Mengenang Seniman Tariganu (9 Oktober 1938-2 April 2019)

by
"Potret diri." Lukisan cat minyak Tariganu. Diambil dari buku "Elang, Sajak sajak 1968-1974 dalam bentuk Degu" karya Tariganu.
"Potret diri." Lukisan cat minyak Tariganu. Diambil dari buku "Elang, Sajak sajak 1968-1974 dalam bentuk Degu" karya Tariganu.

“Studi atau Revolusi”

Menjelang perhelatan besar Ganefo (Games of the New Emerging Forces atau Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang), Tariganu (Usaha Tarigan) dihubungi oleh beberapa orang untuk terlibat dalam kepanitiaan. Pada awalnya dia menolak, dengan alasan sedang serius studi. Selain sebagai mahasiswa, saat itu Tariganu didaulat menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra UI berbarengan dengan HB. Jasin.

“HB. Jasin mengajar di jurusan Sastra Indonesia, saya mengajar di jurusan Sinologi. Saat itu waktu saya lebih banyak dihabiskan di perpustakaan jurusan. Sinologi satu-satunya jurusan yang punya perpustakaan di UI di Rawamangun, waktu itu. Bahkan kunci perpustakaan saya yang pegang,” kenangnya.

Namun usaha membujuk tak surut. Tak lama berselang, Tariganu didatangi lagi. Kali ini seseorang bernama Agus yang mengaku membawa pesan dari Sitor Situmorang, Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional yang juga anggota MPRS.

“Kata orang itu, mana lebih penting, studi atau revolusi? Saya jawab, revolusi!” tutur pemuda berdarah Karo yang pernah mendapat beasiswa pertukaran pelajar di Universitas Peking, RRC tahun 1959-1962.

Di dalam Komite Nasional kepanitiaan Ganefo, Tariganu ditugaskan sebagai pendamping dan penterjemah.

“Saya mendampingi Ketua Delegasi Korea, Mr. Kim. Waktu itu tak ada yang bisa menjadi translate dia. Dia tidak bisa berbahasa Inggris maupun Cina. Kebetulan saya menguasai kanji. Jadi kami berkomunikasi dengan saling menulis huruf kanji.”

Selain itu, Tariganu juga mengajar kursus kilat istilah-istilah olahraga untuk kontingen Cina di Gedung Pemuda yang dulu berlokasi di sekitar Monas.

Selain atlet, kontingen Ganefo juga membawa senimannya. Mereka tampil di panggung-panggung terbuka. Lengkap sudah kemeriahan perhelatan itu. Rombongan penari dan penyanyi Korea tampil di panggung terbuka pantai dekat Ancol dan di Istana Bogor.

“Seniman Korea yang terkenal saat itu Hen Cek. Dia penyanyi bersuara hebat. Tubuhnya gempal dan tidak terlalu tinggi. Dia menyanyi empat langkah dari mikrofon. Kalau seniwatinya Pak Rieng Suk. Di Bogor saya menjadi MC menggantikan Job Ave,” kenangnya.

Pendiri Yayasan Bengkel Seni ’78 bersama pelukis Delsyi Syamsumar itu ingat betul ketika rakyat Jakarta begitu antusias berbondong-bondong menonton berbagai pertunjukan seni di panggung terbuka. Apalagi ketika rombongan Amerika Latin tampil di panggung terbuka Megaria, Cikini, Jakarta Pusat.

Prestasi Indonesia pun cukup membanggakan di ajang ini. Menempati urutan ketiga dengan perolehan 21 emas, 25 perak dan 35 perunggu, di bawah RRT dan USSR. Sayang, Genefo kedua yang dijadwalkan di Mesir 1967 mengalami kegagalan karena terjadi perubahan politik.

Tentang Ganefo.

Karena sikap keras Indonesia menentang kepesertaan Israel dan Taiwan di Asian Games, maka komite Olympiade Internasional (IOC) mencabut sementara keanggotaan Indonesia dalam organisasi tersebut.

Atas keputusan sepihak IOC tersebut, Bung Karno menegaskan bahwa Indonesia menyatakan keluar dari IOC. Indonesia menganggap organisasi tersebut sebagai perpanjangan tangan dari kepentingan neo-kolonialisme dan imperialisme.

Sambil menegaskan perlunya kelanjutan semangat Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 dan terus memperkuat konsepsinya mengenai Nefo (The new emerging Forces), maka Bung Karno telah menegaskan pentingnya menciptakan asosiasi olahraga yang dibasiskan kepada Nefo.

Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces (Ganefo), adalah suatu ajang olahraga yang didirikan mantan presiden Indonesia, Soekarno, pada akhir tahun 1962 sebagai tandingan Olimpiade.

Ganefo I diadakan yang di Jakarta mengambil semboyan Onward! No Retreat (Maju Terus! Pantang Mundur). Berlangsung pada tanggal 10 sampai 22 November 1963.

Kejuaraan olahraga ala negara-negara anti imperialis ini diikuti peserta sekitar 2.700 atlet dari 51 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin seperti Afghanistan.

Pada Ganefo I, Tiongkok menduduki peringkat pertama dengan 65 medali emas, disusul Uni Soviet, Indonesia, Republik Arab Bersatu, dan Korea Utara.

Keberhasilan Indonesia melaksanakan Ganefo pada tahun 1963 merupakan prestasi besar dan mengagungkan.