Narsar ke Jawa dan Eropah Bermain Catur

by

Musafir Hindu berperan memperkenalkan catur ke Indonesia. Di pulau Jawa pengembara Hindu itu membangun candi-candi indah, penuh arca elok dan permai. Banyak diantaranya yang mengingatkan kepada biji-biji catur zaman baheula dan yang menyerupainya pula.

Di beberapa daerah di Indonesia, ditemukan juga varian baru dari permainan catur yang ‘asli’. Di Sumatra Utara misalnya, orang Karo suka sekali main catur dengan ragam-ragam variasi terutama dalam hal jumlah biji : terkadang catur bisa dimainkan dengan bukan hanya 32 biji, melainkan dengan 48 biji.

Dalam hal catur dimainkan dengan 48 biji, maka jelas papan harus diperbesar dalam arti kata jumlah petak harus sedikit ditambah. Katanya dengan jumlah biji bertambah, maka permainan menjadi lebih berbelit, lebih berkomplikasi dan dengan sendirinya tambah sulit.

Kecerdasan otak akan lebih diuji dan dilatih dan akhirnya pun mau tak mau harus bertambah. Di kalangan orang Karo hidup pendapat bahwa orang yang sudah mahir main catur Karo jauh lebih mudah menjadi pecatur ulung dalam catur internasional!

Sampai berapa macam biji catur, jelas jumlah itu besar sekali. Kelak dari Karo lahirlah pecatur-pecatur hebat itu. Di antaranya si Narsar Karo-karo.

 

Lahirnya Perkumpulan Catur

Organisasi catur sudah ada di Hindia Belanda (Indonesia) sejak di zaman sekitar Perang Dunia I, bahkan sudah dalam abad yang sebelumnya. Sekalipun mula-mula organisasi ini melulu diisi oleh masyarakat Belanda dan orang Indo-Belanda serta apa yang zaman itu dinamakan golongan timur-asing (Arab, Cina, India, Jepang) dan Indo-Arab serta Indo-Cina.

Secara pelan-pelan telah berdiri perkumpulan catur pada tahun 1896 di Surabaya dan tahun 1898 di Batavia (Jakarta). Lima belas tahun kemudian didirikan juga tiga perkumpulan lain di Semarang, Jogja dan Magelang, yakni di tahun 1911. Dan kemudian lagi tahun 1912 berdiri di Bandung.

Klub-klub catur itu awalnya mengadakan kegiatan-kegiatan tersendiri-tersendiri. Mereka juga mengundang pecatur-pecatur kuat dari luar negeri untuk mengadakan ekshibisi berupa simultan atau dwi lomba – dwi lomba lawan pecatur-pecatur terkuat dari perkumpulan-perkumpulan itu.

Sampai tiga tahun sesudah klub di Bandung berdiri, maka dirasakan kebutuhan akan adanya satu organisasi gabungan. Maka berdirilah tahun 1915 di Jogja apa yang disebut ‘Nederlands-Indische Schaakbond‘ atau disingkat NISB yang berarti Persatuan Catur Hindia Belanda.

Jogjakarta ketika itu telah mengambil prakarsa. Karena waktu itu di Jogja D. Bleykmans bermukim. Dia selama lebih dari 25 tahun menjadi ‘nabi catur’ Hindia Belanda.

 

Si Narsar Karo-karo.

Sebelum NISB didirikan, perkumpulan-perkumpulan di kota-kota besar tersebut di atas sekali-kali mengundang pecatur-pecatur kuat dari luar negeri atau dari luar pulau Jawa. Antara lain di tahun 1913 telah berkunjung ke pulau Jawa Si Narsar, yang dijuluki ‘jago’. Ada orang mengatakan dia buta-huruf, ada juga mengatakan dia berpendidikan rendah sekali.

Tahun 1914 dan 1915 klub-klub di Jawa masih dapat mengundang pecatur-pecatur kuat dari luar negeri. Tapi mulai tahun 1916 lautan luas di seluruh jagat sudah penuh dengan ranjau-ranjau, yang di mana-mana disebarkan oleh kapal-kapal perang Jerman.

Tiada lagi dapat datang pecatur luar negeri dan tiada yang bersedia menerima undangan. Hingga akhirnya tahun 1916 timbul pikiran untuk sebagai ‘attraksi’ mendatangkan lagi Si Narsar Karo-karo, si jago Karo itu.

