,

Monang Sinulingga (Bagian 1)

oleh
Monang Sinulingga
Monang Sinulingga

Monang Sinulingga lahir tahun 1946 di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Semasa Monang masih bayi, ayahnya meninggal dunia. Monang memiliki  tiga saudara.

Dataran tinggi Tanah Karo Sumatera Utara yang dingin, mempunyai penduduk yang hidup dari hasil bertani terutama sayur mayur, dan umumnya para lelakinya menghabiskan waktunya untuk ngobrol-ngobrol dan bermain catur di kedai-kedai kopi.

Memulai prestasinya sebagai pecatur lokal yaitu di beberapa turnamen yang diselenggarakan di Kabupaten Karo. Prestasi sebagai pemenang di Kabupaten Karo membawa Monang Sinulingga ke kancah percaturan tingkat Propinsi Sumatera Utara.

Secara perlahan-lahan gelar Monang Sinulingga menjadi salah satu nama yang diperhitungkan di tingkat Sumatera Utara karena beberapa kali memenangkan turnamen catur tingkat Sumatera Utara. Sehingga nama Monang Sinulingga terdaftar sebagai pemain nasional, karena telah berhasil mengalahkan beberapa pemain catur tingkat nasional.

Sejak kemunculannya pertama kali di gelanggang catur nasional pada tahun 1972, Monang Sinulingga langsung merebut perhatian para pengamat catur. Sebagai pemain alam, pergerakan buah caturnya sering membuat lawan-lawannya merasa terkejut. Antara lain pengorbanan buah catur yang sudah menjadi ciri permainan catur Karo. Buah catur “tidak begitu berharga” sehingga langkah pengorbanan (erbuang) merupakan bagian dari taktik.

Itulah yang dilakukannya pada kerjurnas tahun 1972 itu sehingga namanya segera populer di belantika catur Indonesia.

Berikut beberapa artikel-artikel yang menuliskan kisah tentang Monang Sinulingga :

 

“Master-Master Cari Sponsor”

Majalah Tempo, Sabtu, 8 Juli 1972.

Begitu matanja melek, pagi itu djuga sasarannja ke kedai kopi. Disitu ia membentang papan tjatur. Di Tanah Karo, ini konon berarti tantangan jang demi kehormatan (adat) harus didjawab pula.

Dan seperti biasa, ada sadja jang mau meladeni tantangan itu. Pada saat itulah Monang Sinulingga tidak menunggu lebih lama untuk memesan setjangkir kopi dan sepiring nasi. Persoalan perutpun pagi itu teratasi oleh pertaruhan jang dimenangkan Monang terhadap lawannja. Tanpa disadari, pola kehidupan jang didjalankan Monang sedjak 1961 merupakan awal dari satu proses jang mengangkat dirinja ke-echelon tertinggi dunia tjatur Indonesia – setelah setjara kebetulan pemuda 26 tahun asal Namutrasi (Kabupaten Langkat) ini diberi kesempatan mewakili Tanah Karo ke kedjuaraan Sumatera Utara.

 

Buku

Apa jang membikin Monang tjepat melondjak bukan karena teori dari buku-buku tjatur. Sebab “di Tanah Karo mana ada buku”. Tapi rupanja dengan bekal kemauan keras dan beladjar dari pengalaman serta “tekad untuk membalas setiap kekalahan”, tjukup bagi Monang jang berpendidikan Sekolah Dasar untuk merebut gelar “Master Nasional”.

Dalam final Kedjuaraan Tjatur Nasional di bulan Djuni jang lalu lihat, bakat alam Monang diudji. Tertjatat antara lain : menang terhadap Master Internasional Ardiansjah, remise dengan Master Nasional Arovah Bachtiar dan kalah dari Gozali (Djaya).

Kekalahannja dari Gozali ini, menurut pengakuan Monang, adalah “kesalahan untuk meniru-niru pembukaan lawan”, katanja, “baru aku tahu apa Sicilian itu”.

Beberapa finalis mengakui bahwa mereka terkedjut dengan beberapa move-move Monang jang diluar perhitungan. Sementara Djuara Pertjasi tahun lalu Arovah Bachtiar mengakui ketadjaman permainan anak Tanah Karo ini.

“Kalau sadja dia dapat menguasai kira-kira 8 variant pembukaan, dia akan lebih baik”, komentar Arovach jang kemudian menambahkan bahwa “permainan pertengahan Monang amat kuat, penuh dengan variasi-variasi jang orisinil.”

