,

Monang Sinulingga (Bagian 4)

oleh
Monang Sinulingga (Juni 2008)
Monang Sinulingga (Juni 2008). Sumber foto : Flickr Nasril Bahar.

MONANG SINULINGGA, SI PEMAIN ALAM ITU TELAH TIADA

KABANJAHE, SORA MIDO – Pemain catur Karo ternama, Monang Sinulingga, pada 11 Juni 2008 meninggal dunia dalam usia 62 tahun setelah menderita diabetes basah yang mengerogoti tubuhnya lebih dari sepuluh tahun lamanya. Dia dimakamkan di desa kelahirannya, Lingga. Monang Sinulingga meninggalkan seorang isteri, Piah Malem br Ginting dan 3 putri dan satu putra yaitu Irana Sinulingga, AMD, Wibawa Sinulingga, Spd, Sederhana Sinulingga, Amd dan Datna Sinulingga (mahasiswi semester delapan di Unimed).

Menurut data ELO Rating FIDE Pecatur Indonesia per 1 April 2008, tercatat elo rating Monang Sinulingga 2295, berada pada urutan 35. GM Cerdas Barus berada pada urutan kelima dengan 2456, MI Nasib Ginting urutan 13 dengan 2397, MF Sarwan Ginting urutan 22 dengan 2355, dan MN Masa Sitepu urutan 46 dengan ER 2267.

 

Reaksi

Ketika dihubungi melalui telepon menyampaikan perihal kepergian Monang Sinulingga, Letjen (Purn) Amir Sembiring merasa tekejut. Ndiganai? (kapan). Begitulah biasanya orang Karo menerima kepergian seseorang yang dikenal. Amir Sembiring yang sangat mencintai catur ini merasa sangat kehilangan atas kepergian Monang.

“Secara pribadi saya menyampaikan rasa hormat dan bangga atas prestasinya selama ini di bidang catur. Turut berdukacita sedalam-dalamnya” ujar Amir Sembiring. “Jika dulu pecatur Karo pernah berkecimpung di tingkat dunia, maka perlu dilakukan berbagai kegiatan pembinaan, agar pecatur-pecatur Karo mampu berkiprah kembali di tingkat dunia”.

Harapan seperti itulah yang mendorong Letjen (Purn) Amir Sembiring menggagas turnamen catur Amir Sembiring Cup yang sudah dua kali terselenggara.

“Kalau dilihat prestasinya, patutlah Monang Sinulingga disebut sebagai pahlawan. Karena di masa jayanya dia telah mengharumkan nama suku Karo baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Dolat Sembiring Kembaren, yang di tahun 1980-an menjadi salah satu anggota klub catur Karo di Yogyakarta, “Kilap Sumagan.”

“Selain permainannya memang menakjubkan, Monang Sinulingga juga punya keunikan,” ujar Binson Purba, yang juga pernah menjadi pemain andalan “Kilap Sumagan”. Dia lantas terkenang dalam satu partai, Monang berpikir sekian puluh menit lamanya, padahal yang harus digesernya buah rajanya yang diskak lawan.

“Rupanya yang dipikirkannya beberapa langkah selanjutnya” ujar Binson Purba sambil tertawa mengenang episode kehidupan Monang Sinulingga yang meninggalkan begitu banyak kesan.

 

Debut yang Menggemparkan

Sejak pemunculannya pertama kali di gelanggang catur nasional pada tahun 1972, Monang Sinulingga langsung merebut perhatian para pengamat catur. Sebagai pemain alam, pergerakan buah caturnya sering membuat lawan-lawannya merasa terkejut. Antara lain pengorbanan buah catur yang sudah menjadi ciri permainan catur Karo. Buah catur “tidak begitu berharga” sehingga langkah pengorbanan (erbuang) merupakan bagian dari taktik.

Itulah yang dilakukannya pada Kerjurnas tahun 1972 itu sehingga namanya segera populer di belantika catur Indonesia. Saat melawan Master Nasional MHS Nainggolan (DKI Jaya), Monang mengorbankan benteng (tir) untuk kemudian mendapatkan menteri Nainggolan.

Kejutan lainnya, MI Ardiansyah, satu-satunya peserta berpredikat master internasional di turnamen itu, berhasil ditaklukkan Monang. Ketika bertemu dengan pecatur yang tidak kalah hebatnya pada masa itu, MN Arovah Bahtiar, pertandingan berlangsung dengan alot. Terpaksa dilanjutkan keesokan harinya, dan hasilnya, remis.

Tidak ada yang pernah menyangka seorang pemuda dari Tanah Karo sekonyong-konyong muncul dan membuat “dunia persilatan catur nasional” geger. Beberapa pecatur terbaik Indonesia pada masa itu berhasil ditekuknya dengan permainan yang membingungkan lawan-lawannya.