Nama Si Narsar sudah banyak terdengar, sekalipun 3 tahun telah berlalu. Ya, dia pernah datang yakni di tahun 1913 ke Jawa untuk bertanding catur. Dia tetap suatu ‘sprookjesfiguur‘, demikian istilah Belanda waktu itu, ataupun : figur dongengan. Tokoh legenda. Akhir 1916 tibalah Si Narsar di Jawa untuk kedua kalinya.

Sekalipun Si Narsar tahun 1913 sudah pernah ke Jawa, namun kali ini pun orang di Jawa masih mengira anak dusun Si Narsar akan kacau-balau sebab naik kereta-api dan disuruh menginap di hotel-hotel terbaik (waktu itu) di Surabaya, Jakarta, Bandung, Jogja dan Semarang.

Lalu bagaimana? Semua perkiraan itu tiada terjadi. Main simultan dia melawan pemain-pemain terkuat di beberapa tempat. Di Bandung lawan 22 pemain dia mencapai 84%. Di Jogja lawan 18 pemain dia memperoleh 86%!

Lalu di Surabaya lawan 22 pemain dia mencapai 70%. ‘Kota buaya’, itu merasa dihina sebagai kota besar (waktu itu belum ada istilah ‘kota madya’). Karenanya pecatur-pecatur terkuat Surabaya minta ‘revanche‘. Hasilnya sama belaka : lawan 14 pemain Si Nasar cetak 69%.

Akhirnya 21 pecatur yang ‘selected’ (terpilih) di Jakarta diberi 98%. Timbul suatu rekor malahan di ibukota.

Narsar juga dihadapkan dengan pecatur-pecatur pulau Jawa yang terkuat waktu itu dalam dwi lomba-dwi lomba. Di Jogja dia lawan juara kembar pulau Jawa D. Bleykmans waktu itu, yang sudah disebut di atas.

Narsar rupa-rupanya karena baru di pulau Jawa dalam perjalanan kedua kali itu, kalah 0-2. Di Surabaya pun Narsar lawan juara kembar lainnya, N. Heye, tidak berhasil menang 1,5-1,5 saja.

Tapi pada akhir perjalanan di Jakarta, setelah keliling Jawa, dia sudah terbiasa main lawan pecatur-pecatur kuat dalam dwi lomba-dwi lomba. Safier, pecatur no. 4 di Pulau Jawa waktu itu, harus bertekuk lutut. Narsar menang 5-0.

Lalu pecatur Batavia (Jakarta) lainnya, H. Meyer, dihadapkan. Dia pun hampir-hampir diberi 5-0 juga. Hanya dalam partai ke 5, terakhir dia bisa menang berkat blunder Narsar dalam keadaan menang.

Selepas perang Dunia I, pembesar-pembesar catur di Jakarta dengan cara sportif sekali, berusaha memberi Narsar peluang mengembangkan bakatnya di bidang catur di Eropa. Tapi Narsar di sana tak maju-maju dalam catur. Ternyata pengetahuan umumnya (‘algemene ontwikkeling) kurang, sehingga tak sanggup dia mengikuti cara hidup umumnya dan tidak mengerti pula bahwa untuk lebih maju dalam catur tak cukup dia main ‘catur kedai kopi’ saja!

Prof. Dr.Max Euwe dalam bukunya ‘Veldheerschap op 64 Velden’ (yang dipuji-puji ketika baru terbit) mengemukakan dalilnya bahwa untuk menjadi seorang Grandmaster (atau pecatur kuat sekali) si pemain juga membutuhkan ‘common intelligence’ (kecerdasan umum) yang agak luas. Mungkin sekali Narsar hanya memiliki banyak bakat untuk catur dan rutin main dalam dosis besar, akan tetapi common intelligencenya masih amat kurang.

Suatu hal yang oleh para simpatisannya di Jakarta tahun 1919 mungkin atau kurang diperhitungkan …..

Sejarah Catur Indonesia

Sumber : Sejarah Catur Indonesia oleh Ds  F.K.N Harahap, Penerbit Angkasa, Bandung, 1985.

 

Tulisan lainnya tentang Pecatur Si Narsar Karo-karo dapat dibaca di link ini : klik.