,

Monang Sinulingga (Bagian 2)

by
Merlep Ginting melawan Prins
Merlep Ginting melawan IM Lodewijk Prins, Jakarta 1956

Tahun 1972, Monang Sinulingga berumah tangga.  Dan kebahagiannya bertambah, sejak Bupati Tanah Karo menaruh perhatian terhadap kebolehan Monang Sinulingga. Dia pun diangkat  menjadi pegawai di pemerintahan Kabupaten sebagai pegawai harian. Dan dia dapat sebidang tanah sawah.

Monang Sinulingga kian membanggakan bagi orang Karo khususnya, karena dia diikutsertakan memperkuat Tim Nasional Indonesia ke Olympiade Catur XXI di Nice, Perancis pada bulan Juni 1974 yang akan datang.

Berikut artikel yang menuliskannya :

 

Suka “Main Taruhan” Guna Tambah Nafkah

(Sinar Harapan, Jumat 3 Mei 1974)

 

NAMANYA Monang Sinulingga. Orangnya polos dan lucu, bukan main senangnya waktu tahu bahwa fotonya mau diambil dan juga sewaktu dia mau diwawancarai.

Dataran tinggi Tanah Karo Sumatra Utara yang dingin itu, mempunyai penduduk yang hidup dari hasil pertanian terutama sayur mayur, dan biasanya kaum lelakinya menghabiskan waktunya ngobrol-ngobrol dan main catur di warung-warung. Dan, Monang Sinulingga, putera Karo yang tidak tahu nama-nama pembukaan atau pertahanan teori-teori catur yang dimainkan, secara mengagumkan telah berhasil mengalahkan MI Ardiansyah dan Dr. Watulo baru-baru ini di Jakarta.

 

Sering Bertaruh

SEMASA Monang masih bayi, ayahnya meninggal dunia, dan menyusul ibunya 4 tahun yang lalu. Tinggallah Monang bersama tiga saudaranya sebagai yatim piatu.

Pada tahun 1972 dan 1973 dia berhasil memenangkan juara catur Sumatra Utara.

Berapa umurnya sekarang? “Kira-kira 28 atau 29 tahun dan saya tidak tahu pasti tanggal kelahiran saya” katanya.

Dua tahun yang lalu dia sudah berumah tangga. Rupanya Bupati Tanah Karo menaruh perhatian terhadap kebolehan anak ini, sehingga sejak dia menjadi menjuarai catur di Sumatra Utara dia pun diangkat jadi karyawan Kabupaten sebagai pegawai harian dengan gaji Rp 2.600,- satu bulan. Dan dia dapat sebidang tanah sawah. “Sampai sekarang sawah itu belum berbuah” katanya penuh humor. Sebagai tambahan pendapatan sehari-hari dia suka bertanding dengan uang taruhan kecil-kecilan.

“Kawan-kawan sering datang mengajak bertaruh, malahan ada yang mengajak taruhan Rp 200,- sekali main”, katanya dengan gembira. “Dalam sehari rata-rata dapat menghasilkan Rp 500,- sampai Rp 600 “ tambahnya.

DENGAN spontan Monang Sinulingga mengatakan bagaimana gembiranya dia diikutsertakan memperkuat Tim Nasional Indonesia ke Olympiade Catur XXI di Nice, Perancis pada bulan Juni 1974 yang akan datang.

Sejak muda dia mulanya hanya tahu “catur Karo” itu permainan catur gaya Karo yang punya menteri (mesah) dua buah. Saya sebenarnya bukan pemain alam lagi, kata Monang menanggapi julukan yang diberikan kepadanya. “Dulu memang saya bermain tanpa teori” katanya.

 

Pemain Alam?

Sewaktu tahun 1965 Monang memasuki Persatuan Catur Medan. Dia mulai membaca tulisan-tulisn mengenai catur, dari jalannya perandingan dalam majalah atau suratkabar-surat kabar. Bahkan buku-buku catur juga sudah mulai digarapnya.