Pada tahun itu juga, Monang Sinulingga mewakili Sumut berhasil meraih gelar Master Nasional dengan nilai 8 dari 14 partai, bersama rekannya Pokan Damanik. Juara turnamen MN Jacobus Sampouw memperoleh nilai 9 ½. Sedangkan wakil Sumut lainnya, Thomas Ginting yang di turnamen itu juga mengalahkan MI Ardiansyah, tapi gagal meraih gelar MN karena permainannya tidak konsisten dan hanya berhasil meraih nilai 5.

 

Disambut Meriah

Ketika pulang ke Tanah Karo, Monang Sinulingga disambut dengan upacara yang meriah. Patutlah dia disebut pahlawan bagi orang Karo, dia telah membuat nama orang Karo harum dan mengukuhkan bahwa Karo identik dengan catur, kurang lebih sama halnya Brazil dengan sepakbola.

Bupati Karo Tampak Sebayang memerintahkan agar ipalu gendang sarune ras perkolong-kolongna. Jamuan makan pun diadakan bagi sang pahlawan itu. Bertempat di Gedung Nasional, Kabanjahe, Monang pun melakukan petandingan simultan. Dunia catur di Tanah Karo pada masa itu penuh dengan gairah. Nama Monang Sinulingga pun menjadi idiom catur di seluruh kedai kopi.

Sebagai penghargaan atas prestasi Monang, Pemda Karo mengangkatnya sebagai pegawai harian di Kantor Bupati. Karena tingkat pendidikan yang pernah dicecapnya hanya SD, dia tetap mengembangkan diri dalam dunia catur. Artinya, hanya untuk urusan gaji saja dia merasa perlu hadir di kantor.

 

Kesepian

Di balik masa keemasannya itu Monang sempat mengalami sisi yang muram. Tepatnya, dia merasa “kesepian”. Tidak punya sparring partner (lawan tanding) yang “wajar”. Harus dengan pengaturan poor, entah 1 kuda atau gajah dan sebagainya. Karena catur sudah menjadi panggilan hidupnya, terpaksalah dia melayani sistem pertandingan seperti itu, yang memang lajim terjadi di mana-mana, tentu saja lit lapikna (taruhan uang).

Sering Monang kalah dan kalah artinya uang keluar. Tapi begitulah langgam dunia catur di Tanah Karo, pertarungan otak untuk meraup rupiah justru, membuat catur jadi menarik dan menegangkan. Salah satu “forum” yang ternama di seluruh Kabupaten Karo sebagai tempat mangkalnya para jago catur adalah “loost galuh” di Pusat Pasar Kabanjahe. Umumnya mereka itu hidup dari papan catur. Di sana sering Monang mangkal menunggu lawan.

Monang telah pergi, meninggalkan jejak emas dengan sederet prestasi, antara lain :

  • Kejuaraan Catur antar kota se-Asia II/1980 di Hongkong,
  • The GM Int Chess Ratung Tournament di Dacca Pakistan, 1980,
  • Kejuaraan Catur antar kota se Asia III/1981 di Hongkong,
  • Turnamen Catur Master Sirkuit Asia I/1982 di Hongkong,
  • Olimpiade Catur ke 25/1982 di Lucerne Swiss,
  • Kejuaraan Catur antar kota Asia IV/1983 di Hongkong,
  • Kejuaraan Catur antar kota Asia V/1984 di Penang, Malaysia,
  • Olympiade Catur di Nice, Perancis tahun 1974,
  • Olympiade Catur ke-26 tahun 1984 di Tessalonika, Yunani

 

Games played by Monang Sinulingga
Games played by Monang Sinulingga. (Sumber : 365chess.com)

 

13th Indonesia National Championship Final, Jakarta 1972
13th Indonesia National Championship Final, Jakarta 1972 (Sumber : Indonesiabase.com)

 

Wahono Cup, Jakarta 1982
Wahono Cup, Jakarta 1982 (Sumber : Indonesiabase.com)

Di tingkat nasional, juara 2 beregu putra Pekan Olahraga Wilayah VI se-Sumatera di Lampung tahun 2003, Pekan Olahraga Wilayah I Sumatera-Kalimantan di Padang tahun 1984, Pekan Olahraga Nasional (PON) VIII Jakarta 1973, Catur perorangan terbaik papan pertama PON X Jakarta 1981, juara catur beregu PON X tahun 1981.

Piagam penghargaan yang sudah diterimanya, di antaranya, PON X tahun 1981 mewakili Sumut, Piala Wahono (Direktur Jenderal Bea dan Cukai) tahun 1982 di Jakarta mewakili Sumut, atlet senior putra mewakili Sumut di Palangkaraya, Kalimantan Tengah tahun 1995.

Monang Sinulingga, dengan kesederhaan dan keluguannya, kekal namanya dalam lembaran sejarah Karo, khususnya di bidang sport olah akal itu.

Selamat jalan, sobat. Namamu abadi, beberapa pertandinganmu yang gemilang tercantum dalam buku tulisan dan ulasan Ds. F.K.N Harahap “Belajar Main Catur dari Master-Master Nasional dan Internasional” yang terbit tahun 1974. (sg)

 

Sumber : SORA MIDO