 

Stabil

Ardiansjah, Master Internasional jang tidak pernah absen dalam Kedjuaraan Nasional beberapa tahun ini, ikut menilai: “Pemain alam tjepat menondjol, tapi tjepat pula djatuh”, kata Ardiansjah, “itu pasti. Pemain alam pasti akan djatuh oleh pemain teori. Sebab teori untuk menstabilkan permainan”.

Apa kata Sinulingga terhadap komentar itu? “Semua lawan saja akan saja pukul. Mereka setingkat di bawah saja, ketjuali Arovah”, katanja dengan lugu, tapi penuh dengan kejakinan.

Tekad pemain alam ini: tahun depan pasti ia akan muntjul sebagai djuara, meski kemudian ia menuntut agar makanan selama di Djakarta “djangan” jang manis-manis melulu” dan “uang kantong perlu diberikan setiap kali ia menang”.

Berbeda dengan Sinulingga adalah rekannja Pokan Damanik dari Sumut. Sebagai Master Nasional baru, 30 tahun, sedjak tahun 1958 Pokan main dengan teori. Bahkan kini aktif sebagai coach jang memberi peladjaran teori dalam Pertjasen (Persatuan Tjatur Sentral) Medan, meski dengan tugas seorang coach itu, Pokan merasa kesempatan untuk mengembangkan diri agak ber-kurang.

Tapi memang mendjadi tudjuannja untuk melengkapi pemain-pemain Sumut dengan pengetahuan teori.

Master Nasional baru lainnja Tigor Hutagalung dari DCI Djaya, pernah dalam tahun 1964 mewakili Sumut dalam Kedjuaraan Nasional. Pernah pula merebut gelar Pemain terbaik ke-2 dalam PON VII Surabaja 1969. Kemudian pindah ke Djakarta pada tahun 1970 dan berhasil mendjadi Djuara Ibukota tahun itu djuga.

Berpegang pada pembukaan favoritnja “Sicilian”, Tigor mendjelaskan segi ilmiah dari permainan tjatur diatas 64 petak dengan “1001 matjam variant” jang menantangnja untuk menggondol gelar Master Internasional dalam waktu dekat. Kedjuaraan Tjatur Pertjasi (Persatuan Tjatur Se- Indonesia) tahun ini jang berlangsung di Gedung KONI Senajan diliputi oleh suasana baru. Ruangan pertandingan disegarkan AC, sementara penonton diberi fasilitas untuk mengikuti setiap langkah permainan melalui papan. Dengan tjatatan tidak boleh merokok dan tidak memakai sandal. Penerangan dengan lampu neon, meski kurang terang bagi penonton, tapi tidak memantulkan tjahaja bagi pemain jang berkepentingan.

 

Sponsor

Prestasi tahun ini jang menampilkan 3 Master Nasional baru antaranja pemain alam Sinulingga tidak mengurangi mutu Kedjuaraan, bahkan sebaliknja menundjukkan grafik menaik. Ini diakui oleh beberapa peserta jang mengatakan Jacobus Sampouw (MN) memang pantas mendjadi Djuara tahun 1972 dengan angka jang tjukup mejakinkan. Tapi untuk meningkatkan mutu olahraga tjatur Indonesia, “tidak ada lain djalan, ketjuali dibantu oleh sponsor-sponsor”, seperti komentar Lugito Hayadi (MN) dari Djaya jang tersisihkan dalam babak kwalilikasi. Pemain dan penulis tjatur kawakan ini jang sehari-hari dikenal sebagai anggota “Tunas Djaya”, mengatakan kepada TEMPO bahwa “potensi jang ada pada diri Ardiansjah dan Arovah sepantasnja dikembangkan setingkat Grand Master dengan bantuan sponsor jang mau mengirim mereka bertanding keluar negeri”.

Dan tambahnja: “Tjoba berikan mereka kesempatan setahun bertanding di Eropa, pasti kelihatan kemadjuannja”. Agaknja perbaikan kondisi bertanding dengan bermuntjulnja master-master baru, toh tidak akan mendorong prestasi pemain-pemain top Indonesia untuk mentjapai prestasinja lebih tinggi dari sekarang, djika tidak mendapat bantuan sponsor jang dimaksud.

 

———–

DCI Djaya =  DKI Jakarta