“Salah satu buku yang saya kagumi adalah buku karangan Dr. Max Euwe (bekas juara catur dunia tahun 1937) terjemahan Indonesia”, katanya sambil menghisap rokok kreteknya.

Monang Sinulingga yang beragama Kristen Protestan ini kalau lagi main catur, merokoknya, wah, seperti lokomotif. Putera Tanah Karo yang hanya mampu sekolah sampai kelas dua SMP karena tidak punya biaya ini rupanya sudah mulai senang membaca buku-buku catur.

 

Bingung dan Gugup

IBARAT seorang kampung yang masuk kota Metropolitan, yang suka bingung dan gugup lihat “gegap gempitanya” kota ini, begitulah Monang putra Tanah Karo ini. Selasa malam yang lalu ia bingung setengah mati sewaktu berhadapan dengan Grand Master Rusia Paul Keres yang kebetulan datang ke Indonesia untuk melakukan “demonstrasi simultan”.

Sewaktu Paul Keres memulai pertandingan, Sinulingga tidak mengenal dan belum pernah melihat cara pembukaan seperti itu. “Saya jadi bingung saat itu” komentarnya.

Dalam hatinya dia berfikir, ”inikah pertandingan demonstrasi, kalah atau menang jelas saya tidak puas, tapi kalau kalah malunya bukan main”.

Boleh jadi perasaan inilah yang membuat dia menjadi gugup. Alhasil dalam perandingan “demonstrasi simultan itu” dibandingkan dari peserta lainnya, Monang Sinulingga yang lebih dahulu menjatuhkan rajanya.

Diakuinya bahwa pengalaman pahit itu menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupnya. Padahal saat itu pembukaan GM Rusia ini adalah “Varian Keres” pada pertahanan Sisilia. “Keres memang kuat” kata Sinulingga.

Menurut Sinulingga, pemain dunia yang dikaguminya ialah Bobby Fischer karena pembukaannnya. Sedangkan pemain nasional yang paling berkesan ialah Jacobus Sampow dan Johny Suwuh. Boleh jadi karena dia pernah dikalahkan kedua pemain ini.

 

Punya Tekad

PADA pertandingan seleksi national untuk Olympiade yang akan datang (maksudnya di Junani), minggu lalu di Jakarta, Monang Sinulingga dikalahkan pada babak permulaan oleh Sampow dan Suwuh. Tetapi kekalahannya ini tidak membuat dia patah semangat.

Malahan permainannya semakin mantap dan dengan semangat yang menyala-nyala dia behasil masuk “Enam Besar”.

Dikatakannya mengenai ikutnya dia ke Nice, biarpun bukan pemain inti tidak menjadi soal baginya. “Yang penting ke Olimpyade di Perancis itu untuk cari pengalaman,” komentarnya.

Sebagai orang yang berbicara kepada dirinya sendiri, Monang Sinulingga mengatakan, “sekembalinya dari Perancis nanti mutu permainan saya pasti bertambah”.

Diceritakan Monang, bahwa seorang pemain kawakan catur Medan Dami Panggabean yang memberikan dorongan kepadanya untuk terus main catur. “Olahraga catur dipertandingkan secara nasional dan internasional,” kata Panggabean kepada Sinulingga . Ini yang membuat saya punya tekad katanya.

Dalam masa 20 tahun ini, Monang Sinulingga adalah putra Tanah Karo kedua yang pernah “menggegerkan dunia catur Indonesia” setelah Merlep Ginting.

Merlep Ginting, seorang pemain alam, hampir pernah mengalahkan Master Internasional Belanda Prins pada tahun 1953.

Seorang tokoh masyarakat Sumatra Utara dalam mengomentari prestasi Monang Sinulingga ini mengatakan, “kalau Sumatra Utara punya seorang gubernur seperti Ali Sadikin, pasti manusia seperti ini akan dibina hingga dapat membawa keharuman Indonesia. (PAR/DM)

 

Sumber : Sinar Harapan, Jumat 3 Mei 1974