Sayonara Sumatra…. Sayonara Tanah Karo (Bagian 1)

by
Kolonel Inf (Purn) Nahud Bangun
Kolonel Inf (Purn) Nahud Bangun

Dalam buku : “Semangat Juang 45 Sumatera Utara – Kumpulan Tulisan Perjuangan Para Pejuang Sumatera Utara (Seri ke VII),”  Kolonel Inf (Purn) Nahud Bangun menyumbangkan beberapa tulisan. Salah satunya tulisan berjudul “Kenangan Masa Bersama Jamin Ginting.

Pada sub bab “Berakhirnya Suatu Perang Besar” Agustus 1945,” Kolonel Inf (Purn) Nahud Bangun bercerita tentang masa-masa menjelang di bulan Agustus 1945 dan suasana kota Kabanjahe, berikut ini penuturannya :

Di kedai inilah kami berjumpa, Kedai Kopi merek “Sin Juliong” yang berada di kota Kabanjahe. Lebih dikenal dengan nama Kedai Kopi Si Pendek, berada di salah satu sudut kota.

Perjumpaan secara kebetulan, karena tidak diatur atau direncanakan sebelumnya. Harinya saya tidak ingat lagi, tetapi tanggalnya ialah pada 16 Agustus 1945. Kami duduk berenam, mengelilingi sebuah meja bundar yang bertutup marmer.

Pandangan kami arahkan ke wajah pembicara utama, yaitu Nerus Ginting Suka.

“Bagaimana Bung ini! Ditanya lagi siapa yang menang!” Ketus nada pembicara dengan nada setengah membentak karena kesal.

“Tadi juga sudah saya katakan. Kemarin kami bertemu Gunseibu  di rumah Tuan Fukuchi sendiri di Berastagi. Dalam pertemuan, pertanyaan yang serupa saya ajukan juga. Jawabnya : “Tidak ada kalah, tidak ada menang. Perang sudah berhenti. Itu saja.” Jadi, kalau saudara tanya lagi, siapa yang menang atau kalah……. mana saya tahu ….. jelas!”

Kata-kata meluncur bagai pelor senapan mesin dari mulutnya. Lengan kanannya bergerak-gerak. Telapak tangan di ujung lengan turut melambai-lambai seperti kipas. Memang seperti mengipas, disebabkan tidak dapat mengepal. Karena cacat yang dibawa sejak lahir.

Menggerakkan lengan sewaktu berbicara , lebih-lebih lagi waktu berpidato, memang suatu kebijaksanaan yang dimiliki Nerus Ginting Suka. Dia dikenal sebagai seorang tokoh pejuang yang berasal dari daerah Karo.

Selama pendudukan Jepang, termasuk orang yang dekat dan menjadi pembantu Gunseibu. Dalam peristiwa pemberontakan melawan Pemerintahan Belanda pada tahun 1928, beliau ditangkap dan ditahan. Kemudian dibuang ke Digul atau Tanah Merah.

Setelah bertahun-tahun di dalam pembuangan, mendapat pengampunan dari Hare Majesteit de Koningin der Nederlanden. Diijinkan pulang, lalu kembali ke daerah asalnya.

Oleh kami pemuda kota (Kabanjahe), secara kelakar sering menukar nama Digulist ini dengan panggilan : “Nehru Ginting Suka” serupa dengan nama pimpinan India yang sudah terkenal waktu itu, Pandii Yawaharlal Nehru.

Nampaknya dia tidak keberatan, senang barangkali.

 

Bersambung ke Bagian 2

———————-

Gunseibu : Koordinator Pemerintah dengan tugas memulihkan ketertiban dan keamanan atau semacam Gubernur.

Fukuchi : Kepala pemerintaha di daerah (setingkat bupati)