,

Monang Sinulingga (Bagian 3)

oleh
Tugu Catur di Kabanjahe
Tugu Catur di Kabanjahe (Sumber : @jupitermaha)

Monang Sinulingga Di Hari Tua 

Ditulis oleh Eddy Surbakti

Banyak sisi kehidupan yang dapat memperkenalkan Taneh Karo ke depan depan masyarakat luas. Taneh Karo yang selalu diidentikan dengan keadaan alam baik secara pariwisata maupun pertanian, keunikan budaya/adat adat dan sisi sisi lain yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Dibidang olah raga banyak juga masyarakat karo yang mempunyai prestasi di panggung nasional dan internasional. Monang Sinulingga, pria kelahiran tahun 1946 dengan nilai ELO rating pecatur Indonesia  Oktober 2006 (data terakhir yang diperoleh ) sebesar 2295.

Pria berasal dari desa Lingga Kabupaten Karo, pada tahun 1952 menghabiskan waktunya di Namo Terasi (Langkat). Membantu orang tuanya untuk bertani dan bercocok tanam. Sehingga pada tahun 1966 kembali ke Kabupaten Karo .

Pendidikan dari alam dan lingkungan sekitarnya membawa Monang Sinulingga ke pentas percaturan nasional dan internasional. Keahlian Monang Sinulingga bermain Catur Karo, memberikan warna tersendiri dalam memainkan catur international. Hal ini diungkapkan oleh Baginda Purba, yang mendampingi Monang Sinulingga saat diwawancarai di warung catur yang terletak di Simpang Samura No. 2 Kaban Jahe (11/07).

Memulai prestasinya sebagai pecatur lokal yaitu di beberapa turnamen yang diselenggarakan di Kab. Karo. Prestasi sebagai pemenang di Kab. Karo membawa Monang Sinulingga ke kancah percaturan tingkat Sumatera Utara.

Secara perlahan-lahan gelar Monang Sinulingga menjadi salah satu nama yang diperhitungkan di tingkat Sumatera Utara karena beberapa kali memenangkan turnamen catur tingkat Sumatera Utara sehingga nama Monang Sinulingga terdaftar sebagai pemain nasional, Karena telah berhasil mengalahkan beberapa pemain catur tingkat nasional.

Keberhasilan Monang Sinulingga di pentas catur nasional membawa nama Indonesia  ke panggung Olimpiade pada tahun 1974 di Perancis dan Olimpiade 1984 di Yunani. Selain kedua negara tersebut Monang Sinulingga juga  telah membawa nama Indonesia  ke beberapa negara seperti Hongkong, Banglades dan Malaysia.

Di Banglades, Monang Sinulingga dianugrahkan gelar IM ( International Master ) karena tidak menganggap gelar itu terlalu penting baginya, Monang Sinulingga menolak penganugrahan gelar tersebut. Saya beranggapan gelar tersebut tidak terlalu penting, jelas Monang Sinulingga.

Monang Sinulingga juga menceritakan dan menjelaskan beberapa tournamen, kegiatan kejuaraan catur dan beberapa penghargaan penting, yang tetap diingatnya sampai sekarang, di samping banyak sekali kegiatan dan tournament yang dia sendiri sudah lupa.

Monang memberikan urutan beberapa turnamen, kegiatan kejuaraan catur dan beberapa penghargaan penting yang dia masih ingat seperti :

Tahun 1966 : Mengikuti kejuaraan catur daerah Sumatera Utara, dengan meraih Juara I.

Tahun 1972 : Berangkat ke Jakarta dan Mendapatkan Gelar Master Nasional.

Tahun 1972 : Menjadi Pegawai Negeri Di salah satu dinas Pemda Karo .

Tahun 1974 : Olimpiade di Perancis.

Tahun 1984 : Olimpiade di Yunani

Tahun 1991 : Mengikuti Piala Habibie, Meraih Juara I

Tahun 1991 : Mengikuti Piala Astra.

 

Kondisi Monang Sinulingga Pada Saat Sekarang Ini

Sejak tahun 1991 Monang Sinulingga mengalami sakit yang cukup memberikan dampak negatif, bukan hanya terhadap kesehatan, tetapi juga mental dan prestasinya dalam bermain catur.

Saya terserang penyakit gula sejak 1991, ungkap Monang Sinulingga. Pada tahun 1991, saya masih berangkat ke Palembang untuk menghadiri Pekan Olah Raga Nasional di Palembang. Tetapi pada saat itu, karena kondisi kesehatan yang kurang baik, saya tidak mengikuti PON yang diselenggarakan di Palembang.

Saat ditemui di warung catur Simpang Samura No.2 Kaban Jahe, kondisi Monang Sinulingga sangat memperihatinkan sekali. Saya sangat kecewa dengan hal ini, kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap atlit catur yang telah membawa nama Taneh karo dan Indonesia di pentas kejuaran catur Nasional dan internasional.

Hal ini akan menyebabkan tidak lahirnya bibit-bibit pemain baru untuk bidang olah raga catur. Hal ini diungkapkan oleh Baginda Purba.

Sumber : Radio Karo Accees Global