya. Lalu ia menyimpulkan.

Ini bukti bahwa ia menggunakan logika. Justru kemampuannya berlogika yang mengemuka, dan pemahaman serta imajinasinya luar biasa. Pribumi yang luar biasa ini, jika ia memiliki kesempatan untuk belajar, pasti akan mencapai tempat yang unggul di beberapa cabang ilmu pengetahuan.

 

Kembali ke Tanah Karo

Koran De Sumatra post pada tanggal 05-02-1914 memberitakan bahwa Narsar Karo-karo Purba telah kembali ke Tanah Karo.

Kontributor koran ini menuliskan :

Kami baru-baru ini dapat meyakinkan diri sendiri bahwa di antara sesama pecatur di sana yang telah lama tahu tentang perjalanan kemenangan Narsar, ada beberapa pecatur yang bersemangat untuk seperti pemain catur yang terkenal itu.

Beberapa “orang-orang terkemuka” Karo di Kampung Adje Djeloe di Berastagi , menjelaskan bahwa di negeri  Karo, ada banyak pemain catur yang terampil di sekitar Narsar, dan bahkan mungkin lebih baik.

Para jenius ini belum “ditemukan” – ini tentu saja – kita tahu dari sumber yang dapat dipercaya – bahwa ada satu pemain catur di negeri Karo yang biasanya Si Narsar pasti menolak bermain dengannya. Bagi para grand master di dunia, penghindaran seperti itu sudah cukup dikenal.

Mengapa Si Narsar tidak mau bermain dengan orang yang tidak diinginkannya itu? Mungkin saja dia tidak merasa cocok dengan orang lain.

Siapa tahu, ada pecatur hebat seperti Morphy, Steinmetzen, Capablanca, Tarraschen dan Lasker yang berada di negeri Karo. Apakah komunitas catur Batavia  tidak ingin mengadakan “perang” catur ke negeri Karo?

 

Bersambung ke : Narsar vs Toemboek (1916)